PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Kembali ke Starhousing


__ADS_3

"Kau sudah gila Daniel. Bisa-bisanya kau menngatakan hal yang sangat ngawur dalam sebuah pertemuan penting. Lalu kau dengan bangga mengatakan bahwa itu adalah filosofi. Filosofi apa-apaan makan tidak makan asal kumpul?'


Terdengar omelan bagai muntahan peluru dari AK47 oleh seorang pemuda yang tampak sangat kesal ketika mereka bertiga baru saja keluar dari ruangan rapat di Lotus Mansion.


"Entahlah Ryan. Mungkin ini pengaruh dari kita tidak tidur semalaman. Aku sedikit mabuk. Ini semua gara-gara Riko yang terus saja mengganggu ku tadi malam." Kata Daniel.


"Sialan sekali anda ini. Mulut mu yang merongos itu mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal, sekarang kau menyalahkan aku? Beruntung kau tadi karena kami cepat-cepat membantu mu." Kata Riko meradang karena dituduh jadi biang kerok atas perkataan yang diucapkan oleh Daniel tadi dalam pertemuan rapat perusahaan.


"Itu lah gunanya sahabat. Saling membantu. Jika ada sahabat yang tidak mau membantu sahabatnya yang sedang dalam kesusahan sedangkan dirinya mampu, maka itu adalah sahabat sampah!" Kata Daniel cuek-cuek saja.


"Alah sudahlah. Berbicara dengan Daniel ini membuat tensi ku naik." Kata Riko sambil melangkah cepat meninggalkan Ryan dan Daniel.


"Itu lah dirimu. Sedikit-sedikit merajuk. Jika bukan karena kakak ipar, sudah ku hajar kau itu." Kata Daniel geram.


Mendengar umpatan dari Daniel, Riko batal berlalu dan kini dia membalikkan badan nya.


"Kau berani Daniel?" Tanya Riko dengan mata mendelik.


"Iya tidak lah." Jawab Daniel sambil tertawa.


"Kalian ini jika mau berdebat nanti saja kalau sudah sampai di rumah. Ini tempat umum. Jaga sedikit image kita sebagai anak muda berpendidikan yang lulus dari university terkemuka." Kata Ryan menegur.


"Dengarkan tuh omongan calon guru!" Kata Daniel sambil mengejek ke arah Riko.


"Huhf... Mimpi apa aku mendapat sahabat yang serba aneh ini oh Tuhaaan....?!" Jerit Riko putus asa.


"Sudah lah nak! Ayo kita pulang. Istirahat yang cukup. Besok kita harus berangkat ke MegaTown untuk meninjau proyek yang ada di sana." Kata Daniel sambil merangkul pundak Riko.


Dengan langkah seperti orang mabuk karena tidak tidur semalaman, Ryan, Riko dan Daniel pun bergegas memasuki mobil Mercedez benz S-class yang memang sudah dipersiapkan untuk mengatar mereka ke Starhousing karena mobil milik mereka masih tinggal di Metro city.


"Ryan. Apakah Kak Arslan akan mendirikan cabang Dragon empire di sini?" Tanya Riko.


"Menurut perintah dari Jerry, sebenarnya iya. Dragon empire harus berdiri di beberapa kota utama di negara ini. Sebagai organisasi terkuat, sudah saatnya mereka harus melebarkan sayap dan merambah ke berbagai tempat." Jawab Ryan.


"Kau tertarik untuk ikut ke dalam organisasi itu Riko?" Tanya Daniel.

__ADS_1


"Tertarik atau tidak, kita ini adalah bagian dari organisasi itu. Bukankah Jerry sudah menitipkan kita kepada mereka."


"Benar juga kata mu itu." Jawab Ryan.


"Kau lumayan pandai bertarung. Sedangkan kami, kami tidak pandai berkelahi. Mungkin karena terlalu khawatir makanya Jerry menitipkan kita kepada Dragon empire untuk menjamin keselamatan kita." Kata Daniel.


"Dulu waktu kakek Malik berada di sini, mengapa kau tidak belajar kepada orang tua itu?" Tanya Riko.


"Uhhh... Melihat wajah nya saja aku hampir kencing di celana." Jawab Daniel yabg spontan membuat Riko dan Ryan tertawa.


"Sebenarnya kita harus segera mendesak kak Arslan untuk bergerak cepat. Kekhawatiran ku hanya satu. Yaitu, Fardy. Dia pasti akan kembali dengan kekuatan penuh untuk membalas dendam atas kekalahannya. Jika Dragon empire masih tetap segitu-gitu saja, aku khawatir perusahaan akan runtuh." Kata Ryan.


"Menurut ku yang lebih berbahaya adalah perusahaan William Group. Mereka sama sekali tidak memiliki apa-apa sebagai tameng untuk menangkis serangan dari luar. Memang sangat sulit memisahkan kekuasaan dan kekuatan. Tanpa kekuatan, kekuasaan akan keropos. Tanpa kekuasaan, kekuatan juga seperti tidak berarti. Hal ini sudah diperkirakan oleh Jerry sejak jauh-jauh hari. Oleh karena itu, kita harus mengingatkan kak Arslan untuk melakukan gerak cepat." Kata Daniel.


"Perusahaan William. Hmmm.., andai terjadi sesuatu dengan perusahaan itu, kita hanya bisa lepas tangan saja. Ini karena, sebelumnya Tuan besar Smith telah menawarkan agar ikut bergabung dalam Future Fondation. Tapi dia kan menolak. Sedangkan Tuan Smith saja di tolak. Apa lagi kita."


