
Metro city.
Sepasang muda-mudi saat ini sedang saling pandang dengan kening berkerut. Baru saja mereka menerima telepon dari Syntia mengatakan bahwa mereka harus kembali besok ke MegaTown.
"Ada apa dengan Nona besar ini Kak? Baru saja 2 hari kita ditugaskan mengintai Villa Patrik ini, sekarang sudah di suruh kembali ke MegaTown." Tanya gadis itu dengan heran.
"Kau bertanya kepadaku tentang itu, manalah aku tau, Jessica. Aku pun sama dengan mu. Sudahlah. Besok pagi kita kembali ke MegaTown. Malam ini kita cari penginapan. Aku lelah tidur di mobil terus." Kata pemuda itu.
"Ayo lah Kak. Villa sialan itu bukan urusan kita lagi. Aku ingin segera berlalu dari tempat ini. Tidur di kasur empuk hotel dengan tenang. Oh hampir lupa, sebelum kembali ke MegaTown, aku akan menemui Jerry terlebih dahulu." Kata Jessica dengan gembira.
"Kau ini Jessica. Kau harus hati-hati. Kita ini warga negara asing yang datang ke negara ini demi tugas. Kita dibayar dengan mahal. Kau harus ingat itu!" kata pemuda itu memperingatkan.
"Apa salahnya. Tugas tetap tugas. Kenalan tetap kenalan. Kalau kau iri, bilang saja iri." Kata Jessica sambil mencibir.
"Susah bicara dengan gadis bandel ini. Aku tanya kepadamu satu hal?! Bagaimana jika Jerry ini orang-orang bawahan dari musuh Fardy? Susah jangan dicari-cari Jessica!" Kata pemuda itu mulai sewot.
"Untuk Jerry ini, aku tidak perduli. Aku ingin bersahabat dengan nya. Apa itu salah? Sudahlah Kak! Jika urusan di sini telah selesai, aku akan kembali ke Hongkong supaya tidak menyusahkan dirimu. Kalau kau masih mau terus bekerja untuk Fardy, itu urusan mu. Tugasku hanya untuk membunuh Robin. Jika semua berubah dari rencana, itu bukan salah ku." Kata Jessica.
"Ya sudah, terserah kau saja lah. Aku malas berdebat dengan mu. Bawaannya pingin ku tampar mulut mu itu." Kata pemuda itu bersungut-sungut lalu melangkah cepat menuju ke mobil di ikuti oleh Jessica sambil cemberut.
Tak lama kemudian mobil Honda abu-abu itu bergerak meninggalkan kawasan perumahan elit bukit Metro tersebut sambil terus diawasi oleh dua pasang mata dari lantai paling atas bangunan Condominium daerah tempat Ivan dulu menetap.
*
Dari lantai paling atas Condominium itu, tampak dua orang lelaki berbadan tegap memakai baju kamuflase menjauhkan dirinya dari alat toropong jarak jauh yang khusus digunakan oleh tentara sebagai alat pengintai. Lalu salah satu dari mereka berdua mulai membuka suara. "Mereka telah pergi."
"Ya aku tau. Bagaimana ini? Apakah kita laporkan langsung kepada Black?" Kata seorang lagi bertanya.
"Ya itu harus. Biarkan Black mengurus sisanya. Tugas kita hanya mengintai di sini." Kata yang memegang teropong tadi.
"Baik. Aku akan mengirim pesan kepada Black." Kata lelaki itu lalu mengeluarkan ponsel nya.
Saat itu seorang lelaki berbadan tegap seperti tentara sedang berada di depan area parkir hotel mutiara sambil menghisap sebatang rokok dan memperhatikan sekeliling dari dalam mobil.
Lelaki itu mulai bergerak mengambil ponsel nya di saku celana ketika terdengar deringan menandakan bahwa seseorang telah mengirim pesan di aplikasi Whatsapp miliknya.
"Mengganggu ketenangan saja." Kata lelaki itu sedikit menggerutu dan mulai membuka kunci di layar ponsel nya.
"Black. Sepasang warga asing itu telah meninggalkan kawasan Villa menuju ke pusat kota. Kau coba periksa, Black! Sepertinya mereka mendapat perintah untuk meninggalkan target mereka." Kata isi dari pesan suara tersebut.
"Hmmm, baik. Mari kita lihat apa yang dilakukan oleh sepasang orang asing ini." Kata Black dalam hati lalu menghidupkan mesin mobil dan segera berlalu meninggalkan area depan parkir hotel mutiara tersebut.
