
POV Karina
"Mami ada anak tapi kenapa malah ingin mengadopsi ku. Aku pikir mami selama ini nggak punya anak maka nya ingin mengadopsi ku". Aku semakin bingung dengan semua ini.
"Kamu mengenal Haikal bukan?".
Mata ku membulat sempurna saat mendengar nama Haikal di sebut.
"Dari mana mami bisa mengenal Haikal". Tanya ku penasaran, apa kah aku di adopsi ada kaitannya dengan Haikal dan keluarga kandung nya?
"Untuk saat ini kamu nggak perlu tahu semua nya. Kamu hanya perlu fokus meningkatkan keahlian kamu dalam bela diri, jika waktu nya sudah tiba maka kamu akan segera menjalan kan tugas mu". Imbuh mami sambil mencengkeram bahu ku lembut.
"Tapi, bukan nya sebelum nya mami berjanji pada mama kalau mengadopsi ku maka tak perlu khawatir dengan biaya sekolah dan kuliah karena mami yang akan menanggung nya. Saya akan akan giat mengembangkan diri dalam seni bela diri tapi saya juga ingin melanjutkan sekolah ku". Lirih ku dengan wajah memelas, takut jika mami sama sekali tidak berminat menyekolahkan ku. .
"Kalau itu kamu nggak perlu khawatir, kamu tetap akan sekolah pada waktu biasa, tapi sepulang sekolah kamu harus berlatih di markas ini, di sini begitu banyak orang dengan keahlian masing - masing. Aku mau kamu menguasai semua nya untuk menjalan kan misi kamu kelak, kamu mengerti kan". Jelas mami membuat ku merasa lega.
Aku begitu suka melihat teman - teman berlatih saat kelas seni bela diri, tapi mama tak pernah menyizinkan ku untuk ikut serta. Mama selalu memanjakan ku bahkan ia juga tak mem boleh kan ku menolong Haikal bekerja atau mengemas rumah dan memasak. Sehingga sifat manja itu melekat sampai aku besar, tapi semenjak Haikal jatuh sakit hingga dan di bawa ke rumah sakit oleh teman nya waktu itu, aku menyadari jika semua yang di lakukan mama adalah salah.
Haikal yang hanya anak angkat telah berkorban banyak untuk keluarga kami, aku bertekat untuk berubah dan mulai membantu nya di rumah. Aku juga diam - diam menyertai klup seni bela diri dan malah dengan mudah nya menguasai semua tekhnik dalam waktu singkat.
Jika mami meminta ku untuk mengembangkan keahlian ku ini, aku malah dengan senang hati setuju bahkan berterima kasih karena mau memberi kesempatan belajar banyak keahlian.
"Terima kasih mami". Ucap ku.
"Mulai sekarang kamu menggunakan identitas baru agar keberadaan mu tak tercium oleh orang mengenalmu sebelum nya. Kamu juga akan ku tempatkan di sebuah sekolah baru yang jauh lebih bagus. Nama kamu sekarang berubah menjadi Rinata Khairunnisa, tinggal lah di markas ini dan hanya akan keluar untuk sekolah dan atas izin mami. Habis kan waktu kamu untuk berlatih".
Aku hanya tersenyum menanggapi. Ku serahkan masa depan ku pada mami, aku tahu pilihan ku menerima tawarannya adalah yang terbaik.
"Abil". Panggil mami.
__ADS_1
"Ya anti". Sahut Abil.
"Bawa dia ke kamar nya dan pastikan semua kebutuhan nya terpenuhi, jangan ada kurang satu pun". Tegas mami.
"Baik anti". Sahut Abil setuju.
"Rina, sayang. Jaga diri kamu di sini yah. Kalau ada yang berani macam - macam sama kamu, jangan ragu langsung bunuh saja". Pesan mami sambil melirik Abil. Pria itu berubah salah tingkah.
"Kalau ada apa - apa atau kamu memerlukan sesuatu katakan pada mami, kalau mami nggak sempat datang jenguk kamu, katakan pada Abil saja. Dia sudah mamin tugas kan untuk melindungi kamu sebelum kamu benar - benar siap". Ucap mami.
"Terima kasih mami". Kata ku.
"Sama - sama, sayang". Sahut mami sambil membelai pipi ku lembut. Sikap mami sama sekali tidak mencerminkan kalau dia sebenarnya adalah seorang mafia.
"Mari Rina. Aku hantar ke kamar sekarang biar kamu boleh istirahat". Ajak Abil sudah membuka pintu lebar - lebar mempersilahkan ku untuk keluar.
