PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Bab 71 Sampai di kota kelahiran


__ADS_3

"Ibu jangan memaksakan kehendak gitu, Hansi itu anak ku jadi dia harus menuruti perkataan ku lebih dulu berbanding orang lain". Seru Desi nggak suka dengan sikap memaksa bu Wahida.


"Ini semua terjadi karena ulah mu Desi! Anak dan cucu ku pergi meninggal ku sendiri karena kamu sangat egois jadi orang". Bentak bu Wahida.


"Kok malah nyalahin aku, sih bu? Mas Rehan pergi itu bukan sebab mau membahagiaan aku atau pun Hansi melainkan untuk mengejar kembali mantan istri nya. Aku memilih pergi karena aku tahu percuma bertahan dalam pernikahan ini, sedangkan Hansi sudah tentu harus tinggal bersama ku. Dia anak ku!". Sahut Desi nggak mau di salah kan dalam hal ini.


"Bagaimana bisa kamu menyimpulkan kepergian Rehan karena ingin mengejar mantan istrinya sedangkan kamu yang selalu menuntutnya untuk pergi dari sini. Kami jangan memutar balikkan fakta, Desi. Anakku rela meninggalkan ku di sini itu karena kamu tapi kamu malah meminta cerai dari nya". Bu Wahida masih belum mengerti situasi yang terjadi antara Rehan dan Desi.


"Terserah ibu mau pikir apa. Aku nggak peduli lagi". Imbuh Desi malas berdebat, ia kemudian beralih pada Hansi yang meneteskan air mata melihat perdebatan mama dan nenek nya. "Masuk cepat ambil koper kamu! Mama mau kita pergi sekarang juga. Mama sudah malas masuk ke dalam rumah itu lagi".


"Ba - baik, mah". Lirih Hansi berlari masuk ke dalam rumah sambil menangis.


Akhir - akhir ini ia sering menyaksikan pertengkaran dalam keluarga nya. Selama belasan tahun ia jarang melihat mereka bertengkar, bahkan mama nya terlihat sangat menyayangi bapak nya dan juga nenek nya. Tapi semenjak Rehan sembuh beberapa bulan lalu di tambah lagi masalah ekonomi keluarga ini yang semakin memprihatinkan, Desi mulai uring - uringan nggak jelas. Sering menuntut Rehan untuk bekerja, bekerja dan bekerja.


Hingga kejadian ini berlanjut semakin meresahkan hati gadis kecil itu.


*


*


Beberapa jam kemudian, keberadaan Rehan di bandara ternyata di ketahui oleh seseorang yang cukup mengenali Rehan. Pria yang kebetulan sedang memantau pergerakan bisnis nya di bandara tanpa sengaja melihat Rehan. Ia segera menghubungi seseorang untuk melaporkan berita gembira ini.


"Hello bos. Saya ingin mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkan". Seru pria itu saat panggilan terhubung.


---


"Rehan yang selama ini kita cari baru saja cek out dari bandara, sekarang sedang menunggu seseorang di lobi bandara". Imbuh nya lagi.

__ADS_1


---


"Itu sudah pasti bos. Aku akan mengirim orang untuk memata - matai nya. Bos tenang saja, semua nya akan berjalan dengan lancar. Mereka pasti semakin kocar - kacir dengan kembalinya Rehan ke kota ini". Sahut pria itu sebelum panggilan di putuskan.


Pria itu kemudian menghubungi anak buah nya untuk mengikuti pergerakan Rehan sementara dia harus menyelesaikan urusannya terlebih dahulu di bandara. Jika sudah selesai, baru lah ia akan menyusul.


Sementara Rehan sedang menunggu rekan nya datang menjemputnya, terpaksa untuk sementara waktu ia harus menumpang di rumah rekan nya sebelum ia mendapatkan tempat tinggal baru.


"Rehan!! Lama nggak ketemu lo. Maaf ya lama nunggu, soal nya gue harus izin dulu dengan manager". Sapa seoarang pria yang di tunggu - tunggu oleh Rehan..


"Iya nggak papa gue paham kok. Tapi kalau jangan panggil aku Rehan di tempat umum seperti ini takut ketahuan. Kamu tahu sendiri kan aku sekarang memakai identitas baru tapi aku juga bingung kenapa, tapi ibu ku sempat mewanti - wanti gue untuk tidak lagi memakai identitas yang lama. Sebab nya aku pun nggak tahu". Sahut Rehan..


