PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Rencana membeli mobil


__ADS_3

Masih terlalu pagi di hari libur ini, Jerry dan kedua sahabatnya telah keluar dari asrama membawa tas masing-masing di pundak mereka persis seperti orang yang mengungsi karena banjir.


"Jerry.., menurut mu, mengapa kita harus pindah dari asrama ini ha?" Tanya Daniel sambil memindahkan tas besar dari bahu kiri ke bahu kanan.


"Mengapa Daniel? Jika kau tidak mau, maka tinggal saja sendirian di asrama itu." Kata Ryan.


"Bukan begitu Ryan. Kelak jika Riko kembali, bagaimana dia akan mencari kita?" Tanya Daniel.


"Kita kan masih di kampus ini Daniel. Lagian kita pindah tidak terlalu jauh dari kampus. Hanya berjarak sekitar 1 kilo meter saja." Kata Jerry.


"Banyak benar kenangan di kamar itu. Aku sedikit merasa sedih meninggalkannya." Kata Daniel sambil memutar badan memandang ke arah asrama yang selama ini telah menampung mereka.


"Waktunya untuk berubah Daniel. Di rumah baru, kita bisa bebas berteriak, bebas bernyanyi, bebas mau melakukan apa pun tampa ada yang akan menegur karena merasa terganggu." Kata Jerry lagi.


"Benar katamu Jerry. Daniel ini saja yang terlalu mengikuti perasaan." Kata Ryan mencibir.


"Baiklah-Baiklah. Aku ikut saja kemahuan kalian." Kata Daniel mengalah.


"Katamu ingin dibelikan mobil sport di potong gaji 4 tahun. Apa pantas anak muda memiliki mobil sport tapi masih tinggal di asrama? Hahaha..." Kata Jerry tertawa terbahak-bahak sehingga tas yang dia pikul ikut bergoyang.


"Aku sangat menginginkan mobil sport Jerry. Tapi perut ku mendadak mulas ketika mendengar potong gaji 4 tahun itu." Kata Daniel sambil membenahi letak tas yang dia pikul.


"Jerry ini terlalu perhitungan" Kata Ryan.


"Hahahaha... Aku kan mengikuti apa katamu Ryan. Andai kau adalah anak orang kaya, kau akan sangat kikir. Jangankan mobil, sepeda ovo pun kau tidak sudi membelikan untukku." Kata Jerry mengingatkan Ryan dengan kata-katanya kemarin.


"Hahaha.. Iya. Aku akan sangat perhitungan dengan kalian andai aku orang kaya." Kata Ryan sambil cengar-cengir.


Tanpa terasa kini ketiga pemuda itu telah sampai di depan pos security.


Setelah berbasa-basi dan selesai diperiksa, ketiga pemuda itu lalu memasukkan tas bawaan mereka kedalam mobil Volvo butut lalu segera melaju menuju rumah baru mereka di kawasan Star Housing.


Star housing adalah kawasan perumahan kelas menengah kebawah. Ini adalah proyek perumahan pertama yang didirikan oleh perusahaan konstruksi Smith Group dibawah pengawasan tuan Barry.

__ADS_1


Bisa dikatakan bahwa area perumahan ini sedikit jauh masuk ke dalam dari jalan lintas. Oleh karena itu di kawasan ini sangat tenang dan jauh dari hiruk-pikuk suara deru mesin kendaraan.


Jerry memilih membeli rumah di kawasan ini karena selain sejuk dan nyaman, jarak antara rumah dari rumah yang lainnya juga terbilang cukup jauh. Dengan demikian, Jerry dan teman-temannya bisa bebas berteriak sesukanya apabila penyakit lama mereka kambuh.


Jerry ini terkenal di kalangan para sahabatnya sebagai orang yang tidak pernah serius dalam menghadapi apa pun masalah. Tapi itu pandangan mereka. Berbeda ketika Jerry berada diantara para staf FoC. Ketika sudah di sana, Jerry akan berubah menjadi orang yang serius. Itu pun kadang-kadang.


"Ayo cepat bereskan barang-barang kalian! Kita akan keluar sebentar lagi untuk membeli barang dapur." Kata Jerry.


"Barang dapur Jerry?" Tanya Ryan kaget.


"Apa? Apakah kau tidak bisa masak? Libur panjang begini mana ada kantin buka." Kata Jerry.


"Apakah setelah bekerja di perusahaan mu, kami tidak bisa makan di restoran Jerry?" Tanya Daniel.


"Bisa. Itu pun kalau kalian punya gaji." Kata Jerry berusaha untuk tidak tertawa dan buru-buru membuang muka.


