
"Huh... Akhirnya kita kembali juga ke Starhill."
Terlihat seorang pemuda menghembuskan nafas lega sambil menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang empuk salah satu hotel mewah di Mountain lotus.
Hotel ini adalah hotel teratai. Salah satu properti milik perusahaan Future of Company yang telah bubar.
"Mengapa Daniel. Kau sepertinya sangat merindukan Starhill ini." Tegus salah seorang sahabatnya.
"Ya. Aku rindu. Rindu suasana Starhill. Jangan katakan bahwa kau tidak rindu!" Kata Daniel kepada sahabatnya itu.
"Dia tidak rindu dengan Starhill. Melainkan rindu kepada Rina." Kata seorang lagi sambil menggoda.
"Eleh eleh. Kau pun rindu dengan Jenny kan? Ayo mengaku saja. Pengakuan mu gratis kok."
"Hahaha... Aku merindukan semuanya."
"Riko dan kau Ryan. Ayo lah kita tidur saja. Pinomat dapat tidur empat jam sudah cukup lah menjelang pagi. Setelah itu kita kembali ke Starhousing." Kata Daniel mengajak kedua sahabatnya itu untuk segera tidur.
"Jangan pulang dulu. Kita masih akan membahas beberapa rencana kerja di Lotus mansion bersama presiden Barry. Apa kau tidak lelah harus pulang pergi dari starhousing ke lotus mansion?" Tanya Ryan.
"Benar juga kata mu. Kita masih akan membahas tentang rencana kerja bersama Tuan Barry, Tuan Ronald dan Austin. Ya sudah kalau begitu mari kita istirahat!" Ajak Daniel sambil memejamkan matanya.
"Geser sedikit woy. Tidur melintang begini. Semua diborong oleh kaki mu."
"Woy! Jangan main tarik gitu. Celana ku ini harganya mahal. Awas lecet!"
"Bodo amat lah. Minggir kau...!'
Brugh...!
"Aw... Setan kau Riko."
Tampak tubuh Daniel menggelinding lalu jatuh ke lantai akibat dorongan dari Riko.
"Hahaha... Itulah azab bagi orang yang rakus."
"Kapan bisa tidur kalau kalian seperti ini?" Tegur Ryan sambil geleng kepala melihat kelakuan kedua sahabat nya itu.
"Dasar kutu berkurap. Awas kau!"
"Goblok! Seperti pernah saja melihat kurap pada kutu."
"Sudah sudah sudah! Ayo tidur. Ku matiin nih lampu."
"Jangan Ryan. Ku mohon jangan. Aku tidak bisa bernafas dalam gelap." Kata Daniel ketakutan.
"Makanya cepat tidur. Tadi katanya mau tidur. Malah asik becanda sama Riko." Kata Ryan lalu merebahkan tubuh nya di ranjang.
__ADS_1
"Kita ini kan termasuk dalam jajaran dewan direksi di perusahaan Smith group. Mengapa kita tidak mengambil masing-masing satu kamar?" Keluh Daniel.
"Alah. Itu pemborosan namanya. Ingat dulu waktu kita susah. Ranjang kecil pun kita bisa muat sampai tiga orang." Kata Riko.
"Kami yang bertiga. Kau di lantai. Gaya mu tidur seperti badak mandul." Kata Daniel mencibir.
"Sialan. Kau itu gajah bengkak." Maki Riko.
"Kapan kita ini bisa benar-benar dewasa? Aku heran dengan kita ini. Selalu seperti ini sepanjang waktu." Kata Ryan.
"Jangan paksakan diri kita menjadi dewasa kalau seperti ini saja bisa bahagia. Sok dewasa segala anda ini." Kata Daniel.
"Hahaha. Dasar bocah."
"Sialan kau Riko. Bocah-bocah begini, tapi bisa memperdayai orang tua. Hahaha..."
"Hahahahaha..."
Mereka bertiga terus saja mengobrol sampai pagi tanpa sedikitpun mereka memejamkan mata.
Mereka bertiga baru sadar ketika pelayan hotel membawa sarapan sekaligus menyampaikan pesan bahwa orang-orang yang dikirim oleh Tuan Barry sudah menunggu mereka di bawah.
Alangkah terkejutnya mereka ketika mengetahui kalau hari sudah pagi.
"Tuh kan. Apa kata ku. Kalau begini terus kita tidak akan bisa tidur." Gerutu Ryan kepada kedua sahabatnya itu.
"Taruh aja di dengkul mu." Kata Daniel sambil melemparkan selimut ke wajah Ryan lalu lari menuju pintu.
"Sialan kau Daniel. Tunggu aja pembalasan ku." Maki Ryan ketika tidak dapat membalas perbuatan Daniel.
*********
Seorang pemuda tampan tampak sedang asik menatap ke arah layar ponsel miliknya.
Sesekali terdengar gumaman yang tidak jelas dari bibirnya seakan-akan sedang mengatakan sesuatu namun entah apa.
Ulah dari pemuda ini tidak luput dari perhatian seorang wanita cantik berambut sedikit lewat bahu dan memiliki kulit kuning langsat.
