PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Bab 51 Hampir saja terenggut


__ADS_3

Keesokkan harinya Rinata terbangun. Ia masih di posisi yang sama, yaitu berbaring di sofa ruangan Haikal. Mana kala pria itu tak terlihat dalam ruangan.


"Apa dia semalaman nggak kembali ke sini?". Gumam Rinata menelisir seluruh ruangan tapi tak ada tanda - tanda kalau pria itu pernah kembali saat itu tidur. Tapi ia tiba - tiba merasa ada sesuatu di dalam saku baju nya.


Tanpa mengeluarkan benda itu, Rinata mengingat - ingat kembali tapi tetap merasa tidak pernah memasukkan sesuatu di dalam saku nya. Tapi ia ingat pesan seseorang, jadi demi menjaga diri nya, ia memilih mengeluarkan benda itu di dalam toilet.


"Surat? Dari siapa?". Gumam Rinata saat melihat benda itu adalah sebuah kertas yang terdapat tulisan tangan di lembaran nya.


"Begitu banyak yang ingin ku tanya kan pada mu tapi kondisi tidak memungkinan kan. Ku harap kamu bisa jaga diri saat berada di tempat berbahaya ini. Apa lagi kamu itu seorang wanita, masih gadis lagi. Jadi jangan pernah lengah. Di ruangan ini terdapat beberapa kamera pengintai bahkan mungkin ada beberapa perekam suara. Tapi di sudut bunya lavender itu aku yakin tak terekspos oleh kamera. Entah apa tujuan mu datang ke sini, tapi aku harap kamu mau bekerja sama dengan ku'. Dari Haikal.


Rinata tercengang sesaat, ia pikir Haikal benar - benar telah berubah tapi ternyata dia hanya berakting di depan kamera pengintai agar tidak menimbulkan kecurigaan. Sebelum keluar Toilet, Rinata membuang kertas itu ke dalam lubang closed agar tidak di temukan oleh orang lain.


Tok,, tok,, tok,,


Pintu toilet di ketuk dengan kasar dari luar. Rinata kaget dan beralih ke mode waspada. Ia yakin yang mengetuk pintu itu bukan Haikal melainkan orang lain.


"Rinata sayang. Buka pintu nya dong. Mas ingin masuk sebentar aja". Seru pria yang ada di luar pintu.


"Suara itu terdengar seperti suara bos Ronal. Tapi kenapa dia bisa ada di sini dan untuk apa dia berbicara seperti sedang menahan sesuatu? Atau jangan - jangan ia ingin memperkosa ku". Gumam Rinata cemas.


Dia tahu cara bela diri tapi ia tidak mungkin menggunakan nya di sini apa lagi pada Ronal. Ia pasti akan di bunuh jika nekat melawan.


"Se - sebentar bos. Saya sedang membuang nih". Sahut Rinata beralasan.


"Ya udah tapi cepat yah. Sebelum Haikal kembali". Balas Ronal di luar. Ia terdengar takut jika ada yang memergoki aksi nya itu apa lagi Haikal. Padahal di markas ini dia yang paling berkuasa. Sebenarnya terserah dari dia saja jik ingin melakukan apa pun. Tapi saat ini Ronal sedang dalam rencana besar.

__ADS_1


Jadi sebisa mungkin ia harus menjaga kepercayaan Haikal. Sudah lima belas menit menunggu, tapi Rinata belum juga keluar. Ronal di luar semakin gelisah antara harus pergi tapi hasratnya belum tersalurkan dengan baik. Semalam ia melakukan hubungan bersama Meri sambil membayangkan Rinata tapi tetap tidak bisa menghilangkan rasa penasaran nya pada gadis muda itu..


"Rinata! Keluar cepat! Kamu jangan mencoba menghindari ku! Aku hitung sampai tiga kalau tidak aku dobrak pintu ini". Ronal tidak lagi bisa berbicara lembut, ia sudah tidak bisa menunggu lama lagi.


Sementara itu, di dalam toilet Rinata semakin gelisah juga bingung harus bagaimana. Jika ia keluar sama saja ia pasrah pada pria hidung belang itu tapi nggak keluar pun sama saja ia menyerahkan nyawa nya. Ia cuma bisa pasrah kan diri nya saja sambil terus berdoa agar Haikal cepat kembali untuk menyelamatkan diri nya.


"Ma - maaf kan saya bos. Saya sedang benar - benar sakit perut, jadi agak lama di dalam". Ujar Rinata memberi alasan.


