PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Perubahan sikap Ryan


__ADS_3

Dua hari setelah kejadian tumbang nya Ryan di hotel teratai.


...*...


Mobil Mercedez sport AMG GT meluncur dengan kelajuan tinggi membelah jalan Starhill menuju kearah Jewel star dan berhenti di rumah susun.


Baru saja mobil itu berhenti, keluar seorang pemuda memakai baju hondie sweater dan berkacamata hitam tampak seperti terburu-buru memasuki lorong rumah susun tersebut dan menaiki tangga.


Kini pemuda itu sampai di salah satu pintu dengan nomor A 12 dan mengetuk nya.


Tampak seorang lelaki membukakan pintu dari dalam menatap dengan penuh selidik dan bertanya, "Maaf anak muda, apakah anda mencari seseorang?" Tanya lelaki itu.


"Ya. Aku sedang mencari seorang bernama Mike. Apakah kau bernama Mike?" Tanya pemuda itu.


"Ada perlu apa anda dengan orang yang bernama Mike itu?" Tanya lelaki itu dari dalam.


"Kau harus tau bahwa aku paling tidak suka dengan omong kosong dan basa basi. Jika kau bukan orang yang benama Mike dan kau juga tidak mengenalnya, maka berhentilah banyak bertanya. Aku tidak suka seseorang membuang-buang waktu ku di tempat sampah seperti ini." Kata pemuda itu dan mulai akan pergi meninggalkan lelaki tadi.


"Tunggu sobat! Kasar sekali anda. Apakah anda memiliki pengaruh yang besar di kota ini sehingga anda begitu sombong?" Tanya lelaki itu.


Mendengar teguran dari lelaki tadi, pemuda itu berbalik sambil membuka kacamata nya dan berkata, "Belajarlah untuk mengenali wajah ini. Aku adalah asisten Boss besar pemilik perusahaan terbesar di negara ini. Jangankan Starhill yang kecil ini, bahkan keluarga istana pun mengenal ku." Kata pemuda itu dengan angkuh.


"Ok.. Baiklah. Aku tidak akan membuang-buang waktu mu lagi anak muda. Aku adalah Mike yang kau cari itu. Katakan apa keperluan mu mencari ku?" Kata lelaki yang ternyata adalah Mike itu.


"Bagus. Jika begitu dari tadi, waktu ku tidak banyak terbuang di tempat seperti kandang kerbau ini." Kata pemuda itu.


"Apakah aku boleh masuk?" Katanya lagi. Namun tanpa menunggu jawaban, pemuda itu terus saja masuk sambil mendorong lelaki itu ke samping pintu.


"Anak muda, katakan siapa dirimu, apa keperluanmu dan dari siapa kau tau tentang aku?" Tanya lelaki itu.


"Pertanyaan mu banyak sekali orang tua. Baiklah, aku akan menjawab pertanyaan mu ini satu per satu. Dengarkan baik-baik! Nama ku adalah Ryan. Aku datang ke tempat ini untuk meminta kau menyediakan beberapa stok obat kepada ku. Dan yang terakhir, aku mengetahui tentang diri mu dari sahabat ku bernama Herman. Apa kau sudah Jelas Mike?" Kata Ryan sambil duduk dan menaikkan kaki nya ke atas meja.


"Berapa yang kau ingin kan? Apakah ini cukup?" Tanya Mike sambil meletakkan bungkusan kecil tepat di samping kaki pemuda yang bernama Ryan itu.


Melihat sesuatu yang di letakkan Mike di atas meja membuat Ryan tercengang dan menatap antara wajah Mike dan bungkusan kecil itu secara bergantian.


"Kau bercanda dengan ku Mike?!" Kata Ryan sambil berdiri.


"Apa maksud mu Ryan. Aku tidak becanda." Kata Mike heran.


"Barang sebanyak itu? Itu penghinaan bagi ku. Kau tau hanya untuk datang ke sini aku telah membawa uang tunai sebanyak 500 ribu Dollar. Apa kau ingin melihat uang tersebut?" Tanya Ryan.

__ADS_1


"Becanda mu keterlaluan Ryan. Aku sengaja bersabar dari tadi menghadapi ulah mu ini." Kata Mike yang mulai tidak senang.


"Ikuti aku!" Kata Ryan lalu melangkah keluar dari rumah Mike.


"Ayo cepat. Aku tidak punya banyak waktu!" Bentak Ryan.


Mendengar bentakan ini, walau pun sedikit ragu, namun Mike tetap juga melangkahkan kaki nya mengikuti Ryan.


Sesampainya Ryan di depan mobil nya, dia segera menuju ke pintu dan membuka pintu di bagian penumpang. Kini setelah pintu itu terbuka, tampak sebuah tas terletak disana dan tanpa banyak bicara lagi, Ryan langsung membuka resleting tas tersebut.


"Apa matamu sudah melihat Mike?" Tanya Ryan.


"Kau.., kau. Apakah kau tidak becanda?" Tanya mike sedikit gugup.


