
POV Karina
"Ha ha ha, ternyata cuma segini keahlian bela diri kamu. Maka nya jangan sombong!". Sindir nya lagi.
Aku menatap nya geram. Tekat ku untuk meningkatkan keahlian bela diri semakin tinggi, aku akan berlatih sungguh - sungguh dan akan mengalahkan nya suatu hari ini. Lihat aja nanti Abil.
Setelah menyerah, Abil menempelkan tangan ku ke dinding, tiba - tiba dinding itu berubah menjadi layar. "Tempelkan tangan mu ke layar ini". Titah nya.
Aku sudah tahu kalau layar ini adalah kunci membuka pintu sama saat kami ingin memasuki lift tadi. Menurut dan meletakkan tangan ke layar yang di maksud. Segera pintu ini terbuka dan memperlihatkan kamar yang begitu mewah di dalam nya.
"Wah, ini kamar ku?". Gumam ku kagum..
"Iya. Hanya sidik jari kamu yang bisa membuka pintu ini. Eh, tak, ada beberapa orang yang bisa membuka nya termasuk Anti Aisyah tapi mereka takkan melakukan nya tanpa seizin mu. Masuk lah, aku akan pergi". Pamit Abil.
Aku tak lagi memperdulikan nya, mataku sibuk mengagumi kamar ini. Seumur - umur aku baru melihat kamar semewah ini. Semua nya lengkap bahkan banyak barang yang aku sama sekali tak tahu cara memakainya.
Ternyata sekarang sudah pukul satu malam, bergegas membersihkan diri dan beristirahat. Besok aku akan meminta Abil mengajar kan ku menggunakan semua alat eletronik di dalam kamar ini termasuk cara menyalakan AC. Malam ini aku akan tidur di lantai keramik untuk menyejukkan badan saat tidur.
*
*
POV Haikal
Semenjak Karina tak sekolah, aku sedikit merasa bosan. Hari ini aku sudah mulai bekerja, meskipun masih belum cukup umur, kini aku sudah memiliki sim pengendara tanpa ribet melalui tes terlebih dahulu berkat pertolongan mama Aisyah.
Sebenar nya aku sangat yakin bisa lolos tapi tetap saja harus membayar lebih agar sim cepat di proses. Begitu lah di negara ini, sebagian pejabat tidak akan bergerak mengerjakan tanggung jawab mereka jika tidak di beri suap terlebih dahulu.
__ADS_1
"Mama mau kemana hari ini?". Tanya ku saat mama Aisyah menghampiri ku yang asik membersihkan mobil.
"Hari ini mama ingin ke mall, mau belanja sedikit baju di sana". Jawab mama Aisyah.
Aku bergegas membuka kan pintu untuk mama Aisyah dan berlari masuk ke bagian kemudi. "Baik lah, kita gerak sekarang". Ucap ku bersemangat.
Sedikit bersemangat karena hari ini adalah hari pertama bekerja dan membawa majikan ku ini pergi tempat yang dia ingin kan. Sebenarnya segan menerima gaji sebelum nya padahal aku belu kerja. Jadi mulai sekarang aku akan giat bekerja agar mereka tidak ragu pada kualitas kerja ku.
"Kamu sudah menemukan adik mu yang hilang?". Tiba - tiba mama Aisyah mengingatkan ku ada Karina.
"Belum, mah". Jawab ku lesu.
"Kami tenang saja. Menurut laporan Josep, adik kamu di adopsi oleh sepasang suami istri yang mampu membiayai sekolah nya hingga kuliah. Mama juga nggak boleh memaksa Josep untuk mengatakan siapa pasangan yang mengadopsi nya itu karena papa Zack kamu yang melarang nya. Pria itu kalau sudah bicara A maka A lah tak akan mudah berubah kecuali...". Jelas mama Aisyah mencoba menenangkan ku.
"Kecuali apa, mah?". Tanya ku. Aku sangat ingin tahu siapa yang mengadopsi Karina, hanya ingin memastikan jika keadaan nya benar - benar baik tinggal bersama mereka.
"Kecuali kamu berhasil mengalahkan nya saat pertarungan". Sahut mama Aisyah dengan tatapan aneh nya.