Black yang sudah tau dan pernah bentrok dengan Jessica ini tidak kesulitan melacak keberadaan sepasang muda-mudi tersebut. Ini karena baik kendaraan dan si pengendara sudah sangat di kenali dan memang harus di kenali oleh Black. Dan benar saja. Tepat di samping restoran ketika dia mengganggu gadis itu, kini terlihat sebuah mobil Honda warna abu-abu terparkir di sana.
"Aish... Mereka sepertinya akan menginap di hotel murah ini. Baik lah. Aku akan menberitahukan hal ini kepada tuan Syam." Kata Black dalam hati lalu segera mencari nomor tuan Syam dan segera melakukan panggilan.
__ADS_1
"Hallo Black. Ada informasi apa yang kau dapatkan?" Tanya satu suara di sebrang sana.
"Tuan Syam. Tadi kedua orang yang aku kirim untuk memata-matai sepasang warga asing itu mengatakan bahwa mereka telah meninggalkan kawasan bukit Metro. Dan benar saja. Setelah aku memeriksanya sendiri, ternyata mereka berada di hotel murah samping restoran ketika kami mengganggu nya."
"Ok Black. Kau tetap di sana dan awasi gerak gerik mereka. Aku akan melaporkan ini kepada tuan muda." Kata tuan Syam.
"Siap laksanakan Tuan!" Kata Black lalu mengakhiri panggilan telepon tersebut.
**
Hotel Mutiara Metro city.
Seorang lelaki setengah baya berjalan dengan langkah panjang menuju ke ruangan lift dan segera menekan angka lantai paling atas di bangunan hotel yang tinggi menjulang itu.
Sesampainya dia di lantai paling atas, dia segera keluar dari ruangan lift tersebut dan berjalan mengikuti lorong panjang dan akhirnya sampai di sebuah pintu berukuran lain dari kamar hotel yang lainnya dan langsung mengetuk pintu.
"Masuk!!!"
Terdengar perintah dari dalam mempersilahkan orang yang berada di luar untuk masuk.
Tak lama kemudian tampak seorang lelaki setengah baya memasuki ruangan mewah tersebut sambil disambut oleh pertanyaan dari orang yang menyuruh masuk tadi.
"Tuan Syam. Sepertinya ada sesuatu yang penting yang ingin anda sampaikan kepada ku.?!" Kata seorang pemuda tampan sambil berdiri menyambut kedatangan lelaki setengah baya yang ternyata adalah tuan Syam itu.
"Benar Tuan muda. Tadi Black menelepon ku dan berkata bahwa sepasang warga asing itu telah meninggalkan bukit Metro dan saat ini, mereka sedang menginap di hotel murah disamping restoran ketika anda menjadi pahlawan itu." Kata tuan Syam berusaha untuk tidak tertawa.
"Hehehe. Iya Tuan muda." Kata tuan Syam menyeringai sekuat tenaga agar tidak ikut-ikutan tertawa.
"Sudah ku duga. Ini sudah ku duga sebelumnya. Mustahil setan itu akan insaf. Tuan Syam. Anda perintahkan dua orang lagi untuk mengintai keadaan di bukit Metro dari Condominium. Jangan lengah! Ini pasti siasat Robin. Aku ingin mereka berempat bergilir mengintai Villa itu selama 24 jam. Jika yang tiga tidur, salah seorang harus siaga!" Kata pemuda itu memberi perintah.
Kring..., kring...?!
Belum sempat tuan Syam mengiyakan perintah dari pemuda itu, tiba-tiba ponsel pemuda itu berdering dan nomor yang tidak tersimpan dalam daftar kontak pun muncul di layar ponsel tersebut.
Sambil meletakkan telunjuknya di depan bibir, pemuda itu langsung menggeser layar ponsel untuk menjawab panggilan.
"Hallo. Tukang servis tv di sini. Apakah ada sesuatu yang bisa saya banting?" Kata pemuda itu.
"Jerry. Ini aku Jessica. Apakah kau memang tukang servis tv rusak?" Tanya suara seorang gadis dengan ceria di seberang sana.
"Oh Jessica. Ya aku ingat. Hehehe... Aku hanya becanda." Kata pemuda yang ternyata adalah Jerry itu.
"Jerry. apakah kau ada waktu. Kalau ada, aku ingin bertemu dengan mu." Kata Jessica sedikit manja.
"Oh tentu. Tentu saja aku ada waktu.Tapi mengapa kau begitu terburu-buru?" Tanya Jerry pura-pura heran.
__ADS_1
"Jerry, aku telah menemukan university yang cocok untuk ku. Dan besok aku akan mendaftar di sana." Kata Jessica berbohong.
"Wow. Maaf, kalau aku boleh tau, di manakah kau akan melanjutkan studi mu?" Tanya Jerry lagi-lagi berpura-pura terkejut.
