PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Bab 55 Pertengkaran


__ADS_3

"Sama. Bapak juga hobi memancing maka nya nggak bosan melakukan nya setiap hari". Jelas Rehan menjawab pertanyaan anak nya tadi..


"Ya beda la, pak. Hansi menjahit terlihat hasil nya setiap Hansi menjahit, la bapak nggak ada tu, seekor ikan kecil ini jeh...". Bantah Hansi tak sependapat dengan Rehan..


Rehan mengacak rambut putri nya karena gemas. Usia yang sudah memasuki lima belas tahun tapi sifatnya sangat manja sehingga Rehan selalu gemas dengan celoteh nya.


"Eh,, bapak!". Elak Hansi kesal.


Rehan mengejar Hansi sampai ke rumah, gadis itu sangat lincah dan rajin ia jadi khawatir untuk meninggalkan putrinya itu saat ke kota nanti. Tapi mengajak Hansi ke sana lebih nggak mungkin karena akan membuatnya repot saat mencoba meraih hati mantan istrinya lagi.


"Kalian ini seperti anak kecil saja. Sana pergi mandi!". Ujar Desi, istri Rehan.


"Iya mamak". Sahut Hansi berlari masuk melalui pintu dapur sebelum itu, ia memberikan hasil pancing bapak nya pada Desi.


"Hanya ini hasil nya, mas?". Tanya Desi ketus pada Rehan..


"Emm". Jawab Rehan cuek.


"Aku heran dengan mu mas. Kami tahu kita ini hanya mengandalkan hasil kebun teh ibu untuk bertahan hidup. Tapi mas sama sekali nggak ada usaha untuk mencari tambahan uang. Hansi bahkan lebih peka mencari uang berbanding kamu mas..". Cerca Desi kesal pada tingkah malas sang suami.


"Selalu itu saja yang kesal kan setiap hari. Kamu nggak bosan?". Sahut Rehan terdengar ketus.


"Bagaimana aku nggak kesal setiap hari, mas kalau mas sama sekali nggak peduli dengan keluh kesah ku ini. Mas tetap pada kebiasaan buruk mas ini". Balas Desi.


"Coba kamu katakan pada ku, kerja apa yang bisa aku lakukan di sini?". Tantang Rehan pada istrinya.


"Di pulau ini bukan hany kita tapi hidup mereka lebih terjamin dari kita karena suami nya rajin bekerja. Nggak gengsi seperti kamu mas. Memang rumah kita paling besar di desa ini dan memiliki kebun teh yang ping luas tapi pengeluaran kita hanya bergantung pada itu nggak ada tambahan alim sehingga hidup kita lebih buruk dari orang lain". Sahut Desi.

__ADS_1


"Terus kamu mau aku melakukan apa sampai kamu puas dan nggak marah - marah lagi seperti ini?". Tanya Rehan semakin di buat kesal oleh istrinya.


"Kerja, mas! Kerja!". Jawab Desi dengan berteriak frustasi.


"Kerja apa?". Tanya Rehan dengan nafas yang naik turun karena kesal..


"Kerja apa aja, kamu bisa kerja di kebun teh ibu agar mengurangi bayaran untuk perkerja di kebun, gaji mereka lebih lumayan dari pada ikan kecil yang setiap hari kamu dapatkan ini". Cerca Desi memberi saran..


"Apa? Kamu mau aku kerja kebun teh? Nggak, enggak...aku nggak mau kerja kayak gitu. Kalau kamu mau mendapatkan uang lebih, kamu aja yang kerja di sana". Tolak Rehan gengsi.


"Itu lah beda nya kamu sama suami orang lain. Mereka sama sekali nggak gengsi bekerja apa pun demi menghidupi istrinya. Lah kamu malah meminta istri kamu sendiri yang bekerja sedangkan kamu hanya tinggal di rumah goyang kan kaki. Makan tinggal makan, mau uang beli rokok tinggal minta sama ibu. Kamu nggak malu jadi benalu di rumah ini?". Ujar Desi memancing emosi suami nya.


Plaakkk..


Satu tamparan mendapat ke pipi Desi. Wajahnya memerah bekas tamparan itu, mata nya berkaca - kaca karena lagi dan lagi suami nya tega menamparnya padahal ia cuma ingin menuntut hak nya sebagai istri yang perlu di nafkahi dengan layak.


"Kamu kenapa menampar istri mu, Rehan?". Ibu Rehan bernama bu Wahida melihat anak nya menampar menantu kesayangan nya.


"Tapi tidak dengan menampar nya Rehan. Ibu sudah berapa kali memperingati mu agar tidak menyakiti fisik istri walau sebesar apa pun kesalahan nya. Lagi pula apa yang sudah Desi katakan sampai kamu marah banget seperti ini?". Tanya Bu Wahida membela menantunya.


