PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Kacau sudah rencana Jerry


__ADS_3

Iring-iringan mobil sport berbagai jenis seperti Lamborghini, Audi, Mercedez dan Jauguar melintasi jalan raya Metro city menuju ke arah sebuah bangunan berwarna putih bersih yang di kenali oleh mereka sebagai rumah sakit Metro itu.


Setelah sampai di area parkir, tampak enam orang pemuda dan seorang gadis turun dari mobil masing-masing.


Siapa sebenarnya keenam lelaki muda dan seorang gadis ini? Mereka tidak lain adalah Jerry, Ryan, Riko, Daniel, Arslan dan Herey dan seorang gadis bernama Clara.


Seperti dikisahkan dalam bab sebelumnya bahwa sore ini Jerry mengajak ke tiga sahabatnya di tambah Arslan dan Herey untuk mengunjungi sahabat mereka yang sama-sama mahasiswa dari Golden university bernama Ivan Patrik yaitu pewaris keluarga kaya raya Patrik.


Mereka bertujuh tampak tidak begitu asing dengan rumah sakit ini kecuali Clara. Ini karena mereka sudah beberapa kali pernah ke sini. Terutama Jerry yang memang dilahirkan di rumah sakit ini. Juga ada Riko dan Arslan yang belum sampai satu bulan ini pernah menyamar sebagai pasien menggantikan posisi David dan Kevin guna menjebak orang suruhan Ramendra.


Setelah sedikit berbasa-basi dengan petugas administrasi, Jerry dan rombongannya pun berjalan menelusuri koridor rumah sakit tersebut sampailah mereka tiba di salah satu kamar Vip tempat Ivan dirawat.


Setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk, maka Jerry dan yang lainnya pun mulai masuk membuat Ivan sangat terkejut melihat kehadiran Ryan, Daniel, Riko, Arslan dan Herey. Wajar jika Ivan sedikit terkejut. Ini karena yang dia tau adalah bahwa mereka ini sebelumnya memang disuruh tinggal di Starhill oleh Jerry.


"Hey Van. Betah sekali kau ini berada di rumah sakit?!" Sapa Ryan sambil mengepalkan tinjunya dan bertemu dengan tinju milik Ivan.


"Iya benar. Terakhir kali kita ke Metro city, kau sedang dalam proses untuk mendapatkan izin pulang. Sekarang kau malah masuk lagi ke tempat hukuman ini." Kata Daniel pula.


"Sebenarnya ada apa Van? Mengapa kau menjadi langganan tetap di rumah sakit ini?" Tanya Riko.


Sebelum menjawab, Ivan hanya melirik ke arah Jerry. Namun karena di desak, Ivan akhirnya berkata. "Aku lupa tepat nya mengapa kepala ku bisa pecah. Karena setelah sadar dari pingsan, tau-tau aku sudah berada di rumah sakit ini. Untuk lebih jelasnya, kau silahkan bertanya kepada Jerry saja lah!" Kata Ivan.


"Sebenarnya semua karena kesalahan ku. Waktu itu aku memakan buah pisang dan membuang kulitnya di sembarang tempat. Ivan yang tidak tau akhirnya terpeleset karena menginjak kulit pisang yang aku buang tadi dan hasilnya sangat 'Wow' kepala Ivan langsung retak." Kata Jerry berbohong.


Jerry beranggapan bahwa tidak ada gunanya untuk terlalu jujur menjawab pertanyaan dari para sahabatnya itu. Baginya adalah, Ivan tidak terlalu serius mengalami luka. Namun yang namanya kepala, sedikit luka pun bisa mengakibatkan banyaknya darah yang keluar.


"Apakah sesederhana itu, Jerry?" Tanya Ryan.


"Yah. Sesederhana itu." Jawab Jerry.


"Hahaha... Aku tadi sempat mengira bahwa kau bertarung melawan banyak sekali musuh dan cedera seperti dalam film-film...,"


"Ratapan anak tiri." Kata Jerry menyela membuat Daniel tidak jadi melanjutkan kata-katanya.


Sementara Ivan juga ikut-ikutan tertawa mendengar celetukan dari para sahabat-sahabat nya itu.


"Tuh semuanya sudah di jawab oleh Jerry." Kata Ivan sambil tersenyum dan melanjutkan. "Oh ya.., terakhir kali kita berpisah, kalian kan di Starhill? lalu kapan kaulian tiba di Metro city?" Tanya Ivan.


"Kami tiba di sini tepat pukul 9 pagi." Kali ini Arslan ikut bergabung dalam obrolan mereka.


"Aku mana bisa tanpa kalian. Makanya semalam aku memutuskan berangkat msnggunakan helikopter ke Starhill untuk menjemput mereka." Kata Jerry.

