
Malam kini semakin larut menyelimuti lokasi proyek di Hillstreet.
Semua pekerja harian mau pun borongan kini sama-sama di buai mimpi indah dalam tidurnya selepas seharian penuh bekerja di lokasi bangunan tersebut.
Saat ini hanya Ada Arslan berjaga-jaga melawan kantuk sambil berganti-gantian dengan dua orang anak buah tuan Syam yang sengaja ditempatkan oleh Ronald bagi membantu meringankan tugas Arslan dimalam hari.
Tepat pukul 2 dini hari. Ketika semua orang tidak berfikir untuk melakukan aktifitas, siapa sangka mesin kendaraan panjang yang telah terparkir dengan muatan penuh kini memperdengarkan suara deru mesin.
Tak lama setelah itu, 4 unit mobil melaju dari arah Starhill tepat berhenti di depan pos jaga tersebut.
Setelah mobil itu berhenti, tampak pintu mobil yang paling depan terbuka dan keluarlah seorang lelaki berbadan tegap menghampiri pos jaga tersebut.
Bagitu lelaki itu tiba di depan Arslan, lelaki itu pun segera memerintahkan Arslan untuk membuka barrier gate agar kendaraan panjang yang sarat dengan muatan itu bisa keluar dengan segera.
Arslan yang mendapatkan perintah tersebut tampa membantah sedikit pun segera membukakan palang pintu.
Begitu palang pintu terangkat, kini tampak lelaki bertubuh besar itu memberi aba-aba dengan menyuluh bagian depan mobil menggunakan lampu senter.
Tak lama setelah itu, kini mobil truck panjang itu segera menderu dengan suara bising mesin memecah keheningan malam lalu meluncur dengan lambat meninggalkan lokasi proyek secara beriringan.
Sebelum kendaraan berat itu mencapai jalan lintas, dua mobil paling depan segera melaju terlebih dahulu meninggalkan dua mobil lagi di belakang.
Iring-iringan mobil berat itu mulai meninggalkan lokasi proyek di ikuti tatapan sinis dari Arslan.
Setelah dua mobil pribadi yang tertinggal tadi mulai bergerak, Arslan yang memperhatikan seluruh proses pemberangkatan itu segera mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan teks kepada Ronald.
Ronald yang saat ini sedang bersiap-siap ditemani oleh Regan dan Austin segera mengeluarkan ponsel nya.
Dia memperhatikan pesan yang di kirim oleh Arslan dan mulai mengatur orang-orangnya.
...*********...
"Kriiiing..."
"Kriiiing...!"
"Hallo Tuan Ronald..." Kata satu suara di seberang telepon dengan sedikit berbisik.
"Pak Jeff! Anda segera bersiap. Sasaran telah meninggalkan lokasi." Kata Ronald yang ternyata menelepon Jeff.
"Baik Tuan Ronald. Kami sudah menunggu sejak tadi." Kata Jeff.
__ADS_1
"Baiklah Pak Jeff. Tetap lah terhubung agar kita lebih mudah saling berbagi informasi." Kata Ronald.
"Siap Tuan. Jangan lupa sebelum membuntuti mereka, pastikan anda berada pada jarak yang aman." Kata Jeff memperingatkan.
"Terimakasih sudah mengingatkan Pak Jeff. Mari kita fokus!" Kata Ronald lalu mengakhiri panggilan.
"Austin... Atur jarak kita. Untuk saat ini, biarkan Pak Regan berangkat terlebih dahulu. Kau menyusul setelah 15 menit dan setelah itu aku akan menyusul 15 menit kemudian. Atur kecepatan kendaraan kalian sekitar 40 sampai 50 kilo meter per jam!" Kata Ronald mengatur rencana.
"Baiklah Pak Ronald. Saya berangkat terlebih dahulu." Kata Regan lalu berjalan menuju kearah mobil dan mulai melaju pelan menuju Hillstreet.
***
Menunggu itu memang sangat membosankan. Hal itu juga terasa bagi Jeff dan semua anak buah nya yang tersebar diantara Hillstreet sampai ke jalan persimpangan antara Metro City dan MegaTown.
Beberapa kali Jeff menguap menahan kantuk yang menyerang nya.
"Kenapa lama sekali?" Fikir Jeff dalam hati.
Namun dia kini menyadari kebodohannya.
Bagaimana tidak lama, ini karena mobil truck panjang itu sarat dengan beban muatan. Ya sudah pasti mereka bergerak sangat perlahan.
Saat ini Jeff melihat kearah jam tepat menunjukkan pukul 3 subuh. Jika menurut perhitungan, maka konvoi mobil pengangkut barang itu setidaknya akan memakan waktu sampai pukul 10 Pagi ke MegaTown dan andai mereka ke Metro City, maka mereka akan sampai di sana menjelang malam.
Ketika Jeff ingin menyulut rokoknya, tampak sinar lampu mobil sangat terang dari arah kejauhan.
"Itu mereka." Fikir Jeff.
