
Kita tinggalkan dulu Fardy dengan segala rencananya.
Kita tinggalkan juga R2D dan Arslan dengan pekerjaan mereka yang ingin mengembangkan perusahaan serta organisasi Dragon empire.
Kini mari kita ikuti perjalanan Jerry William bin Wilson dan Clara binti Drako.
Puas berkeliling dunia bersama dengan Clara, akhirnya Jerry pun menetapkan pilihannya untuk tinggal di Garden hill. Sebuah perkampungan besar yang layaknya disebut sebagai kota kecil.
Tidak terasa sudah hampir seminggu mereka menetap di Garden hill ini.
Setelah menyelesaikan izin menetap, Jerry dan Clara pun akhirnya membeli sebuah rumah di kaki bukit yang dipenuhi oleh bunga-bunga liar di Garden hill ini sekaligus dengan puluhan hektare tanah di kawasan berbukit landai itu dengan tujuan untuk berkebun sekaligus berternak.
Dengan bermodalkan uang hasil penjualan mobil Lamborghini SIAN miliknya kepada Ivan, akhirnya Jerry pun membuka usaha dengan membeli Kafe dan sebuah restoran kecil di pusat kota tersebut.
Seperti yang diharapkan oleh pasangan muda itu, bahwa kini mereka sangat menikmati kenyamanan hidup. Jauh dari hiruk-pikuk suasana perkotaan, juga tidak di kejar-kejar oleh tanggung jawab yang harus dia emban seperti ketika menjadi Founder di Future of Company dulu.
Hari ini, Jerry dengan ditemani oleh Clara sedang sibuk melayani pengunjung di kafe yang baru saja mereka buka itu.
Spesial, untuk strategi dagang sekaligus mempromosikan menu yang ada di kafe mereka ini kepada para pengunjung, maka bagi setiap pengunjung yang datang awal dalam tiga hari ini, akan dijamu dengan hidangan khas kafe tersebut. Dan yang paling menariknya adalah, gratis.
"Hey Jerry. Kafe mu rame sekali dalam 3 hari ini." Sapa lelaki sedikit tua sambil mencari tempat duduk.
"Ah bapak. Akhirnya anda Sudi juga berkunjung ke kafe saya ini. Sudah tidak ada kursi yang kosong pak. Mari saya persilahkan anda duduk di kursi khusus." Ajak Jerry sambil menyeka tangannya dengan kain.
"Hehehe. Jangan terlalu sungkan nak. Aku kemari hanya ingin mengajak mu untuk bertemu dengan pak camat serta pak wali kota. Ini dokumen kepemilikan rumah, tanah, kafe serta restoran milik mu. Aku akan menemani mu untuk bertemu dengan pak wali kota. Bagaimana?" Tanya lelaki itu.
"Wah. Terimakasih bapak. Selama kami di sini, Pak Albert sudah banyak membantu. Saya jadi malu ini." kata Jerry tersipu.
"Lupakan. Sebagai kepala desa di sini, saya berkewajiban untuk membantu setiap warga. Saya senang kampung saya yang nyaris terlupakan ini didatangi oleh warga baru pindahan dari kota. Saya sangat suka sekali." Kata pak Albert yang ternyata adalah kepala desa Garden Hill itu.
"Kapan kita berangkat menemui pak wali kota itu Pak?" Tanya Jerry.
"Sekarang juga bisa." Jawab lelaki tua itu.
"Apakah bapak tidak duduk dan minum dulu pak? Izinkan saya melayani anda." Kata Jerry merasa tidak enak.
"Ah.. minum itu nanti juga bisa. Sekarang selesaikan dulu urusan surat menyurat ini. Kau baru dapat izin dari ku. Untuk lebih kuat di mata hukum, kau harus mendapat tandatangan dari pak camat, pak wali kota serta kita harus menemui instansi urusan pertanahan negara. Kelak jika ada persengketaan di masa yang akan datang, kau bisa menuntut secara hukum."
"Ok pak. Saya akan pamit dulu kepada nyonya menir." Kata Jerry sambil bergegas ke arah belakang.
