PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Riko menghancurkan lawannya


__ADS_3

Bab 1**19**.


Keberangkatan rombongan Riko kali ini tidak terlalu ramai. Hanya ada Sendiego, Ramond, Beruno, Ramos dan tentunya adalah Riko sendiri.


Ketika mereka sampai Ke Negara 'R' tersebut, mereka langsung menuju hotel terdekat untuk sekedar beristirahat sebelum berangkat menuju arena tarung bawah tanah pada malam harinya.


"Huh.., sialan benar. Aku bahkan tidak mengerti dengan bahasa yang mereka gunakan." Kata Sendiego mengeluh.


"Aku khawatir dengan Riko. Apakah dia bisa mengerti dengan apa yang di sampaikan oleh pembawa acara nanti." Kata Sendiego lagi menyuarakan kekhawatirannya.


"Sendiego.., perlu kau ingat! Bahwa sebelum aku menjadi petarung, aku adalah mahasiswa di perguruan tinggi. Dan aku menguasai 7 bahasa dari 7 negara berbeda." Kata Riko sambil menatap sinis ke arah Sendiego.


"Bagus jika begitu Riko. Maka kau bisa menterjemahkan apa yang mereka katakan kepada ku." Kata Sendiego dengan bersemangat.


"Aku datang kesini untuk bertarung dan memenangkan pertarungan. Bukan untuk menjadi penterjemah mu Sendiego." Kata Riko mengungkapkan keberatannya dengan usulan Sendiego yang dia anggap tak tahu malu itu.


Mendengar Riko menolak dengan tegas, Sendiego hanya bisa mengertakkan giginya saja sambil menggerutu dalam hati. "Anak setan ini. Semakin lama semakin kurang ajar saja. Tunggu lah. Saat ini aku sedang memerlukan mu. Jika saat nya tiba, kau tidak lebih dari seekor anj*ng yang akan mengemis kepadaku demi sisa makanan." Kata Sendiego dalam hati.


"Ayo Riko.., cepat lah! Kau harus segera mempersiapkan diri. Jangan fikirkan hal yang tidak penting dan, fokuskan perhatian kepada laga yang akan kau lakoni malam ini!" Kata Ramos sembari mendorong punggung Riko agar terus berjalan.


...*****...


Malam yang di tunggu-tunggu pun akhirnya datang juga.


Kini di depan Hotel tampak beberapa mobil sedang parkir menunggu Sendiego dan rombongan.


Pihak penyelenggara telah menyiapkan jemputan dengan tujuan untuk memudahkan rombongan Sendiego agar tiba tepat waktu di area arena pertarungan.


Begitu rombongan Sendiego keluar dari Hotal, para supir yang menunggu mereka pun segera memberi hormat dan membukakan pintu untuk Ramos dan Riko.


Setelah semua nya siap, maka mobil itu segera bergerak dengan kelajuan tinggi kemudian berbaur dengan pengguna jalan raya lainnya di negara itu.


Sebaik saja mereka sampai di arena pertarungan itu, tampak sorak sorai dari para hadirin menggema.


Dari setiap sorakan itu, tidak sedikit yang mencibir ke-arah Riko.


"Lihat anak itu! Apakah dia datang kesini hanya untuk mengantar nyawa?" Kata salah seorang dari hadirin.


"Ini gila. Semangat seperti apa yang di miliki oleh anak itu. Apakah dia tidak tau bahwa lawannya kali ini adalah Harlev?" Kata yang lainnya lagi.


"Tuannya sama sekali tidak memikirkan resiko yang akan menimpa anak itu. Masa depan nya masih cerah. Wajah nya juga tampan. Sangat disayangkan jika harus hancur oleh keganasan Harlev." Gumam salah seorang hadirin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Biarkan saja. Itu bukan urusan kita. Yang jelas adalah, bahwa kedatangan kita ke sini untuk bertaruh. Siapa jagoan kalian?" Tanya lelaki yang memakai jas warna coklat kepada mereka yang berbisik-bisik tadi.


"Aku jelas akan memilih Harlev."


"Aku juga."

__ADS_1


"Aku pun sama. Jelas aku tidak ingin mengambil resiko dengan menjagokan pemuda itu."


