
Saat pintu berhasil di buka, mereka berdua syok.
"Haikal!!". Seru Karina.
"Dia pingsan lagi? Menyusahkan aku saja". Imbuh Karim kesal.
"Bapak kenapa bengong aja? Sini tolongin aku bawa dia ke rumah sakit". Seru Karina khawatir.
"Rumah sakit? Kamu pikir biaya perawatan di rumah sakit itu murah? Nggak perlu bawa dia ke rumah sakit, biarkan aja dia di situ nanti juga sadar sendiri. Bapak nggak ada duit untuk membayar pengobatan rumah sakit". Ogah Karim berlalu keluar kamar. Ia sangat tidak peduli dengan keadaan Haikal yang sedang pingsan akibat kelelahan..
Sudah menjadi kebiasaan Haikal jika terlalu kelelahan maka ia akan pingsan, terkadang mengeluarkan darah dari hidung dengan deras. Sakit bawaan dari kecil hingga ia beranjak dewasa.
"Haish, memang bapak yang nggak guna. Nasip aku jarang sakit kalau tidak mungkin bapak juga akan bersikap cuek pada ku saat sakit. Awas aja pak, kalau aki udah dapat pekerjaan maka orang pertama yang aku tinggal kan adalah bapak". Gumam Karina dendam.
Tok,, tok,, tok,,
"Assalamualaikum". Seseorang memberi salam dan mengganggu Karim yang sedang istirahat di ruang tamu.
Tok,, tok,, tok,,
"Haikal, Assalamualaikum". Kembali terdengar seorang pria memberi salam.
"Ish, siapa sih malam - malam datang cariin anak sialan itu? Nggak tahu apa orang lagi tidur, ganggu aja". Kesal Karim bangkit ingin membuka pintu.
"Waalaikumsalam! Gangguin orang tidur aja". Sahut Karim saat pintu sudah terbuka.
Josep dan Kali tampak cemas tapi berusaha menyembunyikan kegelisahan mereka dari pria paruh baya di hadapannya. "Maaf om, kami datang ingin bertemu Haikal, ada keperluan penting". Imbuh Josep.
"Haikal lagi nggak boleh nemuin kalian, udah sana pergi aku mau tidur". Usir Karim ingin menutup pintu tapi Kali dengan tatapan tajam nya menahan pintu itu agar tidak tertutup.
__ADS_1
Josep kemudian menyodorkan uang biru ke muka Karim. "Bawa kami ketemu Karim dan uang ini akan menjadi uang anda". Tawar Josep.
Karim kini memasang wajah bersahabat sambil membulatkan matanya melihat selembaran uang biru di hadapannya. "Silakan masuk, dia ada di dalam kamar nya". Ujar Karim merebut uang biru itu dari tangan Josep.
Josep dan Kali bergegas masuk ke dalam kamar Haikal, terlihat Karina menemani nya sambil mengoleskan minyak angin ke beberapa bagian pada Haikal. Karina yang mendengar suara dari ruang tamu pun tahu jika dua orang pria yang masuk ke kamar Haikan.
"Ayo kita bawa ke rumah sakit sekarang". Seru Kali cemas dengan keadaan Haikal yang tampak sangat pucat.
Karina kaget karena tiba - tiba saja Haikal ingin di bawa pergi oleh pria yang tidak ia kenal. "Kalian siapa kok tiba - tiba ingin membawa Haikal ke rumah sakit? Tanpa bertanya terlebih dahulu seolah kalian sudah tahu kondisi Haikal saat ini...". Tanya Karina menaruh curiga pada dua orang pria itu.
Josep dan Kali salah tingkah tapi dengan cepat mereka memberi alasan yang bisa di guna pakai. "Kami teman kerja Haikal dan selalu pulang bersama. Tadi wajah Haikal tampak sangat pucat maka nya kami datang ingin menjenguk nya. Melihat kamu sedang mengolah minyak angin ke padanya membuat aku yakin kalau Haikal saat ini sedang pingsan. Maka nya kamu langsung ingin membawa nya ke rumah sakit". Jelas Josep.
Karina mengerti dan bangkit dari sisi Haikal. "Sila kan jika kalian ingin membawanya ke rumah sakit tapi kami sekeluarga ngga punya uang untuk membayar tagihan nya jadi...". Imbuh Karina menjelaskan keadaan keluarga nya yang tidak memiliki uang sehingga tidak membawa Haikal ke rumah sakit.