Keluar lebih dulu dan di susul oleh Abil. "Anti Aisyah baik, kan?". Tanya Abil membuka obrolan.
"Jadi wanita itu harus seperti itu, lembut, baik, murah hati, penyayang dan banyak lagi". Abil seperti menyindir ku.
"Semua itu benar sampai aku sendiri tak percaya kalau dia adalah seorang mafia". Sahut ku membenarkan ucapan nya.
"Mami memang bukan seorang mafia". Imbuh Abil membuat ku mengerut kan dahi.
"Tapi tadi mami bilang kalau dia...". Cerca ku.
"Kalau ada istilah mafia baik, maka gelar itu pantas untuk nya tapi sayang nya tiada. Mafia tetap mafia, orang yang kejam tega membunuh orang lain untuk kepentingan diri sendiri sedangkan anti Aisyah sama sekali tidak pernah membunuh orang tapi ia menggalakkan orang lain untuk membela diri dari kekejaman orang lain. Jadi menurut nya selagi niat kita untuk melindungi diri atau orang lain maka nggak salah menjadi seorang pembunuh". Jelas Abil.
"Kamu sendiri, seorang mafia atau tidak?". Tanya ku.
__ADS_1
"Aku ingin menjadi mafia tapi sampai sekarang aku belum menemukan orang yang menurut ku pantas mati dan lenyap dari muka bumi ini". Sahut nya.
"Kamu pula ingin menjadi seorang mafia atau tidak?". Ia malah balik bertanya.
Aku menghela nafas. "Aku sudah ada di sini, mau tidak mau aku pasti akan menjadi seorang mafia entah itu esok, lusa atau kapan". Jawab ku.
"Oh". Hanya itu tanggapan nya lalu tiba - tiba ia berhenti. "Ini kamar untuk mu". Imbuh nya menunjuk pintu yang sama sekali sukar ku bezakan dengan dinding di sekitarnya.
"Mana? Aku nggak lihat ada pintu di sini". Tanya ku bingung.
"Hah, malam ini kamu harus latihan ketajaman penglihatan kalau tidak maka kamu tidak boleh beristirahat di kasur yang empuk". Ujar nya membuat ku naik pitam.
"Cepat buka sebelum aku hancurkan tubuh kurus kering kau tuh!". Ancam ku.
"Uhhh, takut". Abil malah semakin membuat ku kesal. Segera memberi tendangan ke maut milik ku ke arah nya tapi dengan mudah nya ia menepis tendangan ku.
"Aku belum pernah meladeni seorang wanita karena aku punya pantangan tersendiri untuk bertarung tapi melihat semangat mu saat ini membuat ku mengecualikan mu. Kamu cukup galak jika di sebut wanita". Imbuh nya dengan tatapan menjijikan kan.
Mami sudah memberi izin untuk membunuh siapa saja yang berani berbuat macam - macam pada ku. Tampak nya malam ini aku akan membunuh dua orang. Abil berani membuat ku kesal maka terima akibat nya.
"Tampak nya kamu ingin menyerahkan nyawa ku ke tangan ku". Ucap mu.
Abil hanya menanggapi dengan senyum sinis. Ada apa dengan nya, tadi saat masih di hutan ia tampak seperti lemah dan sama sekali tidak melawan ku. Bahkan ia memohon agar aku melepaskan nya tapi sekarang ia seperti menjadi orang lain..
Tatapan nya tajam dan membuat nyali ku ciut tapi aku tak akan menyerah, tatapan saja tidak akan membuktikan apa - apa. Aku kembali menyerang nya dengan bertubi - tubi sehingga aku merasa kewalahan tapi aku masih belum berhasil menyakiti tubuh nya. Ia tampak biasa saja menghindari setiap serangan ku. Ternyata ia kuat juga yah, ia berhasip menipu ku.
"Bagaimana? Masih punya tenaga?". Ia kembali menyindir ku.
"Udah, aku nyerahin". Sahut ku pasrah. Nafas ku ngos - ngosan dan keringat bercucuran membasahi baju yang ku pakai. Lebih baik aku menyerah sebelum aku mati karena kehabisan tenaga melawan nya.
__ADS_1
"Ha ha ha, ternyata cuma segini keahlian bela diri kamu. Maka nya jangan sombong!". Sindir nya lagi.
Aku menatap nya geram. Tekat ku untuk meningkatkan keahlian bela diri semakin tinggi, aku akan berlatih sungguh - sungguh dan akan mengalahkan nya suatu hari ini. Lihat aja nanti Abil.