Sesekali gadis itu mengernyitkan kening. Sesekali dia tampak tersenyum geli melihat pemuda itu.
"Ada apa Kak Jerry? Kau tampak sangat serius melihat ke layar ponsel." Tanya Wanita itu kepada pemuda bernama Jerry tadi.
"Eh Clara! Coba kau lihat ini. Pemandangan yang sangat cantik. Ini seperti taman syurga. Aku membayangkan jika kita berdua berada di taman-taman yang dilingkari dengan bebukitan ini. Pasti sangat menyenangkan." Jawab Jerry sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Clara.
"Di mana itu kak? Wah..., indah sekali." Kata gadis itu penuh kekaguman.
"Ini aku sedang baca di google. Aku terlalu suka melihat foto ini sampai lupa mencari informasi tentang tempat ini. Sebentar ya aku baca dulu." Kata Jerry sambil meraih gadis itu agar bersandar di pundak nya.
__ADS_1
"Gardenhill."
Tanpa terasa kata-kata itu keluar dari mulut Jerry membuat Clara kini melepaskan rangkulan lengan Jerry.
"Garden hill Kak?" Tanya Clara.
"He'em. Nama tempat ini adalah Gardenhill. Tempat ini masih sangat alami. Walaupun perkampungan ini sudah layak disebut kota, namun di sana tidak ada pabrik. Tidak ada gedung-gedung pencakar langit seperti Metro city dan Starhill. Pokoknya di sana itu masih sangat alami. Kita bisa menghirup udara segar setiap hari seperti waktu di mountain slope dulu." Kata Jerry menjelaskan.
"Bawa aku ke sana kak. Aku suka tempat itu." Kata Clara manja.
"Iya sayang. Kita akan berangkat ke sana. Aku berniat untuk membuka usaha kecil-kecilan di sana. Kita bisa membuka kafe, restoran mini, kemudian kita bisa mengupah orang untuk menjaga hewan peliharaan karena kita juga akan berternak dan berkebun. Bagaimana?" Tanya Jerry sambil mencubit hidung gadis itu.
"Sepertinya itu idea yang sangat bagus. Tapi uang nya dari mana sayang?" Tanya Clara seperti putus asa.
"Uang? Hahaha... Apakah kau menyangka setelah aku mengembalikan semuanya kepada kakek, terus kita jatuh miskin. Begitu kah?" Tanya Jerry.
"Kan memang iya. Kita kan sudah tidak punya apa-apa lagi." Jawab Clara yang memang tidak tau apa-apa.
"Sayang.. Kita tidak jatuh miskin. Walaupun uang kita tidak sebanyak ketika aku masih menjadi pengusaha, tapi untuk menjalani kehidupan, kita masih mampu dan lebih dari cukup. Sampai saat ini aku masih menjadi pemegang saham terbesar di Future steel Company. Bahkan uang empat juta yang aku terima dari menjual mobil kepada Ivan pun cukup jika hanya untuk membangun sebuah kafe serta restoran mini. Siapa bilang kita sekarat?" Tanya Jerry.
"Kalau begitu aku setuju."
"Nah gitu lah. Pagi hari kita bertani. Sorenya kita membuka kafe. Kemudian malam nya kita bikin anak. Bagaimana menurut mu?"
"Hahaha. Jangan bicara seperti itu Kak. Aku jadi malu." Kata Clara sambil membenamkan wajah nya ke dada bidang milik Jerry.
"Kau malu apa mau?" Tanya Jerry semakin menggoda gadis itu.
"Dua-duanya." Kata Clara sambil mencubit pinggang Jerry membuat pemuda itu menjerit tertahan karena menahan antara geli dan sakit.
"Ayo sayang kita siap-siap meninggalkan hotel ini. Waktunya kita mengembara keliling dunia sebelum menetap di Gardenhill." Ajak Jerry.
"Selanjutnya, kemana kita akan pergi kak? Tanya gadis itu.
"Berbulan madu keliling dunia sampai kita letih. Mari sayang! Jangan sia-siakan detik-detik manis ini. Karena suatu saat kita akan merindukan moment dimana kita pernah melaluinya. Dan sayangnya, kita tidak akan bisa lagi kembali ke masa itu."
"Aku menghargai setiap detik kebersamaan kita. Kau tau apa yang paling membahagiakan buat ku?" Tanya gadis itu.
"Apa itu?" Tanya Jerry.
"Hal yang paling membahagiakan buat ku adalah ketika kau menjatuhkan pilihan terhadapku lalu memperjuangkannya. Bagiku, itu lebih berharga daripada dunia dan isinya."
"Uhhh... Aku semakin mencintaimu." Kata Jerry sambil memeluk Clara dengan penuh kasih sayang.
"Terimakasih gadis berbaju merah. Aku akan tetap ada dalam apapun keadaan. Aku akan menjaga mu, menyayangi dirimu dan berusaha semampuku sebagai seorang manusia yang serba kekurangan untuk membahagiakan mu. Pegang janjiku erat-erat!" Kata Jerry.
"Janjimu ku genggam." Kata Clara sambil mengepalkan tinjunya ke atas.
__ADS_1