PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Robson Ramendra


__ADS_3

...MegaTown...


Saat ini Ramendra baru saja kembali ke Villa dengan senyum mengembang di wajahnya.


Sambil metakkan sebuah berkas dibatas meja, dia berkata kepada Robin. "Aku sudah mengurus identitas palsu untuk mu. Saat ini kau sudah bersih." Kata Ramendra sambil menyandarkan punggung nya di sofa.


"Robin, ambil berkas itu dan simpan. Di situ juga ada kartu tanda pengenal yang baru. Sekarang ini namamu bukan lagi Robin. Tapi, Robson. Hahahaha... Robson Ramendra." Kata Ramendra sambil tertawa penuh kemenangan.


"Terimakasih Ayah. Kau telah banyak membantu ku." Kata Robin yang kini telah berubah nama menjadi Robson Ramendra itu.


"Kau juga harus membantuku untuk menggerogoti perusahaan Future of Company. Saat ini kemungkinan besar kekacauan sedang terjadi di dalam tubuh perusahaan itu karena mereka tidak memiliki pemimpin." Kata Ramendra.


"Kalau hanya soal itu, Ayah tenang saja. Aku akan mengatur semuanya. Yang terpenting saat ini kita harus bergerak. Sebagai langkah pertama adalah mengajukan tawaran investasi dan berusaha untuk mengambil alih saham perusahaan sebesar 51%. Jika saham terbesar telah kita miliki, maka otomatis kita yang menentukan kearah mana perusahaan itu akan di arahkan."


"Langkah kedua, andai mereka menolak dan tidak ingin bekerja sama dengan kita, maka kita akan membuat kekacauan dan propaganda agar citra perusahaan Future of Company ini menjadi buruk di mata para pengusaha lain." Kata Robson/Robin lagi.


"Bagaimana caranya Robin? Aku tertarik dengan rencana mu ini." Kata Ramendra sambil menggeser duduk nya lebih mendekat.


"Itu masalah mudah. Kita siapkan orang-orang sewaan dan berangkatkan ke Country home. Buat drama seolah-olah masyarakat telah di rugikan dengan proyek yang di jalankan oleh perusahaan tersebut. Atur mereka untuk membuat tuntutan agar perusahaan memberikan pampasan atas kerugian yang mereka derita. Setelah ini berjalan dengan lancar, undang beberapa media untuk meliput adegan itu dan suruh mereka membuat pemberitaan yang di besar-besarkan tentang bobroknya perusahaan ini dalam menjalankan standart lingkungan yang aman bagi masyarakat di sekitar lokasi proyek."


"Atur juga para Buzzer untuk membuat pemberitaan secara online di internet. Dengan begini, perusahaan akan kehilangan kepercayaan dari para investor dan pemerintah setempat juga akan menekan mereka. Citra perusahaan Future of Company akan luntur." Kata Robin sambil tersenyum jahat.


"Ayah bisa membuat drama ini sebanyak mana yang Ayah inginkan. Semakin banyak yang melakukan unjuk rasa, semakin sering drama ini di lakukan, maka semakin banyak yang meliput berita ini. Kesempatan untuk melihat perusahaan milik Jerry ini runtuh hanya tinggal menghitung hari saja." Kata Robin lagi.


"Licik. Kau benar-benar licik. Aku suka cara berfikir mu." Kata Ramendra memberikan cap jempol kepada Robin.


"Kekalahan yang lalu telah mengajarkan kepadaku untuk berbuat semakin licik. Aku tidak akan puas sebelum keluarga Smith dan William benar-benar menjadi gelandangan. Ketika itu terjadi, aku akan memperlakukan kedua orang tua itu seperti seekor anjing kurap yang terlantar di jalanan." Kata Robin sambil mengepalkan tinjunya.


"Baik lah. Sekarang kita akan memikirkan langkah pertama terlebih dahulu. Aku akan menyuruh seseorang untuk menemukan informasi kontak Barry atau pun Ronald. Barry ini adalah presiden di perusahaan Future of Company kan? Jika kita bisa menunggangi keledai ini, maka segala urusan di anggap selesai separuhnya." Kata Ramendra.


"Keledai ini sangat setia dengan tuannya, Ayah." Kata Robin ragu-ragu.


"Kesetiaan seperti apa? Apakah dia akan setia kepada pemilik perusahaan yang telah menjadi bangkai dan tak seorang pun yang tau di mana kubur nya?" Kata Ramendra sambil mencibir.

__ADS_1


"Aku sangat tertarik dengan proyek yang di jalankan oleh Future of Company ini. Memang aku akui Jerry William ini mewarisi sifat ayahnya. Brilian dalam mengatur strategi. Dia juga mampu menguasai bawahannya. Banyak pengusaha sukses yang saling sikut saling tendang. Mereka bisa menundukkan lawannya. Namun Jerry ini mampu menundukkan lawan dan juga mampu menundukkan kawannya. Menundukkan sahabat lebih sulit daripada menundukkan lawan." Kata Ramendra. Kali ini dia memuji Jerry dengan tulus.


