PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
R2D tiba di Villa Klasik


__ADS_3

...Bandara internasional Metro City...


Siang menjelang sore, tampak tiga anak muda sedang berjalan keluar dari bandara internasional Metro City.


Mereka bertiga ini adalah Ryan, Riko dan Daniel yang baru saja kembali dari Kota Kemuning Indonesia.


Sambil melangkah keluar, ketiga pemuda ini pun saling terlibat perbincangan yang sesekali diselingi dengan canda tawa.


"Menurut mu, Tigor sudah sampai di mana ya saat ini?" Tanya Daniel.


"Mungkin dia sudah berada di tengah laut." Jawab Riko.


"Apa kau yakin dia bisa menjalankan tugas yang akan diberikan oleh Jerry kepadanya?" Tanya Daniel.


"Aku yakin dia lebih dari mampu." Kata Ryan pula.


"Kekuatan kita Beratus kali lipat dibandingkan kekuatan Fardy. Jika bukan karena tidak ingin menarik perhatian publik, sekali serbu saja, Villa Ramendra itu akan runtuh. Terlalu kecil Fardy itu untuk di lawan." Kata Riko.


"Kali ini Jerry tidak ingin mengotori tangannya sendiri. Seorang Tuan muda yang kaya raya dan memiliki kekuasaan. Terlalu sepele hanya karna nyawa busuk si Fardy ini. Cukup bayar pembunuh bayaran, selesai urusan." Kata Ryan.


Tanpa terasa mereka kini sudah sampai di luar bandara.


Karena Jerry mengerahkan beberapa orang anak buahnya untuk menjemput kembalinya ketiga sahabatnya itu ke Metro City, akhirnya mereka tidak perlu lagi memanggil taksi.


"Silahkan Tuan muda bertiga memasuki mobil. Ketua meminta kami untuk menjemput anda bertiga." Kata Pak sopir itu sambil membukakan pintu mobil pribadi yang panjang itu.


"Terimakasih pak." Kata Ryan sambil memasuki mobil mendahului kedua sahabatnya.


Tak lama kemudian rombongan yang bertugas sebagai penjemputan itu pun bergerak meninggalkan bandara internasional Metro City menuju ke Villa Klasik.


"Seperti apa ya Jerry sekarang?" Tanya Riko.


"Mungkin dia sudah tumbuh bulu." Jawab Daniel sambil nyengir.


"Hahaha. Maksudmu dulu bulu Jerry ini tandus?" Tanya Ryan.


"Kalian ini. Tidak baik mengatakan hal seperti itu terhadap sahabat sendiri."


"Aku menduga bahwa Jerry kini brewokan dengan cambang dan kumis melintang. Kemudian rambut acak-acakan dan mata cekung." Kata Daniel.


"Itu bukan Jerry tapi paman Drako." Kata Ryan pula sambil tertawa.


"Kau awas kalau di dengar paman Drako. Bisa pindah kepala mu ke pantat." Kata Riko memperingatkan.


"Hanya kita bertiga yang tau. Jika bocor, berarti kau salah satu dari kita yang membocorkan." Kata Daniel.


Tidak terasa karena sangat asyik membicarakan diri Jerry, akhirnya mereka sampai juga di Villa Klasik.


"Aku duluan!" Kata Daniel yang duduk di tengah sambil menepiskan paha Ryan.

__ADS_1


"Woy sabar. Aku di samping. Berarti aku duluan." Kata Ryan pula tak mau kalah.


"Kalian ini seperti anak-anak saja." Kata Riko yang sudah keluar duluan.


"Sialan. Dia duluan. Ini gara-gara kau Ryan." Kata Daniel lalu keluar dari pintu di samping Riko tadi.


Perebutan kembali terjadi ketika mereka ingin memasuki Villa.


"Minggir kau rumput!" Kata Ryan sambil menarik kerah baju bagian belakang milik Riko membuat Riko nyaris terjengkang kebelakang.


Untung saja Riko sempat menarik baju Daniel.


Namun Daniel tidak mau pasrah begitu saja. Dia yang hampir terjatuh juga menarik celana Ryan dan akhirnya yang terjadi adalah, ketiga pemuda itu saling jatuh dan tumpang tindih.


Riko yang paling parah karena dia jatuh ditimpa oleh Daniel dan Ryan.


"Woy. Kalian ini rusak rambut ku kan?" Kata Daniel mengomel.


"Aduh. Cepat bangkit. Badan seberat badak. Mati aku." Kata Riko.


"Salah mu jatuh malah berjamaah." Kata Daniel.


"Ryan yang salah."


"Benar. Ini semua adalah salah Ryan. Keroyok dia!" Kata Daniel.


Keadaan ketiga pemuda itu kini persis seperti pasukan yang lari dari Medan perang.


Dengan celana kedodoran, baju kusut masai dan rambut acak-acakan, akhirnya mereka bertiga pun bangkit berdiri. Namun mereka menjadi terkejut karena di depan mereka berdiri seorang pemuda sambil mengarahkan kamera digital merekam video kejadian konyol barusan.