"Tapi pakai cara halus dia sama sekali nggak peduli dan tetap menghina ku, bu. Jadi aku harus sabar terus meskipun dia terus - terusan mengatakan ku benalu di rumah ibu ku sendiri?". Cerca Rehan kesal.


"Menurut kamu apa yang di katakan Desi itu benar atau tidak?". Tanya Bu Wahida pada Rehan.


Rehan membulatkan matanya nggak percaya jika ibu nya terdengar membeli sang istri padahal ia anak kandung nya sedang di rendahkan. Rehan membuang muka ke arah lain karena sudah jelas ia juga membenarkan yang di katakan sang istri. Cuma karena ia gengsi untuk mengakui hal itu dan tak mau istrinya terus - terusan merendahkan nya..


"Jawab ibu, Rehan!". Kini tampak bu Wahida yang kesal pada anak nya sendiri.

__ADS_1


"Sampai kapan kamu akan seperti ini. Kamu udah dewasa bahkan anak mu udah masuk usia remaja dan sudah pasti banyak memerlukan biaya sekolah dan untuk pertumbuhan nya juga. Sedangkan penghasilan kebun semakin menurun. Coba lah bertanggungjawab sedikit nak". Kata Bu Wahida membujuk putranya.


Rehan menghela nafas berat. Ia semakin di desak untuk berpenghasilan sedangkan ia sama sekali tak berminat dengan kerja yang ada di desa pulau ini. Semuanya berat dan tak sesuai gaji yang di dapatkan, makanya ia lebih suka memancing berbanding kerja tapi uang nya nggak sebanding dengan keringat nya.


"Baik lah. Kalau itu mau kalian berdua. Aku akan mulai bekerja lagi". Akhirnya Rehan menyetujui permintaan istri dan ibunya.


Desi dan Bu wahida saling pandang sambil melemparkan senyum senang.


"Mas serius?". Tanya Desi tampak sumbringan.


"Iya tapi dengan satu Syarat". Imbuh Rehan dengan jelingan mata tajam.


"Syarat? Aneh - aneh aja kamu ini mas. Untuk menjalan kan tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga aja pakai syarat segala. Kamu niat nggak sih kerja nya untuk kami keluarga mu ini?". Senyum Desi kembali pudar karena Rehan sama sekali nggak ikhlas mencari nafkah.


Bu Wahida mengusap punggung menantunya agar bersabar dan menuruti aoa saja keinginan Rehan asal pria itu mau bekerja.


"Apa syarat nya?". Tanya bu Wahida tanpa senyum di wajah nya.


"Aku mau keluar dari pulau ini dan mencari kerja di kota yang ada di pulau lebih besar dan lebih menjanjikan". Sahut Rehan to the point.


"Apa? Kamu nggak sedang bercanda kan, nak?". Bu Wahida berubah khawatir dengan anak nya.


"Aku serius dengan syarat ku. Setuju tak setuju, tekat ku sudah bulat. Aku akan tetap pergi dari sini meskipun kalian tak menyetujui nya. Beda nya kalau kalau setuju maka aku akan mengirim sebagian gaji ku pada kalian tapi jika tidak maka jangan harap aku akan mengirim sepeser pun uang untuk menafkahi kalian". Jelas Rehan memaksakan kehendaknya.


Ia berniat untuk meminta baik - baik pada mereka tapi tingkah Desi membuatnya hilang kesabaran di tambah lagi ibunya siap membela Desi secara langsung membenarkan hinaan kepada nya. Sakit hati itu sudah tentu tapi membantah pun semua yang mereka katakan benar. Rehan hanya benalu dalam keluarga nya sendiri.


"Ibu nggak akan izinin kamu pergi, Rehan. Lebih baik kamu tinggal di sini saja tak usah kerja pun nggak papa asal kamu nggak jauh - jauh dari ibu". Ujar bu Wahida keberatan dengan niat Rehan untuk pergi dari pulau ini.

__ADS_1


"Ibu ini apa - apaan, sih! Biarin aja dia pergi, sudah tanggung jawab nya menafkahi ku dan anak nya. Untuk apa juga ibu selalu menahan nya pergi dan bahkan sengaja tidak ingin menyembuhkan ingatan nya padahal seharusnya ingatan mas Rehan sudah kembali jika melakukan perawatan dengan rutin". Imbuh Desi mengeluarkan unek - unek nya yang selama ini ia pendam.


"Diam kamu! Bukan Rehan yang benalu di rumah ini tapi kamu!". Kini giliran Bu Wahida memarahi Desi karena ulah nya Rehan berniat meninggalkan pulau ini.


__ADS_2