PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Bab 29 rumah baru Karina


__ADS_3

POV Karina


Masih nggak percaya kalau aku sudah berhasil membunuh pria mesum berjaga Jarwo itu. Sekarang dia hanya tinggal nama dan harta nya akan di bagi - bagi kan sesama istri - istrinya. Semoga ramai yang bahagia dengan kematian nya. Terutama semua orang yang teraniaya yang terpaksa berhutang pada nya.


Tapi aku baru menyadari kalau dari tadi tak melihat papa. Ia pasti sudah pergi saat aku masuk ke dalam kamar berganti pakaian. Dasar bapak nggak punya hati memang tuh orang.


Sekarang suruhan ibu dan ayah angkat ku membawa ku ke suatu tempat yang aku juga tidak pernah pergi sebelum nya.


"Sekarang kita mau kemana, mas?". Tanya ku pada nya yang sedang menyetir.


"Kita akan ke markas tuan dan nyonya. Kamu akan di perkenalkan oleh semua orang di sana. Kamu berhasil lolos menjadi salah satu bagian penting dalam klan kami. Nyonya pasti senang mendengar pencapaian kamu yang telah membunuh pria yang sangat meresahkan orang di desa itu. Tahnia". Ucap nya sambil tersenyum hangat pada ku.


"Markas? Lolos menjadi bagian penting apa maksud kamu?". Perkataan nya membuat ku bingung saja.


"Nanti juga kamu akan tahu sendiri". Sahut nya.


"Semoga saja kamu nggak macam - macam pada ku. Kalau tidak...". Aku sengaja membuat wajah ku bengis agar ia takut.


"Aku tak akan berani, kamu aja bisa menumbangkan pria - pria bertubuh besar, apa lah aku yang hanya bertubuh kerdil ini". Imbuh nya dengan ekspresi takut. Aku tahu dia hanya ingin menggoda ku. Tapi aku tak akan main - main dengan ancaman ku.


Aku tak akan membiarkan nya hidup tenang kalau berani macam - macam pada ku. Kami memasuki kawasan hutan dan tak lama mobil berhenti di sebuah gubuk kecil tanpa ada penerangan sedikit pun, hanya cahaya rembulan yang di pakai untuk pencahayaan. Aku mulai gelisah, tapi aku dengan cepat menyerangnya sebelum ia berhasil menyekap ku.


"Tunggu - tunggu dulu. Aku sama sekali tidak berniat menyakiti ku apa lagi berani macam - macam sama kamu. Aku bisa menjamin dengan nyawa ku sendiri, kalau kamu nggak percaya aku akan menghubungi nyonya untuk meyakinkan mu". Ujar nya sambil memegang pipi nya yang sudah ku beri tendangan maut.


"Hubungi cepat dan biar kan aku yang berbicara pada mereka". Sahut ku menyetujui perkataan nya.


Ia mulai mengotak atik ponsel milik nya. "Halo tuan. Nona ini nggak percaya pada saya dan menyerang saya".


----


"Saya tidak ingin memanggil yang lain karena khawatir dia semakin salah menanggapi". Sahut nya lagi.


"Mari sini, aku yang akan bicara". Aku merebut ponsel nya di sebab kan curiga dia sedang menipu ku.


"Halo". Sapa ku dengan ketus.

__ADS_1


"Wih, garang nya. Ini daddy, kamu jangan khawatir dan ikut Abil masuk ke gubuk itu". Ujar ayah angkat ku..


"Baik lah". Sahut ku pasrah.


Panggilan pun di putuskan lalu aku mengembalikan ponsel ini ke pemilik nya. "Nah".


"Sekarang percaya kan. Aku boleh aja memanggil yang lain untuk menyeret mu masuk tapi aku nggak suka memaksa apa lagi kamu wanita". Imbuh nya membuat ku sedikit merasa bersalah tapi aku tak boleh terlihat lemah maka nya harus menjaga diri ini dari niat buruk orang lain.


Siapa saja akan berpikiran sama seperti ku saat di ajak ke tempat kayak begini.


"Mari masuk". Ajak nya setelah membuka kan pintu gubuk itu. Tiada cahaya apa pun yang menyinari tempat ini. Tapi saat pintu tertutup, tiba - tiba sebuah cahaya yang cukup terang menyilau kan mata ini.


Kini aku merasa berada di tempat yang berbeda tepat saat pintu tertutup. Ajaib padahal tadi di luar sama sekali tak terlihat seperti sekarang. Aku sempat kagum dengan perubahan ini bukan karena kemewahan tapi sebab ajaib aja menurut ku.


