
Bab 80.
Sore kini masih terlalu awal untuk dikatakan senja.
Sinar matahari walau pun sudah mulai meredup masih tetap membiaskan kehangatan bagi orang-orang yang masih berada di sekitar taman kampus itu.
Sore ini Jerry yang baru saja mengembalikan mobil milik Kevin hanya tidur-tiduran saja di bangku panjang yang berada di bawah pohon beringin di taman ini.
Sejak kembali dari kos-kosan Via, Jerry masih belum kembali ke asrama. Otak nya benar-benar buntu kali ini. Berulang kali dia mencoba menghubungi Via namun tetap tidak dapat tersambung. Ini karena Via telah menonaktifkan ponsel nya.
Jerry juga mencoba menghubungi nomor Riko. Namun sama. Nomor itu juga tidak aktif.
"Kemana mereka pergi? Via dan Riko ini. Apakah mereka baik-baik saja saat ini?" Kata Jerry dalam hati.
Jerry masih tetap berbaring di bangku batu itu sampai telepon nya berdering.
Jerry tersentak dari lamunannya dan segera melihat ke layar ponsel.
"Kakek" Kata Jerry dalam hati.
"Dia segera menggeser layar untuk menerima panggilan itu dan setelah panggilan terhubung,
"Hallo Kakek." Kata Jerry membuka percakapan.
"Jerry..., bagaimana kabar mu sekarang? Apakah kau baik-baik saja?" Tanya Suara lelaki tua di ponsel yang di panggil dengan sebutan kakek oleh Jerry.
"Kabar ku baik kek. Lalu bagai mana dengan kabar kakek?" Tanya Jerry.
"Kau tau kan penyakit orang tua. Sebaik-baiknya orang tua tetap ada saja gangguan nya. Ini pengaruh umur Jerry. Makanya kau harus giat belajar dan berusaha untuk bisa memikul tanggung jawab besar agar aku bisa beristirahat dengan tenang." Kata kakek itu menyemangati Jerry.
"Aku mampu kek. Apakah kakek tidak melihat kalau nilai pasar perusahaan ku naik satu kali lipat." Kata Jerry dengan bangga nya.
"Kau itu Jerry. Bukankah itu karena ada Barry. Jika Barry tidak ada, mana mungkin kau mampu menangani perusahaan mu itu. Lagi pula sudah lah. Sudah saat nya kau keluar dari kepompong mu dan terbang menjadi kupu-kupu." Kata kakek itu.
"Aku juga berfikir seperti itu kek. Tapi biar lah bertahap. Jika terlalu mendadak, aku khawatir aku akan lupa diri." Kata Jerry beralasan.
"Jerry. Aku dengar dari Barry bahwa kau akan datang ke Metro City untuk menjengukku di Villa Smith. Apa benar begitu?" Tanya kakek Jerry.
__ADS_1
"Benar kek. Aku ingin mengunjungi mu dan kakek William karena aku sangat ingin melihat seperti apa wajahnya." Kata Jerry.
"Kalau begitu kapan kau akan berangkat dari Starhill Jerry?"
"Sabtu sore kek. Hari minggu aku di Metro City dan minggu sore langsung kembali lagi ke Starhill. Ini karena aku masih harus kuliah kek." Kata Jerry.
"Baik lah jika begitu, Barry akan menyiapkan Jet pribadi untuk mu. Apa kau punya pesan Jerry?" Tanya kakek nya ingin tau kalau-kalau cucunya itu menginginkan sesuatu.
"Ada kek. Jangan beritahu siapa pun tentang kedatangan ku ke sana kecuali kakek William."
"Mengapa hanya dia yang boleh tau Jerry?" Tanya kakek nya tidak mengerti.
"Kakek, ini semua karena aku sudah mengetahui siapa penghianat di dalam keluarga itu. Dan setelah sampai di sana, aku akan memberi tahu kakek siapa orang itu."
"Wah.. wah.. wah. Kau hebat Jerry. Kakek mu puluhan tahun tapi tidak bisa membongkar siapa penghianat itu. Tapi kau baru beberapa hari sudah bisa mengungkap nya. Dan yang lebih hebat, kau melakukannya tanpa pergi ke Metro City. Hebat.., kakek sangat senang mendengar nya." Puji kakek nya dengan bangga.