"Pada akhirnya sikap keras kepala Tuan William ini nantinya akan merepotkan Jerry juga. Jika sudah demikian, tentunya semua akan kena imbas nya." Kata Ryan.


"Biasalah. Namanya juga orang tua. Kita hanya bisa melihat apa yang bisa dilakukan oleh Kenny. Syukur-syukur bisa membawa perusahaan William group semakin tinggi." Kata Daniel sembari berdoa.


*********


Tiba di rumah yang dibeli oleh Jerry itu, hal pertama yang mereka lihat adalah foto besar yang terpajang di ruang tengah.


Foto itu adalah foto Riko, Daniel, Jerry dan Ryan. Ketempat mahasiswa yang digelari sebagai empat mahasiswa menyedihkan oleh sekelompok mahasiswa di Golden University dulu.


Ketika melihat foto itu, terbayang di pelupuk mata baik Ryan, Riko maupun Daniel bagaimana dulu mereka mendapat penghinaan dan cacian dari seluruh mahasiswa apa lagi Anton, Herman sebelum mereka berteman baik, John dan Zeck.


Keempat mahasiswa itu yang paling sering membully mereka ketika itu. Namun kini semua sudah berubah. Tidak ada lagi yang berani menghina mereka. Tapi sayang, salah satu dari mereka harus berpisah.


"Ryan. Kira-kira, sedang apa ya Jerry sekarang?" Tanya Riko.


"Firasatku mengatakan, kemungkinan besar Jerry saat ini sedang berbahagia. Bulan madu, keliling dunia, dan merancang sesuatu untuk masa depan mereka." Jawab Ryan.


"Kasihan Jerry. Tapi yang aku tidak habis fikir, apakah orang kaya akan mengorbankan kebahagiaannya hanya demi ambis?"

__ADS_1


"Kau malah bertanya kepadaku sedangkan contoh nyata dari cara berfikir orang-orang kaya baru saja kita saksikan dan telah memakan korban." Jawab Ryan.


"Sebenarnya lebih enak seperti kita ini. Masa depan kita berada di tangan kita. Tidak seperti pion yang bisa maju tapi tak bisa mundur. Jerry adalah bidak pion yang telah dipersiapkan untuk menjadi Maharaja di dunia Bisnis. Sebenarnya sulit untuk membayangkan andai pernikahan Jerry dengan Lorna atau pernikahan Jerry dengan putri dari keluarga yang setara dengan keluarga William dan Smith terealisasi. Bayangkan bagaimana mengerikannya kekuatan Jerry."


"Iya. Aku juga membayangkan hal itu. Future of Company saja bukan tanggung besar dan kuatnya sehingga mampu membantai kekuatan Robin Patrik dan Ramendra. Apa lagi jika tiga kerajaan bisnis dilebur menjadi satu? Mungkin Jerry akan berhenti makan nasi. Dia pasti sanggup makan emas tiga kali sehari selama sisa hidup nya." Kata Daniel.


"Sayang pion itu membelot dan membangkang. hahahaa..." Kata Riko tertawa.


"Modal terpenting dalam hidup adalah kepintaran dan kreatifitas. Sekaya apapun kau, jika kau tidak pandai dan kreatif, maka sama saja. Semuanya akan habis sia-sia. Namun Jerry ini berbeda. Dia seperti batang ubi. Lempar saja ke tanah, maka dia akan tumbuh." Kata Ryan.


"Kau batang apa Daniel?" Tanya Riko.


"Dia batang pisang." Jawab Ryan sambil tertawa.


"Mending batang pisang. Bisa dijadikan rakit. Daripada dirimu itu. Batang bonsai. Bentuk saja yang bagus. Tapi kuntet!"


"Ah kasar sekali anda pak." Kata Ryan.


"Hahaha..."


"Riko? Menurut mu Riko ini batang apa?" Tanya Ryan memancing reaksi Daniel.


"Kakak ipar. Aku tidak berani. nanti kalau Helen merajuk, bisa tamat dunia ku." Kata Daniel sambil tertawa.


"Ayo kita istirahat. Malam ini kita akan mengajak mereka makan malam di Jewel star. Sekalian membahas yang tadi. Kita harus mendesak kak Arslan untuk membentuk cabang Dragon empire di Starhill dan Country home." Kata Ryan sambil mengambil bantal dari sofa dan memukulkan bantal tersebut ke kepala Daniel.


Bugh...!


"Akh... Sialan. Oh anda main kasar ya pak?"


"Itu balasan kau melempar aku dengan selimut tadi pagi." Kata Ryan lalu bergegas mendorong pintu kamarnya untuk melarikan diri. Namun apa sial? Ternyata pintu itu terkunci dan Ryan pun terbanting kebelakang serta jatuh terduduk.


"Hahaha... Kualat itu namanya. Hahahaha..."


"Hahaha... Makanya jadi orang jangan pendendam!" Kata Riko tertawa sambil meninggalkan Ryan.

__ADS_1


"Teman jatuh bukannya di bantu malah ditertawakan. Apa-apaan anda Pak?!" Rungut Ryan.


"Nikmati sendiri derita mu." Ejek Daniel lalu bergegas memasuki kamar nya untuk beristirahat.


__ADS_2