PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Pelelangan neraka bagi Ramendra


__ADS_3

"Tuan-tuan dan Puan-puan yang kami hormati, mohon perhatiannya sejenak. Karna sebentar lagi kita akan memasuki acara yang paling di tunggu-tunggu, dan ini adalah puncak dari acara lelang kali ini yaitu Hotel Mega."


"Kali ini juga sama seperti lelang sebelumnya yaitu, tidak ada batas Bid maksimum dalam pelelangan kali ini. Ini karena kita akan memakai system tarawaran tertinggi lah yang berhak keluar sebagai pemenang."


"Untuk pelelangan hotel Mega kali ini, kami sebagai pihak penyelenggara akan membuka harga dasar yaitu dengan bukaan harga 350 Juta USD. Sekali lagi saya katakan bahwa tidak ada batas dalam jumlah bid. Siapa yang menawar dengan harga tertinggi, maka Hotel Mega tersebut akan menjadi miliknya."


"Saya kira aturan mainnya sudah jelas dan dengan ini saya membuka pelelangan dengan harga 350 juta."


Tok.., tok.., tok...?!


"Untuk hotel Mega, saya akan menawar dengan harga 360 juta." Kata salah seorang peserta lelang menaikkan tawaran.


"Harap di maafkan Tuan-tuan sekalian. Ini adalah kesalahan saya karena terlalu bersemangat sehingga saya lupa bahwa kenaikan setiap bid adalah 50 juta." Kata panitia pembawa acara tersebut sambil berulang kali membungkuk meminta maaf.


"Baiklah Tuan pembawa acara. Saya akan menawar dengan harga 400 juta." Kata peserta itu lagi.


"450 juta..?!" Kata tuan Patrik menaikkan tawaran.


"Baik. 450 juta adalah tawaran yang paling tinggi saat ini." Kata pembawa acara.


"500 juta..?!" Kata tuan Walker tak mau kalah.


"Hahaha..., kau bocah cengeng. Ternyata kau berminat juga dengan hotel yang di lelang ini." Kata tuan Patrik.


"Bocah bandel. Aku juga memiliki selera yang tinggi." Kata tuan Walker sambil tersenyum.


"Baik. 500 juta adalah tawaran tertinggi. Apakah ada lagi yang ingin menaikkan bid?"


"Hotel ini adalah hasil karya dan kerja keras dari mendiang kakak ku. 600 juta...?!" Kata Jackson William menaikkan tawaran.


"600 juta adalah penawaran yang paling tinggi saat ini. Mari kita lihat apakah 600 juta adalah harga akhir dari hotel ini?" Kata pembawa acara.


"600 juta, satu..?!"


"600 juta, dua...?!"


"700 juta..?!"


Tampak Ramendra kini menaikkan bid 100 juta dan memimpin dalam pelelangan dengan tawaran yang paling tinggi saat ini.


"Wah.., Tuan Ramendra ternyata berminat juga dengan hotel Mega ini. Baik, apakah ada lagi yang bisa melampaui 700 juta dari tuan Ramendra ini?" Kata pembawa acara sambil memanas-manasi para perserta yang lain dalam acara pelelangan tersebut.


"700 juta, satu."


Belum lagi sempat pembawa acara melanjutkan menghitung, Daniel yang tadi hanya menonton saja kini bangkit berdiri dan menaikkan tawaran.


"Hotel Mega ini adalah hotel yang di bangun oleh mendiang ayah sahabat kami yaitu Jerry William pemilik perusahaan raksasa terbesar di negara ini. Baik, aku akan menaikkan tawaran menjadi 850 juta." Kata Daniel dengan cuek.


"Kedua pemuda ini sangat gila."


"Benar. Mereka sangat kasar."


"Apa yang kasar dan apa yang lembut? Semua boleh dilakukan jika kau mampu. Kau memiliki uang kan? Lawan lah!"


Terdengar suara-suara berisik saat ini sehingga menjadikan ruangan itu seperti sarang lebah.

__ADS_1


"Aku menaikkan tawaran menjadi 900 juta." Kata Ramendra sambil berkecak pinggang.


"1.1M..?!" Kata Daniel tanpa menoleh kepada Ramendra.


"Oh sialan. Harga hotel Mega ini hanya berkisar di 600 juta. Utusan dari perusahaan Future of Company ini benar-benar telah gila." Kata para hadirin yang berada di ruangan itu saat ini.


"1,2M..?!" Kata Ramendra berteriak dengan lantang.


"Aku malas membuang-buang waktu. Mari kita lihat apakah orang tua ini tetap akan bertahan dan tidak mau kalah?" Kata Daniel.


