PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Tawaran Investasi dari MegaTown


__ADS_3

...Country home...


"Kriiiing..."


"Kriiiing...!"


"Hallo..."


"Ya.. Hallo. Apakah saya bisa bicara dengan Tuan Barry?"


"Oh ya. Saya sendiri."


"Begini Tuan. Saya adalah Ramendra. Pengusaha tersukses dan terkaya di Country home."


"Hmmm.., begitu kah? Maaf jika saya boleh tau, ada keperluan apa Tuan Ramendra yang maha sukses dan terkaya ini menelepon saya?"


"Hehehe.., begini Tuan Barry. Saya mendapatkan informasi tentang anda dan perusahaan yang anda pimpin dari bawahan saya. Saya menilai saat ini bahwa perusahaan yang anda pimpin sangat berpotensi untuk menjadi perusahaan raksasa di negara ini. Jadi saya sangat tertarik untuk membuat kerja sama dengan Future of Company."


"Maksud saya begini Tuan Barry. Saya ingin berinvestasi dan berminat untuk membeli saham di perusahaan yang anda pimpin."


"Oh begitu ternyata. Perusahaan kami adalah perusahaan kecil yang beroperasi dalam bidang insfratruktur, perhotelan, restoran dan beberapa pertambangan batu bara serta migas di timur tengah. Baru-baru ini perusahaan telah melebarkan sayap merambah kancah internasional dalam mendirikan perusahaan patungan yang bergerak dalam bidang otomotif dan elektronik. Mana mungkin Tuan Ramendra yang maha sukses dan kaya raya sedunia ini tergiur untuk bekerjasama dengan kami?!" Kata tuan Barry memukul kesombongan lawan bicaranya yang angkuh ini.


"Hahaha.., bukan maksud saya untuk merendahkan perusahaan yang anda pimpin Tuan Barry. Saya berniat baik untuk berinvestasi dan berharap bisa menakhodai perusahaan ke arah yang lebih baik demi keuntungan bersama. Bagaimana menurut anda?"


"Tuan Ramendra, sangat menyesal sekali. Saya memang seorang yang menjabat sebagai presiden di perusahaan Future of Company ini. Namun untuk urusan negosiasi tentang investasi dan kepemilikan saham, itu bukan tugas saja. Tuan saya selaku pemilik perusahaan telah membagi-bagi tugas di antara kami dan tidak ada yang boleh melanggar wilayah kerja masing-masing." Kata tuan Barry dengan nada bicara di buat semenyesal mungkin.


"Jika demikian Tuan Barry, bisakah saya mengetahui kepada siapa saya akan mengajukan penawaran kerja sama ini?" Tanya Ramendra.


"Wewenang itu ada pada Pak Daniel. Dia yang bertanggung jawab atas segala bentuk kerja sama dan segala bentuk negosiasi, harus melalui persetujuannya." Kata tuan Barry menjelaskan.


"Begitu ternyata. Baiklah Tuan Barry. Apakah anda bisa memberikan informasi kontak pak Daniel ini kepada Saya?!" Tanya Ramendra.


"Baik, saya akan mengirim informasi kontaknya kepada Tuan Ramendra yang maha sukses." Kata tuan Barry lalu mengakhiri panggilan telepon tersebut.


Setelah selesai melakukan obrolan telepon yang cukup memuakkan itu, tuan Barry pun akhirnya memutuskan untuk melakukan meeting mendadak dengan jajaran petinggi perusahaan termasuk Daniel dan Ryan.


"Selamat menjelang siang semua. Di harapkan kepada Ronald, Austin, Raven, Daniel dan Ryan untuk hadir melakukan rapat tepat pukul 3 sore ini di kantor besar Country home." Begitu isi pesan suara yang di kirimkan melalui group whatsapp.

__ADS_1


...*...


Pukul 2:30 tampak para jajaran staf dan petinggi perusahaan mulai berdatangan satu per satu.


Mereka mulai memasuki ruangan yang telah di siapkan untuk menyelenggarakan rapat mendadak itu.


Tampak perwakilan Starhill dan Hillstreet juga hadir di sana seperti Manager Tom, Manager Olive dan tuan Ricard juga hadir mengikuti rapat tersebut.


Sebelum Rapat di mulai, tuan Barry sempat mengobrol sebentar dengan Ryan dan Daniel mengenai rangkuman dari apa yang akan mereka bahas dalam rapat mendadak ini.


