PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Bab 32 Hancur di tangan darah daging sendiri


__ADS_3

Ternyata mereka datang mencari ku. Mungkin mereka adalah anak buah pria yang menitipkan ku di rumah ini karena wajah pria itu dengan yang ada di foto tampak berbeda. Aku harus menemui mereka sekarang untuk memastikan identitas ku yang sebenar nya.


"Lepas kan wanita itu!". Teriak ku pada mereka yang sedang mencekik mama.


"Haikal? Lari nak, jangan sampai mereka menangkap mu!". Teriak mama dengan susah paya.


"Diam kau wanita sialan!". Bentak salah salah satu pria itu yang sedang mencekik leher nya.


"Aku yang kalian inginkan, kan. Maka lepaskan wanita itu!". Tegas ku.


"Ukhh, ukhh...". Mama ter batuk - batuk sambil memegang leher nya yang sakit karena di cekik tadi.


"Akhirnya kita bertamu lagi, nak. Kamu baik - baik saja kan tinggal bersama mereka?". Di luar dugaan, pria yang berpakaian berbeda dari yang lain ini malah berusaha merangkul ku.


Aku jadi bingung untuk bereaksi bagaimana terhadap nya. Ia bersikap seperti menyayangiku tapi aku malah merasa agak aneh melihat nya.


"Sebenarnya kamu siapa?". Tanya ku sambil berusaha menjauh dari nya.


"Aku adalah paman mu, nak. Om Ronal, Kita adalah keluarga. Jangan takut begitu pada ku". Jawab nya.


"Jangan percaya dengan ucapan nya, Haikal! Mereka sebenarnya...". Mama berteriak ingin mengatakan sesuatu tapi dengan cepat di pukul oleh pria yang memegang nya hingga pingsan.


"Kenapa kau memukul nya?". Kesal ku.


Aku menjadi curiga pada mereka setelah mendengar perkataan mama yang mencegah ku untuk memercayai mereka. Tapi kenapa? Siapa yang berbohong sekarang?


"Kamu nggak usah peduli pada nya, nak. Ternyata mereka selama ini memanfaatkan kita saja. Mereka sudah menghabiskan uang yang ku kirim setiap bulan nya untuk kepentingan mereka sendiri dan kamu pula di paksa untuk bekerja untuk mereka. Kalau tahu seperti ini, maka paman tidak akan setuju kalau kamu di rawat oleh mereka". Bujuk pria yang bernama Ronal ini.


"Kalau kita memang keluarga, kenapa aku malah di titip kan pada mereka untuk di besar kan? Kenapa bukan kalian saja yang membesarkan ku? Jangan menyalahkan orang lain kalau kalian lah yang sebenarnya harus di salah kan". Cerca ku nggak langsung percaya begitu saja pada ucapan nya.


"Kamu nggak boleh ngomong kayak gitu, nak! Keluarga kita begitu banyak musuh, kamu adalah salah satu target mereka untuk menghancurkan keluarga kita. Keputusan kami untuk menitip mu pada orang lain juga untuk keselamatan mu, nak". Jelas nya terdengar meyakinkan.

__ADS_1


Sebenarnya masih ragu pada ucapan nya tapi untuk membuktikan semua ucapan itu, aku harus terlihat percaya pada ucapan nya terlebih dahulu. "Jadi kalian menitip kan ku di sini untuk keselamatan ku?". Tanya ku memancing.


"Iya, nak. Maaf kalau keputusan kami ini membuat ku tertekan dan malah sengsara hidup bersama mereka. Maaf juga karena jarang mengunjungi untuk memastikan keadaan mu. Itu karena kami takut ada orang yang mengikuti kami saat datang ke sini dan malah mengetahui keberadaan mu. Maaf kan om juga ya nak". Lirih om Ronal dengan raut wajah sedih.


"Nggak papa kok, om. Aku juga mau minta maaf karena tadi sempat tidak percaya. Jadi kenapa sekarang om ingin menemui ku?". Sahut ku.


"Udah saat nya kamu kembali ke pelukan kami, nak. Kamu udah gedek dan om yakin kamu bisa menolong keluarga kita untuk membalas dendam pada musuh - musuh keluarga". Jawab nya, akhirnya tahu maksud mereka yang sebenarnya.


Bukan karena rindu pada ku, tapi hanya untuk membalas kan dendam mereka yang aku sama sekali tidak tahu pada siapa saja.


"Aku akan pulang bersama om tapi untuk balas dendam aku tidak akan mau. Selesaikan urusan kalian dan jangan libat kan aku!". Tolak ku.


Om Ronal yang mengaku sebagai keluarga ku ini tampak kesal setelah mendengar perkataan ku.


