PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Bab 23 Khawatir


__ADS_3

Mendengar perkataan Karina yang mengusirku, aku semakin khawatir dengan keadaan nya. Aku yakin dia pasti mengalami sesuatu sebelum ke sekolah, sama ada di rumah atau semasa perjalanan tadi. Dalam pikiran terbayang yang tidak - tidak tentang nya. Tapi aku nggak akan memaksa, aku akan menanyakan nya nanti saat di rumah.


Kebetulan uang jajan yang di berikan mama Aisyah beberapa hari ini sudah lumayan banyak, aku akan memberikan nya sebagian pada mama dan Karina nanti.


Aku kembali ke kelas dengan perasaan yang entah bagaimana. Bekal untuk Karina ku letakkan di atas meja nya dan berlalu pergi dari hadapan tiga gadis ini.


"Semoga ini hanya perasaan ku saja..". Aku berusaha membuang pikiran buruk yang kemungkinan terjadi pada Karina.


Sehabis sekolah, bang Josep sudah menunggu di depan gerbang sekolah jauh dari keramaian, karena aku tidak mau ramai yang melihatku menaiki mobil mewah milik majikan ku ini. Aku malas di tanya banyak hal yang aku juga bingung mau jawab bagaimana nanti nya.


Aku meminta izin pada bang Josep untuk ke rumah dulu dan beruntungnya bang Josep bersedia mengantarku ke sana setelah meminta izin pada Mama Aisyah, majikan kami. Aku menyetir mobil menuju lorong rumah ku tapi aneh nya sesampai di depan rumah terlihat beberapa lelaki yang sedang memukul bapak.


Aku bergegas turun dari mobil dan menghampiri mereka. "Hei, kenapa kalian memukul bapak ku, hah?". Hardik ku membuat mereka menghentikan aksi mereka. Bapak bangkit dan bersembunyi di belakang ku.


"Tolong bapak, Kal". Lirih bapak.


"Tenang pak, sebenarnya ada apa ini? Kenapa mereka memukul bapak?". Tanya ku penasaran.


"Itu__". Bapak terlihat gugup.


Belum sempat bapak menjawab, mama tiba - tiba keluar dari rumah sambil menunjukkan wajah bengis nya.


"Biarkan dia mati di belasah oleh mereka, Haikal! Hidup nya hanya tahu menyusahkan orang saja. Nggak ada untung - untung nya di hidup di dunia ini". Ucap mama terdengar sangat kesal.


"Ada apa ini, mak?". Tanya ku masih penasaran.


"Dia punya hutang dengan juragan Jarwo sebesar seratus delapan puluh juta. Dia nggak mampu bayar dan menjadikan anak gadis nya sebagai tebusan. Kami datang hanya ingin menagih janji nya, juragan Jarwo udah kebelet nikah maka nya kami datang ingin menjemput pengantin wanita, tapi malah nggak di bolehin sama perempuan ini". Jawab salah seorang pria yang memukuo bapak tadi.

__ADS_1


Aku tercengang di tempat, bapak benar - benar sudah kehilangan akal sehat. Selama ini aku sudah berusaha membayar hutang nya kepada pak Ageng. Tapi ternyata bapak memiliki hutang pada orang lain dan malah menjadikan Karina sebagai alat untuk membayar hutang nya itu. Tega banget bapak.


"Dengar apa yang mereka katakan, Haikal. Lelaki brengsek itu rela menjual anak nya sendiri untuk melunasi hutang nya. Dasar bapak nggak tahu diri. Kamu nggak ada hak atas Karina. Selama ini kamu sama sekali nggak pernah membesarkan nya, dia hanya anak ku bukan anak mu. Jadi jangan jadikan dia alat untuk membayar hutang mu! Aku nggak akan membiarkan hal itu terjadi". Mama menutup pintu dengan membanting lalu terdengar suara kalau pintu di kunci dari dalam.


"Bagaimana ini Karim? Kalau kami nggak berhasil membawa anak gadis kamu untuk juragan kami, maka bayar hutang kamu saat ini juga! Kami sudah menerima perintah dari juragan kalau kamu nggak membayar hutang kamu hari ini juga, maka nyawa mu yang akan menjadi ganti nya". Pria itu kembali ingin menyerang bapak tapi dengan cepat aku menghalangi aksi mereka.


Aku melirik bang Josep yang hanya menyaksikan adegan ini dari kejauhan sambil bersandar di mobil. Dia hanya diam tanpa memberi tanggapan padahal aku sangat membutuhkan pertolongan ata sekedar saran.


