
...Gedung dewan MegaTown...
Pagi ini gedung dewan di MegaTown tidak seperti biasanya. Ada banyak orang-orang kaya dan berpangkat yang datang kali ini. Bahkan ada juga beberapa wajah yang tidak menunjukkan bahwa mereka adalah orang lokal, juga turut hadir dalam keramaian tersebut. Ini menandakan bahwa sebentar lagi akan berlangsung sebuah acara yang akan menyita perhatian publik.
Di luar halaman gedung kini tampak mobil-mobil mewah berbaris dengan rapi di area parkir dengan berbagai Merk dan jenis.
Sebenarnya ada apa sehingga pagi ini tidak seperti biasanya di gedung dewan MegaTown ini? Ini tidak lain adalah bahwa pemerintah daerah ingin melelang salah satu aset mereka yang cukup terkenal dikalangan masyarakat elit bahwa hotel Mega akan di lelang dengan harga pembukaan senilai 350 juta Dollar dan akan diperkirakan bisa meningkat sampai 600 hingga 700 juta USD.
Hotel mega ini adalah proyek pertama yang di bangun oleh seorang pemuda jenius dari Metro city bernama Wilson William.
Mengapa dia di katakan Jenius? Ini tidak lain adalah, bahwa pemuda tersebut memenangkan tender proyek pembangunan hotel di MegaTown ini ketika berumur 18 tahun. Hal ini yang sempat membuat gempar di kalangan para pengusaha ketika itu.
Dapat di bayangkan betapa cerahnya masa depan Wilson William ini. Di saat anak-anak orang kaya yang lainnya sedang asik menghambur-hamburkan uang milik orang tua mereka, Wilson ini berbeda. Di usia yang masih remaja itu dia telah berhasil memenangkan tender proyek di MegaTown. Sukses menyulap Mountain lotus di Starhill menjadi tempat tujuan para kalangan elit. Membantu merealisasikan mimpi Leon Smith membangun Lotus mansion. Dan banyak lagi hal besar yang telah dia lakukan ketika masih hidup.
Jadi, tidak heran ketika dia terbunuh, banyak diantara orang-orang besar yang merasa kehilangan. Namun, tidak sedikit juga yang merasa bersyukur atas terbunuhnya orang tua kandung Jerry William ini.
Antara orang-orang yang merasa sangat senang Wilson William ini terbunuh adalah Robin patrik, Keluarga Regnar, Ramendra dan banyak lagi.
Kini, hotel bintang enam yang terkenal itu menjadi tajuk utama media-media, termasuk beberapa stasiun televisi telah menerjunkan langsung para wartawan terhebat mereka bagi meliput acara yang penuh gengsi ini.
...*...
Mobil sport Aston Martin Vantage itu meluncur laju memasuki area parkir di gedung dewan tersebut dan tepat berhenti bersebelahan dengan mobil mewah Rolls Royce.
Tak lama kemudian tampak dua orang pemuda keluar dari mobil tersebut dan mulai berjalan hendak memasuki aula dewan yang telah ramai dihadiri oleh para kalangan pengusaha elit.
Sesampainya mereka di depan pintu masuk, seorang panitia yang bertugas menyambut para tamu kini terlihat membungkuk hormat dan berkata, "Selamat datang tuan-tuan muda. Bisakah anda menunjukkan kartu undangan yang membuktikan bahwa anda berdua adalah tamu undangan?!" Kata sang resepsionis itu.
Salah satu dari kedua pemuda itu mengangguk dengan senyum ramah lalu menunjukkan kartu undangan Vip berwarna emas kepada resepsionis tersebut.
"Bisakah anda menunggu sebentar tuan muda?" Kata resepsionis tersebut.
"Silahkan." Kata salah satu dari pemuda itu mempersilahkan.
__ADS_1
Setelah memeriksa keaslian kartu undangan tersebut, sang resepsionis pun mempersilahkan kedua pemuda itu memasuki aula gedung dewan tersebut dengan sangat hormat.
Ketika kedua pemuda itu baru beberapa langkah memasuki aula tersebut, terdengar satu suara menyindir dengan bahasa yang sangat kasar.
"Lihat lah dua ekor beruk itu! Kemana seekor beruk yang lainnya? Hahahaha...?!" Kata satu suara membuat kedua pemuda itu segera berpaling ke arah datangnya suara.
"Oh. Ternyata Tuan besar gorilla dan Tuan kecil gorilla juga telah mendahului kami." Kata salah seorang dari pemuda itu dengan senyum menghina.
"Sudah lah Daniel. Kita jangan melayani induk gorilla. Nanti kita jadi ikut-ikutan menjadi gorilla pula." Kata seorang pemuda lainnya sambil menegur sahabatnya yang bernama Daniel itu.
"Ah kau ini Ryan. Bagaimana mungkin beruk bisa menjadi gorilla. Yang benar saja?!" Kata Pemuda bernama Daniel itu kepada sahabatnya yang bernama Ryan.
"Kau harus sopan kepada orang yang lebih tua dari mu Daniel!" Kata Ryan berpura-pura menegur.