"Kau Jerry. Ah sialan. Mengapa tidak memberitahu kalau kau sudah di sini?" Tanya Daniel.


"Kalau aku memberi tahu, rusak lah moment pergelutan kalian ini." Jawab Jerry sambil mengakhiri rekaman video nya.


"Sialan. Ini semua karena Ryan." Maki Riko.


"Sudahlah! Semua sudah terjadi. Oh ya. Bagaimana dengan istri mu?" Tanya Ryan kepada Jerry.


"Wah... Baru tiba bukannya menanyakan keadaan ku. Malah menanyakan istriku. Apa-apaan kalian?" Kata Jerry tidak senang.


"Kau tidak penting lagi bagi kami. Kucing kurap! Istri mu hamil kan? Di perut nya ada keponakan kami. Apa pentingnya kau?" Kata Daniel pula.


"Hei. Jika aku tidak penting, istriku tidak akan hamil. Nih burung ku yang topcer dengan bibit unggul yang telah teruji secara klinis lah yang membuat dia hamil. Kalian bertiga ini yang belum terbukti." Kata Jerry menyumpah panjang pendek.


"Mana burung mu sini aku periksa!" Kata Daniel sambil membuat gestur pada tangannya yang ingin menyentil.


"Celaka kalian bertiga ini!" Kata Jerry langsung melarikan diri memasuki Villa.


"Kejar dia!" Kata Riko yang langsung menyeruak antara Daniel dan Ryan lalu bergegas memasuki Villa.

__ADS_1


"Ayo kejar. Burung nya harus diberi selamat!" Kata Ryan lalu mendorong Daniel hingga jatuh terduduk dan berlari memasuki Villa.


"Awas kau Ryan!" Kata Daniel melongo karena Ryan sudah tidak ada lagi di tempat itu.


Sambil bangkit berdiri, Daniel pun menyusul mereka yang sudah bergelut membuat beberapa kursi di ruangan itu terbalik dengan kaki ke atas.


"Mana Jerry nya?" Kata Daniel langsung melompat nimbrung membuat keadaan seperti kapal pecah.


"Hancur ruangan tengah Villa ini!!!"


Terdengar suara seorang wanita setengah baya berteriak membuat keempat pemuda yang sedang bergelut itu menghentikan pergelutan mereka.


"Ibu mertua ku. Mampus kalian!" Kata Jerry.


"Hehehe. Maaf Bibi Roxana." Kata Daniel sambil beringsut ke arah dinding.


"Kalian ini. Lihat diri kalian yang sudah besar panjang itu. Masih juga seperti anak-anak." Tegur Roxana.


Suaranya besar seperti orang lagi marah. Namun di bibirnya berusaha keras agar tidak tertawa.


"Mereka bertiga ini Bu. Hajar mereka Bu!" Kata Jerry sambil menunjuk ke arah Ryan.


"Kau juga sama! Jangan pergi sebelum kalian bertiga membereskan ruangan tengah ini!" Kata Roxana.


"Itu lah kalian. Penyakit di cari sendiri. Bikin penyakit saja." Kata Jerry mengomel kepada sahabatnya itu.


"Kerjakan saja lah Jer. Kau lihat kita sedang dimandori oleh bibi Roxana." Kata Ryan sambil melirik ke arah wanita setengah baya yang berdiri dengan tongkat gagang penyapu itu.


"Cepat bereskan atau aku akan menghajar kalian berempat dengan gagang penyapu ini!" Ancam Roxana.


"Baik bibi." Kata mereka lalu merapikan kursi yang terbalik itu.


"Kau ini tidak habis membuat onar. Apa kau ingat dulu gara-gara kau, kaki ranjang tempat tidur kita di asrama sampai patah." Kata Ryan kepada Daniel.


"Kau juga terlibat. Untung kita tidak mendapatkan hukuman dari perempuan tambun pengawas asrama itu." Kata Ryan pula.


"Sudah selesai Bu. Apakah masih ada lagi yang harus kami kerjakan?" Tanya Jerry.


"Sudah! Kalian saling mengobrol lah. Jangan bikin onar lagi. Aku sedang menyiapkan obat herbal untuk Clara." Kata Bibi Roxana sambil melangkah meninggalkan mereka.


"Ibu mertua mu galak." Kata Daniel.


"Sialan kalian. Ibu mertua ku baik. Kalian yang bikin onar. Makanya dia mengamuk." Jawab Jerry membela ibu mertua nya itu.


"Lihat saja. Suaminya singa. Istrinya pasti singa juga. Hanya Clara yang bernasib sial. Dia putri sepasang singa, tapi dapat jodoh kucing kurap." Kata Ryan.


"Kau Ryan. Ah sialan kau. Ayo kita gelut lagi." Kata Jerry sambil menarik baju Ryan.


Pergelutan kembali terjadi antara Jerry melawan ketiga sahabatnya itu membuat Roxana tidak bisa berkata apa-apa lagi.

__ADS_1


__ADS_2