
"Buka baju mu cepat!". Di luar dugaan, Haikal malah meminta Rinata membuka baju nya saat tinggal mereka berdua yang ada di dalam ruangan itu.
"Hah, buka baju?". Kaget Rinata.
Haikal mendekat ke arah Rinata dengan tatapan yang sukar untuk di tafsirkan dengan kata - kata. "Jangan sampai ia benar - benar ingin melakukan apa yang dia katakan tadi. Jujur aku masih belum siap, aku hanya ingin menyerahkan segel ini pada pria yang kucintai dan juga mencintai ku yang pasti nya dalam ikatan yang halal. Bukan dengan berzina. Tapi profesi ku saat ini sudah pasti di anggap miring oleh semua lelaki". Gumam Rinata dalam hati.
Haikal semakin mendekat, Rinata yang gugup memejamkan matanya menanti kan apa yang akan di lakukan Haikal pada nya. Semakin dekat hingga hembusan nafas Haikal terasa di tengkuk wanita itu.
"Ya iya lah buka baju, lalu pakai baju lain. Aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat tapi tidak dengan dengan memakai baju seksi seperti ini. Aku tidak suka". Bisik Haikal di telinga Rinata.
Rinata langsung membuka matanya karena telah salah paham dengan yang di sampai kan oleh Haikal. Sungguh memalukan, ia sampai memejamkan mata berharap Haikal mencium nya.
"Oh, ba - baik lah. Tapi koper pakaian ku entah di mana?". Sahut Rinata salah tingkah.
"Itu di sana". Haikal menunjuk koper bersaiz sederhana yang ada di dekat pintu.
"Siapa yang membawa koper itu ke sini?". Tanya Rinata heran..
"Tadi Meri meminta ku membawa koper ini untuk mu, kata nya pakai pakaian yang ada di dalam sini secepat nya". Jawab Haikal sambil mengedipkan mata dengan nakal.
Rinata mengerutkan dahi bingung dengan sikap Haikal yang tak seperti biasa nya. Rinata tak mau ambil pusing lalu segera menyeret koper nya menunjuk sofa. Tapi saat ia membuka koper itu, ia kaget karena isi nya bukan lagi pakaian yang ia bawa melainkan sudah di ganti oleh Meri.
"Ini baju apa sih kok aneh banget?". Gumam Rinata sambil mengibarkan setelah baju berwarna pink itu ke atas. Rinata langsung memasukkan kembali baju itu ke dalam koper saat mengetahui setelah baju seperti apa itu.
"Ini pasti rencana mami agar Haikal segera membuka segel ku. Ih, mana baju nya aneh banget lagi. Kalau begini aku lebih baik nggak ganti baju sekalian, tapi sampai kapan?". Rinata malah duduk diam saja di sofa.
"Kamu kenapa diam aja di situ? Sana ganti baju cepat!". Titah Haikal tegas.
"Eh, I - itu. Mas ada baju untuk wanita nggak di kamar?". Tanya Rinata dengan menahan malu.
__ADS_1
"Hah, kamu ini aneh, deh. Bukan nya itu koper pakaian kamu. Pakai aja baju yang ada d situ. Aku nggak ada baju wanita di kamar". Sahut Haikal ketus.
"Ta - tapi...". Rinata ingin mengatakan yang sejujurnya tapi Haikal terburu - buru.
"Sudah nggak ada tapi - tapian. Lekas ganti baju!". Bentak Haikal tanpa memperdulikan Rinata yang tampak keberatan dengan permintaan nya.
Mau tidak mau, Rinata harus menuruti permintaan pria itu. Jika ia sudah melihatnya nanti ,terserah pria itu mau mengajak nya keluar dengan setelah baju itu atau tidak. Beberapa saat kemudian Rinata keluar dari kamar kecil setelah mengganti pakaian dengan setelah baju yang ia ambil di dalam koper.
"Mas". Panggil Rinata pada Haikal.
Haikal tidak melirik nya dan fokus pada ponsel nya saja. Ia langsung mengajak Rinata keluar tapi Rinata menahan tangan Haikal agar melihat penampilan nya terlebih dahulu.
"Apa lagi sih Rinata? Aku sedang buru - buru. Ka...". Mata Haikal membulat sempurna saat melihat dengan Jelas baju yang di pakai Rinata.
"Kamu sengaja ingin menggoda ku?". Tanya Haikal lalu menelan slavina nya kasar. Ia dengan cepat membuang muka ke arah lain agar tidak semakin terpancing oleh Rinata.