Setelah semuanya selesai, Jerry dan pak Albert pun segera melangkah beriringan ke luar kafe dan dengan menaiki sepeda motor butut milik Jerry, mereka pun berangkat menuju ke kantor wali kota garden hill yang berjarak sekitar 1 jam perjalanan.
*********
Di jalan umum menuju pusat kota Garden hill, tampak dua orang lelaki setengah baya sedang berjalan beriringan.
Kedua lelaki itu tampak bukan warga kota Garden hill ini. Ini karena dari gerak geriknya yang celingak-celinguk, menandakan bahwa kedua orang itu sama sekali belum mengenal kawasan ini.
"Syam. Katamu kita mau ke Miami. Ini bukan Miami Syam! Ini tempat jin buang anak." Tegur seorang lelaki yang memiliki wajah menyeramkan itu.
Dikatakan menyeramkan, karena lelaki itu tidak sedikitpun tersenyum. Wajahnya kaku sekaku rambutnya yang jigrak. Dia juga memiliki bekas luka di wajahnya yang memanjang dari alis sampai ke pipi.
"Kau tenang dulu Drako. Ini memang bukan Miami. Aku mengajak mu kemari karena aku mencium bahwa Jerry berada di kota kecil ini." kata lelaki yang di sebut Syam itu.
__ADS_1
"Hah? Dari mana kau tau kalau menantu ku itu tinggal di sini?"
"Drako goblok. Apa kau lupa siapa aku ini?" Tanya lelaki bernama Syam itu sambil melotot.
"Hehehe. Sialan kau Syam. Ok.., aku ikut saja apa kata mu." Kata Drako pasrah.
Kedua lelaki itu terus berjalan sambil menutupi kepala mereka dengan surat kabar yang tadi mereka beli dari penjual pinggir jalan.
"Kafe itu Drako." Kata Syam sambil menunjuk ke arah sebuah kafe yang tampak sangat ramai dikunjungi oleh pelanggan.
"Mengapa dengan kafe itu? Ah biasa saja." Kata Drako acuh.
"Kita ke sana." Ajak Syam.
"Ya sudah. Kau yang bayar nanti!" Kata Drako.
Mereka berdua lalu bergegas memasuki kafe itu.
Baru saja mereka berdua duduk, seorang wanita muda menghampiri meja mereka berdua membuat lelaki bernama Syam segera menutupi wajah mereka dengan surat kabar.
"Clara Syam." Bisik Drako.
"Hehehe. Diam kau Drako. Kita beri mereka kejutan." Kata Syam.
"Maaf Tuan. Mau pesan apa?" Tanya wanita muda itu.
"Eheem eheem eheem. Bawa saja teh susu dan spaghetti." Jawab Syam sambil mengubah suaranya.
"Aneh sekali orang ini. Bicara tapi mereka sengaja menutupi wajah mereka dengan surat kabar." kata wanita muda itu dalam hati.
Terdengar suara lelaki dari arah depan sambil menenteng map berisi kertas-kertas.
"Kau sudah kembali Kak? Bagaimana dengan urusan mu?" Tanya wanita itu.
"Semuanya sudah selesai. Sekarang kita adalah pemilik sah dari tanah, rumah, restoran mini dan kafe ini." Jawab pemuda yang baru tiba tadi.
Mereka berdua kini asyik bercerita sampai lupa dengan pesanan pelanggan yang tadi membuat Syam dan Drako kini membentak dengan suara besar.
"Mana pemilik Kafe ini? Jika tidak bisa melayani pelanggan, sebaiknya tutup saja kafe ini." Bentak Syam sambil mengangkat kakinya dan membantingkan ke atas meja.
"Ya benar. Jika tidak bisa melayani tamu, bakar saja kafe ini!" Kata temannya menimpali.
"Sayang. Mereka adalah pelanggan yang baru tiba. Aku lupa menyediakan pesanan mereka karena terlalu asyik ngobrol dengan mu. Bagaimana ini?" Tanya Clara tergagap.
"Tidak apa-apa. Sini biar aku yang antar sekalian meminta maaf." Kata pemuda itu sekaligus meletakkan pesanan kedua pengunjung itu ke atas nampan.
