
"Oh, aku akan mencoba nya semoga saja berhasil lolos interview kerja di kantor kamu itu. Jadi kita bisa berangkat bareng - bareng nanti." Balas Rehan kurang semangat.
"Jangan lemas gitu dong Rehan. Aku yakin kalau kamu pasti akan cepat berhasil dimana pun kamu memulainya, karena kamu bukan orang sembarangan, kamu orang yang pernah sukses hingga mempunya perusaahan sendiri yang tak kalah besar dari perusahaan tempat ku bekerja sekarang, otak kamu itu cerdas nggak seperti aku yang hanya bisa jadi jongos aja terus." Arya mencoba memberi suntikan semangat pada Rehan yang tampak lemas karena terpaksa bekerja sebagai karyawan biasa seperti nya.
"Terima kasih, Ar. Kamu sangat baik pada ku selama ini. Aku beruntung memiliki teman sebaik kamu." Sahut Rehan mulai tersenyum menanggapi ucapan Arya.
Arya menepuk bahu Rehan sambil tersenyum hangat.
"Kamu pulang, Ar? Kalau begitu ayo kita makan bareng, ibu baru aja mau manggil Rehan makan siang. Eh, kamu nya juga ada sekalian temani Rehan makan gih ibu sedang ada urusan di luar jadi nggak bisa nemenin kalian," ucap ibu Arya.
"Ya udah, ibu pergi aja biar aku yang nemenin Rehan makan siang. Hati - hatur kalau bepergian." pesan Arya.
Arya dan Rehan makan siang bersama dengan hidangan seadaanya yang telah tersedia di meja makan sementara ibu Arya berpamitan untuk keluar menyelesaikan urusan nya. Saat asik menyantap makan siang, adik Arya yang bernama Arsi datang mengagetkan mereka berdua dengan pakaian nya yang terlihat agak aneh.
Mata Arya membuat sempurna dan memerah seperti menahan kesal yang sangat mencekam. "Kamu mau ke mana dengan pakaian seperti itu?" tanya Arya ketus.
"Enggak ke mana - mana kok, mas. Arsi hanya di rumah aja seharian ini." Balas Arsi cuek, ia memilih duduk di samping Rehan sambil bergaya agak nyeleneh. "Mas Rehan mau nambah?" tanya nya tanpa memperdulikan tatapan Arya pada nya.
Rehan menggeleng perlahan menanggapi Arsi. Sementara Arya menarik paksa tangan adik nya itu menjauh dari dapur.
"Kamu apa - apaan sih, Arsi? Pakaian kamu ini sangat tidak layak di pandang tahu nggak. Aku sebagai mas mu pun malu lihat kamu seperti ini. Sana ganti baju!" hardik Arya kesal.
__ADS_1
"Mas tuh yang apa - apaan. Aku berpakaian ini juga sama dengan cara berpakaian pacar mas kok. Bukan nya karena penampilan nya seksi makanya mas terpesona padanya. Jadi mas nggak usah syok suci deh nggak suka lihat aku berpakaian seperti ini kalau hakikatnya mas sendiri juga suka tergiur dengan wanita seksi di layar sana." Sahut Arsi nggak terima dengan sikap Arya pada nya.
Arya mengerutkan dahi nya bingung, tapi serba sedikit ia mengerti maksud adik nya itu tiba - tiba berubah. "Jadi kamu sekarang sedang ingin menggoda seseorang, siapa?" tanya Arya penasaran. "Mas nggak mau dengar kalau kamu terpikat pada Rehan." sambungnya menerka.
"Jadi siapa lagi di rumah ini yang ingin aku pikat selain mas Rehan," tukas Arsi ketus.
"Tapi tidak seperti ini juga kalik, Arsi! Mas jijik lihatnya." bantah Arya keberatan dengan niat Arsi..
"Jijik? Jadi mas jijik juga dong lihat kak Puspa, pacar mas tuh berpakaian seperti ini? Jangan munafik deh mas, mata mas tuh sangat jelas tergiur saat melihat kulit mulus nya. Jadi jangan mas ngomong jijik sama aku." cerca Arsi mulai kesal dengan kakak nya.
"Tapi mas ada ide lebih cemerlang untuk mengait hati Rehan dari pada ide buruk kamu ini," Imbuh Arya memberi solusi.
"Hah, apa mas?" Arsi tampak antusias karena Arya ingin menolong nya.
