
Beberapa bulan kemudian.
Rumah sakit bersalin Metro City.
Rumah sakit bersalin Metro city, rumah sakit yang sama dimana dulu Jerry dilahirkan.
Di luar sebuah ruangan, tampak puluhan lelaki dari berbagai usia kini tampak harap-harap cemas di wajah mereka.
Tidak ada wajah dari semua orang ini yang sedang tersenyum. Ini karena seorang menantu wanita kesayangan mereka serta putri dari penguasa dunia hitam sedang berjuang di dalam ruangan yang pintunya terkunci dari dalam itu.
"Syam. Aku tidak pernah seperti ini Syam. Rasanya lutut ku ini mau copot." Kata Drako kepada sahabatnya bernama Tuan Syam itu.
"Santai sedikit Drako. Kuasai dirimu. Aku juga merasakan hal yang sama ini." Kata Tuan Syam pula.
Sementara itu dua orang lelaki tua yaitu Tuan besar Smith dan Tuan besar William tampak mondar-mandir dengan tongkat di tangan masing-masing.
Karena terlalu khawatir, sampai-sampai kedua naga ompong ini beberapa kali nyaris bertabrakan.
"Minggir kau Leon!" Kata Tuan William sambil mendelik.
"Setan ompong. Kau yang menghalangi jalan ku." Balas Tuan Smith pula.
"Aku terlalu mengkhawatirkan cucu menantu kita itu." Kata Tuan William.
"Sama aku juga."
Jerry William yang selama ini tampak sangat kocak dan tidak pernah serius tanpa sadar hanya terduduk di lantai rumah sakit itu dan bersandar di dinding.
Keringat dingin sejak tadi terus bercucuran di dahi nya.
Di antara semua orang, hanya kakek Malik lah yang terlihat tenang-tenang saja. Sedikitpun tidak ada kekhawatiran di wajahnya.
"Sebaiknya kalian bantu dengan doa. Bukan malah mondar-mandir seperti strika rongsokan begitu.
Kau juga Drako. Sejak tadi lutut mu itu tidak bisa diam. Sekarang ayo berdoa! Mohon kepada Tuhan agar Clara dipermudah." Kata Kakek Malik menegur mereka yang ada di tempat itu.
Dari arah lorong rumah sakit, kini muncul beberapa muda-mudi dan langsung menghampiri Jerry.
"Bagaimana Jerry? Apa sudah lahiran?" Tanya pemuda itu.
"Belum Van. Sepertinya anak ku ini sangat bandel." Kata Jerry.
"Kau duduk di kursi Jerry. Tidak baik seperti itu." Kata Ryan.
Jerry hanya mengangguk saja dan menuruti perkataan sahabatnya itu.
"Hahh... Ini adalah moment yang sangat mendebarkan dalam hidup ku. Seumur hidup aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini." Kata Jerry.
__ADS_1
"Begitulah yang dirasakan oleh ayah kita dulu." Kata Riko pula.
"Makanya setiap anak yang merayakan hari ulang tahunnya wajib untuk memuliakan seorang ibu. Karena di hari ulang tahun kita, pada hari yang sama beberapa tahun yang lalu ibu kita sedang berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan kita ke dunia ini. Celaka bagi seorang anak jika tidak memuliakan ibu nya." Kata Ryan pula.
Perkataan Ryan ini kontan saja membuat Jerry dan Ivan menangis.
"Aku sudah tidak memiliki ibu sejak aku lahir." Kata Jerry.
"Aku juga tidak memiliki ibu sejak berusia sepuluh tahun. Sejak saat itu aku di besarkan dalam keluarga Patrik dimana ayah ku sama sekali tidak menghendaki kehadiran ku. Aku bahkan mendapat gelar anak haram dan putra tidak sah." Kata Ivan pula.
"Tidak punya ibu, maka tumpahkan seluruh kasih sayang mu terhadap istrimu yang telah melahirkan anak untuk mu." Kata Daniel pula.
*********
Waktu berjalan terasa sangat lambat bagi mereka yang ada di tempat itu.
Ketegangan di wajah mereka yang sejak tadi persis seperti karet ban mendadak berubah menjadi ceria begitu dari arah kamar terdengar suara tangisan seorang bayi.
"Hah. Aku jadi kakek." Kata Drako berjingkrak riang.
Sejak tadi mantan ketua organisasi dunia hitam ini berdoa dengan khusuk sekali. Kini doanya diijabah oleh Tuhan. Itu yang membuat dirinya senang bukan main. Dengkulnya juga tidak bergoyang disko seperti tadi.
Begitu juga dengan wajah semua orang. Mereka tampak sangat gembira sekali.
"Van. Aku jadi ayah. Hey Ryan. Aku jadi ayah." Kata Jerry sambil bangkit berdiri.
