
Bab 119.
Makan malam kali ini telah usai dengan sangat menyenangkan.
Jarang-jarang mereka menikmati makan di restoran mewah dari hampir 2 tahun setengah ini. Namun kini kisahnya sudah berbalik arah.
Dulu, jangankan untuk makan di restoran mewah. Makan di kafe depan kampus saja mereka harus mencekik tenggorokan. Kini siapa sangka Jika mereka bisa merasakan lezatnya makanan di restoran elit yang hanya orang-orang berduit lah yang mampu makan di sana.
Herman, Rindy, Lisa, Jenny dan Rina tidak henti-hentinya mengucapkan terimakasih dan rasa kekagumannya kepada Ryan.
Mereka tidak tau siapa yang bermain di belakang layar.
Bagi Ivan, Via, David dan Kevin, itu pasti pekerjaan mudah untuk Jerry. Tuan yang sangat berkuasa di Starhill ini. Tuan muda yang sangat acuh dengan penampilan bahkan dengan Volvo butut sanggup menjemput kekasih nya. Benar-benar muka badak yang patut diacungi jempol.
"Jerry.., kemana kita selepas ini?" Tanya Daniel yang turun dari tangga sambil menuntun tangan Hellen.
"Entahlah Daniel. Volvo butut ku mungkin masih di bengkel." Kata Jerry acuh tak acuh.
"Jika kalian mau pergi jalan-jalan, pergi lah! Bawa saja mobil Kevin. Kau juga Ryan! Kau boleh membawa mobil David. Masalah izin, aku akan menyuruh tuan Barry untuk menelepon tuan Obery mengatakan bahwa putri nya aman." Kata Jerry lagi.
"Kau sendiri Jerry? Apakah kau akan mengantar Via pulang?" Tanya Ryan ingin tau.
"Aku sudah berjanji akan mengajak Via keliling kota Starhill. Kevin dan Lira akan bersama kami. Tidak tau apakah David mampu untuk mengajak Adele jalan-jalan bersama kami. Jika tidak, dia akan menjadi penjaga nyamuk." Kata Jerry sambil menutup mulutnya menahan tawa.
David yang mendengar perkataan Jerry hanya bisa merinding membayangkan dua pasang muda-mudi yang akan menikamti kebersamaan sebagai sepasang kekasih, dan dia hanya akan menjadi penonton.
"Ah..., ini tidak adil. Aku harus mengajak Adele sekalian dan akan mengawal tuan muda dari belakang." Kata David dalam hati lalu segera menghampiri Adele yang jauh tertinggal di belakang.
__ADS_1
"Adele.., Emmm.. Apakah kau akan langsung pulang?" Tanya David malu-malu sambil mengosok-gosok telapak tangannya.
"Aku masih belum memiliki rencana. Akan sangat sepi sendirian di Hotel. Lihat tuh Ivan dan Lorna nempel terus seperti perangko." Kata Adele menunjuk ke arah Ivan dan Lorna dengan bibirnya.
"Jika kau tidak memiliki rencana, bagaimana jika kita ikut dengan Jerry. Yah.., sekedar menikmati kerlap kerlip kota di malam hari dari Bukit teratai ini." Kata David penuh harap.
"Lorna.., Kak Ivan! Aku akan bersama dengan David. Apa kalian mau ikut?" Tanya Adele sedikit mengeraskan suaranya.
"Kalian pergi lah! Aku akan ke Jewel Star sebentar dengan Ivan." Kata Lorna.
"Hati-hati di Jewel Star. Aku masih belum bisa menemukan Preman yang menggangu mu tempo hari. Jika ada apa-apa, telepon saja! Aku pasti akan datang." Kata Jerry.
"Kau terlalu sibuk Jerry. Mana ada waktu mencari preman itu. Terlalu berbahaya bagi mu sendirian sedang mereka sangat ramai." Kata Lorna sambil menyindir Jerry yang sibuk membujuk Via.
"Bukan aku yang mencari mereka. Tapi orang-orang paman Austin." Kata Jerry dalam hati. Tapi dia segera juga mengiyakan perkataan Lorna.
Country Home.
Di markas Sendiego saat ini.
Seorang lelaki setengah baya namun terlihat sangat kekar dan masih gesit berjalan sambil membawa beberapa keping kaset DVD dan menyerahkannya kepada seorang pemuda yang tampak baru saja menyelesaikan latihannya.