"Maaf Tuan kaki anda apakah bisa di turunkan dari meja?!" Kata pemuda itu menegur dengan hormat.
"Heh. Belum pernah ada orang yang berani mengatur ku. Jangan berbuat bodoh jika tidak ingin mendapat masalah."
"Tapi Tuan. Jika anda tidak menurunkan kaki anda, lalu di mana saya akan meletakkan pesanan anda ini?" Tanya pemuda itu lagi sambil menahan kesabaran nya.
"Jika tidak ada tempat, kau bisa memegang nampan itu."
__ADS_1
"Tapi Tuan."
"Tidak ada tapi-tapian. Apakah kau menolak?" Tanya Drako sambil terus menutupi penglihatan pemuda itu dengan surat kabar yang dia baca. Namun, siapa yang tau bahwa dia dan Syam kini setengah mati menahan tawa.
"Tuan. Saya harus melayani tamu yang lain. Jika Tuan tidak bisa berlaku sopan, maka silahkan tinggalkan kafe saya ini."
"Anak muda. Kau yakin mau mengusir kami hah?"
"Jika anda tidak sopan, maka saya pun tidak akan sungkan lagi." Jawab pemuda itu.
"Kurang ajar!"
Plak....!
"Berani sekali kau ini berbicara seperti itu kepada ku. Belum kenal siapa aku ya?"
Tampak lelaki itu membanting surat kabar di tangannya ke atas meja.
Begitu wajahnya kelihatan, kini gantian pemuda tadi yang terkejut.
"Ayah..." Kata pemuda itu terheran-heran.
"Hahahaha...."
"Wah. Anda Tuan Syam. Ba.. bagaimana anda bisa menemukan saya di sini?" Tanya pemuda itu.
"Salam untuk anda Ketua. Tidak sulit untuk menemukan keberadaan mu. Jangan lupa siapa Syam ini dan apa pekerjaan Syam ini ketika masih muda." Kata lelaki yang dipanggil oleh Tuan Syam oleh pemuda tadi.
"Sayang.. kemari lah!" Teriak pemuda itu memanggil seorang wanita muda yang sedang bekerja di dapur.
"Ada apa sayang...?"
Praaaang...!
Terdengar suara seseutu terbanting ke lantai.
"Ayah... Tuan Syam?! Anda di sini?" Tanya wanita muda itu seperti tidak percaya.
"Hahaha. Kalian ini seperti melihat hantu saja. Maaf ketua jika kedatangan kami ini mengejutkan anda." Kata Tuan Syam.
"Ah. Jangan panggil aku dengan sebutan ketua. Cukup panggil dengan nama Jerry saja." Pinta pemuda itu.
"Hahaha.. kami kemari ingin menenangkan fikiran. Kau tau bahwa organisasi sudah kami serahkan kepada yang muda. Saatnya kami istirahan menikmati hari tua. Bukanlah begitu Syam?" tanya Drako.
"Benar. Kami sengaja datang kemari untuk membantu anda Ketua. Sekalian menetap di sini. Kami sudah lelah dengan kekerasan kehidupan di Metro City." Kata Tuan Syam lupa.
"Kebetulan sekali. Kami sudah membeli rumah yang lumayan besar. Nanti selepas kafe ini tutup, kita akan pulang dan Tuan Syam serta Ayah bisa beristirahat. Bagaimana?"
"Setuju. Baiklah. Mari kita makan dulu." Ajak Tuan Syam.
"Kau Jerry. Apa kau yakin tidak ingin memegang nampan itu sampai kami selesai makan?" Tanya Drako.
"Baik Ayah. Aku tidak keberatan." Jawab Jerry sambil melirik ke arah Clara yang sejak tadi hanya tertawa lucu.
__ADS_1
"Nasib ku jelek sekali setiap bertemu dua orang sinting ini. Bisa kram tangan ku kalau begini terus." Kata Jerry dalam hati. Namun dia tetap tidak berani mengeluh dan terus saja dia berdiri sambil memegang sebuah nampan berisi makanan itu.