
Metro city.
Persis seperti yang di perkirakan oleh Austin bahwa rombongan Jerry yang terdiri dari Jarry, Daniel, Ryan, Riko, Arslan dan Herey tiba di Metro city tepat pukul sembilan pagi.
Setelah mengantarkan sahabat-sahabat nya itu untuk beristirahat di Hotel mutiara, Jerry lalu mengendarai mobilnya menuju perumahan menengah ke atas Metro city di mana Drako bertempat tinggal untuk mengantar Clara yang tampak sangat kelelahan sekali.
Begitu Jerry tiba di rumah dua lantai itu, Bibi Roxana dan Drako tidak mengizinkan Jerry untuk kembali ke hotel mutiara. Dengan terpaksa Jerry pun menuruti keinginan orang tua angkat nya itu dan segera memejamkan mata di kamar miliknya yang memang disediakan oleh Drako.
Baru saja Jerry akan tertidur, tiba-tiba ponselnya menerima pesan dari tuan Syam.
Dengan sangat malas, Jerry akhirnya membuka juga pesan suara itu.
"Tuan muda.., tadi anak buahku mengatakan bahwa ada serombongan mobil menjemput seseorang di bandara dari Hongkong. Saat ini rombongan itu menuju ke Villa Ramendra." Kata isi pesan suara dari tuan Syam itu.
Begitu mendengar isi dari pesan suara ini, seketika itu juga rasa mengantuk Jerry lenyap. Dia segera keluar kamar dan mengabarkan kepada Drako bahwa Fardy kemungkinan besar telah tiba di MegaTown.
Drako yang mendapat kabar dari Jerry ini segera berkata, "Jerry.., kau istirahat saja dulu. Aku akan menemui Syam. Tidak perlu terburu-buru. Bukankah Jessica dan Jimmy berada di Villa Ramendra." Kata Drako.
"Baiklah Ayah. Temui tuan Syam dan tunggu saja kabar dari Jimmy dan Jessica. Jika sampai pukul 1 tidak ada kabar dari mereka berdua, jalankan apa yang telah kita rencanakan. Tempatkan juga beberapa anak buah Ayah untuk mengintai segala pergerakan di rumah sakit tempat Ivan dirawat." Kata Jerry berpesan.
"Baiklah. Kau tidurlah dulu barang satu atau dua jam. Secepatnya aku akan memberi kabar." Kata Drako.
Setelah berpamitan dengan Roxana, Drako pun pergi meninggalkan rumahnya menuju ke bukit Metro bagian utara tempat Syam tinggal.
*
__ADS_1
Sementara itu di MegaTown tepat nya di Villa Ramendra, kedatangan Fardy disambut dengar suka cita oleh Syntia, Efander dan Simon.
Kedatangan Fardy ini bagai membawa angin segar bagi mereka yang masih setia kepada keluarga Ramendra ini.
"Bagaimana dengan perjalananmu adikku, apakah lancar tanpa ada kendala?" Tanya Syntia.
"Tidak ada masalah apapun Kak." Jawab Fardy singkat.
"Oh ya.., ayo kita ke dalam. Kau tentu sangat lelah." Kata Syntia.
"Terimakasih Kak. Oh ya.., di mana kedua orang asing yang aku kirim dari Hongkong itu?" Tanya Fardy.
"Ada. Mereka sedang istirahat setelah beberapa hari ini terus-terusan mengintai Villa Patrik di bukit metro." Jawab Syntia.
"Ya. Mereka sangat patuh kepada ku." Jawab Syntia sambil melangkah memasuki Villa peninggalan mendiang ayah nya itu diikuti oleh Fardy.
"Ini adalah kamar mendiang ayah kita. Kau boleh menempatinya. Sebagai anak lelaki, sekarang kau lah yang menjadi kepala keluarga." Kata Syntia.
"Aku tidak bisa tinggal di kamar ini Kak. Hati ku terasa sangat sakit. Apalagi aku tidak sempat bertemu dengan ayah sebelum dia meninggal." Jawab Fardy dengan wajah murung.
"Justru karena itu lah kau harus tinggal di kamar ini. Agar kau merasakan sakit, penyesalan dan kemarahan. Dengan begitu, setiap hari yang ada di otak mu itu adalah balas dendam, dendam dan dendam." Kata Syntia memanas-manasi.
"Baiklah Kak. Aku akan menurut saja apa katamu. Oh ya.., bagaimana dengan Robin mantan suami mu itu?" Tanya Fardy.
