PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Jessica mulai bucin


__ADS_3

Mobil sport Lamborghini Sian itu meluncur laju meninggalkan kawasan depan kafe mengarah ke hotel mutiara Metro city.


Di dalam mobil tersebut tampak seorang pemuda yang mengendarai mobil sport itu sengaja tidak memarkir mobil itu di area parkir di halaman hotel, melainkan terus melaju masuk mengarah ke bagian lorong bawah tanah dan memasuki ruangan lift khusus yang bisa membawa kendaraan super sport itu langsung ke lantai paling atas di hotel tersebut.


Begitu pintu lift khusus tersebut terbuka, dari dalam tampak mobil itu ke luar melewati sejumlah orang berpakaian hitam mengenakan kacamata hitam lengkap dengan intercom berbaris dan menunduk hormat ketika mobil itu membelah barisan tersebut.


Kini mobil yang baru saja keluar dari lift tersebut berhenti dan salah seorang dari orang-orang yang berpakaian hitam tersebut bergegas membukakan pintu dan dari dalam tampak seorang pemuda dengan pakaian compang camping menjulurkan kaki kirinya untuk keluar.


"Tuan muda. Mengapa penampilan anda begitu memprihatinkan?" Tanya seorang lelaki setengah baya yang membukakan pintu mobil tadi.


"Mana Black?" Tanya pemuda itu.


"Saya di sini Tuan muda." Jawab salah seorang dari lelaki yang berbaris itu.


"Anda tanyakan saja kepada Black itu Tuan Syam. Dia yang menyebabkan aku seperti ini." Kata pemuda itu menjawab pertanyaan lelaki setengah baya yang ternyata adalah tuan Syam adanya.


Tuan Syam yang sejak tadi ingin ketawa tapi ditahan hanya bisa memalingkan wajah nya ke arah Black dan mengernyitkan alis matanya.


Black yang faham dengan gestur tubuh tuan Syam segera menjawab, "Ini.., sa.., saya hanya melakukan perintah dari Tuan muda." Jawab lelaki bertubuh besar itu salah tingkah.


"Tuan muda. Harap anda memaafkan saya!" Kata Black lagi sambil membungkuk di hadapan pemuda itu.


"Hahaha.., lupakan saja!. Lagi pula, kapan lagi seorang bawahan bisa memukuli tuan nya. Ini adalah kesempatan langka bagi mu." Kata pemuda itu sambil tertawa membuat Black jadi serba salah karena mau ketawa tapi takut dosa.


"Tuan Syam.., rencana dari anda memang manjur sekali. Ternyata tidak sulit bagi seorang lelaki tampan untuk mendekati wanita." Kata pemuda itu sambil meniup telapak tangannya dan langsung mengusap rambutnya sendiri.


"Apakah semuanya berjalan dengan lancar, Tuan muda? Bagaimana bisa? Bukankah tadi Black melapor kepadaku bahwa gadis asing itu tidak memperdulikan anda?" Tanya tuan Syam.

__ADS_1


"Awalnya memang demikian. Namun setelah aku meninggalkan tempat kejadian, dia malah mengejar ku. Rejeki orang tampan." Kata pemuda itu lagi sambil mengangkat kerah baju nya.


"Sangat bagus sekali, Tuan muda. Jika anda berhasil mendekati gadis asing itu, maka segala rencana Fardy akan sangat mudah bisa kita ketahui." Kata tuan Syam.


"Semuanya harus dilakukan secara bertahap. Jika terburu-buru, aku khawatir gadis asing itu akan mencurigai ku." Kata pemuda itu.


"Benar sekali Tuan muda. Lalu, apa rencana anda selanjutnya?" Tanya tuan Syam.


"Rencana selanjutnya, yang pertama aku harus kembali kepada Jerry yang miskin. Ini karena aku nyaris di curigai olehnya karena memberitahu nama asliku. Untung saja aku bisa berkelit sedikit. Jika tidak, gagal lah rencana kita." Kata pemuda itu lagi.


"Tuan Syam.., perintahkan kepada anak buah anda untuk terus mengawasi Villa Patrik. Dan kalau bisa, pasang kamera pengintai di sana! Aku tidak ingin kejadian kemarin di manfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memfitnah ku."


"Apakah maksud anda tentang keributan yang ada lakukan dengan menghajar para pengawal dan Robin kemarin?" Tanya tuan Syam.


"Benar. Aku merasa tidak enak hati. Jujur saja bahwa aku merasakan bahwa Robin ini sepertinya tidak benar-benar insaf." Kata pemuda itu mengemukakan kecurigaannya.


"Saat ini anak buah yang aku tempatkan di Villa Patrik hanya dua orang saja. Apakah aku perlu menambah beberapa orang lagi?" Tanya Black.