"Kami sudah menduga jauh-jauh hari tuan Barry. Bahwa Ramendra ini tidak akan berhenti sampai di sini saja. Jika tidak karena ada kepentingan dan tujuan, tidak mungkin lelaki tua itu mau membantu Robin dengan sia-sia." Kata Ryan setelah mendengarkan seluruh cerita dari tuan Barry.


"Untuk saat ini kita harus bermain seperti layang-layang, tuan Barry. Ada kalanya kita mengulur, ada pula kalanya kita menarik." Kata Daniel pula.


"Itu lah sebabnya aku mengajak kalian untuk berunding sebelum rapat di mulai. Kau tau bahwa aku sangat mengkhawatirkan akan sesuatu yang aku juga belum tau apa itu." Kata tuan Barry.


"Bagaimana anda mengkhawatirkan sesuatu yang tidak anda ketahui Tuan?" Tanya Ryan penasaran.


"Entahlah Ryan. Saat ini jujur saja aku takut ada di antara kita yang terpeleset. Jika anda di antara kita yang terbujuk rayuan Ramendra ini, maka kehancuran perusahaan sudah di ambang mata." Kata tuan Barry mengutarakan kekhawatirannya.


"Saya mengerti kekhawatiran anda itu Tuan. Tapi percayalah! Aky hanya ingin tau seperti apa permainan lelaki tua itu. Apakah dia mampu. Aku khawatir bahwa dia akan terjebak dalam permainannya sendiri. Kita lihat saja nanti." Kata Daniel.


"Itu lah mengapa Jerry memberikan mandat kepada kami untuk terjun langsung kedalam perusahaan dan memberikan wewenang kepada kami dalam menentukan keputusan. Terus terang saja karena kami tidak akan mengkhianati sahabat kami. Apakah anda tau Tuan Barry.., kami bersahabat jauh sebelum Jerry menjadi kaya raya. Setelah kaya pun, Jerry tidak lupa diri. Dan sudah kewajiban kami untuk menagih hutang mereka kepada saudara kami yang telah mereka celakai." Kata Ryan.


"Baik lah. Sekarang mari kita mulai untuk melakukan rapat. Aku ingin tau apa tanggapan mereka tentang tawaran yang di berikan oleh Ramendra ini." Kata tuan Barry.


"Maaf Tuan Barry. Aku harus meralat sedikit tentang ucapan anda. Tidak ada tawaran yang datang dari Ramendra. Itu adalah permohonan kerja sama. Bukan tawaran kerja sama." Kata Daniel dengan tegas sambil memasuki ruangan rapat dan duduk di sebelah kiri kursi presiden perusahaan.


Ada banyak gosip saat ini di antara mereka.


Ini karena tidak biasanya presiden Barry mengadakan rapat secara. mendadak seperti ini.


Jika bukan karena hal penting, pasti beliau bisa melakukannya sendiri.


Keadaan di dalam ruangan tersebut persis seperti sarang lebah. Banyak dengang-dengung antara mereka yang membicarakan segala kemungkinan yang akan di sampaikan oleh tuan Barry.


"Harap perhatiannya sejenak para staf dan jajaran elit perusahaan!"

__ADS_1


Semua terdiam kini untuk menantikan apa yang akan di sampaikan oleh tuan Barry.


"Apakah rapat dadakan sore ini bisa kita mulai?" Tanya tuan Barry lagi.


"Silahkan Tuan Presiden!" Kata mereka lalu segera fokus kepada apa yang akan di sampaikan oleh tuan Barry.


"Begini. Tentu anda semua bertanya-tanya dalam hati mengapa saya mengajak kalian semua untuk menghadiri rapat yang di adakan secara mendadak ini. Ini semua berjutuan untuk menanyakan pendapat dari kalian semua tentang sebuah kerja sama dengan perusahaan Ramendra dari MegaTown." Kata tuan Barry.


Hening sejenak. Tidak ada yang bersuara begitu mereka mendengar alasan tuan Barry mengadakan rapat yang sangat mendadak itu.


"Sebelumnya saya ingin bertanya kepada anda Tuan Presiden. Tadi anda mengatakan bahwa perusahaan dari MegaTown ingin mengajukan kerja sama. Kerja sama seperti apa yang dia inginkan?" Tanya Ronald selaku pimpinan proyek.