"Jangan mudah menyerah sebelum bertarung begitu, nak". Kata mama Aisyah.
"Bukan menyerah sebelum bertarung, tapi aku hanya tidak ingin menjadi kacang lupa kan kulit. Mama dan papa Zack lah yang telah mengubah hidup saya menjadi lebih baik, jadi saya tidak mungkin menyakiti kalian. Kecuali...". Sahut ku.
"Kecuali apa?". Mama bertanya tapi tidak menatap ku sama sekali. Wajah nya tampak datar.
Aku teringat pesan pria yang menitip kan ku pada papa yang tertulis di foto itu. Ia mengatakan tentang balas dendam, jika terbukti mama Aisyah dan Papa Zack adalah musuh keluarga ku maka aku tak segan akan melenyapkan mereka. Tapi semua sekarang semua nya belum terbukti apa - apa, jadi aku masih menganggap mereka malaikat untuk saat ini.
"Jangan tegang gitu dong, mah! Aku hanya asal bicara kok". Ucap ku mengalihkan pembicaraan agar mama Aisyah tidak tegang.
__ADS_1
Beruntung mama Aisyah tidak memasukkan nya ke dalam hati dan kembali ceria. Tak terasa kami sudah berada di parkiran sebuah mall terkenal yang cukup besar dan mewah.
"Kamu ikut mama, yah". Ajak mama Aisyah.
"Sudah tentu mah. Aku dengan suka rela menawarkan diri membawakan semua barang belanjaan mama karena ini juga merupakan tugas saya sebagai supir pribadi". Sahut ku.
"Bukan. Mama mengajak kamu masuk bukan untuk membawa barang belanjaan mama. Tapi mama ingin berbelanja baju baru untuk kamu, kata bik Saras kamu jarang memakai baju yang sudah mama sediakan di lemari kamar kamu. Mama pikir kamu mungkin nggak suka dengan desain baju itu, maka nya mama mengajak kamu untuk memilih baju kamu sendiri". Jelas mama sambil menggandeng lengan ku masuk ke dalam mall.
"Ta - tapi...". Aku berniat menolak.
"Nggak ada tapi - tapian. Mama nggak suka penolakan". Potong mama menarik lengan ku dengan paksa.
*
*
Beberapa bulan kemudian.
Hari yang di tunggu telah tiba. Setelah mengambil Ijazah SMA di sekolah, aku memutus kan untuk mengunjungi mama di rumah nya. Setiap bulan hanya datang untuk memberikan uang belanja untuk sebulan pada nya. Tapi untuk kali ini aku akan menunjukkan sesuatu yang lebih istimewa pada nya.
Terlihat dari kejauhan ada beberapa orang pria dengan jas hitam seperti pengawal berdiri di depan rumah. Mama tampak ketakutan saat menghadapi mereka. Aku memutuskan untuk memarkir mobil di seberang jalan yang masih jauh dari rumah mama. Aku ingin mendengar terlebih dahulu maksud dan niat mereka datang menemui mama.
Tampang mereka bukan seperti preman jalanan yang datang untuk menagih hutang papa pada mereka. Pasti maksud mereka bukan untuk menagih hutang tapi ada maksud yang lebih penting.
"Kamu jangan bohong! Katakan di mana anak itu sekarang?". Salah satu dari pria itu membentak mama hingga membuat nya semakin ketakutan.
"Sa - saya benar - benar tidak mengetahui tempat tinggal nya sekarang. Ia bekerja sebagai supir dan tinggal bersama majikan nya". Jawab mama dengan suara bergetar ketakutan.
__ADS_1
"Apa? Kerja? Sejak kapan dia kerja? Setiap bulan aku mengirim kan uang untuk membiayai hidup nya tapi kalian malah meminta nya untuk bekerja dan tidak tinggal lagi bersama kalian? Mana Si Karim brengsek itu? Aku akan membuat perhitungan pada nya karena telah menyiksa anak itu". Ujar pria itu semakin murka.
Ternyata mereka datang mencari ku. Mungkin mereka adalah anak buah pria yang menitipkan ku di rumah ini karena wajah pria itu dengan yang ada di foto tampak berbeda. Aku harus menemui mereka sekarang untuk memastikan identitas ku yang sebenar nya.