
Arya melanjutkan kerjanya seperti biasa hingga selesai dengan cepat. Ia sudah berjanji pada Rehan untuk membujuk manager pemasaran agar menerima Rehan karena memiliki potensi yang lebih tinggi berbanding orang lain.
Jam menunjukkan pukul 4 sore. Ada waktu sejam lagi sebelum jam pulang kerja. Arya sudah menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu dan kini menuju ruang Manager pemasaran yang berada di lantai yang sama dengan tempat kerjanya.
Tapi saat ia masuk, ia terkejut karena karena dalam ruangan itu terdapat seseorang yang begitu tidak asing di matanya. "Puspa?" Seru Arya menatap wanita itu bingung.
"Mas Arya? Kebetulan mas ada di sini, aku sebenarnya mau buat kejutan untuk kamu tapi aku malah ketahuan duluan. Tak nggak papa lah," sahut wanita itu sambil bergelayut manja di lengan Arya.
"Kejutan? Maksud kamu apa?" Arya menatap Puspa bingung.
"Iya, sebentar lagi kita satu kantor mas. Aku akan kerja di sini dekat dengan kamu." Seru Puspa dengan tatapan berbinar - binar.
"Jadi kamu melamar kerja sebagai bawahan Rafa di bagian pemasaran?" tanya Arya memastikan.
Puspa mengangguk dengan sangat yakin.
"Tapi kenapa bisa? Seleksi pemilihan beberapa pelamar untuk jawatan kosong ini bahkan belum di mulai." Arya masih belum percaya dengan apa yang terjadi.
"Kamu pasti belum tahu, yah. Maaf aku nggak sempat kenalkan mas dengan dengan sepupu aku yang satu ini. Rafa sepupu aku mas, jadi aku bisa lebih mudah mendapatkan jawatan ini tanpa melalui seleksi terlebih dahulu. lagi pula mas Rafa udah tahu kemampuan aku dalam marketing jadi nggak perlu di ragukan lagi. Iya kan mas Rafa," Puspa beralih menatap Rafa meminta persetujuan.
Rafa mengangguk membenarkan perkataan Puspa. "Kamu pula datang ke ruangan saya tiba - tiba ini ada hal apa? Kalau untuk merekomendasikan Puspa nggak perlu karena saya lebih mengetahui kinerjanya," Rafa menatap Arya dingin.
Arya terdiam. Ia memang niatnya datang ke ruangan manager pemasaran memang untuk merekomendasikan seseorang tapi bukan Puspa melainkan sahabatnya, Rehan. "Jadi perusahaan tidak jadi melakukan proses seleksi untuk pemilihan karyawan di jawatan itu pak Arya?" tanya Arya memastikan..
"Tetap di laksanakan tapi yang akan memang saya sudah memastikan nya lebih awal yaitu Puspa. Seleksi itu hanya agar perusahaan tidak terlihat buruk saja tapi sebenarnya nggak perlu pun." Sahut Rafa.
__ADS_1
"Tapi bagaimana kalau di antara para pelamar yang lain malah ada yang lebih berbakat berbanding Puspa apakah pak Rafa akan tetap memilih Puspa sebagai pemenang nya?" Arya seperti nya kurang setuju jika kekasih hati nya lah yang menang sementara ia sangat menginginkan Rehan yang berada di posisi itu.
Puspa menatap Arya kesal. "Kamu kenapa sih, mas? Kamu terdengar seperti meragukan aku, kamu nggak suka kalau aku kerja di sini bareng kamu? Atau jangan - jangan kamu ada wanita lain di kantor ini maka nya nggak suka kalau aku juga kerja di sini," Puspa malah curiga dengan sikap Arya.
Arya menjadi salah tingkah, ia malah tidak berpikir kalau Puspa akan curiga seperti itu. "Bukan begitu maksud mas, Sayang. Tapi ... " Arya mencoba menjelaskan pada kekasihnya tapi Puspa sama sekali nggak mau mendengar penjelasan dari nya sedikit pun.
"Sudah lah, Mas. Aku nggak perlu penjelasan dari kamu. Sudah jelas semua nya lebih baik kita putus saja mulai sekarang," potong Puspa kesal.
Puspa berlari keluar dengan wajah memerah menahan amarah. Arya ingin mengejar tapi Rafa malah mencegahnya.
"Nggak perlu kamu mengejarnya! Kamu dengan sendiri kan tadi kalau dia mau putus jadi dia nggak mau di ganggu lagi sama kamu. Aku sebagai sepupu nya nggak suka kalau dia merasa terganggu oleh kehadiran siapa pun." jelas Rafa dengan tatapan mencemooh..
