
Juga cara menatap Haikal dan gadis yang ia temui tadi tampak menahan tawa dengan menggigit bibir. Sepanjang lorong juga seperti itu saat berpapasan dengan anak buah Ronal. Pak Sopo saat di mobil sepanjang perjalanan terlihat seperti ketakutan melihat wajah nya. Terakhir bik Jusma yang menunduk takut pada nya.
"Ahhccchh....". Jasmin berteriak frustasi.
"Malu nya aku! Ternyata wajah ku dari tadi sangat menyeramkan seperti ini. Pasti wanita mur4han itu puas mencemooh ku tadi. Kenapa nggak ada satu orang pun yang mengatakan hal ini pada ku? Tapi...". Jasmin malah teringat dengan perkataan Haikal saat membujuk nya tadi.
"Tante jangan seperti ini, malu di lihat sama orang. Tante yang cantik dan baik hati ku malah bertengkar hanya karena masalah kecil".
Seketika wajah Jasmin berubah sumbringan. "Segitu bucin nya kah Haikal pada ku sehingga ia mengatakan ku cantik sementara wajah ku terlihat seseram ini". Gumam Jasmin sambil membayang kan wajah Haikal yang tersenyum saat membujuk nya tadi..
"Pasti ia sengaja memeluk ku tadi untuk melepas rindu, terlihat jelas di wajah nya kalau ia sangat merindukan ku". Sambungnya kini lupa pada setiap tanggapan orang terhadap wajah nya.
"Haikal pasti kecewa karena kejadian tadi. Secara tidak langsung aku seperti sedang mengemis cinta Ronal. Semoga saja ia mengeri keadaan ku saat ini yang hanya memanfaat kan Ronal untuk membalas dendam. Sebelum nya telah ku ceritakan pada Haikal kalau aku sama sekali nggak mencintai Ronal. Hubungan antara kami hanya untuk keuntungan masing - masing". Gumam Jasmin lagi.
"Aku akan mencari cara untuk membuktikan perasaan ku yang sebenarnya pada Haikal dan menjelaskan yang sejelas - jelas nya agar Haikal tak lagi salah paham di kemudian hari".
Mode Jasmin kini kembali seperti biasa. Berkat bujukan Haikal tadi, ia berhasil melupakan rasa malu nya akibat wajah nya itu.
*
*
Pada malam yang sama di tempat yang berbeda. Zack, Pundas dan Dilan sedang mendengar laporan yang di sampai kan oleh mata - mata nya yang berada di markas klan Black Tiger. Pria itu adalah anak buah Ronal yang merupakan ketua bagian selatan yang sempat kesal karena batal bersenang - senang dengan wanita nya. Ia bernama Malik.
"Jadi begitu rencana Haikal?". Tanya Pundas memastikan.
"Benar pak. Haikal berencana untuk pura - pura jadi korban penculikan dari Ronal. Ia bahkan berencana membuat video saat ia sedang di siksa. Dia anak yang cukup nekat pak". Jelas Malik.
Ia juga sebenarnya hanya di manfaat kan oleh Pundas dan Dilan untuk mendapatkan informasi dari klan Black Tiger. Mereka juga tak sepenuhnya percaya pada Malik. Pundas maupun Dilan juga melakukan taktik tersendiri. Pria itu nggak tahu kalau sebenarnya Haikal hanya menjebak mereka dan hanya berpura - pura patuh pada Ronal.
"Kamu memang paling bisa di percaya. Terima kasih informasi nya. Lanjut kan kerja mu". Imbuh Pundas.
__ADS_1
"Sudah tentu pak, informasi dari ku adalah paling akurat. Tapi pak Pundas jangan lupa kalau informasi ini sangat mahal...". Ujar Malik sambil memainkan ibu jari dan jari telunjuk nya untuk meminta bayaran..
"Itu sudah tentu". Pundas kemudian mengotak - atik ponsel nya. "Aku sudah mentransfer sedikit uang ke rekening mu. Periksa saja dulu". Sambung Pundas setelah transaksi berhasil.
Tring...
Sebuah notifikasi dari bank masuk ke ponsel Malik. Wajah pria itu kaget karena nominal yang masuk bukan sedikit, bahkan selama bekerja dengan Ronal setahun sekali pun nggak akan ia dapat kan. Hanya memberi satu informasi kepada pihak musuh ia mendapatkan bayaran yang sangat fantastis.
"Wah, sudah masuk pak. Ini sudah lebih dari cukup. Tapi saya harap kerja sama antara kita tidak sampai ketahuan oleh Ronal". Imbuh Malik dengan ekspresi ketakutan...