"1.5M..?!" Kata Daniel sambil melirik dengan raut wajah mengejek kepada Ramendra.


"Apakah kau mencari penyakit anak muda?" Tanya Ramendra dengan wajah merah padam.


"Saya datang ke sini sengaja di utus untuk memenangkan pelelangan ini. Jika anda tidak punya uang, maka mengalah saja dan jadi lah pecundang yang baik!" Kata Daniel.


Wajah Ramendra semakin membiru saat ini mendengar penghinaan dari anak yang dia anggap masih bau kencur ini.


Sambil mengertakkan giginya, Ramendra menggebrak meja dan menunjuk tepat-tepat ke arah Daniel. "Kalian berdua, sebanyak apa uang yang anda miliki sehingga kalian berdua sangat berani melawan Ramendra?" Tanya Ramendra dengan gusar.


"Mengapa? Apakah kau meragukan kemampuan finansial yang di miliki oleh perusahaan Future of Company?" Tanya Daniel sambil mendecakkan lidah nya sambil geleng-geleng kepala.


Ramendra sangat jijik dengan tingkah tengil Daniel ini dan berteriak. "Tuan pembawa acara. Aku khawatir bahwa kedua anak bau kencing ini akan lari setelah memenangkan lelang." Kata Ramendra.


Ramendra lalu melanjutkan. "Tuan pembawa acara. Mengapa anda tidak mencoba untuk memastikan apakah orang ini memiliki cukup uang atau hanya mencari mati saja di gedung dewan ini?!"


"Harap tenang semua. Acara ini di selenggarakan karena pihak kami ingin melelang aset daerah. Kami tidak membuka gelanggang tarung. Jika kalian terus seperti ini, maka acara ini tidak akan selesai sampai besok." Kata panitia pembawa acara.


"Maaf Tuan pembawa acara. Aku hanya ingin memastikan apakah mereka berdua ini benar-benar memiliki cukup uang untuk mengikuti pelelangan yang gila ini."


"Dia telah memenangkan proyek bangkrut itu. Saatnya untuk membuktikan apakah dia memiliki uang atau tidak dengan cara membayar proyek yang dia menangkan itu."


"Ayo tunjukkan. Jika tidak maka kau akan kami lempar di jalanan."


Kini tempat itu menjadi riuh-rendah karena beberapa orang di tempat itu mendukung gagasan Ramendra untuk memaksa Daniel dan Ryan agar membuktikan bahwa mereka pemilik uang.


"Baik... Baiklah. Jika itu yang kalian semua inginkan, maka aku akan membayar proyek yang telah kami menangkan tadi." Kata Daniel sambil mengeluarkan kartu bank BlackGold ekslusif nya.


Semua mata terpana ketika melihat Daniel mengeluarkan kartu tersebut dan menyerahkannya kepada panitia sambil membisikkan password pada kartu tersebut untuk di teruskan kepada bagian administrasi.


"Kartu BlackGold palsu." Kata Ramendra sambil berteriak dengan mencibir ke arah Daniel.


"Sepertinya anda belum bisa move on dari kartu bank palsu tersebut, Tuan Ramendra. Apakah kau akan memberikan kepada ku sekali lagi kartu bank palsu?" Kata Daniel berusaha untuk memancing emosi lelaki tua itu sampai batas maksimal.


"Kau..., anak setan. Siapa yang memberikan kepadamu kartu bank palsu? Aku akan membunuh mu karena memfitnah orang yang paling di hormati di MegaTown ini." Kata Ramendra dengan marah.


"Aku memiliki rekaman video tersebut, Tuan Ramendra. Apakah anda ingin agar aku mempublikasikan video rekaman kecurangan anda kepada publik?" Kata Daniel mengancam.


"Maaf Tuan Daniel. Pembayaran untuk proyek yang anda menangi sudah berhasil di tarik dari kartu ini." Kata panitia pembawa acara sambil menyerahkan kartu BlackGold tersebut.


Mendengar panitia pembawa acara itu menyebutkan bahwa pembayaran telah berhasil di lakukan, maka yang tadi bersuara sumbang dan meragukan kedua anak muda itu hanya bisa menjilat ludahnya sendiri dan tanpa tau malu mulai memuji kedua pemuda itu membuat tuan Ramendra setengah mati menahan jengkel.


"1,6M...?! Teriak Ramendra. Sudah kepalang tanggung. Mati lebih baik baginya daripada harus kalah di hadapan banyak orang kepada pemuda bau kencur.


"Aku ingin tau apakah Tuan Ramendra yang konon katanya adalah orang yang paling kaya dan terhormat di MegaTown ini benar adanya atau hanya isapan jempol saja." Kata Daniel lalu berteriak, "1,9M..?!"