Kini keadaan benar-benar sangat berisik, membuat pembawa acara langsung saja memberikan kata sambutannya.


"Harap tenang! Harap tenang!!!"


"Tuan-tuan para hadirin sekalian. Malam yang kita nanti-nantikan telah tiba. Malam di mana akan ada pertarungan yang akan mempertemukan dua orang lelaki yang di jagokan oleh majikan mereka masing-masing. Namun itu tidak terbatas kepada para hadirin sekalian andai diantara kalian ada yang ingin mendukung salah satu dari kedua petarung ini."


"Seperti biasa, kalian bisa memasang taruhan untuk jagoan anda. Saat ini yang berada di sudut Merah adalah Harlev. Dan yang berada di sudut biru adalah Riko. Silahkan anda memilih untuk mendukung yang mana saja dari kedua orang ini." Kata pembawa acara.


"Aku akan memilih Harlev."


"Aku juga. Kita sudah sama-sama tahu bahwa Harlev adalah mantan petarung Fighting Championship." Teriak seorang lelaki yang memakai setelah jas warna coklat tadi.


"Aku justru kasihan dengan anak lelaki yang bernama Riko itu." Kata yang lainnya pula.


"Tuan-tuan sekalian.., apakah anda telah menentukan siapa jagoan yang akan anda unggulkan? Jika sudah, maka anda bisa memasang taruhan!? 10 menit dari sekarang sebelum lonceng menandakan pertarungan dimulai, kalian sudah memastikan bahwa taruhan anda telah di serahkan kepada panitia penyelenggara!" Kata pembawa acara memperingatkan.


"Pak Sendiego, berapa taruhan anda untuk kemenangan jagoan anda kali ini?" Tanya seorang lelaki kepada Sendiego.


Setelah mengerti apa yang dikatakan oleh lelaki itu melalui penerjemah, Sendiego pun akhirnya mengeluarkan kartu bank dan menyuruh pihak panitia untuk menggesekkan kartu tersebut dan mengekuarkan taruhan sebesar 20 juta Dollar.


Melihat ini, lelaki yang bertanya tadi pun segera menyambut dengan bertepuk tangan. Dia yakin dengan kemenangan jagoannya kali ini.


"20 juta adalah nilai yang sangat sedikit Pak Sendiego. Bagaimana jika kita bertaruh sampai 100 juta saja. Apakah anda tidak yakin dengan kemampuan jagoan anda?" Tanya lelaki itu dengan senyum menghina.


Robin yang juga merasa sangat marah langsung meminta untuk bicara kepada lelaki itu.


Setelah kata sepakat diambil, maka Robin dengan memanfaatkan jaringan nya menyanggupi taruhan sebesar 80 juta Dollar amerika.


Kini genap lah sudah taruhan itu sebanyak 200 Juta Dollar. Angka yang sangat gila mengingat Riko adalah petarung baru.


Namun bagi Robin, gengsi adalah nomor 1. Jangankan 100 juta, 1 Milyar pun jika itu menyangkut harga diri, dia pasti akan melakukan taruhan. Persetan dengan kalah atau menang.


Kini semua mata tertuju ke arah arena dimana kedua petarung telah saling berhadap-hadapan.


Setelah lonceng berbunyi dan pembawa acara telah turun dari panggung arena, Tampak Riko dan Harlev saling menjajaki kekuatan masing-masing.


Serangan di mulai dari Herlev yang mengirim tendangan ke arah kepala yang di tangkis oleh Riko dengan tangan kiri.


Kini gantian Riko yang merengsek kedepan mengirim satu Jab ke-arah wajah lawan yang langsung di blokir lawan dengan merapatkan kedua tangan di depan wajah.


Gagal dengan serangan pertama, Riko kini langsung mengirim pukulan Cross yang juga dengan mudah di hindari oleh lawan dengan miring ke samping.


Lawan yang melihat pertahanan Riko rapuh akibat baru saja melepas serangan segera mengirim tendangan ke-arah pinggang yang tepat mengenai sasaran membuat Riko terhuyung sedikit ke samping.


Namun belum sempat lawan meluruskan posisi gerakannya selepas menyerang, Riko kini meluruk tampa memperdulikan rasa sakit akibat tendangan tadi dan langsung mengirim pukulan Hook yang telak mengenai rahang kiri lawan membuat Harlev juga terhuyung ke samping.

