
Sukma keberatan dengan syarat Karina. Putrinya nya itu sangat pandai mengambil kesempatan. "Tapi 9 juta itu udah lumayan kok". Batin nya berpikir.
"Baik lah, mamah setuju kalau kamu terima pekerjaan itu dan tinggal di sana. Tapi ingat jangan bilang apa pun pada bapak kamu soal total gaji kamu! Kamu mengerti kan?". Imbuh Sukma akhirnya setuju.
"Kalau itu mamah nggak perlu khawatir, sepulang dari sekolah aku akan langsung ke temu dengan bang Josep dan bang Kali untuk memberi tahu keputusan ku soal tawaran itu. Jadi kemungkinan besar sore nanti aku akan langsung di bawa ke rumah majikan kami. Bapak nggak akan tahu masalah gaji ku kalau bukan mamah atau Karina yang mengatakan nya". Jelas Haikal.
Selesai perbincangan mereka, Haikal dan Karina berpamitan berangkat sekolah. Sementara Sukma kembali berbaring di kasur tipis nya membayangkan sebentar lagi akan memegang uang banyak. Seumur hidup ia belum pernah memegang uang sebanyak 9 juta. Gaji Haikal menjadi butuh tidak pernah sampai ke tangan nya. Setiap ia gajian penagih hutang pasti akan ada teras menunggu kepulangan Haikal membawa uang.
Gaji Haikal sebanyak sebanyak dua juta di gunakan untuk membayar hutang Karim. Manakala lebih nya baru lah di gunakan untuk keperluan mereka, itu pun dengan akal - akalan Haikal yang menyembunyikan lebihan gaji nya dari sang penagih hutang. Jika tidak maka semua gaji nya akan di ambil habis oleh mereka.
"Dua juta akan aku gunakan membayar hutang lelaki brengsek itu seperti biasa. Manakala 7 juta nya lagi akan aku gunakan untuk kebutuhan aku sendiri. Perawatan, makan enak dan perhiasan. Udah lama aku bermimpi mendapatkan semua itu dan sebentar lagi aku akan mengabulkan semua mimpi - mimpi ku selama ini...". Gumam Sukma sambil melamun.
"Tumben kamu ada di rumah jam segini? Gebetan kamu udah pergi yah maka nya kamu mengurung diri di kamar?". Karim datang membuarkan lamunan istrinya.
"Bukan urusan, loh!". Bentak Sukma membuang muka..
Mereka sepakat tidak mencampuri urusan masing - masing. Jika Karim suka mabuk - mabukan dan berjudi maka Sukma suka ke pasar ngintip seorang lelaki yang ia sukai. Di antara mereka walau bagaimana pun tidak boleh bercerai dan akan terus menjadi pasangan suami istri atas kontrak yang sudah mereka sepakati. Jadi meskipun mereka bosan atau menginginkan orang lain sebagai pasangan mereka, mereka hanya memilih cuek dan tidak mencampuri urusan antara satu sama lain..
"Tadi kamu melihat gebetan kamu itu menggandeng seorang wanita cantik ke toko nya di pasar. Kelihatanya sih istrinya berbanding terbalik dengan penampilan kamu yang kayak pengemis ini". Imbuh Karim memanas - manasi istrinya.
__ADS_1
"Apa kamu bilang, pengemis? Kamu sebagai suami lah yang nggak becus menafkahi istri. Jangan kan untuk mempercantik diri, makan saja susah. Yang kamu pikir itu mabuk - mabukan dan berjudi. Pulang saat perut kamu udah lapar aja". Sahut Sukma kesal.
"Hei, cermin diri kamu dulu. Emang kamu sebagai istri becus ngurusin suami? Dari dulu sibuk sama brondong aja. Kamu pikir ada yang mau sama kamu kecuali aku?". Balas Karim nggak mau kalah.
"Kalau kamu becus memberi aku uang, maka aku akan melakukan tugas sebagai istri juga tapi tentu nya sesuai nafkah dong. Kamu jangan tuntut aku menjadi istri yang baik kalau kau sebagai suami aja nggak becus cari nafkah. Setelah ini aku akan mencari pria kaya, biar aja tua dan jelek asal dia mau aku jadikan selingkuhan tanpa menuntut menjadi istrinya. Saat itu aku akan membuat kamu menyesal...". Ancam Sukma.
