
"Jerry..."
"Di mana Jerry ini?"
"Jerry... Apa kau melihat siapa yang membawa mobil ku?" Tanya Daniel sambil berteriak dengan panik.
"Ada apa pagi-pagi sudah berteriak seperti nenek-nenek kehilangan cucu." Kata Jerry menegur.
"Mobil ku Jerry.., mobil. Mobil ku hilang. Ya Tuhan... Mana itu mobil dipotong gaji 4 tahun. Baru beberapa hari sudah hilang." Kata Daniel masih dengan kepanikan.
"Hilang? Mobil mu tidak hilang Daniel. Aku meminjamkan nya kepada kak Arslan." Jawab Jerry.
"Memang ada perlu apa kak Arslan sampai meminjam mobil ku Jerry?" Tanya Daniel heran.
"Dia pergi menemani Kevin dan David untuk mengawal Lisa, Megan dan Lira menjenguk Via di MegaTown." Jawab Jerry.
"Huhh..., perumpuan lagi perempuan lagi. Kau itu ya Jerry, tidak ada jera sama sekali." Kata Daniel menegur Jerry yang dia rasa sangat bodoh jika sudah menyangkut soal perempuan.
"Hey..., pagi-pagi sudah ngomel. Ada apa dengan mu Daniel?" Tanya Jerry heran.
"Ryan akan pulang kampung siang ini. Aku ingin ikut. Kan lumayan bisa memamerkan mobil baru ku kepada orang-orang di kampung Ryan." Kata Daniel sambil tersenyum bangga.
"Daniel.., kita akan pergi bersama ke kampung Ryan untuk mengunjungi keluarga nya. Namun kau tidak boleh pamer disana. Itu akan menyakiti mereka yang merasa kehidupan mereka serba kekurangan. Jika ingin pamer, maka silahkan pamer kepada orang yang mampu!" Kata Jerry menasehati sahabatnya itu.
"Lalu maksudmu Jerry?" Tanya Daniel.
"Kita akan pergi bersama tanpa mobil. Mobil Ryan akan kita titipkan di mountain lotus. Kita kesana naik bus saja." Kata Jerry sambil melemparkan bantal ke arah Daniel dan bergegas mematikan tv lalu segera keluar dari kamar.
"Terserah kau saja lah Jerry." Kata Daniel pasrah sambil mengangkat bahu nya.
...***...
Di saat yang sama, rombongan Kevin, Lira dan yang lainnya baru saja sampai di MegaTown.
Mereka sengaja mengikuti jalan pintas agar segera sampai ke tempat tujuan selain menghindari kemacatan lalu lintas.
Sebaik saja mereka tiba di rumah Via, mereka langsung di sambut oleh tuan Abraham dan ibu Via, Nyonya Abraham.
__ADS_1
"Permisi Tuan... Kami adalah mahasiswa dari Golden university. Kami adalah sahabat satu kampus dengan Via Abraham. Apakah benar bahwa ini adalah rumah Via?" Tanya Lira dengan Hormat.
"Benar nak. Maaf jika saya boleh tau, dengan siapa kah Bapak bicara saat ini?" Tanya tuan Abraham ingin tau.
"Oh.., nama saya adalah Lira Ricardo. Kami sengaja datang kemari hanya untuk mengunjungi Via, Tuan." Kata Lira menyampaikan maksud kedatangan mereka ke MegaTown ini.
"Oh mari anak-anak ku. Silahkan masuk! Duduk lah dulu. Bapak akan memanggil Via." Kata tuan Abraham dengan ramah.
"Terimakasih Tuan." Kata mereka sambil duduk di atas kursi sederhana.
Tak selang berapa lama kemudian tampak seorang gadis dengan wajah kusut dan rambut sedikit acak-acakan keluar dari kamar dan melangkah dengan malas menuju ruang tamu.
"Lira, Megan, Lisa. Ternyata itu kalian. Eh ada kamu Juga David, Kevin." Kata Via lalu sedikit mengernyit ketika melihat seorang lelaki yang lebih tua dari mereka duduk bersama dengan sahabat-sahabatnya itu.
Melihat bahwa Via merasa heran, Lisa segera memperkenalkan Arslan kepada Via.
"Via.., ini adalah Kak Arslan. Beliau ini adalah staf di hotel teratai. Kevin meminta dia ikut untuk menemani kita ke MegaTown ini." Kata Lisa sedikit canggung.
"Oh begitu. Perkenalkan Kak. Nama ku adalah Via." Kata Via sambil mengulurkan tangannya.
"Arslan.."
"Oh ya.., mau minum apa?" Tanya Via.
"Tidak usah minum Via. Kami kemari hanya untuk mengunjungi mu karena kami sangat mengkhawatirkan dirimu." Kata Lisa menolak tawaran minum dari Via.
"Aku baik-baik saja. Tapi terimakasih karena kalian sudah mau jauh-jauh datang kemari hanya untuk melihat keadaan ku." Kata Via terharu.
"Ah.., bukan kah kita ini adalah sahabat. Mengapa kau begitu sungkan?"
"Oh ya Via.., ngomong-ngomong kedatangan kami kesini untuk meluruskan kesalah fahaman yang telah terjadi antara aku, kau dan Jerry." Kata Lisa menjelaskan maksud kedatangannya.