"Cukup. Tidak perlu menambah orang lagi. Biarkan hanya mereka berdua saja di sana. Mereka hanya pengintai yang bertugas untuk mengikuti perkembangan tentang apa yang terjadi di sana dan bukan untuk mengawal Villa itu. Jika terlalu ramai malah akan menimbulkan kecurigaan baik bagi orang-orang yang di kirim oleh Fardy, maupun orang-orang di Villa Patrik sendiri." Kata pemuda yang di panggil dengan sebutan tuan muda itu.


"Baiklah Tuan muda." Kata Black dan tuan Syam.


"Segeralah kembali ke posisi masing-masing. Jangan lupa untuk terus mengawasi bandara. Aku ingin tau kapan si Fardy ini akan datang ke negara ini." Kata pemuda itu sambil membalikkan tubuh dan meninggalkan tempat pertemuan itu menuju ruangan pribadinya di lantai paling atas hotel mutiara tersebut.


**********


Sementara itu, di kawasan komunitas perumahan elit bukit Metro tepatnya di Villa Patrik, tampak seorang gadis menyelinap antara pohon ke pohon di sekitar taman dan segera menemui seorang pemuda berambut cepak yang sejak tadi duduk sambil sesekali melemparkan batu kerikil ke dalam air kolam.

__ADS_1


Pemuda itu segera menoleh ke samping begitu mendengar suara langkah kaki menuju ke arah nya.


Mengetahui siapa yang dagang, pemuda itu lantas menegur seorang gadis yang baru saja tiba di bangku kayu tempat dia duduk. "Ada apa Jessica? Mengapa kau lama sekali hanya membeli makanan saja?" Tanya pemuda kepada seorang gadis yang ternyata adalah Jessica itu.


"Huhh.., aku juga tak ingin berlama-lama Kak. Ini karena aku diganggu oleh sekelompok bajingan di depan restoran itu." kata Jessica sambil menghempaskan punggung nya duduk di kursi kayu itu dengan kesal.


Mendengar pengakuan dari gadis itu, pemuda itu lalu memperhatikan Jessica dan bertanya. "Apakah kau tidak apa-apa?" Tanya pemuda itu.


"Kak Jimmy bisa melihat bukan, bahwa aku tidak apa-apa?! Beruntung ada seorang pemuda yang menolong ku. Dia mengorbankan dirinya demi membantu ku hingga akhirnya polisi datang dan akhirnya para bajingan itu melarikan diri tunggang-langgang." Kata Jessica menceritakan kejadian di depan restoran tadi.


"Lalu bagaimana dengan pemuda itu? Kau harus hati-hati Jessica! Kita ini bukan di Hongkong. Lagi pula, kedatangan kita kemari adalah mengemban tugas untuk membunuh Robin." Kata pemuda bernama Jimmy itu.


"Pemuda itu terluka Kak. Aku telah mengantar pemuda itu untuk berobat dan saat ini dia dirawat di rumah sakit terdekat." Kata Jessica berbohong.


"Huhh... Menjaga dirinya saja dia tidak mampu malah berlagak menjadi pahlawan." Kata Jimmy mencemooh.


"Setidaknya dia mau membantu ku Kak. Dari pada yang lainnya hanya menjadi penonton saja saat aku di lecehkah oleh gerombolan bajingan itu. Lagi pula aku melihat dia sangat baik. Lugu dan terlalu polos." Kata Jessica sambil tersenyum-senyum dan tersipu malu.


"Hey..?!" Tegur Jimmy sambil menggoncangkan bahu Jessica. "Ingat Jess! Kita kemari mengusung misi. bukan untuk jatuh cinta. Jaga sikap mu atau kita akan mendapat hukuman dari Fardy." Kata Jimmy menegur Jessica dengan tegas.


"Kali ini aku tidak perduli dengan siapapun. Apa salahnya? Setelah tugas kita berhasil, aku akan mencarinya. dan menghabiskan masa libur ku di negara ini bersama dengan nya sebelum kembali ke Hongkong." Kata Jessica.


"Kau.., kau Jess. Ah sialan sekali kau ini. Apakah kau serius? Adikku tersayang.., aku peringatkan kepadamu, jangan membuat masalah. Kita ini telah di bayar dengan mahal oleh Fardy. Jika dia marah, maka nyawa kita akan terancam." Kata Jimmy memperingatkan.


"Ya aku tau. Tugas tetap akan ku jalankan dan masalah pribadi ku adalah urusan ku sendiri. Jangankan Fardy yang bukan siapa-siapa bagiku. Kau sendiri pun tidak boleh melarang ku." Kata Jessica.


"Payah berbicara dengan anak bandel seperti kau ini." Kata Jimny geram.

__ADS_1


"Antara kita dengan Fardy hanya sebatas uang. Sudahlah Kak. Kita hanya membantu dirinya. Tapi ingat! Kita ini bukan budak. Sekali lagi! Hubungan kita dengan dia hanya sebatas uang. Tidak ada uang, maka aku pun bisa mencabut nyawa nya." Tandas Jessica lalu segera meluruskan pandangannya ke arah bangunan Megah bagai istana yang tidak seberapa jauh di depan sana.


__ADS_2