
Mobil jaguar sport itu menderu dengan kelajuan tinggi meninggalkan Restoran bahagia menuju ke arah Lotus Road dan terus melaju seperti di kejar hantu menuju ke arah Mountain lotus.
Tampak seorang pemuda dengan fokus mengendalikan kendaraan yang sedang dikemudikan olehnya.
Ada raut kegelisahan di wajah nya saat ini. Sesekali dia melirik ke arah kaca spion memperhatikan kalau-kalau ada kendaraan yang membuntuti mobil nya.
Setelah memastikan bahwa mobil nya tidak ada yang membuntuti, pemuda itu pun menarik nafas legah tanpa mengurangi laju mobil tersebut.
Ketika mobil itu sampai di kawasan Mountain lotus, pemuda itu langsung berbelok dan mengelilingi hotel menuju ke bagian belakang.
Tak lama setelah itu tampak pemuda itu menarik nafas lega lalu setengah berlari memasuki sebuah bangunan di belakang hotel tersebut.
Tak lama kemudian 5 unit mobil juga tiba di belakang hotel dan berhenti serampangan di samping mobil Jaguar sport tersebut.
"Huhh.., bagaimana Daniel?" Tanya salah seorang dari beberapa lelaki bertubuh besar yang baru turun dari kendaraan.
"Berhasil." Kata Daniel singkat sambil mengelupaskan selaput tipis di ujung sepuluh jari tangan nya.
"Apa yang kau lakukan itu Daniel?" Tanya seorang pemuda yang sebaya dengan nya.
"Ini untuk menutup sidik jari ku, Riko. Kemarin Ryan menyuruhku untuk melakukannya." Kata Daniel sambil terus melepaskan selaput tipis di ujung jari jemari nya.
"Bagaimana Riko? Apakah ada yang membuntuti ku?" Tanya Daniel kepada pemuda yang sebaya dengannya itu.
"Aman. Aku terus memantau mu bersama dengan Kak Arslan, Tuan Barry, Pak Austin dan Pak Jeff. Semuanya aman. Sementara ini Herey dan anak buahnya masih di restoran bahagia untuk memantau gerak-gerik Ramendra." Jawab pemuda yang ternyata adalah Riko itu.
"Huhh... Tegang.., tegang.., tegang..!" Kata Daniel sambil menghempaskan nafas lega.
__ADS_1
"Daniel. Seperti apa hasil negosiasi antara kau dan Tua bangka itu?" Tanya Ronald ingin tau jalan ceritanya.
"Aku berhasil menguras uangnya sebanyak 500 juta Dollar. Dan aku juga berhasil menjebaknya untuk tidak menggugat penipuan yang aku lakukan dengan trik yang sudah kami rencanakan antara aku, Ryan, Herey dan Manager Tom." Kata Daniel lalu menceritakan dari awal pertemuan antara dirinya dan Ramendra sampai dia berhasil mengelabui Ramendra dengan berpura-pura bodoh.
"Kau sangat licik Daniel. Hahahaha..." Kata Austin sambil tertawa.
"Kelicikan mereka harus di balas dengan kelicikan juga. Jika kita terus menerapkan sikap transparan kepada mereka, maka kita hanya akan gigit jari. Hanya kelicikan yang bisa melawan kelicikan. Karena menunggu karma dari Tuhan entah kapan sampai nya?!" Kata Daniel.
"Lalu apa rencana mu selanjutnya?" Tanya Ronald ingin tau.
"Kita akan mengadakan rapat antara presiden Barry, Anda Tuan Ronald, Pak Austin, Kak Arslan, Paman Jeff dan kami bertiga juga ada Herey untuk membahas langkah-langkah pencegahan untuk mengantisipasi serangan balik yang akan di lancarkan oleh pihak lawan ini." Kata Daniel.
Memang segala sesuatu harus mereka rencanakan dengan matang. Tidak boleh lengah atau merasa puas dengan kemenangan sesaat. Karena bagaimanapun lawan mereka bukan lah lawan sembarangan.
"Ryan pasti punya sesuatu yang akan dia kemukakan. Untuk urusan menganalisis dan strategi, sudah saatnya kami mengandalkan kalian yang masih muda dan memiliki otak cerdas. Kami hanya tinggal menimbang dan menyempurnakan di mana letak kekurangan dan kelemahan dari rencana kalian ini. Keputusan akhir tetap berada di tangan tuan Barry." Kata Ronald.