"Oh Tuhan... Mengapa engkau memberi kami sahabat yang sangat kikir dan pelit seperti ini Tuhan? Apa salah dan dosa kami?" Kata Daniel sambil mebanting tas nya dengan kesal.


"Hahahaha... Melihat wajah kalian masam seperti itu, aku jadi sangat bahagia." Kata Jerry sambil tertawa.


"Kau ini Jerry. Harus diberi pelajaran supaya kau segera inshaf." Kata Daniel lalu mengejar Jerry.


Melihat kedua sahabatnya akan melakukan tindakan menyerang, Jerry yang tau gelagat tidak baik segera memberi ancaman. "Heit...! Berani mendekat! Jangan kan mobil. Kaca spion nya pun tidak akan kalian dapatkan." Kata Jerry memberi ancaman sambil mengedip-ngedipkan matanya.


"Huhh... Dasar kau Jerry. Baiklah! Kami mengalah. Ayo keluar. Aku sudah tidak sabar ingin melihat seperti apa mobil yang akan kau berikan kepada kami untuk urusan kendaraan kami." Kata Ryan.


"Jangan katakan mobil itu seperti mobil mu yang di luar itu. Dimana wajah Future of Company mu akan kau letakkan?" Kata Daniel.


"Ayo lah. Aku akan mengikuti selera kalian saja." Kata Jerry.


"Aku ingin mobil sport Jaguar." Kata Daniel.


"Kalau aku lebih suka dengan Mercedez sport." Kata Ryan.

__ADS_1


"Sudah ayo kita keluar." Ajak Jerry langsung pergi meninggalkan kedua sahabatnya itu dan menunggu di dalam mobil Volvo bututnya.


Disepanjang perjalanan menuju ke Showroom, Ryan, Daniel dan Jerry tidak henti-hentinya berencana dan bercerita tentang rencana kedepannya akan kemana mereka memamerkan mobil baru mereka.


"Daniel! Menurut mu, jika kau memiliki mobil baru, siapa orang pertama yang akan kau bawa?" Tanya Ryan.


"Yang pasti nya buka kau dan Jerry." Kata Daniel acuh.


"Sialan. Maksudku orang yang pertama yang akan kau bawa untuk jalan-jalan dengan mobil baru mu nanti siapa? Apakah itu sahabatmu tau kekasih mu." Tanya Ryan dengan kesal.


"Kalau itu sahabat, sudah pasti aku hanya memiliki kalian sebagai sahabat. Oh. tidak. Aku tidak akan membuang-buang waktu ku untuk membawa kau apa lagi Jerry untuk jalan-jalan. Yang jelas aku akan mempersilahkan Hellen untuk masuk dan membawanya keliling-keliling dari Country home ke Starhill." Kata Daniel sambil membayangkan betapa bahagianya nanti dapat membawa Hellen jalan-jalan.


"Kalau kau Ryan?" Tanya Daniel ingin tau.


"Sama seperti mu. Jerry dan kau tidak akan aku izinkan untuk masuk ke dalam mobil ku. Apa lagi kau Daniel. Jangankan masuk, menyentuh mobil ku pun aku tidak izinkan." Kata Ryan membalas perkataan Daniel barusan.


"Ternyata kau lebih sialan dari aku. Aku masih mengizinkan Jerry untuk numpang berkaca di mobil ku. Kalau kau? Kau bahkan lebih parah." Kata Daniel sambil berusaha menarik rambut Ryan dari belakang.


"Sesuka aku lah. Kan mobil milik aku. Potong gaji pula 4 tahun. Jika Jerry perhitungan, aku juga bisa." Kata Ryan membuat Jerry tersedak ketawa.


"Biarkan dia betah dengan mobil Volvo busuk nya ini Ryan. Kita akan memberi dia asap di belakang. Silahkan nikmati asap mobil kami nanti bersama Via." Kata Daniel mengejek.


"Aku dapat membayangkan betapa nanti Jenny akan sangat senang jika dibawa menaiki mobil Mercedez sport baru milik ku nanti." Kata Ryan sambil membayangkan dan tersenyum-senyum sendiri.


"Aku juga dapat membayangkan bagaimana nanti Hellen akan tersenyum manis di depan ku ketika aku membawanya jalan-jalan keliling kota." Kata Daniel.


"Silahkan berhayal. Asalkan ingat ya! Gaji di potong selama 4 tahun." Kata Jerry seketika membuyarkan angan-angan Daniel dan Ryan.


"Kau..., kau ini. Aish...! Benar-benar tidak berpriketemanan Jerry."


"Hahahaha.....!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2