"Tapi kenapa? Kamu dendam pada kami yang sudah menelantarkan kamu di rumah kecil ini?". Ujar nya dengan suara tinggi berbanding tadi.


"Itu om tahu. Aku sama sekali tidak pandai berkelahi apa lagi bertarung. Mustahil untuk membantu kalian untuk balas dendam. Lagipula kenapa baru sekarang om menjemput ku? Seharusnya dari dulu om mengajarkan ku bela diri agar punya kemampuan untuk melindungi keluarga". Om Ronal tampak semakin kesal dengan ku.


"Diam!". Bentak om Ronal membuat pengawal nya mundur ketakutan.


"Baik lah kalau keputusan mu seperti itu. Om tak akan memaksa mu tapi om tetap berharap suatu hari nanti kamu dengan suka rela menolong keluarga kita untuk balas dendam". Imbuh nya mengalah.


"Sudah tentu, kalau ucapan mu ini benar maka aku sendiri yang akan membalas kan dendam kalian tapi jika ucapan mu adalah yang sebalik nya maka aku tak akan ragu lagi untuk membunuh kalian semua". Batin ku.


Entah kenapa aku merasa sukar percaya dengan ucapan nya. Apa lagi tadi mama sempat mencegah ku memercayai mereka. Terlalu banyak misterius yang harua ku bongkar sebelum semua nya terlambat.


"Kalau begitu kita pulang sekarang". Pria it merangkul bahu ku untuk pamit pergi.


"Baik lah". Sahut ku setuju. Tapi bagaimana kalau mama Aisyah dan yang lain nya mencari ku?


"Ada apa ini Haikal?". Bang Jo berdiri di depan kami dengan wajah datar. Ternyata kebingungan ku terjawab.

__ADS_1


"Om masuk ke mobil dulu, aku ada urusan dengan abang ini sebentar. Aku harus pamit pada nya untuk berhenti kerja". Bisik ku pada om Ronal.


"Baik lah, tapi jangan lama - lama". Sahut om Ronal tampak tidak curiga.


Setelah om Ronal masuk ke dalam mobil dan hanya menyisakan pengawal nya yang berdiri di samping mobil untuk berjaga - jaga.


"Jangan ikut bersama mereka, Haikal". Bisik bang Jo mencegahku ikut bersama om Ronal.


"Bang Jo jangan khawatir, aku pamit pergi dulu dan tolong sampai kan permintaan maaf ku pada mama Aisyah karena tiba - tiba berhenti kerja tanpa pamit terlebih dahulu. Aku cuma ingin meminta tolong bawa mama ku ke rumah sakit". Balas ku dengan berbisik juga.


"Tapi...".


"Aku pamit dulu ya bang. Aku akan memastikan semua nya sendiri". Sahut ku lalu bergegas menuju mobil meninggikan bang Jo.


Mobil langsung melaju meninggikan rumah mama setelah aku dan beberapa orang pengawal yang tersisa masuk ke dalam mobil. Bang Jo tampak mengotak atik ponsel nya lalu menghubungi seseorang.


"Minum lah ini, kamu pasti capek dan haus kan". Om Ronal menawarkan sebotol air putih ke arah ku.


"Aku tak haus, om". Tolak ku.


"Minum lah sedikit saja nggak papa". Om Ronal tampak memaksa padahal aku sama sekali tak haus.


"Baik lah". Aku memutuskan untuk menurut. Menerima air itu lalu meneguk nya sedikit agar tiada perdebatan. Aku lalu menyerahkan botol itu kembali pada om Ronal tanpa mengatakan apa pun.


Ia tampak tersenyum miring pada ku. Aku yakin terdapat sesuatu dalam air yang ia berikan pada ku tadi. Mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku lalu pura - pura batuk padahal aku hanya ingin mengeluarkan air yang ada di dalam mulut ku. Aku tak akan mudah di kelabuhi. Kemudian aku pura - pura mengantuk lalu tertidur.


"Apa dia sudah tidur?". Tanya om Ronal pada pengawal yang duduk di samping ku.


"Iya bos. Dia sudah tertidur pulas". Jawab pengawal itu setelah melambai - lambaikan tangan di wajah ku.


"Bagus! Sekarang geledah pakaian nya. Jangan sampai markas kita di ketahui oleh keluarga Purbalingga. Sudah belasan tahun kita tidak mengusik keluarga itu dan hanya bergerak dalam diam. Tapi sebentar lagi mereka akan hancur di tangan darah daging mereka sendiri". Imbuh om Ronal membuat ku tercengang mendengar ucapan nya.

__ADS_1


__ADS_2