PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Mulai siuman


__ADS_3

...10 hari setelah hilangnya Jerry....


"Kiri."


"Hap.."


"Kanan...!"


"Hap..."


"Tuk.."


"Aduh. Sakit Kek."


"Aku suruh kanan. Mengapa kaki kirimu yang maju?" Kata lelaki tua itu sambil memukul betis seorang gadis cantik yang sedang berlatih di belakang gubuk mereka.


"Hehehe..., aku kira ini kanan." Kata gadis itu sambil cengar-cengir.


"Sudah! Ayo pergi bantu ibumu merebus ramuan!. Aku akan merendam tubuh pemuda itu kedalam air rebusan tersebut nanti."


"Siap laksanakan." Kata gadis itu. Namun belum lagi dia beranjak dari tempat nya berdiri, seorang wanita setengah baya berjalan tergesa-gesa menuju ke arah mereka.


"Ada apa kau seperti di kejar oleh setan, Roxana?" Tanya lelaki tua itu.


"Anak muda itu Ayah. Dia mulai menggerakkan jari tangannya." Kata wanita setengah baya yang ternyata adalah Roxana itu.


"Benar kah itu Ibu?" Tanya gadis itu lalu segera melompati kursi panjang tempat orang tua itu duduk dan langsung memasuki rumah dari pintu belakang.


Baru saja gadis itu tiba, pemuda itu mulai mengerjap-ngerjapkan matanya dan, "Kau..? Kau gadis berbaju merah itu?" Kata pemuda itu dengan suara yang sangat lemah.


"Ha.., Gadis baju merah?" Kata gadis itu sambil memperhatikan dirinya.


"Hahaha.., iya. Saat ini aku memang memakai baju merah." Kata gadis itu tertawa geli dalam hati.


"Roxana, cepat siapkan air. Aku akan merendam tubuh anak muda ini!"


"Kau Clara. Jangan cengar-cengir di situ seperti kuda gila. Cepat bantu ibumu!" Kata kakek tua itu memberi perintah.


"Baik Kek. Aku akan membantu ibu." Kata Clara. Namun sedikitpun dia tidak beranjak dari tempat itu.

__ADS_1


"Clara!!!" Bentak sang kakek.


"Oh.., iya Kek iya." Kata Clara sambil melompat dan berlari ke dapur.


"Clara... Clara! Kau ini benar-benar membuatku kesal." Kata lelaki tua itu sambil menarik nafas dalam-dalam.


Kini lelaki tua itu melumuri tubuh pemuda itu dengan minyak dan mulai membuka kain panjang yang melilit di tubuhnya.


"Jangan ada yang datang ke mari. Aku sedang membuka kain pembalut tubuh pemuda ini!" Kata lelaki tua itu khawatir kalau-kalau Clara atau Roxana tanpa sengaja masuk ke ruangan itu.


Begitu kain tersebut sepenuhnya di tanggalkan, lelaki tua itu segera mengambil kain seperti selendang dan menutupi tubuh pemuda itu.


Setelah dirasa cukup untuk menutupi bagian-bagian yang penting, lelaki tua itu lalu mengangkat tubuh pemuda itu ke belakang dan mulai meletakkannya kedalam air rebusan yang sudah tidak begitu panas lagi.


"Kakek.., apakah kau yang telah menolong ku? Atau apakah aku ini sudah mati?" Tanya pemuda itu.


"Kau jangan banyak bicara dulu anak muda. Tunda pertanyaan mu itu karena aku juga memiliki segudang pertanyaan untuk mu." Kata lelaki tua itu sambil melotot.


Mendapat teguran seperti itu membuat pemuda itu merapatkan bibirnya dan tidak berani lagi banyak bertanya.


"Bagaimana perasaanmu anak muda?" Tanya lelaki tua itu.


"Yah. Wajar jika kau lapar. Kau sudah sepuluh hari tidak sadarkan diri. Berbaring lah. Aku akan menyuruh cucu ku untuk memberikanmu makan." Kata lelaki tua itu.


...*********...


Clara yang kini mendapat perintah dari kakeknya bergegas membawa makanan jenis bubur ke ruangan tengah.


Dia lalu mengangkat kepala pemuda itu, menambahkan bantal agar posisinya bersandar dan mulai menyuapi pemuda itu sambil memperhatikan wajah tampan yang memar di sana-sini itu.


