PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Bab 72 Wanita pilihan Ronal


__ADS_3

Meri menjauh dengan menahan kesal pada Ronal. Sudah beberapa hari Ronal tidak menyentuhnya, pada saat bangun pula ia mendapati Ronal tidak lagi tidur di samping nya. Ia sangat kenal dengan pria itu, sehari tak melaku lam hubungan bersama wanita maka tidak nyenyak lah tidur nya, Meri curiga ia mendatangi wanita lain untuk menggantikan posisi nya setiap malam.


"Aku akan membunuh wanita itu hari ini juga". Tekat Meri seraya keluar dari ruangan Ronal.


Meri memanggil semua ladies milik nya yang tinggal di markas ini bersama nya. Sebagian dari mereka ada yang baru saja bersiap menerima tamu untuk hari ini. Kadang ada anak buah Ronal yang memesan ladies pada Meri di waktu siang karena mereka harus bekerja malam.


"Untuk apa mami mengumpulkan kami di sini?" tanya salah satu ladies sambil memoles make up ke wajah nya.


"Padahal sebentar lagi Mas Ahdan akan datang," imbuh yang lain nya tampak gelisah.


"Itu gampang, aku hanya ingin bertanya pada kalian. Siapa di antara kalian yang sering melayani Mas Ronal akhir - akhir ini?" tanya Meri to the point.


Tatapan Meri cukup membuat nyali pada ladies ciut. Mereka saling melempar tatapan bingung sambil menggigit bibir takut karena Meri sebentar lagi pasti akan marah pada mereka jika tahu hal sebenar.


"Kenapa malah diam aja? Jawab pertanyaan ku! Siapa yang berani melayani mas Ronal tanpa sepengetahuan ku?" Meri kembali mengulangi pertanyaan nya dengan berteriak kesal.


Tiada siapa yang berani membuka suara. Mereka hanya bisa menunduk dan pasrah dengan amukan Meri.


"Jawab aku, sial! Jangan buat aku terlihat bodoh dengan berteriak nggak jelas seperti ini!" hardik Meri.


Suaranya yang bergema seisi ruangan sama sekali tidak membuat diantara mereka buka mulut. Mereka memang takut pada Meri tapi mereka lebih takut jika mengatakan hal sebenarnya pada wanita itu.


"Kalau kalian semua tidak ada yang mau buka mulut maka sekalian saja mulut kalian ku sobek sampai ke telinga." Ancam Meri memainkan sebuah pisau di hadapan nya.


Para Ladies bergetar takut pada ancaman Meri. Mereka teringat pada rekan mereka yang mati di tangan Meri akibat berkhianat pada Black Tiger. Sekarang masalah lebih besar dan sudah pasti membuat lebih Meri marah. Dia tak pernah main - main dengan ancaman nya.


Meri menghampiri seorang wanita cantik dan mencengkram rahang dengan kuat sehingga wanita itu meringis kesakitan. "Ampun Mami," lirih nya.


"Katakan dengan jujur pada ku atau kau saja yang menerima akibat dari perbuatannya yang lancang pada ku!" ancam Meri.

__ADS_1


Wanita itu menggelengkan kepalanya. "A - aku nggak tahu siapa dia, Mami," sahut wanita itu dengan bibir yang bergetar.


"Nggak tahu? Benar kah?" Wajah Meri berubah semakin menyeramkan dengan senyum sinis milik nya.


Pisau digoreskan ke wajah wanita itu perlahan tapi ...


"Ahhhh ... A - ampuni aku, Mami." Lirihnya meringis kesakitan.


"Cepat katakan siapa?" Meri kembali bertanya tanpa memperdulikan darah yang sudah membasahi wajah wanita itu akibat pisau nya.


"Di - dia, Mami," wanita itu menunjuk ke arah rekannya yang ada di sudut lain. Wanita yang di maksud tampak pucat tanpa polesan di wajah nya, ia sangat berantakan karena baru bangun tidur.


Semua mata menatap pada nya, ada yang kasihan ada juga yang hanya tersenyum sinis. Meri menghampiri wanita itu dengan pisau yang masih di tangannya. Wajah nya sungguh membuat siapa saja ketakutan tapi tidak dengan selingkuhan Ronal. Wanita itu hanya duduk santai sambil menunggu Meri menghampirinya.


Plak...


Satu tamparan mendarat ke pipi wanita itu. Pintu juga langsung di buka dari luar di masa yang sama.


"Ma - Mas Ronal. " Meri tampak kaget dengan kehadiran Ronal yang tiba - tiba. "Mas sedang apa di sini?" tanya Meri lembut sambil merangkul lengan pria itu agar tidak marah.