__ADS_1


"Aku sebenarnya sangat bosan di kamar ini. Apa lagi Lorna tidak pernah lagi mengunjungi ku seharian ini." Keluh Ivan.


"Alah Lorna. Apa tidak bosan? Kau carilah gadis lain. Betah sekali kau hanya dengan satu ga.., ga... Aduuuuh...!" Pekik Jerry ketika tiba-tiba satu tangan halus dan lembut namun memiliki kekuatan mencubit pinggang nya.


"Jangan bicara seperti itu Tuan muda. Aku khawatir akan ada yang merajuk." Kata Herey sambil menahan senyum.


"Ya benar sekali. Aku memang mau merajuk ini." Kata Clara pura-pura cemberut.


"Sayang.., kau jangan merajuk ya. Nanti kita shoping." Kata Jerry.


"Kikiki... Kalau wanita diajak shoping, gantian lelakinya yang merajuk." Kata Daniel sambil terkikik geli.


"Sudah jangan di godain terus. Merajuk benaran nanti bisa kacau dunia Jerry." Kata Ivan. "Oh ya Jerry. Apakah hari ini kau ada bertemu dengan kakek ku?" Tanya Ivan mengubah topik pembicaraan.


"Belum. Satu hari ini aku sama sekali belum bertemu dengan tuan besar Patrik. Namun menurut penerawanganku, tidak lama lagi dia akan datang kemari." Kata Jerry.


"Selain menjadi tuan muda dan pengusaha, Jerry ini sudah mempelajari keterampilan untuk menjadi dukun. Dukun kampung." Kata Riko di sambut dengan derai gelak tawa mereka yang ada di kamar tempat Ivan di rawat.


"Sssst...! Jangan keras-keras. Ini rumah sakit. Nanti jika petugas marah, aku tidak mau tanggung jawab." Kata Jerry.


Obrolan mereka terus berlanjut sampai tiba-tiba ponsel milik Ivan berdering menandakan ada yang menelepon.


"Gila. Pasien seperti apa ini sedang dalam keadaan dirawat di rumah sakit tapi malah dapat izin dan bisa menggunakan ponsel." Kata Riko terheran-heran.


"Sebentar ya. Aku akan menjawab panggilan dulu!" Kata Ivan.


"Siapa yang menelepon mu Van?" Tanya Jerry.


"Telepon dari ayah ku." Jawab Ivan.


"Boleh. Tapi kalau bisa, aku ingin kau menyalakan speaker nya Van!" Pinta Jerry.


"Ada apa Jerry?" Tanya Ivan. "Tuh kan mati." Kata Ivan mengegerutu.


"Dia pasti akan menelepon mu lagi. Itu pasti. Lihat saja!" Kata Jerry.


Benar saja. Tidak sampai satu menit, si penelepon yang diakui oleh Ivan sebagai ayahnya yaitu Robin sudah menelepon kembali.


Kali ini tidak menunggu lama, Ivan langsung menjawab panggilan itu dan mengaktifkan speaker nya sehingga semua orang yang berada di ruangan itu bisa mendengar suara si penelepon.


"Hallo Ayah...!" Kata Ivan setelah panggilan itu terhubung.

__ADS_1


"Ivan... Tolong ayah Nak...!" Terdengar suara seorang lelaki meminta pertolongan membuat Ivan mengernyitkan kening nya.


"Ayah... Ada apa? Mengapa Ayah seperti sedang menghadapi suatu masalah?" Tanya Ivan dengan dada berdegub kencang.


"Anak buah Jerry..., Anak buah Jerry telah menculik Ayahmu ini Nak!" Kata Robin dengan suara seperti orang sedang ketakutan.


Begitu mendengar perkataan dari ayahnya mengenai bahwa dia telah di culik oleh anak buah Jerry.., Ivan dengan tatapan penuh tanda tanya langsung memandang ke arah Jerry.


Jerry jelas faham maksud dari tatapan itu. Sambil melintangkan jari telunjuk di bibirnya, dia segera memberi isyarat agar Ivan terus melanjutkan obrolan di telepon tersebut.


Ivan yang mengerti maksud Jerry segera bertanya dengan nada penuh kekhawatiran. "Anak buah Jerry? Mengapa dengan anak buah Jerry?" Tanya Ivan semakin gugup.


"Jerry ini benar-benar bangsat licik. Dia memerintahkan anak buahnya yaitu Syam dan Black untuk menculik ayah dengan tujuan untuk memeras keluarga kita." Jawab Robin.


"Memeras? Aku tidak mengerti apa yang Ayah maksudkan. Setahu ku, Jerry tidak akan melakukan tindakan tidak ksatria seperti itu. Untuk apa dia melakukan semua ini?" Tanya Ivan memancing.


