PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Bab 24 aku di titipkan oleh seseorang?


__ADS_3

Pov Haikal


Aku masih ingin memberi pelajaran pada bapak. Mekipun aku cuma anak angkat di rumah ini, tapi sifat nya itu membuatku habis kesabaran, jika ku yang sering di manfaat kan aku nggak peduli karena aku berhutang budi pada keluarga ini tapi aku tidak akan tinggal diam jika salah satu di antara mereka mengalami masalah meskipun itu dari ahli keluarga ini sendiri. Perbuatan bapak sangat fatal, ia tega menjadikan Karina sebagai alat untuk membayar hutang nya pada orang lain.


"Lebih baik kamu pergi dari hidup kami! Kamu hanya membuat hidup kami makin sengsara. Jangan harap kamu boleh bawa Karina pergi dari sini lalu menikahkan dia dengan juragan Jarwo itu. Dia anak aku satu - satu nya dan kamu nggak ada hak atas diri nya". Mama masih saja mendorong bapak untuk keluar dari rumah.


"Aku harus membawa Karina kalau tidak nyawaku akan dalam bahaya, kamu tidak lihat tadi mereka belasan aku sampai hampir mati, kalau hari ini aku nggak membawa Karina untuk menikah dnegan juragan itu maka aku yang akan __". Bapak masih berusaha untuk masuk ke kamar Karina.


"Kamu mau mati atau apa pun aku nggak peduli. Selama ini kamu juga nggak pernah menghidupi kami, uang dari pria yang menitipkan Haikal pun kamu hanya beri aku sejuta dan sisa nya kamu habis kan seorang diri. Padahal mereka memberikan uang yang tidak sedikit setiap bulan nya. Tapi kamu hanya memi...". Ucap mama.


Aku tercengang mendengar perkataan mama. Maksud nya apa ngomong kayak gitu? Aku di titip kan oleh seseorang dan setiap bulan menerima uang dari mereka dalam jumlah yang tidak sedikit, jadi selama ini aku...


"Kamu jangan ngomong ngelantur Sukma! Haikal adalah anak yang ku temukan bukan anak yang di titip kan! Lebih baik kamu bujuk Karina untuk setuju menikah dengan juragan Jarwo sebelum aku habis kesabaran!". Kini giliran bapak yang emosi pada mama.


"Jangan harap!". Sahut mama nggak setuju, ia kemudian melangkah menuju kamar Karina.


"Apa kah yang mama katakan tadi itu benar, mak?". Tanya ku pada mamak sambil mencekal tangan nya.


"Tanyakan saja pada bapak nggak guna kamu itu!". Mamak menghempas tangan ku dan menutup pintu kamar Karina dengan keras.


Aku beralih menatap bapak untuk mencari kebenaran ucapan mamak tadi. "Apa maksud mama ngomong kayak tadi pak? Benar kah aku ini hanya anak yang di titip kan pada kalian?". Tanya ku memastikan.


"Kamu jangan dengar apa yang di katakan mamak kamu tadi! Dia hanya kesal dan ngomong ngelantur nggak jelas. Kamu itu anak yang aku pungut di tempat sampah, jadi kamu itu harus membalas budi pada ku karena sudah baik hati membawa mu pulang membesarkan mu". Sahut Bapak tanpa menatap wajah ku.

__ADS_1


"Mustahil mama ngomong kayak gitu pak". Aku masih belum puas dengan jawaban bapak.


"Yang kamu mau tahu sangat tuh kenapa? Lebih baik kamu pergi kerja saja. Jangan sampai hutang ku pada pak Ageng nggak kamu lunasi! Jangan ikut campur urusan ku, aku tetap akan membawa Karina bertemu juragan Jarwo dan menikah kan mereka. Lagi pula hidup kami akan jadi senang jika mendapat menantu kaya raya meskipun sudah tua dan Karina akan menjadi istri ke lima dari nya". Bapak mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Tapi Karina masih sekolah pak". Halang ku.


"Sekolah, sekolah. Perempuan itu nggak guna sekolah tinggi - tinggi, kalau hujung - hujung nya hanya tinggal di rumah, habisin uang saja. Lebih baik dia nikah cepat dan membahagiakan orang tua, nikah dengan juragan Jarwo itu sebuah keberuntungan, hidup Karina pasti akan bahagia karena bergelimpangan harta seperti istri - istri juragan Jarwo yang lain". Bapak semakin ngotot dengan keputusan nya membuat aku semakin geram.


