
Bab 93.
Suasana pertemuan di Villa tuan Smith saat ini berlangsung campur aduk. Ada kalanya mereka sangat serius membahas sesuatu. Terkadang ada kalanya tuan William dan tuan Smith bertengkar tak berkesudahan.
Namun saat ini sepertinya Jerry sedang serius membahas beberapa perkara dengan tuan James.
"Anak muda. Seperti yang saya katakan tadi bahwa saat ini keluarga Patrik benar-benar sedang kacau-balau. Sekarang ini Villa tuan besar ku tak ubah seperti sarang mafia. Ini karena Robin selalu di dampingi oleh Ramsey dan anak buah nya. Aku hanya khawatir jika suatu saat mereka akan mengalihkan bisnis keluarga kepada obat-obatan terlarang. Dan ini akan menjadi malapetaka besar bagi Metro City." Kata tuan James mengemukakan ke-khawatiran nya.
"Jujur saja Tuan. Sebenarnya aku tidak begitu tertarik dengan masalah yang di hadapi oleh keluarga Patrik. Namun ini menyangkut balas dendam dan juga janji ku kepada Ivan untuk membantunya membebaskan kakek nya yang di tahan oleh Robin." Kata Jerry mengemukakan ketidak tertarikannya terhadap masalah dalam keluarga Patrik.
"Tidak semuanya salah anak muda. Semua ada hubung-kaitnya. Jika keluarga Patrik dalam keadaan stabil, apa mungkin anak muda bisa mengikis kekuatan yang mereka miliki? Justru karena masalah dalam keluarga Patrik ini lah harus kau pergunakan sebaik-baiknya untuk menarik seluruh sumber daya yang dia miliki. Dengan berkurang nya kekuatan finansial dan sumber pendapatan yang mereka miliki saat ini, maka kehancuran Robin tinggal menunggu waktu saja."
"Jadi menurut anda Tuan James? Dari mana saya harus memulai urusan dengan Robin ini?" Tanya Jerry.
"Informasi yang aku dapatkan adalah, bahwa Robin akan mengikuti pelelangan hotel bekas proyek yang di kerjakan oleh ayah mu dulu. Hotel itu terletak di MegaTown City. Menurut kabar, pemilik sebelum nya akan membuka harga hotel Bintang 6 itu." Kata tuan James mengemukakan rencananya.
"Sebenarnya ada hubungan emosi antara Robin, Hotel mutiara bintang 6 dan ayahmu. Ini adalah persaingan tanpa batas antara mereka. Ayahmu Wilson memiliki sebuah impian dan menjadikannya nyata lewat pembangunan hotel itu. Walau pun mengalami banyak penghianatan, namun Hotel itu nyaris selesai dibangun sebelum kematiannya." Tuan James menarik nafas sejenak.
"Hotel mutiara itu adalah lambang kesuksesan generasi penerus keluarga William dibidang konstruksi. Pada saat itu orang-orang hanya berfikir tentang hotel bintang 5. Namun ayah mu memiliki pemikiran beberapa langkah lebih maju ketika itu. Dan kau tau berapa usia ayah mu ketika itu?" Tanya tuan James.
Jerry hanya menggelengkan kepalanya karena memang dia tidak memiliki banyak informasi tentang sepak terjang ayah nya dimasa hidup nya.
"Jerry..., ketahui lah. Saat ayah mu memenangkan adu tender untuk proyek besar di MegaTown, ketika itu usia nya baru 17 tahun. 5 tahun lebih muda dari mu saat ini." Kata tuan William dengan mata memerah.
"Ayah mu adalah orang yang sangat jenius dan memiliki visi dan misi yang jelas. Tuan ku Aaron Patrik sampai berdoa siang dan malam agar di beri rahmat oleh Tuhan utuk sedikit saja memiliki kecerdasan Wilson dan diberikan kepada Robin. Mungkin ini lah sebabnya Robin merasa selalu merasa rendah diri dan sangat membenci ayah mu." Kata tuan James.
"Lalu Tuan James, tadi anda mengatakan bahwa Robin akan mengikuti tender itu. Apa anda memiliki sesuatu yang harus aku kerjakan?" Tanya Jerry.
"Anak muda, Robin sangat menginginkan Hotel itu menjadi miliknya. Dia akan bertarung sampai akhir untuk memenangkan walau berapa pun harga nya." Kata tuan James.
"Apakah anda mendapat informasi berapa harga hotel itu di buka Tuan?" Tanya Jerry ingin tahu.
"Pemilik hotel itu adalah pemerintah setempat dan itu masuk dalam dartar aset negara. Kabar yang saya terima adalah, mereka membuka harga untuk pelelangan itu dengan harga dasar 400 juta USD dan harga bisa saja terus meningkat dengan minimal kenaikan yaitu 10 juta USD." Kata tuan James.
"Hmmm..., harga yang cukup fantastis untuk sebuah bangunan hotel bintang 6." Kata tuan Smith.
__ADS_1
"Jerry, aku berharap agar kau mau berpartisipasi dalam tawaran pelelangan itu."
"Aku tau maksud anda Tuan James. Baiklah. Aku akan mengikuti pelelangan itu." Kata Jerry.