"Sekarang uang itu akan menjadi milik mu jika kau mampu memberikan barang tersebut kepada ku sesuai dengan jumlah 500 ribu USD tersebut." Kata Ryan.


"Ryan.., saat ini aku dan yang lainnya kehabisan stok. Tunggu lah malam ini! Kau akan mendapatkan barang tersebut." Kata Mike menjelaskan.


"Mengapa harus malam? Kau tau bahwa aku tidak bisa hidup tanpa barang itu Mike? Sekarang ini aku sangat bergantung kepada obat-obatan itu." Kata Ryan.


"Sabar lah Ryan. Malam ini atasan ku akan datang dan membawakan stok untuk ku. Kita bisa sama-sama nanti menunggu kedatangannya. Bagaimana?" Tanya Mike dengan bersungguh-sungguh.


"Baik Ryan." Kata Mike sambil menyerahkan bungkusan kecil yang tadi sempat di tolak oleh Ryan.


Ryan melemparkan bungkusan kecil itu kedalam mobil, mengambil beberapa lembar uang dari dompet nya dan menyodorkannya kepada Mike.


"Aku pergi dulu. Jaga mulut mu untuk menjaga identitas ku agar tidak bocor. Jika tidak, kau tidak akan bisa lagi berada di kota ini." Kata Ryan memberi ancaman.


"Percayalah padaku Ryan!" Kata Mike bersungguh-sungguh.


...*...


Mobil yang di kendarai oleh Ryan terus melaju meninggalkan area Jewel star dan terus melaju ke arah Golden university. Begitu mobil itu tiba di gerbang kampus, seorang wanita kini menunggu nya di depan gerbang tersebut dan mencoba menghalingi jalan dimana mobil Ryan akan lewat.


"Jenny.., apa kau sudah gila? Bagaimana jika kau tertabrak?" Bentak Ryan.


"Ryan.., aku ingin bicara kepada mu." Kata Jenny.


"Masuk!" Kata Ryan menyuruh Jenny agar masuk kedalam mobil.


"Di sini saja Ryan." Kata Jenny.

__ADS_1


"Masuk jika ingin bicara atau tidak sama sekali!" Bentak Ryan membuat Jenny terkejut.


Beberapa orang kini melihat pertengkaran itu termasuk Lisa, Rindy, Rina dan juga Via.


"Mengapa kau berubah seperti ini Ryan?" Teriak Jenny sambil menangis.


"Perempuan sialan. Membuang waktu ku saja. Minggir atau kau akan ku tabrak!" Bentak Ryan dengan lantang.


"Benar-benar keras kepala kau ini Jenny?!" Kata Ryan lalu menginjak pedal gas mobil nya dan akan menabrak Jenny membuat Jenny terpaksa menyingkir ke samping.


Mobil yang di kendarai oleh Ryan terus melaju menuju tempat parkir di ikuti oleh tatapan kosong dari Jenny.


Melihat Jenny di perlakukan dengan kasar oleh Ryan, Lisa dan yang lainnya termasuk Via menghampiri nya dan berusaha untuk membujuk Jenny agar berhenti menangis.


"Sudah lah Jenny. Sabar ya! Jangan menangis lagi." Kata Lisa sambil mengusap air mata Jenny.


"Mengapa Ryan begitu kasar kepada mu Jenny?" Tanya Rindy sambil memeluk Jenny.


"Sudahlah. Biarkan Jenny tenang dulu!" Kata Rina.


"Bagaimana bisa tenang? Lelaki seperti Ryan ini harus di balas. Aku sangat jijik dengan lelaki seperti ini." Kata Via berapi-api.


"Via.., kau jangan menyiram minyak ke dalam api." Kata Rina menegur ucapan Via tadi.


"Aku ini juga wanita Rina. Apakah kau tidak melihat perbuatan apa yang dilakukan oleh Ryan?" Tanya Via.


"Mungkin Ryan sedang dalam masalah. Kita tidak tau entah apa yang dia alami akhir-akhir ini." Kata Rina lagi.


"Huhh masalah katamu. Seribu satu masalah yang di hadapi oleh manusia. Namanya hidup yah pasti ada masalah. Tetapi tidak harus sekesar itu kepada wanita. Apa lagi Jenny ini kan berniat baik untuk mengajak Ryan membicarakan sesuatu." Kata Via yang tetap ngotot dengan pandangan nya.


"Sudah lah. Aku yang salah karena terlalu memaksa." Kata Jenny yang sudah mulai dapat menenangkan diri.


"Begitu lah kau ini. Makanya selalu di injak oleh lelaki." Kata Via segera berlalu meningalkan Jenny dan yang lainnya.


"Ada apa dengan Via? Mengapa dia begitu bersemangat sekali menjelek-jelekkan Ryan, Daniel, Herman dan Jerry?" Tanya Rina.


"Entah lah Rina. Aku juga heran dari mana dia tau bahwa Ryan selalu menginjak-injak aku. Baru kali ini Ryan kasar kepada ku." Kata Jenny.


"Sudah. Ayo kita ke kelas. Sebentar lagi pelajaran akan di mulai." Ajak Rindy sambil menggandeng tangan Jenny.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2