"Tapi aku harus menjelaskan semua nya pak Rafa. Dia sudah salah paham padaku jadi aku berhak meluruskan kesalahpahaman ini." Sahut Arya mencoba mengejar Puspa lagi.
Arya tertunduk lesu mendengar perkataan Rafa. Ia tahu kalau ia nggak pantas untuk Puspa tapi ia sudah berusaha memantaskannl diri untuk wanita itu. Memang kalah soal materi tapi ia berusaha menang dalam soal tanggung jawab dan cinta yang tulus.
"Aku harap kamu sadar diri dan menjauh lah dari Puspa mulai sekarang karena sebentar lagi keluarga kami akan menikahi nya dengan seorang pria yang lebih sepadan berbanding dengan mu yang hanya jongos di perushaan ini." tukas Rafa mengintimidasi Arya.
"Apa? Ini nggak mungkin, Puspa nggak pernah cerita pun tentang dia akan di jodoh kan dengan seseorang." Arya nggak percaya begitu saja dengan obrolan Rafa padanya.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Tapi aku ada sesuatu yang ingin ku beri kan padamu tapi buka saat kamu di rumah saja. Aku nggak mau lihat ada seorang jongos tiba - tiba bunuh diri di gedung perusahaan ini." ucap Rafa sambil tersenyum sinis.
Arya pemberian Rafa dan bergegas keluar dari ruang kerja pria itu. Arya hanya bis melongos kesal karena diremehkan oleh pria itu. Jika bukan karena Rafa salah satu manager di perusahaan nya sudah dari awal ia memberi pelajaran pada pria sombong itu. Ganteng saja lebih ganteng Arya, Rafa hanya menang harta dan pangkat yang tak di miliki oleh Arya.
Karena kesal, Arya langsung membuka amplop pemberian Rafa tadi. Ia penasaran apa isi di dalam nya. "Ini kan sebuah undangan pernikahan tapi pernikahan siapa?" gumam Arya.
__ADS_1
Saat ingin membaca nama yang tertera sebagai mempelai, tiba - tiba datang seseorang menepuk bahunya. "Bukan kah ini pria yang datang bersama lo tadi, bro?" tanya rekan Arya sambil menunjukkan potongan CCTV yang tersebar di grup perusahaan.
Arya mengerutkan dahi bingung. Ia pun memperhatikan rekaman Rehan yang sedang berjalan keluar gerbang perusahaan. Itu saja, sama sekali nggak ada yang mencurigakan. "Sebenarnya kamu ingin menunjukkan apa pada?" tanya Arya bingung.
"Lo sih malas banget update kejadian di gedung ini, sibuk kerja aja tanpa memperdulikan kejadian di sekitar lo. Liat sekarang, bahkan keluarga lo sendiri hilang, lo nggak tahu kan. Maka nya..." bukan langsung menjawab pertanyaan Arya, rekan nya itu malah sibuk berkomentar.
"Jangan banyak ngomong deh! jawab aja langsung, aku sedang kesal ini!" Hardik Arya kesal.
Rekan nya mencibir kesal juga lalu menjawab dengan datar, "tadi saat baru saja keluar dari gerbang, dia langsung di bawa pergi oleh beberapa orang pria berbadan kekar menggunakan sebuah mobil. Tiada dalam rekaman CCTV karena CCTV pada saat itu tiba - tiba eror semua. Hanya ini rekaman yang terakhir." Sahut rekan nya malas.
"Hah, maksud kamu Rehan di culik? Tapi kenapa?" Arya berubah panik.
"Mana aku tahu, lo kan keluarganya maka nya aku datang beritahu lo karena yakin lo pasti belum tahu berita ini." Rekan nya berlalu oergi meninggalkan Arya yang masih di landa kekhawatiran pada keadaan sahabatnya itu.
"Berarti Rehan sudah hilang beberapa jam yang lalu. Aku harus menghubungi Arsi untuk memastikam semua nya." Arya mengotak - atik ponsel nya lalu menghubungi Arsi untuk menanyakan keberadaan Rehan.
"Ada apa mas. Tumben nelpon aku." ucap Arsi saat panggilan terhubung.
"Rehan ada di rumah nggak sekarang?" tanya Arya.
"Malah aku yang mau nanya mas sekarang mas Rehan kemana, aku rindu nih," sahut Arsi genit.
"Jadi Rehan beneran nggak ada di rumah?" Arya ingin memastikan..
"Ya iya lah, kan tadi kalian pergi bersama, gimana sih?" jawab Arsi kesal.
__ADS_1