"Aku akan melanjutkan studi ku di MegaTown. Aku berharap sebelum aku berangkat ke sana besok pagi, aku ingin bertemu dengan mu terlebih dahulu." Kata Jessica.
Deggg...?!
Begitu mendengar alasan dari Jessica, Jerry langsung menatap wajah tuan Syam sambil tersenyum.
"Baiklah.., baiklah. Aku juga menagih traktir darimu. Oh ya.., di mana kita akan bertemu?" Tanya Jerry.
"Di tempat semalam. Si depan restoran ketika kau menolong ku dari para penjahat itu." Kata Jessica memberikan lokasinya kepada Jerry.
"Uhuk.., uhuk.., uhuk. Apakah aku terlihat sangat gagah ketika itu?" Tanya Jerry sambil terbatuk-batuk.
"Hahaha.., kau sangat gagah. Bahkan terlalu gagah." Kata Jessica yang mulai meledak tawanya.
"Baiklah. Nanti pukul delapan aku akan menemui mu di sana. Silahkan tunggu aku." Kata Jerry berjanji.
"Ok. Sampai ketemu ya nanti." Kata Jessica lalu mengakhiri panggilan telepon tersebut.
(NB: mereka disini berbicara menggunakan bahasa inggris. Anggap saja begitu. Ini karena Jessica dan Jerry selain berbeda jenis kelamin, juga berbeda suku dan bangsa. Untuk mempermudah, jadi ontor buat saja menggunakan bahasa Indonesia).
"Tuan Syam. Dugaan kita benar. Sekarang musuh masuk kedalam perangkap yang mereka buat sendiri. Untuk Ivan aku tidak khawatir lagi. Dia aman di rumah sakit. Tapi untuk tuan besar Patrik, ini yang membuat aku khawatir." Kata Jerry mulai kembali serius.
"Lalu menurut anda, apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan tuan besar Patrik ini?" Tanya tuan Syam.
"Apakah anda punya idea Tuan?" Tanya Jerry.
"Hmmm..., begini saja Tuan muda," Kata tuan Syam setelah agak lama berfikir. "Besok siang, bagaimana jika aku mencegat tuan Aaron ini ketika dia kembali dari kantor nya? Hanya ini jalan satu-satunya yang bisa menyelamatkan nyawa tuan besar itu." Kata tuan Syam.
"Apakah harus dengan menculik?" Tanya Jerry.
"Hanya itu cara satu-satunya Tuan muda. Jika kita mengatakan kecurigaan kita terhadap rencana Robin, orang tua itu pasti tidak akan percaya. Kemungkinan adalah bahwa dia telah mempercayai bahwa Robin ini benar-benar telah berubah. Jika dia bersikeras tidak mempercayai kita, maka sia-sia saja kita melakukan segala rencana selama ini. Semua pasti akan gagal karena orang tua itu pasti akan menanyakan langsung kepada Robin. Jika itu sudah terjadi, maka Robin pasti akan berhati-hati dan akan merubah planing mereka." Kata tuan Syam mengemukakan pendapat nya.
"Benar juga argument anda. Robin dan Syntia. Mereka pasti merencanakan sesuatu. Mereka adalah pasangan licik. Kasihan sungguh dirimu Ivan." Kata Jerry seperti berbicara kepada dirinya sendiri.
"Benar kata anda Tuan muda. Kasihan sekali Ivan. Dia berada dalam dilema yang besar."
"Ah sudah lah. Robin telah memilih jalannya sendiri. Tugas kita adalah menghentikan tindakannya yang akan merugikan kita termasuk perusahaan. Aku khawatir bahwa mereka akan melakukan segala cara untuk mengecoh kita. Ketika kita lalai, maka di satu sisi mereka akan menjalankan bisnis mereka, di sisi lain mereka akan membuat kita sibuk dengan kekacauan yang mereka ciptakan. Ini tidak boleh di biarkan. Proyek di MegaTown sangat rawan." Kata Jerry sambil memijit keningnya.
"Untuk saat ini kita hanya bisa menunggu. Jika kita menyerang mereka, maka kita akan di cap sebagai gerombolan pengganas. Tunggu, lihat dan bertindak balas. Hanya itu saja jalan yang kita punya." Kata tuan Syam.
"Lupakan dulu tentang apa yang akan terjadi. Sekarang kita selesaikan dulu satu per satu. Rencana untuk menculik tuan besar Patrik adalah yang utama selain mengintai bukit Metro dan mengawasi bandara." Kata Jerry.
__ADS_1
"Baiklah Tuan muda. Kalau begitu, aku minta diri dulu." Kata tuan Syam.
"Silahkan Tuan Syam." Kata Jerry mempersilahkan.