
Haikal mendapatkan ide baru untuk bisa bergerak leluasa di kamar ini. "Sebenarnya sangat ingin sih tante tapi aku khawatir kalau ada sesuatu di kamar ini seperti CCTV". Bisik Haikal di telinga Jasmin sampai perempuan itu merinding kenikmatan.
Tiba - tiba ia pamit keluar kamar untuk melalukan sesuatu. "Kalau begitu lain kali saja tante datang menemui kamu lagi". Pamit Jasmin bergegas keluar kamar.
Ia sama sekali tidak mencurigai Haikal. Ia malah semakin tertarik pada anak muda itu. Tapi yang di katakan Haikal tadi berhasil membuka pikiran nya. Meskipun ia yang memegang kendali pada kamera pengintai di kamar itu, tapi ia tetap was - was jika semasa - masa Ronal memeriksa rekaman di kamar itu. Ia memutuskan untuk mematikan saja kamera pengintai itu lalu ia bisa leluasa merayu Haikal.
"Aku nggak mau kalau Ronal melihat kedekatan ku dengan Haikal saat di kamar itu. Lebih baik aku memutuskan koneksi lalu diam - diam menghancurkan kamera itu sendiri. Agar ia tidak, aku katakan saja kalau kamera itu rusak". Gumam Jasmin sambil mengotak - atik laptop milihnya yang terhubung dengan kamera pengintai di kamar Haikal.
Setelah itu, ia memerintahkan pada seorang pengawal kepercayaan nya untuk diam - diam merusak kamera pengintai itu saat ia membawa Haikal keliling taman nanti sore. Setelah itu ia akan lebih leluasa bermesraan dengan Haikal.
"Kecantikan ku memang tak perlu di pungkiri lagi. Jangan kan Ronal, Haikal saja langsung tak bisa berkutik dengan sentuhan dan lirikan mataku". Gumam Jasmin dengan percaya diri. Ia sedang memolesi wajahnya dengan make up padahal wajah nya sudah di lapisi bedak setebal satu senti.
Sementara di dalam kamar, Haikal tersenyum menang karena merasa rencana nya pasti berhasil mengelabuhi Jasmin. Terbukti beberapa saat kemudian, Jasmin kembali dengan pakaian yang lebih terbuka dari sebelum nya dan bahkan wajah nya semakin menyeramkan di mata Haikal.
"Ta - tante cantik banget!". Puji Haikal dengan lidah yang kelu. Selama ini ia tak pernah memuji wanita manapun tapi kali pertama ini ia gunakan untuk melancarkan aksi nya.
"Kamu jangan panggilan tante lagi, dong! Panggil Jasmin saja agar lebih akrap". Sahut Jasmin dengan senyum malu - malu.
"Tapi kamu kan adik dari mama kandung ku". Imbuh Haikal beralasan.
"Hah, tapi kami hanya saudara tiri kok. Jadi kita berdua nggak ada hubungan darah sama sekali". Jawab Jasmin beralasan.
Haikal tersenyum sinis, satu persatu kenyataan yang berusaha mereka palsukan akan ketahuan dengan sendiri nya. Awal - awal lagi Jasmin ketahuan berbohong. Padahal semalam ia mengatakan kalau ia dan ibu kandung Haikal adalah bersaudara bahkan sempat mengatakan bahwa wajah mereka hampir sama. Sekarang malah bilang kalau mereka tak sedarah. Dasar penipu.
"Benar kah? Lagi pula aku juga nggak terlalu suka memanggil wanita secantik kamu dengan panggilan tante. Agak lain aja gitu". Sahut ku pura - pura gembira dengan perkataan nya.
__ADS_1
Jasmin tersenyum menggoda pada Haikal dan menggandeng tangan pria muda itu dengan manja. "Kita ke taman aja yuk sekarang, bibik sangat ingin meluangkan waktu berdua dengan kamu". Ajak Jasmin.
"Tapi aku tiba - tiba merasa ngantuk Jasmin. Nanti sore aja gimana?". Tolak Haikal karena belum menyiapkan mental yang cukup untuk meladeni Jasmin.
"Mungkin obat tidur yang dia minum sudah mulai beraksi". Batin Jasmin. Ia kembali pada rencana awal nya saja, yaitu sore baru ia akan mengajar Haikal keluar kamar agar pengawal nya leluasa merusak kamera pengintai di kamar ini.
"Kalau begitu, kamu istirahat aja dulu ya. Aku pamit keluar dulu". pamit Jasmin. Sebelum menurut pintu, wanita itu sempat - sempat nya memberikan Haikal kiss jauh.