"Kami paham, kami akan membayar tagihannya asal kan kami di izinkan membawa Haikal pergi". Sahut Kali mengerti apa yang ingin di sampaikan cewek di hadapan nya.
Karina membuang nafas lega. "Akhirnya Haikal bisa di bawa ke rumah sakit. Bawa lah, dia memang sering seperti ini jika kelelahan tapi kami nggak pernah membawa nya kontrol ke rumah sakit karena tiada biaya...". Imbuh Karina mempersilahkan kedua pria itu.
"Ini baru rezeki datang nya tiba - tiba. Setiap hari aja anak iti sakit maka aku akan mendapatkan uang lagi". Gumam Karim senang.
Sementara itu, Haikal saat ini sudah berada dalam mobil menuju rumah sakit bersama Josep dan Kali. "Kasihan tuan muda di besarkan oleh orang tua egois dalam kondisi rapuh seperti ini. Jika Nyonya dan Tuan besar tahu cerita sebenar, aku nggak tahu apa yang akan terjadi pada keluarga itu...". Kata Kali sambil melirik sendu pada Haikal yang terbaring lemah di kursi tengah.
"Sudah nggak perlu ikut campur, tugas kita cukup mengawasinya dari dekat dan memberikan pertolongan yang seperlunya saja menurut perintah". Timpal Josep.
Mereka berdua ternyata mendapat tugas dari seseorang untuk mengawasi Haikal secara dekat. Kecurigaan Haikal selama ini ternyata benar. Tapi mereka harus tetap merahsiakan identitas Haikal sebenar nya demi keamanan Haikal dan juga keluarga asli nya. Setiap gerak geri Haikal terpantau secara jelas oleh mereka berdua maka nya mereka bisa tahu Haikal pingsan tadi.
Semua perbuatan tidak bermoral yang di lakukan orang sekitarnya terlihat jelas di mata mereka berdua bahkan mereka juga menyediakan bukti berupa rekaman perbuatan kejam mereka. Karim, Sukma, Rudi dan teman - teman bahkan Karina juga sudah terbukti menyiksa mental dan fisik Haikal.
Drrrrttt...
__ADS_1
Sebuah panggilan telepon dari Pundas masuk ke ponsel Josep.
"Hello pak". Kata Josep saat panggilan sudah terhubung.
"Baik pak, kami sudah dalam perjalanan ke sana". Sahut nya lagi.
"Baik pak". Jawab Josep sebelum Panggilan di matikan oleh Pundas.
"Ada apa?". Tanya Kali penasaran.
"Lihat saja nanti, momen ini akan menjadi momen paling mengharu kan dalam keluarga baik hati itu". Jawab Josep sambil tersenyum.
Kali mengerti maksud Josep, ia pun meningkatkan kelajuan mobil menuju rumah sakit Purbalingga.
*
*
Di tempat lain, Aisyah dan Zack tidak sabar menantikan kedatangan putra mereka. Mereka memutuskan untuk masih merahsiakan identitas Haikal yang sebenarnya. Ia juga ingim mengetahui sejauh mana kelayakan Haikal mewarisi semua harta mereka saat ini. Jika masih kurang, maka mereka harus melatih Haikal terlebih dahulu sebelum semua nya terungkap dengan jelas.
"Kamu yakin nggak akan memberi tahu putra kita tentang siapa kita sebenar nya?". Tanya Aisyah kembali memastikan keputusan suami nya.
Zack menatap istrinya lembut, ia tahu wanita yang ia cintai itu sudah ingin membawa putranya pulang ke mansion. Tapi keputusan nya untuk melihat kelayakan Haikal sudah bulat. Ia ingin melatih Haikal agar menjadi orang yang berguna dan memberi manfaat untuk orang lain. Ia tidak ingin, jika ia langsung memberikan semua nya cuma - cuma pada Haikal, maka anak itu langsung berubah sombong dan membuang semua sifat baik yang ia miliki.
"Terbiasa hidup di bawah biasa nya membuat orang bongkak dan lupa daratan saat mendapatkan kemewahan. Aku nggak mau putra kita malah berubah dan hanya berfoya - foya saat mendapatkan kemewahan. Kamu harus sabar ya, sayang. Semua ini aku lakukan untuk kebaikan dia juga". Imbuh Zack menjelaskan niat nya pada sang istri tercinta.
__ADS_1
Aisyah membuang nafas berat karena sang suami nggak mudah berubah pikiran.
"Tuan muda sudah sampai, nyonya. dan saat ini sedang di periksa oleh dokter". Lapor anak buah nya.