"Seperti ini Pak Ronald. Ramendra baru saja menelepon ku dan berkata bahwa dia tertarik untuk berinvestasi. Dia berencana ingin mengucurkan dana segar ke dalam perusahaan dengan maksud agar perusahaan menjual saham kita kepada mereka. Untuk jumlah dan nominal dana tersebut belum sempat kami bahas. Ini karena untuk urusan negosiasi bukan dalam area wewenang saya. Namun perlu kita ketahui bahwa kita perlu berunding untuk menimbang segala untung rugi dari pengajuan kerja sama ini." Kata tuan Barry menjelaskan.


"Apa lagi yang ingin dilakukan oleh Rubah tua itu? Insiden yang telah menimpa tuan muda masih berhubungan erat dengan orang tua itu. Kasar sekali cara dia bermain. Apakah dia mengira bahwa kita yang berada dalam perusahaan ini adalah sekelompok badut bodoh yang mampu dia tunggangi sesuka hati?" Kata Austin dengan marah.


"Barry. Jika aku jadi kau, maka aku akan menolak mentah-mentah pengajuan kerja sama itu. Terlalu jauh dia ingin bekerja sama dengan perusahaan Future of Company di Country home ini sementara proyek menantunya sendiri dibiarkan bangkrut dan terbengkalai di MegaTown sampai-sampai pihak bank dan pemerintah setempat akan melelang proyek yang terbengkalai itu." Kata tuan Ricard dengan ekspresi wajah penuh tanda tanya.


"Itu lah sebabnya aku mengundang kalian untuk hadir di ruangan ini bagi merundingkan keputusan apa yang akan kita ambil." Kata tuan Barry.


"Keputusan apa? Bukankah tuan muda telah mewakilkan kepada Ryan, Daniel dan Riko untuk mengurus semua planing kerja dan membuat keputusan tentang segala bentuk tawaran kerja sama yang masuk. Bukan begitu Daniel?" Tanya Ronald.


"Baiklah. Aku tau bahwa tidak ada di antara kita yang menginginkan kerja sama ini terealisasi. Tapi aku akan tetap menerima undangan pertemuan dengan iblis tua ini. Mereka tidak akan berhenti sampai tujuan mereka terlaksana. Aku terima atau aku menolak kesepakatan kerja sama itu hasilnya akan tetap sama. Yaitu, menghancurkan Future of Company. Jujur saja, jika itu yang mereka inginkan, kita akan melawan mereka. Dan perlawanan itu akan aku mulai dalam pertemuan nanti." Kata Daniel.


"Apa maksud dari perkataan anda ini Pak Daniel?" Tanya tuan Ricard.


"Begini Tuan Ricard.., terus terang bahwa aku tidak pandai untuk meraba-raba kekuatan musuh sebelum aku bertatap muka langsung dengan Ramendra ini. Singkatnya adalah, semua itu biar aku yang mengaturnya. Tugas kalian adalah, memastikan keselamatanku. Karena terus terang saja bahwa aku tidak pandai berkelahi untuk melindungi diriku sendiri." Kata Daniel.


"Kami akan menunggu sekiranya Ramendra ini akan melakukan pembahasan lebih dalam tentang pengajuan kerjaa sama ini. Aku menduga pasti akan ada pertemuan antara kedua belah pihak. Aku ingin Tuan Ronald mengatur pengawal bayangan untuk kami. Mohon agar Arslan, Herey, Jeff serta beberapa anak buah nya untuk menyamar dan memantau pergerakan kami. Andai kami dalam bahaya, tugas mereka adalah untuk melindungi kami." Kata Ryan.


"Begitu? Baiklah. Aku sendiri yang akan turun tangan untuk ikut memantau kalian berdua." Kata Ronald mengatakan kebersediaanya untuk turut memantau keselamatan Daniel dan Ryan.


"Baik.., jika kata sepakat telah kita peroleh, maka rapat ini kita tutup sampai di sini." Kata tuan Barry.


"Dan kalian berdua! Hati-hati terhadap bujukan Ramendra ini. Dia rela melakukan apa saja demi tujuannya. Aku faham betul watak Rubah tua itu. Dia rela mengorbankan putrinya agar dapat memperbudak Robin." Kata tuan Barry lagi memperingatkan Daniel dan Ryan.


"Terimakasih atas wejangan dari anda Tuan Preseden." Kata Ryan dan Daniel sambil berdiri dan membungkuk hormat.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2