"Terimakasih gadis berbaju merah. Bubur nasi mu enak sekali." Kata pemuda itu memuji dengan tulus membuat Clara terlonjak kegirangan dalam hatinya.


"Kalau boleh aku bertanya, dimana aku saat ini dan sudah berapa hari aku di sini?" Tanya pemuda itu.


"Saat ini kau berada di bagian hilir sungai Mountain slope. Aku menemukan mu hanyut di sungai lalu membawamu kerumah ini bersama kakek ku. Kau telah 10 hari tidak sadarkan diri. Ini adalah hari yang ke sebelas." Kata Clara menjawab pertanyaan pemuda itu.


"Terimakasih merah. Jika tidak kau tolong, mungkin aku sudah mati. Aku berhutang nyawa padamu." Kata pemuda itu.


"Nama ku Clara. Panggil saja aku dengan nama itu. Merah merah terus dari tadi." Kata Clara.

__ADS_1


"Maafkan aku, Clara!" Kata pemuda itu.


"Anak muda. Kau istirahat lah dulu. Minum ramuan ini! Setelah itu kosongkan fikiranmu. Dekatkan diri dengan Tuhan! Semoga dengan cara begitu, kau akan merasa lebih baik." Kata lelaki tua itu sambil mendekatkan cangkir terbuat dari batu antik ke bibir pemuda itu.


"Uhh.., pahit sekali." Kata pemuda itu.


"Ini adalah obat herbal dan empedu ular. Kau harus meminumnya sampai habis!" Kata lelaki tua itu setengah memaksa.


Tidak ada pilihan selain menurut saja apa kemauan dewa penolong itu.


Tidak mungkin dia berniat jahat. Jadi, pemuda itu menahan segala rasa mual yang mendadak menyerang perutnya dan mulai meminum obat herbal itu dengan mata terpejam.


"Nah anak muda. Kau kosongkan fikiran mu. Lepaskan semua yang ada dalam hati dan fikiran mu! Aku yakin kau pasti bisa melakukannya." Kata orang tua itu.


"Baiklah Kek. Akan aku coba." Kata pemuda itu sambil memejamkan mata dan mengosongkan fikiran.


Tidak sulit baginya untuk melakukan metode itu. Ini karena dia sudah terbiasa melakukannya.


"Ayah, bagaimana dengan keadaan pemuda itu?" Tanya Roxana ketika lelaki tua itu sampai di dapur.


"Salut. Aku salut dengan semangat hidupnya. Ini adalah kali pertama aku melihat pemuda yang sangat kuat. Aku dapat merasakan di dalam dirinya sudah memiliki pondasi yang kuat."


"Dasar-dasar ini jika terus di kembangkan, tidak akan lama baginya untuk menjadi jawara seperti diriku waktu muda dulu." Kata lelaki tua itu kelihatan kagum.


"Ya. Aku juga tadi sempat melihat berbagai sisi dari sorot mata anak itu. Aku tau bahwa ada beban berat yang mengganjal dalam benaknya. Namun dia mampu menguasai dirinya. Anak ini terlalu pandai membawa diri dan mampu menyesuaikan dimana dia berada." Kata Roxana.


"Dia bukan orang biasa. Aku jelas melihat beberapa tulang yang patah ketika dia pertama kali di temukan. Aku khawatir bahwa dia akan hilang ingatan atau lumpuh seumur hidup. Tapi yang membuat aku tidak percaya adalah, dia saat ini baik-baik saja. Mungkin ramuan itu serasi untuk nya " Kata lelaki tua itu.


"Apakah dia bisa pulih secepatnya, Ayah?" Tanya Roxana.


"Satu tahun. Tapi itu tergantung pada tekadnya." Kata lelaki tua itu.


"Mungkin juga lebih singkat. Ini karena dia siuman di luar prediksi ku. Awalnya aku mengira secepatnya dia sadar dalam tiga atau empat minggu. Tapi kenyataannya, dia sudah siuman dalam waktu hanya sepuluh hari.


"Semoga saja anak itu bisa segera sembuh. Entah mengapa aku merasa begitu dekat dengan anak muda itu." Kata Roxana.


"Kita akan segera mengetahui nanti setelah dia selesai melakukan metode yang aku ajarkan tadi." Kata lelaki tua itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2