"Kan aku sudah katakan bahwa aku mampu membawa keluarga kita terbang jauh. Oh ya kek. Tadi kakek mengatakan aku harus terbang seperti kupu-kupu. Aku bukan kupu-kupu kek. Tapi burung Phoenix." Kata Jerry sambil tertawa.
"Kau terlalu percaya diri. Sama seperti Ayah mu dulu.."
"Tidak kek. Aku anak Ayah.. Tapi tidak seperti dirinya. Dia terlalu lembut dan sangat toleran dengan musuhnya. Aku berbeda kek. Aku akan menguliti musuhku sampai tinggal tulang belulang. Biar mereka tau bahwa merampas kebahagiaan ku adalah kesalahan besar dalam hidup mereka." Kata Jerry sambil mengertakkan gigi.
"Baik kek. Saat ini aku sudah mempelajari musuh dengan baik. Jadi, tidak ada celah lagi baginya untuk kabur."
"Baiklah Jerry. Kakek akan menunggu mu disini. Ingat untuk menjaga dirimu baik-baik. Jika kau punya seorang gadis, Jangan lupa membawa nya pulang bersama mu." Kata kakek nya menggoda.
Jerry tersedak mendengar kelakar yang di ucapkan oleh kakek nya. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi selain ingin segera menutup telepon.
"Baik lah Jerry. Kakek hanya becanda. Kau harus memperhatikan keselamatan mu. Bagaimana pun saat ini mata-mata keluarga Patrik ada di mana-mana."
"Baik kek. Aku mengerti." Kata Jerry lalu mengakhiri panggilan.
Baru saja Jerry selesai dengan panggilan telepon nya, tiba-tiba dia melihat seorang gadis sedang berjalan ke-arah nya.
"Lisa" Kata Jerry dalam hati.
"Hai Jerry. Apa yang sedang kamu lakukan disini?" Tanya Lisa begitu sampai di dekat Jerry.
__ADS_1
"Oh kamu Lisa." Kata Jerry pura-pura terkejut.
"Tidak ada. Aku hanya duduk saja sambil melihat-lihat mereka yang sedang berpasang-pasangan." Kata Jerry sambil melirik ke-arah gadis cantik itu.
"Apakah aku mengganggu mu?" Tanya Lisa.
"Ah tidak juga. Duduklah!" Kata Jerry sambil mempersilahkan Lisa untuk duduk.
"Ayo kita ke kafe di seberang jalan kampus. Aku ingin minum sesuatu." Ajak Lisa.
Jerry hanya mengangguk dan mengikuti Lisa dari belakang.
Saat ini Lisa sepertinya sangat senang. Di sepanjang jalan dia tak henti-hentinya tertawa dan terlihat sangat manja dengan Jerry.
Tepat ketika hendak menyebrangi jalan, Lisa sengaja menarik tangan Jerry untuk bersama-sama berlari-lari kecil menyebrangi jalan depan kampus yang tidak seberapa ramai kendaraan yang lalu-lalang.
Begitu Jerry dan Lisa sampai di depan kafe sambil masih berpegangan tangan, dari arah dalam muncul seorang gadis.
"Duaaar...!"
Seperti ada petir di sore itu begitu Jerry dan gadis yang baru keluar dari kafe itu saling bertemu pandang.
"Via.. Ya Tuhan. Mati aku kali ini. Huhf.... Apa lagi alasan yang harus aku berikan." Kata Jerry mengutuk dalam hati.
Saat ini gadis yang baru keluar dari kafe itu memandang tajam ke-arah Jerry. Lalu pandangan nya beralih kebawah tepat ke-arah tangan mereka yang masih bergandengan.
Jerry buru-buru melepaskan pegangan tangan Lisa dan tampak sangat gugup ketika itu.
"Via... Kamu sudah akan pulang?" Tanya Lisa begitu melihat Via.
Via yang berusaha mengubah ekspresi wajah nya hanya mengangguk canggung.
"Mengapa terburu-buru Via? Ayo lah minum bersama kami. Aku tadi sengaja mengajak Jerry supaya aku ada teman. Bukan begitu Jerry?" Tanya Lisa.
Jerry hanya mengangguk salah tingkah dan tidak tau harus berkata apa lagi.
"Ah Terimakasih Lisa. Maaf aku harus buru-buru." Kata Via lalu segera berlalu pergi tanpa berpaling lagi.
__ADS_1
Jerry mati kutu.
Bersambung...