Mendengar perkataan ayah mertuanya yang jelas-jelas memuji lawan membuat Robin hanya bisa menahan geram dalam hatinya.


...*********...


Future of Company.


Ryan dan Daniel kali ini sedang sibuk membaca pembukuan, mempelajari planing kerja dan program kerja yang sedang dan yang akan di jalankan.


"Pusing juga otak ku." Kata Daniel sedikit mengeluh.


"Sama. Aku juga pusing. Mataku sudah mulai berkunang-kunang." Kata Ryan sambil bangkit dan menggeliat.


"Baru aku mengerti dimana letak kepintaran Jerry ini. Dia bisa mengatur struktur pekerjaan dengan sangat rapi. Dia bisa mencium peluang besar yang dapat menguntungkan perusahaan. Selain itu dia juga mampu bercanda dengan kita, membagi waktu untuk belajar di kampus dan masih bisa meluangkan waktunya menbujuk almarhum Via. Hebat. Aku kira kita berdua tidak ada setengahnya dari otak Jerry ini." Kata Daniel dengan nada sedih.


"Jerry ini adalah pemangsa yang selalu menyembunyikan taring nya. Kau tau mengapa dia bisa hebat dalam mengatur strategi?" Tanya Ryan.


Daniel hanya menngelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Ya aku ingat. Di bukit bambu." Kata Daniel.


"Benar. Itu pertama kali dia tidak mau mendengarkan pendapat dan nasehat dariku. Tapi apa hasilnya? Dia berhasil menyumbat mulut Megan dengan uang, berhasil mempermalukan Lisa. Berhasil memecat tuan Paul dan berhasil menjadikan Anton seperti seekor anjing yang harus merangkak keluar ruangan. Apa menurutmu Jerry ini tidak cukup brilian?" Tanya Ryan.


"Kekuatannya terletak pada kerendahan hatinya." Kata Daniel sambil tertunduk.


"Aku saat ini lebih merindukan Jerry daripada kampung halaman ku." Kata Daniel.


"Sudah lah Daniel..! Ayo bersiap. Aku akan menjenguk Riko di rumah sakit." Kata Ryan sambil mengemas kembali buku-buku tadi yang telah mereka pelajari hampir seminggu ini.


"Ayo. Aku juga ingin melihat keadaan Riko. Sudah 10 hari dia dirumah sakit." Kata Daniel lalu bergegas keluar ruangan kerja mereka.


Tak lama kemudian dua unit mobil sport Mercedez dan Jaguar melaju kencang dari kantor besar Future of Company menuju ke rumah sakit rakyat Country home.

__ADS_1


Begitu mereka sampai di rumah sakit, setelah memarkir kendaraan mereka, Daniel dan Ryan langsung bergegas menuju kamar di mana Riko sedang di rawat.


"Ssssst...."


"Ada apa Pak Ramos?" Tanya Daniel heran sebaik saja mereka tiba di kamar tempat Riko di rawat.


"Lihat lah itu!" Kata pak Ramos sambil menunjuk ke arah Riko.


Daniel dan Ryan yang penasaran langsung lebih mendekat ke arah ranjang tempat Riko terbaring.


Tampak Riko saat ini sedang memeluk sepasang sepatu Louis vuitton dengan tatapan kosong memandang langit-langit kamar.


"Kau masih merindukan Jerry, Riko?" Tanya Daniel dengan lembut.


"Apakah belum ada kabar tentang Jerry?" Tanya Riko.


"Sampai saat ini belum." Jawab Daniel.


"Mengapa kau memeluk sepatu itu Riko?" Tanya Ryan dengan heran.


"Sepatu ini adalah pemberian Jerry. Kita masing-masing memiliki sepasang. Aku akan memeluk sepatu ini ketika aku rindu kepada sahabatku itu." Kata Riko dengan lirih.


Daniel dan Ryan hanya saling pandang tanpa bisa berkata apa-apa lagi.


"Aku ingin cepat keluar dari tempat sialan ini. Aku akan membalas mereka, Daniel!" Kata Riko.


"Jika kau ingin lekas sembuh, ikuti anjuran dari Dokter. Kita akan bahu membahu untuk membuat perhitungan dengan mereka. Apa kau tau bahwa Jerry telah menitipkan perusahaan kepada kita. Ayo kita buat mereka makan hati." Kata Daniel.


"Kau kan punya banyak kenalan sindikat pemalsu barang-barang dan dokumen apa saja, Riko. Aku ingin kau meminta kepada kenalan mu itu untuk memalsukan kartu kredit BlackGold untukku." Kata Daniel lagi.


"Untuk apa kartu bank palsu itu Daniel?" Tanya Riko heran.


"Kau akan tau nanti jika sudah masanya." Kata Daniel sambil tersenyum penuh rahasia.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2