"Iya aku tahu, jadi katakan saja lah mas nggak usah berbelit - belit. Aku penasaran nih mas," balas Arsi antusias.
"Kamu ganti baju kamu itu dulu lalu makan. Nanti malam baru mas katakan sama kamu," kata Arya membuat Arsi memanyumkan bibir nya karena kecewa.
"Tapi mas janji dulu ya, jangan coba - coba mempermainkan aku mas. Aku sangat suka dengan sahabat mas itu, mas Rehan sudah berhasil membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama." sahut Arsi memastikan perkataan Arya.
"Iya aku janji Arsi. Malam nanti mas akan katakan sama kamu tapi ganti baju kamu itu mas nggak suka lihat nya." jelas Arya berjanji.
__ADS_1
Arsi meninggalkan Arya menuju kamarnya dengan mulut yang berkomat - kamit kesal pada Arya.
"Dasar aneh, saat melihat wanita di luar sana yang berpakaian seksi seperti ini matanya bukan main melotot sambil menelan air liur, sedangkan aku malah jijik pula dia bilang, dasar Mun4fik!" omel Arsi.
Arya kembali ke dapur untuk melanjutkan makan siang nya yang sempat terjeda akibat aksi menjengkelkan dari adik nya. Rehan tidak ingin ikut campur urusan mereka, ia sudah tahu niat sebenar Arsi tak lain untuk memikatnya. Sudah menikah sebanyak dua kali dan sempat di kelilingi oleh banyak wanita di masa kegemilangan nya, Rehan sudah terbiasa dengan sikap para wanita yang mencoba merayu nya.
Setelah Makan siang, Rehan bersiap ikut ke kantor bersama Arya untuk menghantar berkas untuk melamar kerja di sana. Meskipun menggunakan identitas baru, tapi Rehan masih memiliki ijazah S1 yang telah di palsukan dari ijazah nya yang asli. Mustahil jika terciduk palsu karena dulu bu Wahida sudah menyewa orang professional untuk mengubah nya.
"Kamu tunggu aja panggilan interview nya, aku akan mencoba membujuk manager pemasaran untuk mengutamakan kamu saat interview nanti." Ujar Arya selepas menghantar berkas Arya pada petugas.
"Kamu tenang saja, bro. Saat interview nanti gue sendiri yang akan membuat mereka tidak bisa menolak ku untuk bekerja di sini," Sahut Rehan dengan percaya diri.
Rehan pamit pulang sementara Arya harus lanjut kerja. Tapi saat baru aja keluar dari gerbang, mulut Rehan dibekap oleh seseorang dari belakang. Rehan sempat meronta tapi sapu tangan yang membekap mulutnya terdapat obat bius sehingga ia lemas dan pingsan seketika saat obat bius itu mulai bekerja pada tubuh nya..
Ia di bopong masuk ke dalam mobil. Ada beberapa orang yang melihat aksi penculikan itu, tapi saat mereka mencoba mengejar, mobil yang membawa Rehan sudah menghilang, nomer flat mobil nya juga tidak sempat terlihat oleh siapa pun yang berada di tempat kejadian, rekaman CCTV pada waktu kejadian pun tiba - tiba eror.
"Pasti ada yang merentas sistem CCTV kita agar aksi mereka tidak terdeteksi oleh pihak kantor atau pihak polisi." Ujar satpam yang sedang berada dalam ruang CCTV.
"Kayak nya seperti itu. Mustahil CCTV yang tertuju pada tempat kejadian semua tiba - tiba eror dalam waktu bersama. Setelah mobil itu menghilang baru lah CCTV kembali dalam keadaan semula." Jelas petugas penjaga CCTV.
Satpam dan beberapa karyawan kantor di buat kocar - kacir akibat penculikan tadi. Tapi Arya belum menyadari siapa yang sebenarnya yang sedang di bicarakan oleh rekan - rekan nya. Ia memilih acuh dan nggak mau ambil pusing masalah yang bukan urusan nya.
__ADS_1
Arya melanjutkan kerjanya seperti biasa hingga selesai dengan cepat. Ia sudah berjanji pada Rehan untuk membujuk manager pemasaran agar menerima Rehan karena memiliki potensi yang lebih tinggi berbanding orang lain.
Jam menunjukkan pukul 4 sore. Ada waktu sejam lagi sebelum jam pulang kerja. Arya sudah menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu dan kini menuju ruang Manager pemasaran yang berada di lantai yang sama dengan tempat kerjanya.