"Dengar anakku. Inilah akibat kau terlalu mempercayai musuh ayahmu ini yang berarti adalah musuh mu juga. Kau tau bahwa dia menginginkan seluruh aset keluarga kita. Karena dia ingin menjadi raja diraja kekuatan bisnis di Metro city ini. Menurut pengakuan dari Black, Jerry ingin menukar keselamatan diri Ayah dengan 70% saham keluarga Patrik kita." Kata Robin.


Begitu Robin selesai dengan perkataannya, terdengar suara pukulan dan bentakan lalu kini ada suara lain yang berbicara dengan nada penuh ancaman. "Hey.., apakah kau yang bernama Ivan Patrik? Jika kau menginginkan ayah mu ini selamat, temui aku di bawah jembatan penghubung Metro city-MegaTown dan kau harus membawa surat wasiat serta penandatanganan peralihan saham perusahaan Patrik Group dan jangan tulis nama siapa siapapun di surat perjanjian itu. Biarkan dia tetap kosong! Jika dalam 1x24 jam kau tidak memberikan apa yang kami mau, maka aku akan mengirim bangkai ayah mu ke Villa Patrik." Terdengar suara seorang pemuda menggunakan bahasa inggris dengan penuh ancaman kepada Ivan.


"Tolong..! Tolong jangan lakukan itu. Aku akan memenuhi keinginanmu. Tolong jangan bunuh Ayah ku!" Kata Ivan Patrik memohon.


"Anakku. Saat ini hanya kau yang bisa menyelamatkan nyawaku ini. Ingat lah bahwa ini adalah perbuatan Jerry. Suatu saat kau harus membalas Jerry William ini. Aku juga sangat mengkhawatirkan keselamatan kakek mu. Mungkin kakek mu telah di bunuh oleh orang-orang suruhan Jerry."


"Bohoooong. Jangan percaya dengan anak setan itu." Terdengar suara bentakan dari arah pintu kamar membuat semua mata saat ini tertuju kearah datangnya suara tadi.


"Kakek...!" Kata Ivan berseru.


"Heh Robin. Kau mau menipu apa lagi? Aku sudah tau semua kebusukan mu. Kau bertindak seolah-olah kau telah di culik dan melimpahkan semua tuduhan kepada Jerry. Dasar anak durhaka yang tidak tau di untung. Seharusnya aku membunuhmu sejak masih bayi." Kata lelaki tua yang baru tiba itu sambil menumpahkan kekesalannya.


Mendengar semua ocehan yang dilontarkan oleh lelaki tua itu kearah ponsel yang masih berada di tangan Ivan membuat Jerry tersandar di dinding sambil menarik rambutnya sendiri.


"Oh Tuhan... Kacau sudah semua rencana ku." Katanya dalam hati.


Melihat Jerry tiba-tiba bersandar di dinding seperti orang yang tidak memiliki tenaga dan sangat frustasi, tampak dua orang lelaki setengah baya yang tiba bersama kedua orang lelaki tua itu menghampiri dirinya.


"Ada apa dengan mu Jerry? Apa kau baik-baik saja?" Tanya salah seorang dari lelaki setengah baya itu.


"Kacau sudah rencana ku untuk menjebak Robin. Mengapa kalian datang ke sini tidak memberitahukan kepadaku terlebih dahulu?" Tanya Jerry sambil memijit-mijit keningnya.


"Maaf Tuan muda. Kami kira kedatangan kami membawa tuan besar Aaron Patrik kemari tidak akan menimbulkan masalah kepada anda."

__ADS_1


"Tuan Syam. Ini jelas menimbulkan masalah. Aku berencana membiarkan Robin masuk kedalam perangkapnya sendiri. Aku berencana untuk mengepung lokasi begitu Ivan akan datang memberikan tebusan yang mereka inginkan. Mereka pasti akan mencelakai Ivan juga. Dengan begitu, aku memiliki alasan kuat untuk membunuh Robin. Tapi semuanya menjadi kacau ketika tuan Patrik ikut berbicara dalam panggilan telepon itu. Dengan begini pasti Robin akan kabur dan aku harus menunggu waktu yang lama lagi untuk dapat membunuh nya." Kata Jerry terduduk di lantai sambil meninju-ninju lantai tersebut.


Melihat keadaan Jerry yang seperti dilanda kesedihan, semua orang bertanya kini apakah Jerry baik-baik saja? Namun denga acuh Jerry menjawab. "Semuanya sudah berantakan." Bentak Jerry sambil menarik tangan Clara dengan paksa lalu segera meninggalkan ruangan itu menuju area parkir.


__ADS_2