
Tiga orang lelaki beda usia tampak berjalan beriringan dengan salah seorang dari mereka menenteng tas plastik.
Mereka ini adalah Tuan Syam, Drako dan Jerry yang baru saja kembali dari rumah Pak Albert untuk meminta buang mangga keinginan Clara.
Sementara di depan pintu rumah, Nyonya Syam dan Roxana sesekali saling pandang melihat pemandangan yang sangat menggelitik hati itu.
Mereka tidak menduga tiga penguasa beda usia itu bisa sekarat seperti itu. Sungguh tidak dapat dipercaya.
Tuan Syam yang agak baikan tampak menyampirkan tas plastik di pundak nya. Sementara Drako berjalan terbungkuk-bungkuk. Sedangkan Jerry juga tidak bisa dikatakan lebih baik. Keadaan Jerry kini persis seperti monyet yang baru lepas dari rantai.
Baju sobek di sana sini, rambut acak-acakan dan yang lebih parah, sepanjang jalan dia terus mengaru bagian kepala, perut serta punggung nya. Sungguh pemandangan yang sangat menyedihkan bagi seorang Tuan Muda penguasa Metro City, Starhill dan Country home itu.
Begitu ketiga lelaki itu tiba di depan pintu, Roxana dan Nyonya Syam sudah memberondong mereka dengan berbagai pertanyaan.
"Drako. Ada apa dengan kalian. Mengapa keadaan kalian begitu menyedihkan seperti ini?" Tanya Roxana sambil menahan tawa.
"Kau bertanya kepada ku. Kau tanyakan sendiri lah kepada menantu kesayangan mu itu." Kata Drako sambil menarik nafas panjang.
"Mengapa Syam?" Tanya Nyonya Syam kepada suaminya.
"Lihat tuh Jerry. Dia dikeroyok semut di atas pohon mangga milik Pak Albert. Mungkin karena sudah tidak tahan, akhirnya dia terjatuh dari atas pohon dan malang bagi Drako karena dia menjadi bantalan tubuh Jerry yang terjun bebas dari atas pohon mangga itu." Jawab Tuan Syam menjelaskan kepada istrinya.
"Hahaha... Ternyata begitu kisah nya. Menyedihkan sekali nasib mu Drako." Kata Roxana tertawa.
"Kau tertawa. Aku sengsara. Kalau Clara sepuluh kali hamil, mati lah aku jika begini terus-terusan." Kata Drako.
"Siapa juga yang mau sampai sepuluh kali. Mana aku sanggup. Lagi pula, jangan terlalu berharap sebelum kita memanggil dokter untuk memeriksa Clara. Nanti kecewa jika tak sesuai dengan harapan." Kata Jerry.
"Ku potong burung mu itu kalau sampai Clara tidak hamil." Hardik Drako dengan membulatkan mata nya.
"Sudah sudah sudah. Pikiran pinggang mu itu. Dasar orang tua. Kau sudah tidak muda lagi seperti dulu." Kata Roxana melerai pertengkaran itu.
__ADS_1
"Tua-tua begini pun kau tetap cinta." Kata Drako sambil melangkah memasuki rumah.
"Sayang. Berikan mangga ini kepada Clara. Kasihan dia terlalu lama menunggu." Perintah Tuan Syam kepada istrinya.
"Baik lah." Kata Nyonya Syam sambil melangkah memasuki rumah lalu menuju ke dapur.
"Jerry! Kau panggil Dokter untuk memeriksa Clara. Tidak perlu di bawa ke klinik. Ini karena dia bukannya sakit. Kemungkinan terbesar adalah, istrimu saat ini sedang hamil muda." Kata Tuan Syam lagi.
"Baik Tuan Syam." Jawab Jerry sambil mengeluarkan ponsel nya.
"Roxana...! Woy Roxana. Apa yang sedang kau lakukan? Jika tidak ada pekerjaan, kemari dan periksa pinggang ku ini. Mungkin pinggang ku ini sudah hijrah ke punggung." Kata Drako berteriak memanggil istrinya.
"Pindah ke tumit lebih bagus." Jawab Roxana. Namun dia tetap juga datang menghampiri Drako lalu memeriksa pinggang suaminya itu dengan lembut.
"Akh... Enak. Sungguh kau adalah bidadari surga ku. Kau lah istri tercinta ku di dunia dana akhirat." Puji Drako dengan tulus.
"Huh... Dasar buaya buntung. Kau memuji ku kalau ada maunya saja." Kata Roxana sambil mencibir membuat semua yang mendengar pertengkaran manja mereka menjadi tertawa.