"Baiklah. Ayo kita berangkat. Kak Arslan biar bersama dengan ku. Aku takut mengemudi sendirian. Masih trauma. Hahaha..." Kata Daniel sambil tertawa.
Jika di fikirkan, wajar Daniel sangat ketakutan. Dia sama sekali tidak pandai berkelahi. Dia hanya seorang negosiator yang urakan dan semaunya saja. Tapi jangan sesekali meremehkan sikap polos dan slenge'an yang ada pada dirinya jika tidak ingin menyesal.
Sedangkan baik Arslan maupun Riko adalah ahli tarung yang sudah kenyang makan asam garam dalam arena tarung yang terkenal sangat ganas dan tidak manusiawi. Ini yang membuat Daniel bisa sedikit banyak merasa terlindungi.
Jika dulu dia akan merasa aman bersama dengan Jerry, kini setelah Jerry menghilang, hanya Arslan dan Riko lah yang bisa membuat dia merasa aman.
"Hahaha.., kau ingin menjadikan ku umpan mulut buaya?" Kata Arslan menggoda Daniel.
"Sama sekali tidak kak. Kau jangan salah faham kak. Ramendra itu bukan buaya, tapi naga." Kata Daniel.
__ADS_1
"Hahaha... Malah tambah parah." Kata Arslan sambil mengambil kunci mobil milik Daniel dan mengajak mereka untuk segera bergerak menuju kantor besar Future of Company cabang Country home.
"Maaf Tuan Ronald, Tuan Austin. Sebaiknya kita harus segera berangkat sekarang untuk menyiapkan segala rencana bagi menyambut rencana dari lawan." Kata Arslan dengan hormat.
"Benar katamu, Arslan. Mari kita berangkat! Lebih cepat lebih baik." Kata Ronald lalu pemimpin rombongan itu segera menuju ke mobil mereka masing-masing.
Tak lama setelah itu rombongan kendaraan mewah itu bergerak meninggalkan bagian belakang hotel teratai itu dan mulai keluar dari area Mountain lotus. Mereka berbelok ke kanan dan mulai memacu laju kendaraan itu menuju ke arah Country home.
Tepat pukul 5 sore mereka tiba di Country home dan kini tampak wajah-wajah kelelahan keluar dari mobil itu dan langsung menemui tuan Barry yang saat itu sedang berbincang-bincang dengan Ryan.
"Hey sahabat ku. Bagaimana dengan usahamu. Apakah kau telah melepaskan 51% saham perusahaan ini ke tangan Ramendra itu?" Tanya Ryan sambil berdiri lalu memeluk Daniel dan Riko secara bergantian.
"Kau tentu sudah mendapat kabar dari sekretaris perusahaan bahwa ada dana segar telah mengalir masuk ke rekening perusahaan." Kata Daniel.
"Itu lah yang membuat aku khawatir. Jangan-jangan kau telah menandatangani perjanjian kerja sama itu dengan Ramendra." Kata Ryan mengemukakan rasa khawatir nya.
"Hahaha..., berkat bantuan Manager Tom dan Herey, semuanya berjalan dengan lancar walau ada sedikit meleset dari rencana awal. Ini karena orang tua itu sangat berhati-hati sekali." Kata Daniel.
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" Tanya Ryan tidak sabaran.
"Ya apa lagi?! Senjata terbaik ku adalah berpura-pura bodoh agar Rubah tua itu menganggap bahwa aku adalah makanan ringan baginya. Hanya itu saja. Sederhana bukan?" Kata Daniel sambil menceritakan semuanya kepada Ryan dan tuan Barry.
"Bagus Daniel. Sekarang kita harus membuat rencana pertahanan. Bagaimanapun mereka pasti akan membalas kekalahan mereka ini." Kata tuan Barry.
Sebagai orang lama yang telah malang melintanng dari menjadi Manager biasa sampai menjadi pimpro dan di angkat menjadi Presiden perusahaan di era tuan besar Smith, tuan Barry tentu sudah kenyang dengan asam garam dalam persaingan yang serba menghalalkan banyak taktik keji dalam dunia bisnis yang kejam ini.
Oleh karena itu beliau langsung mengadakan rapat mendadak bagi merundingkan langkah-langkah yang akan mereka lakukan dalam menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.
__ADS_1
Bersambung...