__ADS_1


"Kau...?!"


"Ayah sudah lah. Relakan saja Hotel itu. Kita bisa membeli hotel yang lain." Kata Robin meredakan kemarahan lelaki tua itu. Ini karena jika dia menaikkan tawaran lagi menjadi 2M, maka uang tersebut sudah bisa mereka gunakan untuk membeli 3 unit hotel seperti hotel Mega tersebut.


"Diam kau Robin!" Bentak Ramendra.


"Anda benar tuan Robson. Sebaiknya bawa Ayah anda kembali. Ini bukan tempat yang layak untuk nya." Kata Daniel memanas-manasi.


"Kau kunyuk kurang ajar. Siapa bilang aku akan kalah? Baik lah. Aku akan menaikkan tawaran menjadi 2M..?!" Kata Ramendra dengan tubuh menggigil menahan kemarahan.


"Bagaimana Ryan?" Tanya Daniel sambil berbisik meminta pendapat.


"Aku rasa sudah cukup. Uang lelaki tua itu mungkin masih ada. Tapi dengan perusahaan yang menanggung beban gaji yang tinggi serta pinjaman di bank, sudah di pastikan bahwa dia akan segera bangkrut." Kata Ryan.


"Apakah kau sudah melakukan riset tentang seberapa nilai pasar perusahaan yang dimiliki oleh Ramendra ini?" Tanya Daniel.


"Sudah. Nilai pasar perusahaannya tidak sampai 4 Milyar USD. Jika nilai pasar perusahaan sekitar 4 Milyar USD, maka bisa di pastikan bahwa dia hanya memiliki uang cadangan sebesar 1 Milyar atau paling lebih 1,5M saja. Dengan begini dia akan menjual beberapa asetnya untuk menutupi lubang besar yang di akibatkan oleh acara lelang ini." Kata Ryan menjelaskan.


"Mampus dia. Tak lama lagi dia pasti akan dinyatakan bangkrut." Kata Daniel sambil berdiri.


"Wah hebat. Saya sangat salut dengan anda Tuan Ramendra yang terhormat. Baiklah.., baiklah. Saya mengaku kalah dan selamat karena anda telah memenangi pertarungan ini. Semoga kedepannya anda tidak dinyatakan kolaps." Kata Daniel sambil tersenyum geli.


"Baiklah. Untuk saat ini tawaran tertinggi adalah 2 Milyar USD dari Tuan besar Ramendra. Apakah ada yang akan menawar lebih tinggi lagi?"


Sunyi-senyap saat ini. Tidak ada yang berani angkat bicara.


Tok.., tok.., tok..?!


"2 Milyar, satu..?!"


"2 Milyar, dua..?!"


"2 Milyar, tiga..?!"


"Baiklah. Dengan ini pelelangan ini di nyatakan selesai dengan penawaran tertinggi adalah 2 Milyar USD. Dengan ini kami nyatakan bahwa Tuan Ramendra keluar sebagai pemenang dalam acara pamungkas dari pelelangan ini."


Tok.., tok.., tok..?!


"Mati lah kita Ayah. Mengapa kau tidak mau mendengarkan peringatan dari ku?!" Kata Robin seperti cacing kepanasan saat ini.


"Oh Tuhan. Apa yang telah aku lakukan?" Kata Ramendra sambil menjambak rambutnya sendiri.


"Tuan Ramendra adalah orang yang paling terhormat di MegaTown ini. Aku yakin bahwa harga diri adalah yang terpenting dalam hidup nya. Ayo Tuan! Apakah anda akan menjilat ludah dengan melakukan BID RUN?" Kata Daniel sambil terkekeh geli.


"Kau.., kau..?!" Hanya itu kata-kata yang keluar dari bibir Ramendra sebelum dia jatuh pingsan.


Keadaan mendadak menjadi gempar saat ini.


Robin yang mulai ketakutan mulai melirik ke kiri dan ke kanan mencari peluang kalau-kalau dia memiliki kesempatan untuk melarikan diri.


Baginya adalah cepat kabur dari tempat itu. Bagaimanapun dia tidak ikut-ikutan dalam acara pelelangan itu. Kehadirannya hanya menjadi pendamping saja bagi Ramendra.


Ketika keadaan menjadi kalang kabut, Robin segera menyelinap di antara kerumunan orang ramai dan segera lari meninggalkan aula gedung dewan tersebut dan berlari ke arah area parkir, memasuki mobil lalu tancap gas meninggalkan lokasi acara pelelangan tersebut mencari selamat.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2