"Saat ini dia masih berada di Villa Patrik. Aku hanya menunggu mu kembali ke MegaTown ini untuk menjalankan rencananya." Jawab Syntia.
__ADS_1
"Sebenarnya apa gunanya ular itu bagi kita Kak? Apa kau yakin kelak dia tidak akan membelit kita di kemudian hari. Aku menduga bahwa Robin ini sedikitpun tidak bisa di percaya."
"Makanya untuk kali ini kita harus berhati-hati. Kita tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama seperti yang pernah dilakukan oleh mendiang ayah kita." Kata Syntia.
"Terlalu beresiko Kak. Memelihara ular berbisa seperti ini jelas sangat beresiko." Kata Fardy mencoba meyakinkan kakak perempuan nya itu.
"Memang akan selalu ada resiko. Tapi kau sendiri sadar bahwa kau masih buta dengan kekuatan lawan mu. Apa lagi ternyata Jerry William itu ternyata masih hidup. Untuk melawan Daniel dan Ryan yang hanya seorang bawahan saja, ayah kita sampai mati bunuh diri. Apa lagi jika pentolan dari perusahaan itu masih hidup. Dapat kau bayangkan betapa sulit bagi kita untuk membalas dendam. Ingat Fardy. Peta kekuatan musuh ada di tangan Robin. Jika kita tidak memanfaatkan ini, maka kita akan berada di kegelapan dan akan tersesat." Kata Syntia.
"Kita harus bergerak secara perlahan Kak. Bagaimanapun, kita tidak boleh asal seradak-seruduk saja. Ibarat menanam pohon. Aku harus memulai dari awal di negara ini. Melebarkan sayang dan memperbanyak koneksi. Memang kita memiliki dana yang cukup. Tapi jika hanya mengandalkan itu, sama saja bunuh diri. Kita harus menjalankan bisnis kita di hotel Mega. Kumpulkan kekuatan lalu bergerak untuk membalas." Kata Fardy.
"Apakah kau ingin menunda balas dendam kepada Daniel, Ryan dan Jerry William ini? Ingat Fardy! Sudah terlalu banyak nyawa yang melayang di tangan mereka. Ayah mati bunuh diri karena ulah mereka. Hyden keponakan mu di bunuh oleh tangan Jerry sendiri di MegaTown. Apakah bisa bersantai-santai lagi?" Tanya Syntia.
"Cara berfikir mu sama seperti mendiang ayah. Berbuat dulu baru berfikir. Jangan terlalu menyulut api dendam mu Kak! Kalau semuanya kacau, maka tak ada jalan untuk lari. Kita harus mencetak lebih banyak uang, merekrut orang-orang bayaran. Hanya dengan menyusun kekuatanlah peluang untuk memenangkan pertarungan ini akan terbuka dengan sangat lebar." Kata Fardy menjelaskan.
"Saat ini kita harus mengumpulkan sisa anak buah mendiang ayah yang sempat kabur. Tanpa anak buah, tidak akan ada yang namanya Tuan besar."
"Lalu bagaimana dengan rencana kita untuk berpura-pura mencukik Robin?" Tanya Syntia.
"Kita lakukan sore ini. Suruh Robin untuk membuat mabuk anak orang-orang yang mengawal Villa itu! Setelah itu, kita bergerak menyerbu Villa itu." Kata Fardy.
"Baik lah. Aku akan menghubungi Robin nanti. Kita harus membuat seolah-olah itu adalah seperti benar-benar penculikan. Kalau bisa, bunuh saja orang tua bau tanah Aaron Patrik itu. Jika hanya tinggal anak haram itu, maka dapat dipastikan seluruh aset milik keluarga Patrik akan jatuh ke tangan kita." Kata Syntia bersemangat. Di dalam otak nya kini hanya membayangkan keberhasilan membolot seluruh harta kekayaan milik keluarga itu dengan menjadikan diri Robin sebagai alat tukar.
"Suruh Jessica dan Jimmy untuk mempersiapkan segala sesuatu nya. Dia akan mengetuai orang-orang kita untuk menyerbu ke Villa Patrik Sore ini. Aku ingin beristirahat dulu Kak." Kata Fardy.
"Ya. Kau istirahat saja dulu. Aku kan mengatur segala sesuatunya." Kata Syntia lalu segera keluar dari kamar itu untuk memberikan waktu istirahat yang cukup kepada adiknya yang baru tiba dari Hongkong itu.Metro city.
__ADS_1