"Sekarang ikut aku! Dari tadi aku menunggu tapi kamu malah mengabaikan kan ku. Dasar nggak tahu di untung!". Ronal menarik tangan Rinata secara kasar dan membanting perempuan itu di atas sofa.


"Aucchh...". Lirih Rinata menahan nyeri di punggung nya. "Bo - bos mau apa?". Tanya Rinata gugup saat tatapan Ronal seperti sangat menginginkan. Pria paruh baya itu mendekati Rinata sambil membuka satu persatu kancing baju nya.


"Sudah tentu menginginkan mu sayang. Dari pertama kali melihat mu aku sudah menyukai mu. Semalam aku nggak bisa tidur karena terus terbayang kan wajah mu. Sekarang aku tidak bisa tahan lagi...". Imbuh Ronal dengan suara parau nya.


"Kamu cukup buat drama apa lah untuk mengelabuhi anak hingusan itu. Di sini aku yang paling berkuasa bukan dia!". Imbuh Ronal tidak memperdulikan perkataan Rinata.


"Ta - tapi...". Rinata kembali mencari alasan tapi Ronal membentak nya.


"Diam! Kamu berani membantahku maka aku akan membunuh ku saat ini juga". Ancam Ronal.


"Ih,,, kalau bukan lagi berada di markas nya, aku sudah membunuh lelaki brengs3k ink dari tadi". Batin Rinata kesal.


Ronal sudah mulai mendekati mulutnya ke leher Rinata. Wanita itu merinding geli menatap wajah Ronal dari dekat. Ia menutup mata nya sambil terus merapal kan doa agar ada yang datang menolong nya.


Prakkk...

__ADS_1


Pintu terbuka dengan Kasar. Ronal yang hampir saja mencium leher Rinata sontak terloncat kaget. Ia menjadi salah tingkah.


"Om sedang apa di sini?". Tanya Haikal dengan tatapan tajam.


"I - itu, om datang mencari kamu tapi sial nya perempuan murahan ini malah menggoda om. Om sudah menolak karena niat om memperkerjakan nya untuk melayani kamu bukan orang lain apa lagi om. Tapi dasar dia aja yang sudah gatal ingin di garuk oleh lelaki". Jelas Ronal mengkambing hitam kan Rinata dalam hal ini.


"Benar begitu Rinata?". Tanya Haikal pada Rinata yang tercengang mendengar perkataan Ronal.


"Aku....". Rinata ingin membela diri tapi tatapan Ronal pada nya membuat nyalinya ciut. "Benar mas. Soal nya mas dari semalam sama sekali tidak ingin menyentuh ku padahal aku sangat memerlukan belaian mas". Sahut Rinata membenarkan ucapan Ronal..


"Oh, begitu. Baik lah, malam ini apa yang kamu ingin kan akan aku penuhi". Bukan nya marah, Haikal malah berniat menuruti perkataan Rinata.


Ronal tampak tidak puas dengan tanggapan Haikal. Apa lagi keputusan Haikal tidak sesuai keinginan nya. Ia masih kukuh ingin merasakan segel Rinata untuk pertama kali nya.


"Kamu jangan memaksakan kehendak kamu, Haikal! Lihat dia, dia tampak sedang tidak enak badan". Ujar Ronal agar Haikal membatalkan niat nya.


Haikal mengerutkan dahi nya bingung dengan tingkah Ronal. "Bukan kah tadi om bilang ia sudah gatal ingin di garuk lelaki. Lagi pula ia memaksakan kehendak pada om tadi karena aku tak sempat menyentuh nya semalam. Maka nya aku akan menuruti keinginan nya kok malah aku yang om tuduh memaksakan kehendak?". Balas Haikal mengingatkan kembali perkataan Ronal tadi.


Ronal menjadi salah tingkah, "Terserah kamu saja. Kalau terjadi apa - apa padanya jangan minta tolong pada om!". Kesal Ronal berlalu keluar ruangan.


"Aneh, tadi bilang lain sekali Haikal ingin menggalakan niat nya malah bilang yang sebaiknya. Aneh!". Gumam Rinata kesal. "Tapi setidak nya aku selamat dari terkaman buaya darat itu. Hampir saja kesucian yang selama ini ku jaga di renggut oleh pria yang tak kucintai". Sambung nya bernafas lega.


"Buka baju mu cepat!". Di luar dugaan, Haikal malah meminta Rinata membuka baju nya saat tinggal mereka berdua yang ada di dalam ruangan itu.


"Hah, buka baju?". Kaget Rinata.

__ADS_1


__ADS_2