"Kamu jangan menghalangi kami untuk membawa bapak kamu menghadap juragan Jarwo! Atau nyawa kamu yang lebih dulu yang akan kami lenyap kan". Pria tadi kembali mengancam.


Aku menghela nafas berat, tampak nya tiada cara lain selain meladeni mereka. Yakin mereka tidak mau di ajak bicara baik - baik apa lagi meminta tunggak waktu lagi untuk membayar hutang bapak. Apa lagi tadi aku dengar kalau juragan Jarwo udah kebelet nikah dengan Karina. Pasti mereka sengaja berbuat kasar supaya bapak tidak berkutik.


Sebelum mereka berhasil melayangkan tinju ke wajah ku, tinju ku yang lebih dulu membuang ketiga pria itu tersungkur.


"Oh, kamu mau melawan kami, yah. Ok, kami ladeni. Ayah kita habisi dia!". Seru salah satu dari mereka.


Tiga lawan satu terjadi antara kami, terdapat beberapa warga yang menonton tapi tidak berani untuk datang menolong. Janga kan tetangga, bapak sendiri pun hanya melihat saja sedangkan bang Josep juga hanya menonton dari tempatnya, aku nggaj salah kan dia toh ini urusan keluarga aku.


Meskipun aku hanya seorang diri melawan ketiga pria berbadan besar ini, tapi tetap saja mereka yang kalah. Mereka kabur dengan susah paya. Ada yang kaki nya patah oleh ku, ada yang memeluk tangan nya mungkin juga patah akibat ku plintir tadi dan seolah lagi memegang perutnya yang ku tentang dengan kuat. Wajah mereka babak belur dengan darah keluar dari hidung dan sudut bibir mereka.


"Wih, ternyata kamu jago bela diri juga yah, Haikal. Tadi abang ingin menolong mu eh tahu - tahu nya kamu bisa lawan mereka seorang diri". Puji bang Josep sambil menepuk bahu ku.


Bapak hanya dian saja tanpa ingin berterima kasih pada ku.


"Luka di wajah kamu harus di obati, Kal". Ucap Bang Josep.


"Nggak perlu bang, luka kecil nih". Sahut ku sambil menyeka darah yang menetes dari sudut bibir.

__ADS_1


Tok,,, tok,,, tok,,,


"Buka pintu nya, mak. Mereka udah pergi". Aku mengetuk pintu dan meminta mama membuka pintu.


Clekkkk


Pintu terbuka dan terlihat wajah mama yang masih bengis sambil celingukan mencari ketiga pria tadi. Tiba - tiba bapak masuk ke dalam rumah dan menggeser posisi kami berdua yang berdiri di depan pintu dengan kasar.


"Hei! Kamu jangan coba - coba menyakiti anak ku lagi". Mama menarik lengan bapak.


Ternyata bapak bukan hanya tega menjual Karina pada juragan Jarwo tapi dia juga sudah tega menyakiti fisik Karina. Atau jangan - jangan Karina tidak ingin menatap ku dan berusaha menghindari ku karena tidak ingin aku melihat wajah nya yang penuh lebam.


Kini giliran mama dan bapak yang adu jotos di dalam rumah. Aku membuka pintu kamar Karina untuk memeriksa keadaan nya.


"Kenapa dengan wajah kamu Karina?". Tanya ku setelah memastikan jika tebakan ku benar. Wajah nya penuh dengan lebam.


"Nggak papa kok. Luka kecil je nih. Jangan khawatir lah". Walau pun sudah seperti itu, dia tetap bisa tersenyum.


Dia seperti bukan Karina yang ku kenal dulu. Entah sejak kapan dia berubah padahal dulu dia sangat manja dia sama sekali nggak pernah melakukan kerja rumah karena tidak mau kuku, kulit dan wajah nya rusak. Seketika emosi ku tersulut, aku keluar dari kamar Karina dan menghampiri bapak.


Bukk,, bukk,,,


Tinju ku berhasil mendarat ke pipi bapak dengan kuat sehingga dia tersungkur ke lantai.


"Dasar anak sialan! Kenapa kamu memukul ku, hah. Apa hak mu melakukan itu?". Bapak terdengar tidak terima dengan tindakan ku. Ini kali pertama aku memukul bapak.


"Kamu layak mendapatkan itu, dasar lelaki nggak guna!". Maki mama.

__ADS_1


__ADS_2