"Lalu untuk apa kamu memakai pakaian seperti itu? Aku ingin mengajak kamu jalan - jalan tapi tidak dengan pakaian seperti itu. Sana cepat ganti baju lagi!". Titah Haikal salah tingkah.
"Tapi mas...". Rinata ingin menjelaskan sesuai tapi Haikal tidak bisa menunggu lama lagi, apa lagi pakaian Rinata sekarang sangat menguji iman nya.
"Kamu kenapa selalu saja mengatakan tapi, sih Rinata? Kalau kamu benar - benar menginginkan aku menyentuhmu, baik lah tapi bukan sekarang, nanti malam aja". Imbuh Haikal memotong perkataan Rinata.
"Boleh nggak dengar penjelasan aku dulu, mas! Kamu selalu saja memotong omongan ku dan hujung - hujung nya kamu merendahkan ku. Aku tak sehina itu mas". Lirih Rinata merasa sedih dengan perkataan Haikal.
Matanya mulai berkaca - kaca saking merasa terhina nya. Haikal yang melihatnya merasa bersalah. Ia mengabaikan perasaan nya lalu memeluk Rinata tanpa ada maksud apa pun selain ingin menenangkan Rinata.
"Maaf, bukan itu maksud kakak, Rina. Kamu sih pakai baju kayak gini ya kakak langsung berpikiran lain. Emang kenapa kamu memakai baju kayak gini?". Bisik Haikal dengan lembut di telinga Rinata.
Ia sengaja menutup matanya agar tidak semakin terpancing. Haikal juga mengecilkan suara nya agar tidak terdengar di balik kamera pengintai. kame
__ADS_1
Rinata mengusap air matanya mendengar sikap Haikal yang kembali seperti biasanya. "Baju di koper itu sudah di tukar oleh mami Meri kak Haikal. Semua baju di dalam situ cuma setelah baju seksi yang seperti ini. Baju yang aku pakai ini setelan baju kucing, ada juga jenis lain yang lebih aneh". Lirih Rinata juga berbisik.
"Oh, jadi kamu meminta baju di kamar kakak karena baju di koper itu nggak ada yang benar?". Tanya Haikal memastikan apa yang ia pikirkan.
Rinata menggangu mengiyakan pertanyaan Haikal.
"Ya udah, kamu pakai baju kakak aja. Tapi nggak papa kan kebesaran dikit". Tawar Haikal melepas pelukan nya tapi mata nya masih berusaha menatap ke arah lain.
"Nggak papa dari pada pakai baju yang tadi kayak nya udah bau busuk deh". Sahut Rinata setuju.
Haikal bergegas masuk ke dalam kamar nya yang masih dalam ruangan itu, ia memilih baju kecil yang ia punya lalu dengan buru - buru keluar untuk memberikan pada Rinata.
"Nah, pakai baju ini aja". Ujar Haikal sambil menyerahkan baju dan seluar jeans pada Rinata tanpa menatap wanita itu.
Rinata tak banyak bertanya lagi, ia mengambil baju itu dari tangan Haikal lalu bergegas masuk ke dalam kamar kecil untuk bertukar pakaian. Beberapa menit kemudian, Rinata keluar dengan baju dan celana jeans yang di berikan Haikal.
"Aku udah siap, mari kita pergi sekarang". Ajak Rinata saat berhadapan dengan Haikal..
"Ini lebih baik dari pada yang tadi". Sahut Haikal sambil memperhatikan penampilan Rinata dari hujung kaki ke hujung rambut.
"Iya, sih. Meskipun tampak tomboi apalagi dengan rambut keribo seperti ini tapi Lebih baik dari pada tampak seperti wanita kucing seperti tadi". Balas Rinata mengiyakan pendapat Haikal.
"Ya udah kita berangkat sekarang aja". Ajak Haikal sambil menggandeng tangan Rinata keluar ruangan.
Di ruangan yang berbeda, Ronal dan Meri sedang berdebat keras. Meri datang marah - marah pada Ronal yang sudah lancang ingin memerkosa Rinata.
"Kamu hampir saja menggagalkan rencana kita. Kalau Haikal sampai tahu kalau kamu berniat memerkosa Rinata maka jangan harap ia akan mudah kita kendali kan seperti sekarang. Mungkin mulai sekarang ia akan mencurigai kamu dan malah menyelidiki yang sebenarnya". Teriak Meri penuh emosi.
Sebenarnya ia tidak terlalu memperdulikan tentang balas dendam yang ingin Ronal lakukan tapi ia cemburu karena Ronal tetap masih penasaran dengan Rinata padahal semalam ia sudah bersusah payah melayani Ronal hingga puas.
__ADS_1