"Orang tua seperti ini tidak perlu diperkalukan dengan sopan. Yang tua harus menyayangi yang muda. Maka yang muda pasti akan menghormati yang tua. Bapak dan anak gorilla ini apa pantas untuk di hormati?" Tanya Daniel sambil mencibir.
"Kurang ajar. Apa kalian sudah bosan hidup heh?" Kata lelaki tua itu sambil mengepalkan tinju nya.
"Sudahlah Ayah. Jangan urusi kedua pemuda itu." Kata seorang lelaki setengah baya berusaha melerai.
"Benar kata anda itu Tuan Robin. Ups.. saya salah. Maafkan saya. Maksud saya Tuan Robson Ramendra. Saya sedikit bingung. Bagaimana Robson Ramendra bisa menikah dengan putri Ramendra. Apakah kalian menikah sedarah?" Tanya Daniel lagi sambil memancing kemarahan kedua orang itu.
"Aku bersumpah jika bukan di sini tempat nya, aku pastikan bahwa aku sudah memotong lidah mu itu." Kata Robin sambil menunjuk ke arah Daniel.
"Anda mengintimidasi saya Tuan Robson? Apakah boleh saya berteriak kepada semua orang yang berada di sini bahwa Tuan Ramendra dan Robson Ramendra telah menindas dua anak muda utusan dari Future of Company?" Tanya Daniel memberi ancaman.
"Tuan Ramendra. Kedatangan kami kemari adalah untuk bertarung melawan anda dalam pelelangan yang akan berlangsung tidak akan lama lagi. Sejujurnya bahwa kami tidak ada waktu untuk melayani segala macam omong kosong dengan anda berdua." Kata Ryan.
"Benar sekali. Dengan uang 500 juta dari anda, aku akan mengikuti lelang tersebut." Kata. Daniel sengaja mengungkit kisah 500 juta uang Ramendra yang telah dia tipu.
"500 juta katamu? Nak. Segeralah pulang dan pakai popok mu dengan benar. Untuk acara pelelangan ini, aku bahkan telah menyiapkan lebih dari 500 juta." Kata Ramendra dengan pongah nya.
"Kena lagi kau orang tua." Kata Daniel dalam hati.
__ADS_1
"Kita lihat saja nanti apakah anda layak dikatakan sebagai orang yang paling kaya di MegaTown ini atau itu hanya sebuah pepesan kosong belaka." Kata Daniel lalu menambahkan, "Untuk memenangkan pelelangan ini, Tuan Besar Smith dan tuan besar William telah memberikan kepada kami kepercayaan yang besar untuk menghabiskan berapa pun uang yang kami ingin habiskan. Ini karena hotel Mega ini adalah hotel yang di bangun oleh anak dan menantu mereka. Sudah pasti hotel ini memiliki ikatan emosional di hati mereka." Kata Daniel lagi.
Daniel tau di mana letak kelemahan Ramendra ini. Oleh karena itu dia terus-terusan memberikan psywar kepada Ramendra. Dan untuk saat ini, semuanya berjalan dengan sangat baik.
Baru saja Ramendra akan berbicara, tiba-tiba seseorang menegur nya dari belakang.
"Tuan Ramendra.., Tuan Robson. Apakah kalian telah lama sampai?" Tanya suara itu.
"Oh. Itu adalah Anda Tuan Ricard. Kami juga baru sampai." Kata Robin.
Mereka lalu bersalaman sambil di perhatikan oleh Daniel dan Ryan.
"Ayo kita menyingkir Daniel! Ternyata benar kata Jerry. Cepat lah!" Kata Ryan sambil menarik tangan Daniel dengan paksa.
"Ada apa Ryan?" Tanya Daniel heran.
"Kau lihat orang yang baru datang itu?" Tanya Ryan.
"Ya. Itu kan Tuan Ricard." Kata Daniel.
"Gunakan fikiran mu Daniel! Dia itu kan Manager kita? Dia jelas tau bahwa perusahaan sangat bermusuhan dengan Ramendra Group. Tapi mengapa dia begitu akrab dengan musuh? Kau ingat apa yang dikatakan oleh Jerry kemarin?" Tanya Ryan.
"Oh.., aku mengerti sekarang." Kata Daniel.
"Untung dia tidak memperhatikan kita. Ayo kita menyingkir. Kita perhatikan saja apa yang akan dia lakukan di sepanjang acara pelelangan nanti." Kata Ryan.
Kedua anak muda itu mulai berjalan dan menyelinap diantara kerumunan para pengusaha yang masih belum duduk di kursi masing-masing.
Dari kejauhan kini Ryan dan Daniel melihat beberapa orang yang mereka kenal mulai berdatangan antaranya adalah, tuan besar Jasson Walker didampingi oleh Samson dan Lorna. Tuan besar Aaron Patrik didampingi oleh Ivan. Tuan Jackson William didampingi oleh Kenny. Keluarga Regnar beserta Diana dan tuan Syam yang sengaja menyamar sebagai wartawan.
Melihat kedatangan Ayah dan anaknya ini membuat Robin berulang kali membuang muka. Namun tuan Patrik dan Ivan seperti tidak perduli. Dia terus saja melangkah mengabaikan Ramendra dan Robin yang terus memperhatikan nya.
Bersambung...
__ADS_1