"Riko, aku tidak perlu lagi mengajari mu ini dan itu tentang gaya bertarung mu. Kau telah memiliki pondasi yang kuat. Namun kau harus mengenali lawan yang akan menjadi lawan mu bertarung. Ini ada beberapa Video rekaman nya. Kau bisa mengamati dan menganalisis gaya bertarung lawan mu." Kata Lelaki setengah baya itu sambil menyerahkan beberapa keping kaset DVD kepada pemuda yang ternyata adalah Riko itu.
"Terimakasih pak Ramos. Tapi, apakah tidak ada yang lebih simpel dari DVD ini. Maksud saya adalah, apakah tidak ada format mp4 yang tersimpan dalam Flashdisk atau semisalnya?" Tanya Riko kepada pelatihnya itu.
"Untuk saat ini hanya itu yang bisa aku lakukan untuk membantu mu. Itu juga aku dapat dari beberapa kenalan yang sempat merekam pertarungan calon lawan mu dan mengirimkan kepada ku dalam bentuk DVD." Kata Ramos.
__ADS_1
"Baiklah pak. Aku akan menonton rekaman pertarungan calon lawan ku ini terlebih dahulu. Setelah itu baru aku bisa mengambil keputusan gaya bertarung seperti apa yang akan aku lakukan. Tapi yang jelas, aku tidak akan terlalu bertahan. Bagi ku pertahanan yang terbaik adalah menyerang." Kata Riko dengan tegas.
"Lakukan dengan baik Riko. Kau hanya punya 1 hari lagi. Karena kita akan berangkat esok lusa. Persiapkan dirimu. Hindari bertemu dengan Sendiego! Jujur saja aku tidak percaya kepada lelaki busuk itu." Kata Ramos sedikit berbisik.
"Aku mengerti pak."
"Tetap disini dan jangan kemana-mana Riko! Aku mendengar bahwa atasan Sendiego yang bernama Ramsey telah menyebarkan anak buah nya mengawasi mu. Tunggu lah setelah pertarungan ini! Mungkin kau akan sedikit mendapat kebebasan." Kata Ramos memperingatkan.
"Saya akan melakukan yang anda katakan pak. Terimakasih telah mengambil berat untuk masalah ku ini." Kata Riko penuh rasa terimakasih.
"Sejujurnya bukan hanya kau saja yang pernah aku latih. Sebelum kau pun ada satu lagi petarung yang menjadi korban kelicikan Sendiego dan tuannya yang bermain di belakang layar. Kau sudah melihatnya. Namanya adalah Arslan. Maka dari itu, jaga dirimu baik-baik. Jika kau memiliki sandaran yang bisa melawan kekuatan Sendiego, segera lah mengatur langkah. Ini tidak akan pernah menjadi mudah Riko." Kata Ramos dengan serius.
"Aku tidak memiliki siapa pun yang bisa aku andalkan pak. Hanya ada beberapa teman sekampus yang selalu membantu ku dalam setiap kesulitan. Tapi jika di banding dengan kekuatan yang dimiliki oleh Sendiego, mereka bukan apa-apa pak. Justru aku tidak ingin mereka terlibat dalam masalah ku saat ini. Biarlah aku sendiri yang menanggung. Walau bagaimanapun, jalan ini telah ku tempuh. Aku telah memulai, aku juga akan mengakhirinya." Kata Riko tetap dengan pendiriannya.
"Satu pesan ku Riko. Jika kau ingin menentang kekuatan Sendiego, sebaiknya ungsikan dulu keluarga mu. Jika tidak, kau akan menyesal. Mereka ini adalah manusia-manusia berhati iblis yang sanggup menggunakan apa cara sekalipun demi keuntungan mereka."
"Aku sudah tau akal licik mereka pak. Hanya itu senjata mereka untuk mengancam ku. Namun jujur saja bahwa aku tidak tau kemana akan membawa keluarga ku. Oleh karena itu lah mengapa aku tetap menuruti keinginan Sendiego."
"Kau bersabar lah dulu Riko. Kita selesaikan satu per satu. Sekarang, kau persiapkan dirimu menatap pertarungan yang akan kau jalani!"
"Baik pak. Aku akan melakukan yang anda pinta. Ketika anda berada di luar, jangan lupa untuk mencari kabar tentang keluarga ku." Kata Riko memohon.
"Keluarga mu saat ini sedang baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir." Kata Ramos
Mendengar kata-kata dari pelatihnya itu, Riko kini bisa menarik nafas lega.
Dia lalu melangkah ke ruangan tengah dan segera menyalakan tv dengan tujuan untuk melihat rekaman video pertarungan lawan yang akan menjadi lawan nya dalam beberapa hari ini.
__ADS_1
Bersambung....