__ADS_1


Jual beli pukulan kini tampak sedang terjadi di atas arena tarung saat ini membuat semua hadirin merasa sangat terhibur.


Sama seperti ketika melawan Korakap, kini semua hadirin yang tadinya meragukan kemampuan Riko berbalik tercengang karena Riko mampu mengimbangi lawan.


"Aku sangat puas melihat pertarungan ini. Andai kalah, aku tidak akan menyesal. Ini adalah kepuasan tersendiri bagiku." Kata salah seorang hadirin yang ikut bertaruh.


"Tidak ada yang menduga anak muda itu cukup liat. Mereka sama-sama tangguh. Sama-sama alot dan sama-sama berdarah-darah. Saat ini hanya yang memiliki energi dan daya tahan tubuh lah yang akan keluar sebagai pemenang." Kata seorang lagi yang melihat pertarungan itu tanpa berkedip.


"Lihat saja. Faktor umur sangat menentukan saat ini. Aku melihat Harlev sudah mulai keletihan dan lawannya masih dalam keadaan segar bugar."


"Riko itu pintar. Lihat dia mengulur-ulur waktu dan sesekali menyerang. Ini bisa membuat Harlev kehabisan tenaga karena terus mengejar Riko."


"Aku melihat bahwa Riko juga sengaja memprovokasi lawan. Begitu Harlev emosi, maka habis lah dia."


Perdebatan antara para hadirin juga memanas ketika ini sampailah pada akhirnya suara tubuh jatuh bergedebum ke kanvas arena.


Apa yang terjadi?


Ketika Harlev merasa memiliki kesempatan untuk menendang kebagian atas tubuh Riko yang terbuka, tanpa dia sadari bahwa itu hanyalah pancingan saja. Karena setelah itu, Riko langsung merunduk dan menyapu kaki Harlev yang berdiri dengan satu kaki.


Akibat dari rapuh nya pertahan dari sebelah kaki saja, maka sapuan kaki Riko itu pun dengan mulus membuat kaki Harlev tergelincir. Selanjut nya dapat di ketahui bahwa Harlev jatuh terbanting ke lantai arena dengan suara yang keras.


Persis seperti Riko menendang tubuh Zeck dan John ketika mereka berkelahi yang mengakibatkan Riko dikeluarkan dari kampus, kini hal yang sama juga dilakukannya kepada Harlev.


Saat ini Riko seperti kesetanan menyepak apa saja di bagian tubuh Harlev seperti sekarung tepung.


Bunyi bak bik buk pun terdengar bercampur teriakan kesakitan dari mulut Harlev.


Kini semua mulut para hadirin ternganga dengan lebar seperti lubang belut.


Mereka seperti bermimpi melihat mantan petarung kelas dunia itu harus menjerit kesakitan tanpa ada wasit yang melerai.


Pertarungan ini benar-benar pertarungan bebas. Selagi anda masih sadar, maka tidak ada yang kalah.


Riko faham betul akan hal ini. Dia yang tidak begitu tega langsung menarik rambut Harlev kemudian memasukkan lengan kanan nya kebawah dagu dan membuat kuncian.


Hanya itu saja cara untuk mengakhiri perlawanan dari Harlev.


Benar saja. Belum sampai 10 detik, Harlev sudah pingsan dan tidak bisa bergerak lagi.


Dengan ini, pertarungan akhirnya di menangi oleh Riko dan di sambut dengan tepuk tangan oleh para hadirin yang tadinya sangat meragukan kemampuan Riko.


"Penerjemah.., tanyakan kepada lelaki itu! Apakah dia masih memiliki jagoan? Jika dia merasa tidak puas, katakan kepadanya bahwa Sendiego menunggu kedatangannya bersama dengan jagoannya di Country Home!" Kata Sendiego sambil tertawa penuh kemenangan.


Setelah si penerjemah menyampaikan apa yang dikatakan oleh Sendiego, lelaki itu hanya menatap tajam ke-arah Sendiego sambil mengertakkan gigi nya lalu segera memutar badan dan segera berlalu pergi dari tempat itu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2