"Sudah lah Lisa. Aku tidak mau mendengar lagi apa pun tentang lelaki busuk yang munafik itu." Kata Via menolak untuk membahas masalah Jerry di bukit bambu kemarin.
"Bukan begitu Via. Semuanya harus di jelaskan agar masalah mu dengan Jerry tidak berlarut-larut dalam kekeruhan." Kali ini Megan pula yang angkat bicara.
"Hey.., ada apa dengan kalian berdua ini? Bukankah kemarin kau begitu bersemangat memaki Jerry. Dan kau juga Lisa. Bukankah kau adalah orang yang sangat dirugikan dalam kejadian di bukit bambu itu?" Kata Via dengan raut wajah tidak mengerti.
__ADS_1
"Itu lah masalahnya Via. Kita semua telah dibutakan oleh apa yang ada di depan mata kita. Tanpa kita sadari bahwa itu adalah jebakan yang sengaja di rancang untuk Jerry." Kata Lisa dengan ekspresi bersungguh-sungguh.
"Apa Maksud mu Lisa? Aku sama sekali tidak mengerti." Kata Via.
"Via, sama seperti diriku. Bahwa Jerry juga di jebak oleh Anton untuk kepentingan dirinya dan juga ayahnya." Kata Lisa lalu menjelaskan kesalah fahaman yang sengaja di rencanakan oleh Anton, Zeck, John dan Audrey yang menggunakan jasa 10 orang preman bayaran untuk memuluskan rencana jahat Anton tersebut.
Lisa juga tidak lupa menceritakan semua yang terjadi di ruangan pertemuan di hotel teratai.
Megan juga tidak mau ketinggalan menyampaikan semua yang dia ketahui kepada Via.
"Apakah..., Apakah kalian benar-benar tidak sedang bercanda dengan ku Lisa, Megan?" Tanya Via. Mendadak dia merasakan aliran darah nya berbalik arah. Kini Via pun terduduk dengan lemas di kursi tepat berdampingan dengan Lira.
"Kalau kau tidak percaya kepada aku dan Megan, kau bisa bertanya kepada David, Kevin dan juga Lira. Mereka juga berada disana ketika Jerry membongkar semua perbuatan jahat Anton." Kata Lisa mencoba meyakinkan Via.
"Oh Tuhan... Apa yang telah aku lakukan kepada Jerry. Kemarahan telah menutup akal sehat dan membutakan mata ku. Jerry ketika itu sudah menjelaskan bahwa dia sengaja di jebak oleh Anton. Tapi aku apa? Aku bahkan tidak memberinya kesempatan untuk membela diri." Kata Via kini sambil berurai air mata.
"Lisa.., tolong jawab aku! Apakah Jerry akan memaafkan diriku?" Tanya Via sambil menggoncang-goncang tubuh Lisa.
"Jerry terlalu terluka Via. Dia bahkan tidak sudi menatap wajah ku. Dia juga menyumbat mulut Megan dengan uang. Mengusir kami berdua dari ruangan tanpa memandang ke arah kami. Aku tidak berani berfikir jika dia akan memaafkan kita, Via." Kata Lisa sambil menghela nafas cukup panjang.
"Lira. Kau adalah gadis yang sangat lembut dan baik hati. Kau bahkan tidak pernah menyinggung siapapun. Bantu lah aku untuk menyampaikan permohonan maaf ku kepada Jerry." Kata Via memohon bantuan dari sahabat nya itu.
"Aku bukan tidak mau membantu mu Via. Tapi sejak malam itu, aku menjadi sangat takut bila menatap wajah Jerry. Kau tidak tau betapa menyeramkan dia malam itu. Aku dan Rindy hampir mati berdiri melihat dia mengintrogasi satu per satu orang yang telah melakukan kesalahan kepadanya. Bahkan tuan Paul yang terhormat pun harus keluar dari ruangan itu dengan cara merangkak. Apa kau fikir aku memiliki cukup keberanian untuk berhadapan langsung dengan Jerry?" Kata Lira sambil menunjukkan ekspresi wajah ketakutan.
"Aku harus menemui Jerry dan meminta maaf kepadanya. Jika tidak, aku pasti akan di hantui oleh rasa bersalah seumur hidup ku. Ayo kita kembali ke Starhill! Aku harus menemui Jerry." Kata Via mengajak teman-temannya untuk kembali ke Starhill.
"Aku rasa sudah terlambat." Kata Kevin menyela perkataan Via.
"Apa maksud mu Kevin?" Tanya Via meminta kepastian.
"Jerry saat ini mungkin sedang dalam perjalanan menuju ke kampung halaman Ryan untuk berlibur. Aku khawatir jika kita berangkat ke Starhill, kita tidak akan bertemu dengan Jerry." Kata Kevin menjelaskan.
"Berapa lama dia berada di kampung halaman Ryan, Kevin?" Tanya Via.
"Mungkin tiga sampai empat hari. Setelah itu dia akan segera berangkat ke Malaysia, Singapura dan Thailand untuk menghadiri pertemuan para pengusaha muda se-dunia. Jika dia memiliki peluang melakukan kesepakatan kerja sama di sana nanti, kemungkinan itu akan memakan waktu sampai sepuluh hingga lima belas hari." Kata Kevin menjelaskan.
Mendengar ini, Via pun langsung terhenyak. Dia tidak tau lagi harus berbuat apa. Kini hanya airmata lah yang terus mengalir membasahi pipi nya.
__ADS_1
Bersambung....