"Jerry, apakah kau memiliki cukup uang? Jika memungkinkan, berusaha lah untuk memenangkan lelang itu. Ini karena Hotel itu memiliki hubungan yang sangat erat dengan mendiang ayah mu." Kata tuan William.
"Tidak kakek. Aku tidak tertarik dengan Hotel itu. Hati ku akan semakin sakit." Kata Jerry.
"Baiklah Jerry. Semua informasi dan rencana telah kita bahas cukup panjang. Jujur saja aku masih ingin berlama-lama disini. Namun itu akan tidak baik untuk ku karena, Robin pasti akan mencurigai ku. Jerry, jaga dirimu dengan baik. Berhati-hati lah karena Robin sangat ingin mencelakai mu." Kata tuan James lalu meminta diri untuk segera kembali ke Villa Patrik.
"Selamat jalan Tuan James. Jaga kakek Ivan dengan baik. Katakan bahwa tidak lama lagi kami akan datang untuk membebaskan nya." Kata Jerry berpesan.
"Jangan khawatir anak muda. Itu memang sudah menjadi tugas ku." Kata nya lalu melangkah meninggalkan ruangan itu.
Setelah tuan James pergi meninggalkan Villa tuan Smith yang di antar langsung oleh Jerry sampai ke depan pintu, Jerry pun segera kembali ke ruangan itu dan kembali duduk di ikuti oleh Syam, Drako, Regan dan yang lainnya.
"Jerry. Mari ikut dengan ku ke Villa William untuk menemui Jackson. Atau kita langsung saja ke kantor pusat William Group. Aku akan mengadakan rapat mendadak untuk mengurus segala peralihan aset dan menjadikan mu pemegang saham mayoritas." Kata tuan William.
"Aku menurut saja kek. Tapi jangan sampai Paman ku tau tentang apa yang telah dilakukan oleh bibi Dianna. Ini karena aku takut dia akan menceraikannya dan mengacaukan rencana ku?" Kata Jerry.
"Jerry, sebenarnya apa yang akan kau lakukan dengan Dianna ini?" Tanya tuan William.
"Hmmm..., kali ini Dianna benar-benar mendapat lawan yang sepadan." Kata tuan Smith.
"Baik lah Jerry. Ayo kita berangkat segera. Makin cepat makin baik. Agar tepat tengah malam kau bisa sampai di Hotel teratai di Mountain Lotus." Kata tuan William.
"Baiklah kek. Mari!" Kata Jerry.
Begitu Jerry ingin bangkit dari duduknya, Ryan segera menahannya.
"Ada apa Ryan?" Tanya Jerry.
"Pinta alamat nya saja Jerry. Kita bertiga akan naik taxi." Kata Ryan.
Jerry hanya mengangguk saja dan segera meminta alamat kantor William Group kepada kakek nya.
__ADS_1
"Mengapa kita tidak sekalian saja berangkat bersama Jerry?" Tanya Tuan William.
"Jawab Ryan!" Pinta Jerry sambil menatap kearah Ryan.
"Tuan besar, jika kami mengikuti anda untuk berangkat bersama, ini akan membahayakan keselamatan anda dan juga kami. Bagaimana pun saat ini keadaan di Metro city sangat kacau. Menurut apa yang terjadi pada pagi ini, bukan mustahil bahwa akan ada pihak yang memata-matai anda Tuan. Jika mereka melihat anda sedang bersama dengan tiga pemuda, maka mereka akan beranggapan bahwa salah satu dari kami adalah Jerry. Dan mereka pasti akan membantai kita semua dengan cara apa pun." Kata Ryan mengemukakan alasannya.
"Siapa yang berani melakukan itu ketika Drako ada disini?" Kata Drako dengan tegas.
"Paman Drako. ada istilah mengatakan mencegah lebih baik dari mengobati. Maka, ini adalah langkah pencegahan yang dapat kami lakukan." kata Ryan.
Mendapat kata-katanya dipatahkan oleh Ryan, maka Drako hanya diam saja dan garu-garu kepala.
"Paman Syam, Tolong rintis jalan untuk kami. Kami akan segera berangkat." Pinta Ryan kepada tuan Syam.
"Baik lah jika itu sudah menjadi keputusan kalian, maka aku akan menghubungi anak-anak buah ku untuk memantau keadaan." Kata tuan Syam.
"Terimakasih paman Syam." Kata Jerry.
"Ayo Daniel, Ryan.., kita berangkat." Kata Jerry.
"Katakan kepada kakek mu untuk mengatur jarak dengan kita Jerry. Biarkan kita berangkat terlebih dahulu dan setelah 30 menit, barulah kakek mu menyusul." Kata Ryan.
"Siap komandan." Kata Jerry.
Lalu mereka bertiga berpamitan dengan tuan Smith dan segera berjalan keluar sambil memesan taxi Online.
"Kita sangat beruntung." Kata tuan Smith.
"Apa maksudnya Leon?" Tanya tuan William.
"Beruntung karena yang di harapkan 1 tapi yang kita dapat 3." Kata tuan Smith.
"Maksudmu ketiga bocah itu?" Tebak tuan William.
"Siapa lagi?" Kata tuan Smith.
__ADS_1
Lalu mereka tertawa terbahak-bahak seperti orang mabuk.
Bersambung...,