PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Bab 7 Rahasia Hana


__ADS_3

Aisyah membuang nafas berat karena sang suami nggak mudah berubah pikiran.


"Tuan muda sudah sampai, nyonya. dan saat ini sedang di periksa oleh dokter". Lapor anak buah nya.


Aisyah bergegas menuju ruang rawat Haikal yang sudah ia sedia kan. Ia bersama Zack sangat gugup menantikan momen mengharu yang tak lama lagi terjadi antara mereka berdua. Sesampai di ruangan itu, Haikal masih melakukan pemeriksaan. Aisyah tidak tenang dan tidak bisa duduk diam di samping Zack.


"Sayang, kamu akan kelelahan jika terus berjalan tak tenang begitu, duduk lah dulu. Dokter sedang melakukan pemeriksaa pada putra kita". Panggil Zack.


"Aku nggak bisa tenang, mas. Sebelum benar - benar melihat anak itu sendiri apa lagi sekarang ia sedang di rawat, aku jadi bimbang terjadi sesuatu pada nya. Entah lah mas, aku keliru dengan perasaan ku saat ini. Aku bingung". Lirih Aisyah jujur dengan apa yang sedang ia rasakan.


"Bukan kah kamu bilang sudah yakin jika dia adalah putra kita melalui foto yang di tunjukkan oleh Pundas semalam. Kenapa sekarang kamu kok malah bingung?". Tanya Zack.


"Entah lah, mas. Melihat wajah anak itu aku yakin jika ia benar Albar tapi menurut anak buah Pundas, tanda lahir yang ada pada Albar nggak ada pada anak itu". Jelas Aisyah.


"Maksud kamu, tanda lahir di pundak nya itu?". Tanya Zack memastikan.


"Iya mas, semenjak ia lahir tanda itu sudah ada dan nggak mungkin hilang karena waktu ia membesar hingga umur tiga tahun dulu tanda itu masih ada malah ikut membesar. Tapi anak itu malah tidak memiliki nya". Sahut Aisyah kembali keliru. .


"Untuk memastikan semua itu kita tunggu Dokter selesai memeriksa nya, kamu tenang lah dulu.". Saran Zack menenangkan Istrinya.


Pintu ruangan sudah terbuka dan dokter yang memeriksa Haikal dan beberapa perawat keluar dari ruangan.


"Bagaimana dengan keadaan anak itu, dok?". Tanya Aisyah dengan wajah cemas.


"Tampak nya penyakitnya ini bawaan daro kecil. Fisik nya lemah membuatnya tumbang saat kelelahan. Meskipun begitu dia tetap anak yang kuat, kebiasaan nya tidak pernah duduk diam melatih fisik nya lama - kelamaan mengabaikan penyakit bawaan itu. Tapi walau bagaimana pun penyakitnya akan tiba - tiba kambuh juga apa waktu - waktu tertentu...". Sahut Dokter menjelaskan kondisi Haikal.


"Untuk lebih detail nya kita tunggu tiga hari kemudian untuk melihat hasil diagnosis penyakit nya...". Sambung dokter.


"Kami bisa masuk melihat nya kan, dok?". Tanya Zack.

__ADS_1


Dokter yang mengerti apa yang sedang terjadi pada pemilik rumah sakit tempat ia bekerja pun menyetujui permintaan Zack. "Sudah tentu tuan. Tapi saya harap tuan dan nyonya tidak membuat nya terganggu dari istirahat nya. Saya sudah menyuntikkan obat tidur supaya tidak mudah terjaga nanti nya". Imbuh sang dokter.


"Mari saya temani masuk, ada yang perlu saya sampai kan mengenai anak itu pada tuan dan nyonya". Sambung dokter.


Aisyah dan Zack di hantar masuk ke ruangan perawatan Haikal. Betapa terkejutnya Aisyah saat melihat kondisi tubuh Haikal secara langsung. Aisyah menutup mulutnya saking nggak tega melihat tubuh kurus anak itu. Zack yang memahami sisi lembut sang istri sigap memeluknya dari samping memberikan kekuatan.


"Saya dapati anak ini pernah melakukan operasi di bagian pundak untuk sebab dan tujuan nya saya kurang pasti...". Jelas sang doktek.


"Apa? Operasi? Mungkin kah untuk menghilangkan tanda lahir nya yang ada di bagian pundaknya?". Tanya Zack memastikan.