"Halah, dari dulu juga kamu bilang gitu tapi buktinya sampai sekarang kamu tetap tidak menemukan seorang pria pun. Jangan kan kaya, miskin saja ogah jadi selingkuhan kamu". Sindir Karim.
"Kita lihat aja nanti. Aku akan membuktikan nya. Dan kamu jangan pernah ganggu hidup aku, kita memang berstatus suami istri tapi urus diri masing - masing". Sukma keluar kamar meninggalkan Karim yang terperanga dengan ucapan istrinya yang sangat percaya diri.
"Ha ha ha, terus saja berangan". Seru Karim membuat Sukma tersenyum sinis.
*
*
Sepanjang perjalanan ke sekolah, Haikal dan Karina tidak saling berbicara. Karina yang biasanya berjalan anggun di hadapan Haikal kini malah berjalan di belakang pria itu dengan sikap yang aneh.
"Mungkin dia marah atas kejadian tadi pagi. Aku harus bagaimana agar dia kembali bersikap seperti biasa?". Gumam Haikal berpikir Karina marah pada nya.
__ADS_1
Sementara Karina berpikir keras sebentar lagi dia dan Haikal akan tinggal berpisah. Meskipun sedikit merasa berat atas perpisahan ini, tapi ia ikhlas demi kebaikan mereka berdua. "Aku yakin, kalau Haikal tinggal di rumah lain maka hidup nya akan lebih membaik. Tapi bodoh nya dia, kenapa jujur dengan gaji yang ia terima dari majikan baru nya itu pada mamah. Seharusnya 5 juta aja sudah cukup, maka lebih nya bisa ia gunakan untuk keperluan nya sendiri. Dasar Haikal bodoh!". Gumam Karina kesal pada Haikal.
Karena tidak fokus pada jalan di hadapannya. Kaki Karina tersandung batu sehingga membuat wanita itu oleng. Beruntung Haikal berjalan tidak jauh dari di hadapan nya dan dari tadi asik memperhatikan nya secara diam maka nya sempat menyambut tubuh nya sebelum mencium tanah.
"Kamu nggak papa, kan?". Tanya Haikal prihatin..
Waktu kembali terhenti untuk mereka. Haikal mentap setiap inci di wajah Karina. "Kalau di perhatian ternyata dia cantik juga, yah". Kagum Haikal dalam hati.
Karina juga merasa kan hal yang sama. Perasaan yang selama ini ia pendam menjadi semakin dalam. Jantung nya berdegup kencang terdengar jelas di telinga Haikal.
"Jantung kamu kok kencang gitu? Kamu sakit, yah?". Haikal membantu Karina berdiri dengan baik lalu memegang kening wanita itu untuk memeriksa suhu tubuh nya.
"Kamu nggak panas. Ini pasti karena kamu kelelahan bangun subuh langsung mencuci kain. Aku sebenarnya heran dengan sikap kamu yang tiba - tiba berubah itu, tapi jika memang kamu berniat ingin berubah maka aku nggak akan menghalangi nya. Setelah ini kamu akan mengerjakan semua itu sendiri mulai besok". Imbuh Haikal pada Karina smabil melanjutkan langkah nya.
Karina menghela nafas lega karena Haikal tidak menyadari perasaan nya dan malah menganggap nya kecapean saja. "Jujur, aku memang capek dan ngantuk Haikal tapi itu tadi. Sekarang aku kembali bersemangat lagi...". Batin Karina sambil menatap Haikal.
"Aku minta maaf ya, aku harus ninggalin kamu bersama mamah. Ini juga demi kebaikan kalian berdua. Dengan gaji yang kuberikan nanti boleh kalian gunakan untuk membeli makan enak dan baju yang layak. Masalah hutang bapak, aku yakin mamah pintar menyembunyikan uang itu dari bapak agar tidak di rebut dari nya. Aku juga akan berusaha mengumpulkan uang lebih untuk kuliah, kamu juga harus kuliah setelah lulus seolah nanti. Aku mau lihat kamu sukses, banggakan mamah dan Bapak". Haikal terus berbicara tanpa menoleh pada Karina.
Karina hanya bisa me mendengar tanpa ingin memberi tanggapan. Ia tidak tahu bagaimana nasip sekolah nya nanti setelah Haikal tamat. Selama ini hany pria itu yang membuatnya semangat berangkat sekolah.
__ADS_1