Tak lama kemudian seorang dokter wanita keluar dari dalam ruangan itu lalu berkata. "Mohon maaf Tuan Jerry."
"Ya hadir. Siap!" Kata Jerry sambil maju ke depan.
"Selamat Tuan Jerry. Anak anda adalah seorang lelaki. Saat ini keadaan ibu dan bayi dalam keadaan baik-baik saja." Kata Dokter tersebut.
"Syukur oh Tuhan ku..." Kata Jerry sambil meraup wajahnya dengan kedua tangan.
"Apakah saya boleh melihat istri saya Dokter?" Tanya Jerry.
"Sebaiknya jangan terlalu ramai. Keadaan si ibu masih terlalu lemah." Kata Dokter tersebut.
"Kami janji Dokter tidak akan ribut apa lagi membuat onar. Iya kan teman-teman?!" Kata Jerry.
"Benar Dokter." Jawab Ivan, Ryan, Daniel, Riko dan Lorna secara bersamaan.
"Baiklah. Ingatlah untuk tidak berbicara terlalu berisik!" Kata Dokter tersebut.
Mereka lalu memasuki ruangan itu untuk melihat putra Jerry yang baru lahir.
"Jerry. Sebaiknya kau berikan nama kepada putra mu ini!" Kata Tuan William.
__ADS_1
"Benar. Kau harus memberi nama putra mu ini secepatnya." Kata Tuan Smith pula.
"Ayo Jerry! Beri nama yang bagus untuk cucu kami ini." Timpal Drako.
Sebelum memberikan nama untuk anaknya yang baru lahir itu, Jerry terlebih dahulu mengecup kening istrinya lalu berbisik.
"Terimakasih sayang untuk hari yang indah ini. Terimakasih karena telah memberikan aku keturunan." Kata Jerry.
Clara hanya tersenyum saja sambil meraih tangan Jerry.
Aku, Jerry William memberikan nama Joe William kepada putra kami ini." Kata Jerry.
"Wah. Joe William. Nama yang sangat keren." Kata Ivan dan Lorna.
"Joe William. Nama yang sangat bagus."
"Cicit ku." Kata Tuan Smith.
"Heh. Bukan cicit mu sendiri. Dia cicit ku juga." Kata Tuan William.
"Jangan ada persengketaan hidung lagi di antara kita!" Kata Tuan William.
"Baik. Kita harus bersaing dalam memberikan kasih sayang kepada keturunan kita ini." Kata Tuan Smith.
"Anak ini tidak boleh di manja dengan sutra dan emas. Atau kelak dia akan tumbuh menjadi seorang tuan muda yang akan menindas orang yang lemah. Aku akan membawanya ke mountain slope setelah anak ini berumur satu tahun. Aku yang akan mendidiknya." Kata Kakek Malik.
"Tapi kak."
"Tapi apa? Apakah kalian mau dia menjadi anak manja dan taunya hanya Mak yah Mak yah saja? Biarkan dia menjalani hidup susah seperti orang biasa. Kalian lihat anak itu!" Kata Kakek Malik sambil menunjuk Jerry. "Anak itu adalah hasil produk kemiskinan. Lihat dia yang tidak tinggi hati. Dan kau lihat Ivan ini! Dia adalah produk hasil dari penghinaan. Dia selalu tabah dalam berbagai hal. Aku tidak ingin Joe William ini nanti terlalu dimanja sehingga otak nya jadi buntu." Kata Kakek Malik.
"Ya sudah. Lalu kapan kakak akan mengembalikan Joe kepada kami?" Tanya Tuan Smith.
"Joe akan aku kembalikan setelah berusia tujuh belas tahun. Atau aku keburu dipanggil yang maha kuasa, mungkin lebih cepat. Jika kalian ingin lebih cepat, maka berdoalah agar aku lekas mati." Kata Kakek Malik.
"Oh jangan Kak. Kami tidak ingin kau mati. Baiklah kami setuju." Kata Tuan William.
"Baiklah. Semua sudah selesai sekarang. Kini waktunya kita undur diri. Aku Jerry William mendoakan semoga semua pembaca setia novel ini diberikan kesehatan, rejeki yang banyak serta anak yang Sholeh dan Sholeha. Aamiin."
"Kami segenap pemeran dari Pewaris yang hilang undur diri dulu. Semoga pembaca semua terhibur!"
TAMAT
salam hormat dari saya, semoga kalian semua para pembaca setia karya receh saya ini dapat terhibur.
Maaf jika karya saya ini tidak bisa memberikan motivasi, mendidik serta banyak kekurangan di sana sini, itu adalah kelemahan saya yang sangat nyata.
Tidak ada gading yang tak retak.
__ADS_1
Salam hormat dari Saya, Edane Sintink. Sang author receh.