Ronal dengan kasar menghempaskan tangan Meri dan ...


Plakkk...


Satu tamparan mendarat ke pipi Meri tanpa wanita itu duga sebelumnya. "Ka - kamu menamparku, Mas." lirih Meri sambil memegang pipinya yang terasa hangat akibat tamparan Ronal.


"Iya, itu karena kamu lancang menampar calon ibu dari anak - anak ku!" hardik Ronal.


"Ma - maksud kamu apa, sih Mas? Jangan ngada - ngada kamu kalau ngomong." Meri merasa Ronal sedang bercanda dengan nya. Bagaimana mungkin Ronal mengklaim wanita lain sebagai ibu dari anak - anak nya sedangkan diri nya lah yang selama ini selalu berapa di samping pria itu.

__ADS_1


"Mas Ronal nggak mengada - ngada, Mbak. Aku sedang mengandung anak Mas Ronal". Wanita bernama Shita menghampiri Ronal dan pria itu langsung merangkul bahu wanita itu.


"A - apa? Mengandung? Ha ha ha ..." Meri malah tertawa terbahak - bahak mendengar pernyataan Shinta. "Kamu percaya dengan wanita ini, Mas?" Meri beralih bertanya pada Ronal.


"Sudah tentu." sahut Ronal dengan yakin.


"Kalau dia benar sedang hamil, kamu percaya gitu kalau anak yang ada di dalam sana berasal dari benihmu?" Meri menatap mereka lucu.


"Mas, ini benar anakmu, Mas," lirih Shita pada Ronal.


"Iya Sayang. Aku percaya kok." Balas Ronal mengecup kening Shita di hadapan Meri.


Bukannya marah karena terbakar api cemburu, Meri malah tertawa terbahak - bahak menertawakan pasangan itu. "Wanita murahan seperti kamu yang setiap malam nya melayani pria yang berbeda malah yakin jika anak yang kamu kandung adalah anak mas Ronal. Jangan mimpi kamu!" kelakar Meri.


Shita hanya bisa menggelengkan kepala sambil menatap Ronal lirih berharap pria itu tidak terpengaruh dengan ucapan Meri.


"Sejak pertama kali kamu membawa Shita ke markas ini, aku adalah pria pertama yang menikmati segel nya. Aku juga sudah jatuh cinta pada nya sejak pandangan pertama, maka nya aku tidak mengizinkan siapa pun menyentuhnya dan meletakkan seorang pengawal untuk menjaga nya dari pria lain. Menurut laporan pengawal yang menjaga nya, Shita di markas ini hanya menyibukkan diri di dapur membantu menyediakan makanan untuk seluruh penghuni markas. Jadi aku yakin kalau anak yang sedang ia kandung adalah anakku bukan anak pria lain." Jelas Ronal membela Shita.


"Jadi kamu percaya begitu saja dengan anak buah mu itu? Ha ha ha ..." Meri semakin tergelak dengan kepolosan Ronal.


"Bilang saja kamu ir dengan ku, mbak. Aku sudah berhasil hamil anak Mas Ronal sedangkan kamu tidak." Shita malah kesal dengan sikap Meri yang berusaha merendahkan nya.


"Iri? Sama kamu? Ha ha ha." Meri duduk sambil menyilangkan kaki. Ia rasa bukan waktu yang tepat untuk menyakiti Shita yang sudah lancang padanya karena yakin Ronal pasti akan melindungi wanita itu.


"Mulai sekarang aku tegas kan sama kamu, Meri. Jangan sesekali menyakiti Shita lagi!" ancam Ronal pada Meri. Pria itu membawa Shita keluar dari ruangan untuk beristirahat.


Meri menatap kepergian dua manusia itu dengan perasaan kesal dan lucu dalam satu masa. Sakit hati pada Ronal semakin membesar seiring dengan dendam yang terpendam dalam hati nya. Ia yakin kalau anak yang sedang di kandung oleh Shita bukan anak Ronal kerena ia sering memergoki anak buah Ronal keluar dari kamar wanita itu dengan pakaian yang berantakan seperti habis melakukan hubungan intim.


Selama ini ia tidak mengambil pusing hal itu tapi sekarang bisa meyakinkan diri nya kalau Shita hanya memanfaatkan anak dalam kandungan nya untuk merebut Ronal darinya.

__ADS_1


"Setelah anak itu lahir maka kita lihat siapa yang akan membunuh mu. Aku atau Ronal?" Gumam Meri dengan wajah sinis nya.


__ADS_2