
...Villa William Bukit Metro....
Seorang lelaki tua tampak sedang khusuk memperhatikan dua orang pemuda yang masih terbaring tak bergerak di ranjang tempat tidur sambil di temani oleh dua orang lelaki lainnya yang berumur sekitar 45 tahun dan yang satunya lagi hampir mencecah enam puluhan.
Berulang kali lelaki tua itu menusukkan jarum ke urat syaraf lelaki yang terbaring itu sehingga di beberapa bagian tubuh pemuda yang terbaring itu saat ini di penuhi oleh jarum.
"Hmmm...?!" Kata lelaki tua itu bergumam pelan.
"Bagaimana Paman Malik? Apakah ada tanda-tanda putra kami akan siuman?" Tanya seorang lelaki setengah baya.
"Ambilkan aku air hangat!" Kata lelaki tua yang ternyata adalah kakek Malik itu tanpa menjawab pertanyaan lelaki setengah baya tadi.
Lelaki setengah baya itu tidak berani lagi bertanya apa lagi menbantah. Dia segera melakukan apa yang disuruh oleh lelaki tua itu.
"Kak Malik.., bagaimana dengan putra ku Kevin? Apakah masih bisa di selamatkan?" Tanya lelaki enam puluhan itu.
"Putra mu ini bandel Lenard. Harus nya dia sudah bisa bangun. Tapi dasar manja. Lihat saja! Jika satu jam lagi dia tidak bangun, aku akan menampar pipinya." Kata kakek Malik membuat lelaki enam puluhan yang bernama Lenard itu menelan ludah.
"Regan.., kau ambil bungkusan kain kumal itu! Di dalamnya ada ramuan. Kau ambil dua sendok lalu campur ke dalam segelas air hangat!" Kata kakek Malik begitu Regan datang membawa air hangat.
"Baik Paman." Kata Regan menurut.
Begitu ramuan tersebut di sedu dengan air hangat oleh Regan, mendadak di ruangan itu tercium aroma obat yang sangat menyengat.
Regan dan Lenard sedikit merasa mual mencium aroma obat tersebut.
"Hmmm.., bawa kemari, Regan!" Kata kakek Malik.
Regan buru-buru menyerahkan gelas berisi air ramuan itu ke tangan kakek malik.
Dengan pelan kakek malik menyendok air ramuan tersebut dan meminumkannya kepada kedua pemuda yang masih terbaring tidak sadarkan diri itu.
Setelah selesai, kakek malik perlahan mencabut jarum-jarum yang dia tusukkan ke urat saraf kedua pemuda itu lalu membentak,
"Banguuuun!!!"
Mendadak David dan Kevin terlonjak bangun karena bentakan seperti halilintar itu.
Jangankan David dan Kevin yang benar-benar suara bentakan itu sangat dekat dengan telinga mereka. Sedangkan Lenard dan Regan saja hampir terkencing kaget karena bentakan itu.
"Di mana aku?" Itu adalah pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Kevin begitu dia terbangun.
__ADS_1
Berbeda dengan Kevin, David malah memperagakan jurus-jurus seperti sedang menangkis serangan yang datang ke arah nya. Dia menunduk, menghindar dan menangkis membuat Regan terbengong-bengong melihat aksi putranya tersebut.
"Heh sudah lah. Apa yang kau lakukan?" Kata kakek Malik sambil mendorong kening David hingga dia kembali terlentang dengan tatapan nanar ke langit-langit ruangan.
"Apakah kau ini malaikat penghuni neraka yang akan menyiksa ku? Tolong jangan siksa aku. Aku ini anak yang baik. Jika tidak percaya, tanya saja sama ayah ku." Kata David meracau begitu melihat tampang kakek Malik yang hanya tinggal kulit pembungkus tulang.
"Anak bodoh. Minum ini!" Kata kakek Malik sambil memberikan air ramuan kepada David menggunakan sendok.
Sama seperti David. Kevin juga seperti sangat ketakutan melihat tampang kakek Malik dengan mata cekung dan tulang rahang bersembulan.
Kevin setengah mati berusaha memejamkan matanya tidak berani bertatap mata langsung dengan lelaki tua itu.
Regan dan Lenard saling pandang dengan wajah penuh kebahagiaan melihat putra mereka sudah bangun dari koma selama enam bulan.
Dia baru saja ingin membuka mulut untuk berbicara namun segera menunduk hormat begitu melihat seorang pemuda memasuki ruangan pengobatan itu.
"Anda di sini Tuan muda?" Kata Lenard sambil menunduk hormat.
"Selamat datang Tuan muda." Kata Regan yang juga memberi hormat.
"Bagaimana dengan Kevin dan David Paman?" Tanya pemuda itu.
"Syukur kepada Tuhan berkat bantuan Paman Malik, mereka berdua sudah menunjukkan kemajuan." Kata Regan menjawab pertanyaan tuan muda itu.
"Salam untuk Kakek." Kata pemuda itu meraih tangan lelaki tua itu dan meletakkannya ke kening.
"Hmmm.., kau datang kemari Jerry? Sepertinya kau ingin mengatakan sesuatu." Kata kakek Malik.
"Benar Kek. Besok aku akan berangkat ke Starhill selama dua hari. Aku ingin melihat rumah dan juga membawa kak Arslan untuk pulang. Kasihan anak perempuan nya sudah lama di tinggal di rumah pengasuh." Kata Jerry.
