
"Aku sama sekali nggak pernah keberatan dengan sikap kamu dulu, Rina. Karena cukup kamu fokus belajar dan mengejar impian kamu, aku sudah bersyukur banget. Tapi dengan perubahan kamu ini aku tambah senang, semoga kamu bisa mengubah hidup keluarga kita". Batin Haikal.
Kedua nya kembali tersadar saat Karim mengagetkan mereka berdua. "Kamu mau kemana dengan membawa semua pakaian kamu, Haikal?". Tanya Karim bingung.
Karina dan Haikal bingung menjawab pertanyaan bapak mereka itu. Mereka sudah berencana untuk merahsiakan pekerjaan baru Haikap pada pria paruh baya itu sesuai permintaan Sukma.
"Haikal di minta menjadi tukang kebun di rumah orang kaya. Pekerjaan ini lebih mudah dan tidak menguras tenaga seperti buruh. Tapi dia harus tinggal di sana karena letak rumah itu jauh dari sini, Haikal pasti akan capek kalau bolak balik setiap hari". Jawab Karina berbohong.
"Tapi gaji nya bagaimana? Apa kah masih sama dengan total gaji kamu yang sebelum nya? Kalau lebih rendah lebih baik kamu jangan kerja di sana. Bukan nya menyenangkan orang tua, kamu hanya akan menyusahkan aku". Ujar Karim sedikit kurang setuju.
"Apa maksud bapak ngomong kayak gitu? Emang selama ini apa guna nya bapak dalam keluarga ini? Yang bapak katakan itu lebih tepatnya bapak katakan pada diri bapa sendiri. Bukan nya mencari nafkah, ini hanya menjadikan Haikal alat untuk membayar hutang judi bapak yang entah kapan habis nya. Berkurang tidak bertambah iya. Bapak itu menyusahkan kami saja tahu nggak!". Maki Karina pada bapak nya.
Karim tidak terima di maki oleh putri nya sendiri. Ia pun maju dan melayangkan tamparan di pipi mulus remaja wanita itu.
Plakkkk
Karina memegang pipi nya yang terasa panas akibat tamparan dari Karim. Haikal menjauhkan Karina dari Karim untuk melindungi nya. "Kamu nggak papa kan?". Cemas Haikal sambil membelai pipi Karina lembut.
Karina hanya bisa menggeleng kepala menahan perih.
"Lancang kamu bicara tidak sopan pada bapak kamu sendiri!". Kesal Karim masih ingin memberi pelajaran pada putrinya.
"Sudah pak. Jangan memukul nya lagi!". Haikal mencoba menjadi tameng untuk melindungi Karina.
"Bapak tenang saja soal gaji ku masih sama seperti sebelum nya. Jadi setiap bulan bapak bisa membayar hutang bapak pada pak Haji Bakil. Setiap bulan aku akan pulang membawa gaji saya. Tolong izin kan saya kerja di tempat baru ya, pak". Jelas Haikal membuat wajah Karim kembali santai.
"Ada apa ini, kok malah ribut - ribut?". Sukma menghampiri mereka karena keributan yang di timbulkan Karim terdengar sampai di luar.
"Kamu kenapa nggak beri tahu aku kalau Haikal mendapatkan pekerjaan baru? Aku pulang ke rumah tadi dan kamu hanya buat acuh padaku". Ujar Karim pada istrinya.
"Apa peduli kamu pada kami bertiga? Mau Haikal dapat pekerjaan bari atau tidak pun yang penting hutang kamu bisa di bayar setiap bulan nya bukan? Jadi nggak udah sok ngatur kamu!". Sahut Sukma juga kesal.
__ADS_1
Karim malas berdebat, ia kembali keluar melalui pintu dapur.
"Tadi kalian nggak bilang apa - apa soal gaji Haikal pada pria brengsek itu kan?". Tanya Sukma cemas.
"Nggak kok mah. Bapak hanya tahu aku bekerja sebagai tukang kebun dengan gaji yang sama dengan gaji sebelum nya, mamah tenang saja". Kata Haikal menenangkan Sukma.
Sukma membuang nafas lega. "Kamu lebih baik berangkat cepat, sebelum bapak kamu pulang lagi dan banyak tanya soal pekerjaan baru kamu. Di luar abang berdua itu udah lama nungguin kamu". Imbuh Sukma.
Haikal nurut, ia mengambil tas berisi pakaian nya dan berjalan keluar menemui Josep dan Kali.
"Muka kamu kenapa merah gitu, Karina?". Tanya Sukma saat melihat bekas tamparan dari Karim tadi.