Pintu terbuka dengan sendiri nya setelah Abil meletakkan tapak tangan nya di sebuah layar. Ternyata pintu ini adalah lift yang akan membawa kami ke ruang bawa tanah. Ada sesuatu yang masih membuatku bingung.


"Mobil yang kamu bawa tadi apa aman jika di simpan di luar?".


"Mobil atau kendaraan lain akan melalui jalan yang berbeda untuk di ke ruang bawa tanah. Sebenarnya gubuk ini hanya salah satu pintu rahasia untuk ke ruang bawa tanah. Tapi hanya beberapa orang kepercayaan nyonya dan tuan yang bisa menggunakan pintu lain. Sedangkan gubuk ini juga hanya dari kalangan menengah dalam kumpulan yang bisa menggunakan nya. Anak buah yang lain menggunakan jalan yang lebih ekstrim, selain untuk ke markas mereka juga bisa menguji keahlian yang mereka miliki". Jelas Abil.


"Selamat datang nona Rina". Sapa mereka serentak.


Apa yang mereka maksud adalah aku? Tersanjung nya.


"Apa nyonya sudah tiba?". Tanya Abil.


"Sudah bos. Ia sedang ada di ruangan nya bersama tuan Dilan". Jawab salah satu dari mereka.


"Papi juga datang?". Abil tampak kaget.


"Iya bos". Sahut mereka serentak.


Abil segera melanjutkan langkah nya menyusuri lorong dan aku setia mengikuti langkah nya.


"Selamat malam nyonya, papi". Sapa Abil sambil menundukkan kepala pada seorang wanita cantik meskipun usia nya tak lagi muda dan pada seorang pria yang di panggil papi oleh Abil.

__ADS_1


"Abil! Kebiasaan kamu ini kapan berubah, hah? Sangat tidak sopan!". Bentak pria paruh baya itu sambil menjewer telinga Abil.


Aku menggigit bibir karena lucu melihat ekspresi kesakitan dari wajah Abil.


"Ampun papi, ampun! Kenapa juga papi yang marah sedangkan anti Aisyah hanya menggapai dengan tersenyum". Abil berlari bersembunyi di belakang wanita cantik itu. "Anti tolong aku". Lirih nya. Dasar banci.


"Sudah lah Dilan. Nggak perlu marah - marah karena malam ini malam istimewa karena ada seorang lagi yang resmi bergabung dengan kita". Kata wanita itu sambil mengusap wajah Abil lembut seperti anak nya sendiri.


Suara itu seperti nya aku pernah mendengar nya. Ya, tak salah lagi dia adalah wanita yang telah mengadopsi ku. Aku bingung ingin menyapa nya bagaimana sekarang. Jika sebelum nya aku memanggilkan anti tapi sekarang status kami sudah berubah.


"Jangan berdiri saja di situ, sini duduk di samping mami". Panggilan nya sambil menepuk - nepuk sofa kosong di samping nya.


Aku menurut dan duduk di samping nya.


"Tahnia karena kamu telah menjadi bagian di antara kami. Setelah berada di markas inj kamu bisa menyimpulkan seperti apa kumpulan ini". Imbuh mami dengan tatapan teduh milik nya.


"Maaf kalau saya salah menebak, apa kah mami seorang mafia?". Tanya ku.


"Kamu benar sekali sayang. Lebih tepat nya kita semua yang ada di sini adalah seorang mafia. Kamu mengerti kan?". Jawab mami membenarkan pertanyaan ku.


"Berarti mulai saat ini akan semakin banyak orang yang akan aku bunuh". Kata ku.


Mereka saling melempar tatapan antara satu sama lain.


"Begini saja, kalau kamu nggak mau membunuh seseorang maka kami tak akan memaksa mu melakukan nya. Tugas kamu cukup melindungi seseorang dari mara bahaya". Imbuh mami membuat ku merasa lega.


"Melindungi seseorang, siapa mami ?". Tanya ku.


"Anak kandung ku". Jawab mami.


"Mami ada anak tapi kenapa malah ingin mengadopsi ku. Aku pikir mami selama ini nggak punya anak maka nya ingin mengadopsi ku". Aku semakin bingung dengan semua ini.


"Kamu mengenal Haikal bukan?".


Mata ku membulat sempurna saat mendengar nama Haikal di sebut.

__ADS_1


__ADS_2