"Kamu tenang saja, rahasia di antara kita pasti aman kecuali kamu sendiri yang mencari masalah dengan kami". Sahut Pundas sambil melipat tangan nya di dada.
"Itu tak mungkin terjadi pak. Itu sama saja aku sengaja mencari mati dengan kalian semua". Balas Malik setuju. "Ka - kalau begitu aku pamit dulu". Malik nggak ingin berlama - lama karena takut ketahuan oleh Ronal jika ia bertemu dengan musuh bebuyutan klan mereka..
"Sila kan. Semoga malam ini mimpi mu indah". Kata Dilan dengan senyum sinis nya.
Malik pergi dengan tergesa - gesa tapi masih berhati - hati. Ia sengaja memakai topi hitam, masker hitam dan memakai rambut palsu agar penyamaran nya semakin sempurna.
"Kita apakan pria brengsek itu? Aku nggak ikhlas kalau uang ku di ambil oleh nya begitu saja". Imbuh Pundas pada Zack..
"Ya elah, ternyata hanya pencitraan doang kamu, mah. Dasar payah! Ha ha ha". Ejek Dilan sambil tertawa terbahak - bahak.
"Diam! Itu merupakan tabungan ku selama lima tahun ini tahu nggak. Niat nya ingin ku pakai melamar seorang wanita untuk menjadi istri kedua ku". Sahut Pundas membela diri.
"Halah, ternyata lo belum taubat juga yah. Dasar tukang selingkuh tahap kakap!". Balas Dilan menggoda Pundas.
"Tolong aku dong tuan Zack. Izin kan aku untuk mengirim beberapa anak buah untuk menghabisi si Malik itu lalu mendapatkan uang ku kembali. Jika Malik bertanya tinggal jawab aja kalau Ronal lah yang mengirim mereka. Kita juga bisa menggunakan mayat si Malik untuk menantang si Ronal itu". Saran Pundas tampak tak ikhlas uang nya hilang di ambil Malik.
"Maka nya bro jangan sok membayar orang dengan banyak jika nyatanya uang mu hanya tersisa itu. Kamu sendiri yang cari mati, ha ha ha". Dilan tak henti - hentinya menggoda Pundas yang sedang frustasi dengan hilangnya uang milik nya.
"Lo diam. Itu hanya agar ia percaya pada kita". Sahut Pundas nggak mau mengalah.
__ADS_1
"Sudah - sudah! Terserah kamu mau apakan si Malik itu. Mau bunuh mau di apa sekali pun terserah. Aku ingin pulang dulu". Pamit Zack menyerahkan semua keputusan pada Pundas mengenai masalah uang yang di ambil Malik.
"Terima kasih tuan. Ingin saya hantar pulang?". Tawar Pundas.
"Nggak perlu. Selesaikan saja urusan kalian. Aku membawa mobil sendiri". Tolak Zack..
"Hati - hati di jalan tuan". Sahut Pundas dan Dilan serentak. Mereka berdua memilih untuk melanjutkan minum - minum tanpa Zack di temani oleh empat wanita cantik.
"Aku nggak nyangka kalau otak den Albar itu sangat bergeliga, genius seperti tuan Zack. Tapi aneh nya mereka berdua bukan...". Kata Dilan dengan keadaan mabuk.
"Hush... Lo kalau mabuk asal bicara saja. Lebih baik lo diam atau gue tonjok muka datar lo itu". Ujar Pundas kesal.
Ia tak mau ada orang lain yang medengar perkataan Dilan yang merupakan rahasia besar keluarga tuan Mereka.
"Iya, maaf. Gue nggak sengaja. Terus bagaimana dengan uang mu tadi? Kamu serius ingin mengambil nya kembali? Kemon lah Pundas, nggak gentleman lah loh nih". Balas Dilan.
"Sudah tentu. Jumlah nya bukan sedikit tau. 5 M". Sahut Pundas. Ia kemudian mengotak - atik ponsel nya lalu menghubungi seseorang.
"Kalian sudah berhasil menangkap nya?". Tanya Pundas setelah panggilan terhubung.
---
"Bagus. Segera dapatkan uang ku kembali dan bunuh dia. Jangan lupa buang tubuh nya dan sisakan kepala nya saja lalu hantar ke markas Klan Black Tiger". Titah Pundas.
---
"Lo memang kejam ya jadi orang...". Imbuh Dilan pada Pundas.
"Dia pantas mendapatkan nya. Pengkhianat seperti dia nggak pantas hidup di dunia ini. Meskipun memberi keuntungan pada kita tapi ia tetap seorang pengkhianat". Tungkas Pundas.
Ternyata dari awal ia sudah meminta anak buah nya untuk mengikuti Malik dan segera menangkapnya saat Zack memberi persetujuan.
__ADS_1