Dengan menahan urat malunya, Haikal membalas kiss jauh itu dengan perlakuan yang sama. Tapi dalam hatinya ia menggerutu memaki kebodohannya.
*
*
Haikal harus belajar meladeni wanita sejenis Jasmin. Ia akan menjebak wanita itu agar bisa di manfaatkan untuk menjalankan misi nya. Tapi sudah tentu semua nya tidak mudah karena selama ini ia tidak pernah berkomunikasi dengan wanita secara berlebihan apa lagi harus bermesraan.
Ia akhirnya tertidur dengan sendiri nya untuk mengumpulkan tenaga untuk nanti sore. Setelah tidur beberapa jam, pintu di ketuk dari luar.
Tok,, tok,, tok,,
Haikal menggeliat lalu duduk untuk mengumpulkan nyawanya. "Masuk". Teriak nya.
Pembantu dengan pakaian pelayan masuk ke dalam kamar nya sambil membawa nampan makan siang untuk nya. Agak sendikit berbeda karena tampak mewah, pasti ini rencana Jasmin untuk menyenangkan hati dan perutnya sebelum mereka menghabiskan waktu bersama.
Seperti biasa, Haikal sama sekali tidak melirik jus yang ada di nampan itu tapi tetap lahap menghabiskan nasi dan teman nya.
__ADS_1
Setelah selesai makan, Haikal memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu agar lebih segar. Tapi saat ia baru keluar dari kamar mandi, betapa terkejutnya ia saat melihat Jasmin sudah duduk di bibir kasur dengan tatapan nakal nya.
Haikal malas menyapa, ia bergegas mengambil baju dalam lemari dan memakainya dengan terburu - buru. Ia takut kalau Jasmin dengan tiba - tiba menyerang nya sementara ia saat ini hanya menggunakan handuk mandi. Tatapan Jasmin saja sudah cukup membuat nya susah bernafas apa lagi kalau kulit nya di raba dengan tidak sopan oleh wanita itu..
"Su - sudah lama nunggu". Tanya Haikal basa - basi setelah selesai berpakaian.
"Kamu kok buru - buru sih pakai baju nya padahal aku tub suka banget lihat tubuh kamu yang hanya memakai handuk tadi. Menggoda banget". Sahut Jasmin mencoba meraba dada Haikal.
Haikal berusaha mengelak dengan lembut dan malah memegang tangan Jasmin kuat. "Katanya mau jalan - jalan ke taman. Sekarang aja nanti ke buru malam". Ajak Haikal menarik tangan Jasmin keluar kamar.
"Sabar dong, ini masih awal, kok. Tapi nggak papa aku tahu kamu pasti nggak sabar jalan - jalan dengan ku". Sahut Jasmin dengan senang. Tapi sebelum memasuki lift, Jasmin menghampiri pengawalnya terlebih dahulu bersama Haikal yang tidak rela ia lepas.
"Jalan kan tugas kamu dengan cepat dan tanpa meninggalkan jejak dan kecurigaan lain. Lakukan secara halus, kamu mengerti!". Tegas Jasmin.
"Baik, non". Sahut pengawal itu.
"Tugas apa yang kamu berikan padanya kok terdengar seram banget". Goda Haikal saat di dalam lift.
"I - itu". Jasmin tampak gugup tapi dengan cepat menguasai diri. "Kamu nggak perlu ambil pusing, itu memang sudah menjadi tugasnya. Kamu pula hanya perlu menemaniku jalan - jalan sebelum si tua itu kembali". Sambungnya.
"Tua bangka? Maksud kamu siapa?". Tanya Haikal penasaran.
"Itu loh, si Ronal gatal itu. Dia sebenarnya memaksa ku untuk menikahinya padahal aku itu sama sekali tidak menyukai nya. Selain tua, dia itu cuek banget, lain dengan kamu. Aku ajak ke taman aja kamu mau, sudah lah manis baik hati lagi. Aku makin suka dekat - dekat dengan kamu". Imbuh Jasmin sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Haikal.
"Terima kasih, kamu juga baik kok. Selain baik kamu itu cantik banget. Cantik alami dari hati". Puji Haikal membuat Jasmin berbunga - bunga.
__ADS_1
"Kamu bisa aja. Kalau nanti malam aku datang ke kamar kamu ngobrol kamu mau kan?". Tanya Jasmin sengaja mengedipkan matanya menggoda Haikal.