"Pergilah. Nanti jika ada sesuatu, aku akan menyuruh Drako untuk memberitahu kepada mu." Kata kakek Malik.
"Terimakasih Kek. Apakah aku di izinkan membawa Clara?" Tanya Jerry ragu-ragu.
"Clara memiliki ayah dan ibu. mengapa kau harus bertanya kepadaku?" Tanya kakek Malik sambil melotot.
"Eh.., em..., iy.., iya Kek. Nanti akan aku tanyakan kepada bibi Roxana." Kata Jerry salah tingkah dan gugup sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Baru saja Jerry ingin berlalu meninggalkan ruangan itu, tiba-tiba Kevin berteriak. "Tuan muda. Ternyata anda masih hidup."
"Apa? Apakah.., mana tuan muda?" Tanya David sambil berusaha untuk bangkit namun gagal karena kembali jidatnya di dorong oleh kakek Malik.
__ADS_1
"Kalian Istirahat yang cukup dan jangan melawan kepada Kakek Malik jika ingin selamat." Kata Jerry.
"Tapi Tuan muda...?!"
"Sudah lah. Kau harus lekas sembuh. Aku rindu dengan pantun di sana gunung di sini gunung mu itu." Kata Jerry sambil tersenyum.
"Hahaha... Terimakasih Tuan muda. Tapi aku lapar." Kata Kevin karena mendadak sesuatu bersuara dari dalam perut nya.
"Beri mereka makan bubur terlebih dahulu. Ini karena usus mereka bisa kaget apabila kau memberikan makanan yang biasa di makan oleh orang yang sehat." Kata kakek Malik kepada Lenard.
"Baik Kak. Aku akan menuruti kata-kata mu." Kata Lenard sambil bergegas ke belakang untuk meminta juru masak menbuatkan bubur.
"Aku pamit dulu Kek." Kata Jerry.
"Hmmm...." Hanya itu saja jawaban dari kakek Malik.
Baru saja Jerry keluar dari kamar di mana David dan Kevin di rawat, tiba-tiba satu suara menegurnya dari belakang.
Jerry segera berbalik dan melihat seorang lelaki tua sedang berjalan ke arah nya sambil membawa tongkat berwarna keemasan.
"Dari mana dan mau kemana mau Jerry?" Tanya lelaki tua itu.
"Aku mau pulang ke Starhill." Kata Jerry cuek.
"Mengapa? Apakah kau tidak betah tinggal di Metro city ini?" Tanya lelaki tua itu.
"Ya aku tidak betah. Aku akan mengemas barang-barang ku di Starhill. Setelah itu aku akan mengembalikan perusahaan William kepada Kakek dan aku akan menjalani kehidupan sebagai seorang petani di Mountain slope." Kata Jerry.
Bukan main terkejutnya lelaki tua itu mendengar pernyataan dari Jerry. Dia tidak menyangka bahwa Jerry masih marah kepadanya.
"Aku tau kau marah kepada ku Jerry. Itu adalah salah ku. Aku terlalu memaksakan kehendak. Tapi apakah kau tidak menganggap aku sebagai kakek mu lagi? Kau kembali ke Metro city tapi baru kali ini kau kembali ke rumah. Itu pun hanya untuk menjenguk Kevin dan David. Apakah aku ini sudah tidak kau anggap lagi?" Tanya lelaki tua itu.
"Maaf Kek. Aku tidak ingin berhutang kepada siapa pun setelah ini. Aku tidak ingin kehidupan ku di dikte oleh Kakek. Aku adalah kapten untuk diriku sendiri. Dan pantang bagiku untuk menuruti sesuatu yang tidak membuat aku bahagia." Kata Jerry masih tetap ketus.
Sejujurnya dia masih merasa kesal dalam hatinya karena akibat dari perjodohan itu lah yang hampir membuatnya tidak lagi melihat matahari. Dia hampir saja terbunuh. Jika bukan karena kedua kakek nya terlalu memaksa, dia mungkin tidak akan kabur dari Villa dan akhirnya di keroyok oleh anak buah Ramendra dan Robin.
"Kakek meminta maaf kepada mu Jerry. Tapi itu adalah keputusan mu, dan aku hanya bisa menerima saja." Kata lelaki tua itu.
"Perusahaan William Group sudah stabil. Nilai pasar saham meningkat 25%. Penghianat telah di bersihkan. Apa lagi yang perlu aku lakukan di perusahaan? Biarkan paman Jackson dan Kenny yang mengelola perusahaan. Aku sudah terbiasa menjadi orang miskin. Tidur di kasur empuk membuat tulang-tulang ku terasa sakit." Kata Jerry.
"Baiklah. Kakek menyerah. Setelah ini, kau jaga dirimu baik-baik." Kata lelaki tua itu.
__ADS_1
"Besok Mr.Brylee akan membawakan surat-surat dokumen penting tentang pengembalian 70% saham kepada CEO dan CHAIRMAN perusahaan William Group. Semua sudah aku tanda tangani. Besok aku akan membuat pengakuan di dalam rekaman video dan biarkan paman Jackson dan Mr. Brylee yang melakukan konferensi pers. Ini karena selain mengembalikan mayoritas saham kepada CEO William Group, aku juga akan mengembalikan perusahaan Smith Group kepada kakek Smith." Kata Jerry lalu tanpa berkata-kata lagi segera membungkuk dan mencium tangan lelaki tua itu kemudian segera berlalu.
Bersambung...