"Bapak menamparku tadi". Jawab Karina ketus. Ia melewati Sukma begitu saja.
"Pria itu memang brengsek! Anak sendiri saja dia nggak peduli. Aku mamah nya sendiri saja nggak pernah memukul nya, dia jadi bapak nggak guna saja udah berani menyakiti Karina. Awas aja, kamu Karim! Aku akan membalas tamparan kamu itu". Gumam Sukma dendam.
Walau bagaimana pun seorang ibu tetap nggak suka kalau anak yang ia lahirkan di sakito oleh orang lain meskipun itu bapak nya sendiri.
"Barang kamu mana? Biar abang tolong angkat ke mobil". Tawar Kali.
"Barang aku cuma ini aja, bang". Jawab Haikal enteng. Ia kemudian menyalami Sukma dan mengusap rambut Karina.
"Kamu jangan lupa dengan permintaan mamah". Sukma kembali mengingatkan Haikal.
"Iya, saya akan menepati janji ku mah. Mamah di rumah hati - hati yah. Tolong ingat kan Karina untuk tetap belajar". Imbuh Haikal.
"Emm". Jawab Sukma ketus.
"Sampai jumpa di sekolah besok". Imbuh Haikal pada Karina. Wanita itu hanya mengangguk paham sambil tersenyum kecut.
"Abang berdua jangan lupa pulang, yah. Adek akan buatkan teh untuk kalian lagi". Tawar Sukma pada Josep dan Kali.
__ADS_1
Josep dan Kali tidak menanggapi seolah - olah tidak mendengar perkataan Sukma tadi. Mereka tidak akan kembali lagi ke rumah ini kecuali untuk mengantar Haikal setiap bulan nya. Tapi mereka tidak ingin membuat wanita itu kecewa dan malah menghambat kepergian Haikal.
Mereka bertiga kini sudah berangkat menuju mansion Purbalingga. Haikal seperti biasa tidak akan membuka suara untuk ucapan kurang bermutu. Ia memilih diam dan membaca buku sambil sesekali menoleh ke luar jendela melihat pemandangan sekitar.
"Sudah dulu baca buku nya. Kamu harus belajar seluk belok jalan di kota ini agar nanti mudah untuk kamu bekerja". Tegur Josep.
Haikal nurut. Ia kembali menyimpan buku nya dalam kresek hitam yang di dalam nya terdapat semua buku pelajaran yang ia miliki.
Josep mulai menjelaskan semua jalan pada Haikal dan di dengari oleh remaja itu dengan seksama dan diam. Setelah merasa puas menjelaskan pada Haikal, Josep baru ingat untuk menanyakan satu pertanyaan pada anak remaja itu.
"Kami tuh nggak pernah lihat kamu bawa mobil selama ini. Emang kamu bisa bawa mobil?". Tanya Josep penasaran..
Haikal membuang nafas berat. "Sayang nya saya belum pandai, bang". Jawab Haikal enteng. Ekspresinya biasa saja seolah nggak punya salah.
"Apa? Jadi kamu menerima tawaran menjadi supir tapi sama sekali nggak tahu cara nyetir mobil? Aduh bakal berabe nih cerita nya". Seru Josep sambil menepuk kening nya bingung.
"Nggak papa, sesampai di sana kita mulai belajar nyetir mobil nya. Abang yakin tuan Zack dan nyonya pasti mengerti". Ujar Kali.
"Terima kasih, bang". Sahut Haikal setuju.
Sesampai di Mansion, suasana hening. Tiada penyambutan sama sekali untuk Haikal. Tapi saat masuk ke dalam ruang tamu, seorang ART menghampiri mereka bertiga dan mempersilahkan kedua nya untuk menuju ruang makan. Semua nya sudah menunggu di sana.
Haikal sedari turun dari mobil masih saja terperanga melihat mansion yang tampak bak istana bagi nya. Mata nya sampai tidak berkedip saking takjup nya dengan mansion majikan nya itu.
"Haikal!". Panggil Josep pada Haikal yang masih mengitari pandangan nya ke setiap sudut ruangan.
"Eh, iya bang". Jawab Haikal sedikit malu.
"Kita sudah di tunggu di ruang makan. Mari kita makan dulu baru lanjut istirahat". Imbuh Josep.
"Baik, bang". Sahut Haikal mengikuti langkah Josep dan Kali menuju ruang makan. Mata nya masih saja memperhatikan semua yang ada di depan matanya dengan takjup.
__ADS_1