Seorang lelaki setengah baya yang mengenakan pakaian serba putih dan menenteng sebuah tas yang layaknya di sebut mirip koper baru saja keluar dari kamar dengan ditemani oleh Nyonya Syam dan Roxana.
Sementara itu di luar kamar, Drako dan Tuan Syam serta Jerry sudah tidak sabar menunggu apa yang akan dikatakan oleh Dokter tersebut.
"Heh.. bagaimana dengan hasil periksaan itu? Cepat katakan kepada ku sebelum jantung ku ini copot!" Kata Drako sambil mencak-mencak.
"Sabar lah Drako! Biarkan Dokter itu menarik nafas dulu!" Kata Roxana sewot.
"Selamat Tuan Jerry. Saya sudah melakukan pemeriksaan terhadap Nyonya Yosep. Kini, Nyonya Yosep sedan hamil tiga bulan. Diharapkan anda dapat menjaga istri anda dengan hati-hati! Ini karena, kandungan istri anda masih lemah. Ingat! Berusahalah untuk membuatnya bahagia. Jangan sampai Stres! Karena ini akan sangat berpengaruh terhadap janin yang sedang dikandung oleh istri Tuan!" Kata sang Dokter memperingatkan sekaligus memberi nasehat.
"Jadi... Jadi, hei... Syam! Sebentar lagi kita akan menjadi kakek?" Kata Drako sambil memeluk Tuan Syam.
Kedua lelaki tua Bangka ini pun saling berpelukan dan melompat-lompat persis seperti ketika mereka menemukan Jerry dulu di Hillstreet.
__ADS_1
"Jadi kakek... Jadi kakeeeek....!" Kata kedua orang itu sambil tertawa dan bernyanyi bersama.
"Oh Tuhan. Apakah aku akan menjadi seorang Ayah?" Kata Jerry dalam hati sambil bersandar di dinding.
Jelas dia tidak percaya dengan semua ini.
Semenjak dia dilarikan dari rumah sakit oleh Tuan Yosep dan Bibi Lina, dia terus di buru bagai seekor binatang oleh anak buah Robin.
Mereka terus berpindah dari satu kampung ke kampung yang lain demi mencari selamat.
Berumur delapan tahun, dia sempat menjadi gelandangan dan berharap untuk mati saja agar penderitaan nya segera usai.
Di tolong oleh Drako dan dididik menjadi seorang pemuda yang tegar, di hina di kampus, dibully oleh teman-temannya, kemudian setelah mengetahui tentang identitas nya, dia lalu menjadi seorang Tuan Muda yang sangat di hormati serta di segani sebagai penguasa tiga kota. Namun di balik semua itu, dia merasa hanya dijadikan sebagai boneka oleh kedua kakeknya.
Wajar saja Jika Jerry saat ini merasa seperti sedang bermimpi. Karena untuk selamat dari incaran anak buah Robin saja dia sudah sangat bersyukur. Inikan lagi dia bakal menjadi seorang Ayah.
Ini anugrah. Ya..! Ini adalah sebuah anugrah yang tidak bisa di ungkapkan dengan perkataan.
"Woy Jerry. Mengapa kau hanya diam saja. Pergi lihat istri mu!" Kata Tuan Syam setelah selesai dengan jingkrak-jingkrak nya bersama Drako.
"Oh iy... Iya Tuan Syam. Aku..., Aku seperti tidak percaya. Apakah ini nyata?" Kata Jerry sambil menampar pipinya sendiri.
"Dasar anak bodoh. Sejak dulu kau tak pernah berubah. Lamban sekali. Cepat lah! Ini nyata bukan mimpi." Kata Drako.
"Pergi temui istrimu sekarang."
"Mari kita saja duluan. Anak itu memang bodoh." Ajak Drako kepada mereka yang ada di tempat itu.
"Orang-orang hanya tau hasilnya saja. Mereka tidak mau tau tentang proses nya. Jika bukan karena burung ku ini, Clara tidak akan hamil. Semua orang mengucapkan selamat kepada Clara dengan mengelus perut nya. Mengapa tidak mengucapkan selamat juga kepada ku dengan mengelus burung ku?" ,Kata Jerry sambil mengomel.
"Sialan kau. Sini burung mu aku patahkan!" Kata Drako sambil mengejar Jerry.
__ADS_1
"Ampun Ayah... Ampuuuun... Kabur ah!" Kata Jerry sambil lari pontang panting dari kejaran Drako.