"Aku rasa aki tahu penyebab nya, tapi lain kali aja gue ceritain sekarang kita langsung pulang aja, yah. D rumah mama sudah masak banyak untuk menyambut kamu". Imbuh rekan Rehan bernama Arya.


"Terserah lo aja. Gue sekarang nih pasrah aja sebab lo tahu sendiri lah gue baru mau merintis bisnis lagi dari nol. Tapi lo tenang aja jasa lo ini akan gue kenang sampai hujung hayat gue". Ujar Rehan.


Mereka berdua pulang dengan menggunakan taksi online karena Arya belum memiliki mobil sendiri. Sepanjang perjalanan perasaan Rehan seperti ada yang mengganjal. Ia merasa was - was di setiap pergerakan nya. Juga mobil yang ada di belakang taksi online yang ia tumpangi, ia curiga jika ia sedang di buntuti.


"Mobil itu sepertinya mengikuti kita, kamu perasan nggak?". Tanya Rehan pada Arya tanpa melepas pandangan nya ke belakang..


"Hah, masak sih. Mungkin hanya kebetulan kali. Kamu nggak perlu khawatir lah". Sahut Arya menenangkan Rehan.


Rehan pun tidak lagi mengambil peduli masalah itu tapi perasaan nya tetap tidak tenang sehingga lah ia sampai di dapan rumah Arya, mobil itu tetap melaju ke baru lah Rehan merasa lebih tenang.


"Ternyata benar, mobil itu hanya kebetulan searah". Gumam Rehan merasa lega.


Rehan di sambut hangat oleh mama dan papa Rehan, mereka merasa berhutang budi pada pria itu kerana dulu saat Arya mengalami kesusahan mencari pekerjaan, Rehan lah yang menawarinya berkerja di perusahaan milik nya dulu. Sekarang Rehan membutuh kan bantuan, mereka merasa harus membantu pria itu juga.

__ADS_1


Sementara itu di mobil yang di maksud Rehan tadi kini berhenti di pinggir jalan yang tak jauh dari rumah Arya. Terdapat dua orang pria yang sedang mengamati pergerakan Rehan dari dalam mobil itu.


"Saya sudah tahu alamat nya, bos. Dia tinggal di rumah sederhana di jln cenderawasih no. 78". Ujar seorang pria pada panggilan di ponsel nya.


---


"Baik bos. Kami akan terus memata - matai nya". Sahutnya menerima perintah.


*


*


"Tampak nya kita harus membuat skenario baru untuk mereka berdua, sayang". Imbuh Meri sambil memeluk leher Ronal dari belakang.


"Kamu benar, mereka harus kita manfaat kan sebaik - baik nya. Sekarang Haikal sudah masuk ke dalam perangkap kita giliran pria penyakitan itu lagi". Sahut Ronal mengiyakan saran Meri.


"Jadi kamu setuju dengan rencana Haikal?". Tanya Meri memastikan.


"Sudah tentu, setelah bertemu dengan bapak kandung nya aku yakin dia tidak akan bisa berkutik dari ku. Lagi pula rencana nya sangat cerdas, kita bisa mencoba nya dulu, kalau terbukti dia hanya ingin bermain - main dengan ku maka aku akan membunuh bapak kandung nya itu". Tungkas Ronal dengan wajah serius.


"Kamu benar, sayang. Aku akan selalu ada di samping kamu untuk mendukung semua yang ingin kamu lakukan dan jangan segan meminta bantuan dari ku". Meri menc1um leher Ronal berniat menggoda pria itu..


"Sudah tentu, sekarang aku mau kamu menjauh dari ku sementara waktu, aku lagi malas di sentuh - sentuh oleh siapa pun". Imbuh Ronal sambil melepas pelukan Meri. Ia mulai merasa risih dengan sentuhan wanita itu. Semenjak Meri pernah membuatnya kesal ia sudah hilang rasa pada wanita itu.


Meri menjauh dengan menahan kesal pada Ronal. Sudah beberapa hari Ronal tidak menyentuhnya, pada saat bangun pula ia mendapati Ronal tidak lagi tidur di samping nya. Ia sangat kenal dengan pria itu, sehari tak melaku lam hubungan bersama wanita maka tidak nyenyak lah tidur nya, Meri curiga ia mendatangi wanita lain untuk menggantikan posisi nya setiap malam.


"Aku akan membunuh wanita itu hari ini juga". Tekat Meri seraya keluar dari ruangan Ronal.

__ADS_1


__ADS_2