"Bapak jangan coba - coba memaksa Karina untuk memenuhi ambisi bapak apa lagi memanfaatkan nya untuk melunasi hutang bapak. Dia berhak bahagia dengan hidup nya pak. Aku nggak setuju kalau dia berhenti sekolah, kalau bapak tetap ngotot maka jangan harap aku akan mencicio hutang bapak pada pak Ageng lagi". Aku balik mengancam.


Sangat tidak setuju dengan pemikiran kuna bapak. Aku tetap ingin melihat Karina tamat sekolah dan melanjutkan pelajaran dan nya hingga menjadi sarjana. Aku akan berusaha mencari yang untuk menyekolahkan nya.


Aku meninggalkan rumah dengan perasaan kesal bercampur penasaran. Aku yakin jika yang di katakan mama tadi nggak bohong tapi aku juga nggak punya bukti untuk membenarkan ucapan nya.


Selama ini yang aku tahu aku adalah anak yang di pungut di tempat tambah dan di besarkan oleh mereka. Tapi menurut mama, bapak selama ini nggak pernah kerja, jadi uang untuk kehidupan kami muncul dari mana kalau bapak nggak pernah kerja? padahal aku di usia belasan tahun baru kerja di rumah makan di dekat simpang desa ini dan bapak juga hanya tahu nya mabuk dan berjudi saja.


"Mau pulang sekarang?". Aku tersentak dari lamunan ketika bang Josep menepuk pundak ku.


"Eh, maaf bang. Sampai lupa kalau abang masih di sini. Iya kita pulang aja sekarang". Sahut ku sedikit kurang bersemangat.


"Tapi bagaimana dengan adik kamu?". Tanya Bang Josep mengkhawatirkan Karina.


"Mama pasti bisa menjaga nya. Kalau bapak nekat membawa Karina pergi maka dia akan berhadapan dengan ku". Imbuh ku kembali kesal.

__ADS_1


"Menurut abang, sih. Lebih baik kamu jangan masuk campur urusan mereka karena setahu abang kamu hanya anak angkat di keluarga ini kan". Saran bang Josep..


Aku menghela nafas berat, yang di katakan bang Josep itu benar tapi aku tetap nggak tega melihat mada depan Karina hancur karena sikap tidak bertanggung jawab bapak.


Aku dan bang Josep pulang ke rumah besar majikan kami. Kali ini aku malas menyetir mobil. Pikiran ku saat ini kurang fokus, takut saja terjadi apa - apa saat di perjalanan pulang.


*


*


Keesokan hari nya seperti biasa, aku bangun pagi dan menolong nek Saras di dapur memotong atau mengupas bahan masakan sebelum berangkat ke sekolah. Aku berusaha melupakan sejenak masalah Karina dan tentang ucapan mama kemarin. Aku nggak kamu sampai majikan ku marah karena sikap kurang sopan ku sebagai pekerja yang sering melamun.


Tapi tetap saja terkadang aku nggak bisa membuang perasaan cemas dengan keadaan Karina saat ini. Aku memutuskan menunggunya di depan kelas nya untuk menyerahkan uang yang kemarin belum sempat aku berikan.


Sudah hampir masuk kelas tapi Karina belum muncul juga. Aku semakin khawatir dan cemas, jangan sampai terjadi apa - apa dengan Karina.


"Hei, lo buat apa di sini? Jangan bilang lo nggak tahu kalau adik kesayangan lo itu nggak akan masuk sekolah lagi?". Rudi muncul dengan tatapan mencemooh nya.


Aku mengerut kan dahi mendengar perkataan nya. "Maksud kamu apa ngomong kayak gitu?".


"Akhirnya aku bisa bebas juga dari wanita gatal itu. Mulai hari ini dia tak akan lagi menyentuhku dengan tangan menjijikan nya itu". Bukan nya menjawab, Rudi malah menghina dan merendahkan Karina.


Aku memegang kerah baju nya dan mendorong nya ke dinding. "Apa maksud dari omongan lo tadi, hah? Katakan dengan jelas! Kenapa Karina nggak akan datang ke sekolah lagi?". Tanya ku dengan geram.

__ADS_1


Tiada siapa pun yang ingin meleraikan kami berdua. Teman - teman Rudi yang selama ini selalu menemani nya nggak tampak saat ini, mana kala yang lain mungkin takut karena aku sudah berani melawan.


"Kenapa lo malah nanya ke gue? Harus nya lo udah tahu sebab nya karena lo keluarga nya". Rudi masih tidak menjawab dan semakin membuat ku geram.


__ADS_2