"Bisa jadi. Karena menurut saya untuk apa di lakukan operasi semacam itu pada bagian pundak. Sepakat ini hanya itu yang saya bisa beri tahu pada tuan dan Nyonya. Bisa jadi tanda lahir itu di hilangkan untuk mengelabuhi orang agar tidak mengenalinya melalui tanda lahir itu". Sahut Dokter meyakinkan.


"Berarti dia benar - benar putra kita, mas". Lirih Aisyah dalam pelukan sang suami. "Boleh kah aku memeluknya, dok". Tanya Aisyah pada dokter.


"Mohon maaf, nyonya. Pasien saat ini harus banyak istirahat untuk memulihkan kesehatannya. Tubuh nya saat ini sangat lemah...". Sahut dokter tidak menyetujui permintaan Aisyah..


"Tapi mas, aku sangat rindu pada putra kita. Aku sangat memeluk tubuh nya, ku mohon dokter tolong izin kan aku memeluknya sebentar saja!". Lirih Aisyah memohon.


Dokter melihat tatapan tajam Zack membuatnya terpaksa menyetujui permintaan Aisyah. "Baik lah, nyonya. Silahkan". Ujar dokter mempersilahkan.


"Terima kasih dokter". Aisyah melepas pelukan suami nya dan mulai mendekati brangkas Haikal perlahan. Tapi saat ingin menyentuh tangan Haikal, Aisyah nggak kuat dan tiba - tiba pingsan. Beruntung Zack menyadari nya dan sigap menangkap tubuh sang istri sebelum jatuh ke lantai.


"Sayang, sayang". Panggil Zack sambil menepuk - nepuk pipi Aisyah perlahan. Dokter segera meminta perawat untuk membawa brangkas ke ruangan ini untuk membaringkan Aisyah.


Aisyah di rawat di ruangan yang sama dengan putranya. Zack sentiasa berada di samping sang istri untuk menemani menemani mereka berdua. Ia menghela nafas berat sambil berpikir bagaiman rencana kedepannya. Menurut nya merahsiakan identitas Haikal pada semua orang termasuk pada remaja itu sendiri adalah yang terbaik tapi ia tidak tega menyiksa istri nya lebih lama lagi.


"Aku tahu kamu sangat ingin memeluk nya setiap saat, tapi karena keegoisan ku malah menahan mu melakukan itu hingga membuat mu drop seperti ini. Maaf kan aku sayang". Ucap Zack sambil membelai rambut sang istri..


Zack kemudian bangkit dan menghubungi Pundas untuk segera menemui nya sekarang.

__ADS_1


*


*


Di tempat yang berbeda, di kediaman Rudi. Pria remaja itu sedang kesal karena selalu gagal membuat Haikal malu dan merasa terhina. Bukan nya merusak mental Haikal, remaja itu malah semakin kebal menanggapi setiap perbuatan Rudi.


Saat ia berjalan dan melewati kamar adik perempuan nya, semakin membuat nya marah.


"Pantas kamu sering mengunci pintu kamar ini dan melarang siapa pun masuk. Ternyata kamu menyimpan banyak gambar lelaki miskin ini di sini!". Teriak Rudi kesal.


Hana kaget dan berusaha menyelamatkan foto Haikal yang menempel indah di dinding kamar nya yang berusaha Rudi sobek. "Kakak apa - apaan, sih? Aku sudah bilang jangan masuk kamar aku, ganggu privasi orang aja". Sahut Hana tak kalah kesal.


"Apa kamu bilang? Privasi? Ini yang kamu bilang privasi mengambil foto lelaki miskin ini secara diam - diam lalu menempel nya di seluruh kamar ini. Kamu nggak malu apa menyukai lelaki seperti itu?". Kata Rudi nggak terima dengan perbuatan sang adik.


"Apa - an sih kamu kak. Terserah aku dong au suka sama siapa, itu bukan urusan kakak!". Bantah Hana.


"Apa manfaat nya kamu menyukai lelaki miskin ini? Coba bilang apa manfaatnya, yang ada mengotorkan mat tahu nggak". Imbuh Rudi masih berusaha merusak semua foto Haikal yang menempel.


Hana yang kesal pun langsung menampar sang kakak.


Plakkkk....


Satu tamparan cantik mendarat di pipi Rudi.


"Berani kamu tampar kakak". Timpal Rudi sambil memegang pipi nya yang merasa panas.


"Kakak pikir aku takut? Kakak nggak ada hak ngelarang aku untuk suka pada Haikal. Urus aja urusan kakak sendiri!". Hana mendorong Rudi keluar dari kamar nya dan mengunci pintu nya.


"Ahhh,,, sial!!!". Teriak Rudi kesal.

__ADS_1


__ADS_2