Benar saja. Sekitar 5 menit, kini Jeff melihat konvoi 5 kendaraan panjang langsung mengambil jalan ke arah kanan di ikuti oleh 2 mobil pribadi di depan nya.
Begitu Jeff memastikan kemana arah yang mereka tempuh, Jeff langsung memberi pesan suara kepada Ronald.
"MegaTown.., MegaTown..., MegaTown..!!!" Kata Jeff.
"Di copy..., di copy.." Kata suara balasan dari Ronald.
Saat ini Ronald yang mengetahui arah tujuan konvoi tersebut langsung menghubungi Jerry.
Setelah Jerry mengetahui bahwa tujuannya adalah MegaTown, Jerry langsung memerintahkan agar mereka segera mengarah ke lokasi proyek yang di kembangkan oleh Patrik Group.
Ronald yang mendapat perintah langsung memberikan perintah pula kepada Jeff agar mendahului ke lokasi proyek milik keluarga Patrik di MegaTown.
__ADS_1
"Lokasi proyek keluarga Patrik... Lokasi proyek keluarga Patrik! Di MegaTown.. Di MegaTown!!! Ambil jalan memutar! Ambil jalan memutar!!!" Kata Jeff mengirim pesan suara kepada anak buahnya yang berada di dalam group whatsapp.
Setelah menerima pesan tersebut, anak buah Jeff segera bergegas berangkat ke MegaTown.
Agar tidak menimbulkan kecurigaan, mereka lalu mengambil jalan memutar. Walau pun melalui jalan perkampungan, namun jalan ini jauh lebih dekat dibanding dengan mengikuti jalan lintas.
Setelah Jeff dan anak buahnya sampai di lokasi proyek keluarga Patrik, saat itu tepat jam 7 pagi.
"Masih lama. Kalian bisa tidur sejenak secara bergilir!" Kata Jeff kepada anak buahnya.
Hampir pukul 11 menjelang tengah hari, akhirnya konvoi kendaraan itu pun tiba di lokasi proyek MegaTown dan di sambut oleh sekelompok orang-orang berpakaian serba hitam di depan pintu.
Setelah kendaraan berat itu memasuki lokasi bangunan, kini tampak dari keempat mobil pribadi yang mengawal konvoi tersebut berkeluran lelaki yang juga berbadan tegap mengawal seorang lelaki berperut buncit dan berkepala sedikit botak memakai pakaian kemeja putih.
"Hahaha... Bagus sekali Tuan Paul. Anda menunaikan janji dan melakukan pengiriman dengan tepat waktu. Benar-benar tidak sia-sia melakukan kerja sama ini." Kata salah seorang dari lelaki yang berdiri menunggu di dekat pintu masuk tersebut.
"Paul tidak akan pernah ingkar janji Tuan Ramsey." Kata lelaki setengah baya berperut buncit yang ternyata adalah tuan Paul tersebut.
"Tuan Paul, kami percaya kepada anda dan tidak perlu melakukan pemeriksaan. Apakah anda akan menerima pembayaran di sini atau anda akan ke kantor dulu?" Tanya Ramsey kepada tuan Paul.
"Sangat disayangkan bahwa saat ini aku sangat terburu-buru Tuan Ramsey. Anda bisa melakukan pembayaran disini saja dan aku harus segera kembali ke Hillstreet agar bisa mengendalikan keadaan di sana." Kata tuan Paul.
"Hahaha... Ternyata Tuan Paul sudah tidak sabaran. Di dalam cek ini ada jutaan Dollar dan sekarang aku serahkan cek ini ke tangan anda." Kata Ramsey sambil menyerahkan selembar cek bernilai 10 Juta kepada Paul.
"Terimakasih.., Terimakasih. 2 gelombang pengiriman yang sepadan dengan harga yang di dapat." Kata Paul.
"Kami tidak terlalu perhitungan Tuan Paul. Bagi kami begitu ada barang, maka uang bukan lah masalah besar." Kata Ramsey.
"Baiklah. Jika begitu, aku akan meminta diri dulu. Jangan lupa sampaikan salam ku kepada tuan Robin!" Kata Paul segera masuk kedalam mobil nya dan langsung melaju ke arah darimana tadi dia datang.
"klik.."
"Sudah kau simpan rekamannya Herey?" Tanya salah seorang dari ketiga lelaki yang bertiarap dibalik tumpukan sampah.
"Sudah. Ayo kita segera menyingkir dari tempat ini!" Kata lelaki yang ternyata Herey itu kepada kedua temannya.
Mereka lalu mengendap-endap dibalik timbunan sampah sisa potongan kayu dan papan, lalu segera merunduk di balik lekukan tanah dan segera bergulingan untuk keluar dari lokasi bangunan yang di pagar menggunakan kawat berduri tersebut.
"Selesai kau Paul." Kata Herey sambil tertawa dan melangkah dengan santai menuju ke-arah mobil Ronald yang di parkir.
Bersambung...
__ADS_1