
Bab 113.
Seorang wanita setengah baya namun masih kelihatan cantik buru-buru berjalan membawa sebuah bungkusan di tangannya.
Dia tampak sangat tergesa-gesa menuju ke-arah tempat parkir.
Begitu dia telah sampai di tempat parkir, dia tampak kebingungan mencari di mana mobil Jerry.
"Bodoh nya aku. Mengapa tadi aku tidak bertanya kepada Boss mobil apa yang dia gunakan dan nomor plat nya. Uhh... Bisa berantakan kalau begini." Kata wanita setengah baya itu dalam hati.
Dia terus saja celingak-celinguk diantara banyaknya mobil-mobil yang terparkir di tempat itu, sampailah pada puncak kebingungannya, terdengar satu suara memanggil namanya.
"Manajer Olive.., aku disini." Kata suara itu membuat wanita setengah baya yang ternyata Manajer Olive itu menarik nafas lega.
"Maafkan saya Boss karena membuat anda menunggu lama." Kata Manajer Olive dengan hormat.
"Ah.., tidak apa-apa Manajer. Maaf telah merepotkan mu." Kata Jerry sambil tersenyum.
"Ini adalah sepasang sendal yang anda pesan Boss. Mohon diperiksa dulu." Kata Manajer Olive sambil menyerahkan sebuah bungkusan yang sejak tadi selalu berada dalam pelukan nya seperti menggendong seorang bayi.
Jerry menerima bungkusan yang diberikan oleh Manajer Olive. Memeriksanya sebentar lalu berkata, "Terimakasih Manajer Olive." Kata Jerry.
"Ah.., Boss terlalu sopan. Apakah Boss suka dengan bungkusan seperti itu?" Tanya Manajer Olive.
"Em..., cukup rapi. Ah.., yang penting isi nya. Sekali lagi terimakasih karena sudah merepotkan mu Manajer." Kata Jerry sedikit merasa tidak enak hati.
"Sama-sama Boss." Kata Manajer Olive sambil membungkuk hormat.
"Baik lah.., jika begitu, anda silahkan sibuk. Maaf telah menyita waktu mu terlalu lama." Kata Jerry sambil meletakkan bungkusan itu.
"Sudah menjadi tugas saya Boss. Jika ada hal lain, anda bisa memberi perintah kepada saya kapan saja." Kata Manajer Olive.
"Tidak untuk saat ini Manajer. Mungkin di lain waktu. Oh ya.., aku pamit dulu karena ada janji dengan seseorang untuk mengantarnya ke rumah sakit." Kata Jerry lalu segera masuk kedalam mobil.
Begitu mobil yang di kendarai oleh Jerry berlalu diiringi oleh lambaian tangan Manajer Olive, dia tidak langsung pergi. Di dalam hatinya dia membatin, "Untuk siapa sepasang sendal mahal itu? Alangkah beruntung nya gadis yang menerima hadiah dari Boss besar. Andai aku masih muda dan seumuran, sudah pasti aku akan sangat senang berada di sisinya sepanjang waktu." Kata nya dalam hati.
********
Mobil yang di kendarai Jerry terus meluncur semakin cepat membelah Lotus Road menuju Mountain Lotus.
Jerry saat ini seperti di kejar-kejar oleh waktu.
Sesekali dia melirik ke-arah jam tangan nya lalu membatin, "Masih ada waktu. Makan malam pukul 8. Masih ada beberapa jam lagi. Setelah mengantar kak Arslan, aku akan menemui Via. Tentu dia akan sangat suka dengan hadiah ini." Kata Jerry dalam hati.
Mobil yang di kendarai oleh Jerry akhirnya sampai juga di bagian belakang Lotus mansion.
Di sana sudah menunggu Arslan dan Austin.
__ADS_1
Ketika Jerry membuka pintu mobil dan keluar, Austin agak latah dan hampir saja membungkuk memberi hormat jika tidak melihat Jerry memberi kode dengan menjentikkan jari tangan nya.
"Paman Austin.., apakah sudah selesai dengan kak Arslan?" Tanya Jerry.
"Sudah Jerry. Apakah kalian akan langsung pergi?" Tanya Austin agak kaku. Ini karena dia sudah terbiasa memanggil Jerry dengan sebutan tuan muda.
"Baiklah Paman. Jika sudah tidak ada lagi, maka saya akan mengantar kak Arslan ke rumah sakit publik. Ini karena putri nya sedang di rawat di penjara putih itu." Kata Jerry.
"Penjara putih?" Kata Austin dalam hati. Namun dia tidak ambil pusing. "Sesuka hati mu saja lah Jerry, mau bicara apa." Katanya lagi dalam hati.
"Kak.., ayo masuk. Aku akan mengantar mu ke rumah sakit." Kata Jerry.
"Baik Jerry. Aku sudah selesai. Ayo kita berangkat sekarang!" Kata Arslan.
"Paman. Kami pergi dulu. Jangan lupa istirahat yang cukup. Jangan kerja terus!" Kata Jerry terkekeh sambil masuk ke mobil dan segera tancap gas meninggalkan Austin yang seperti orang ling-lung mendengar kata-kata Jerry barusan.
"Jerry... Jerry. Kau ini seperti memiliki kepribadian ganda. Sebentar becanda. Sebentar serius." Kata Austin dalam hati. Lalu segera meninggalkan tempat itu dengan gelengan kepala.
Begitu Jerry tiba di rumah sakit dan sedikit berbasa basi dengan Arslan, Jerry segera melaju menuju kafe depan kampus tempat nya menuntut ilmu dan terus berbelok ke kiri menuju sebuah rumah yang dia ketahui sebagai rumah kos bagi Via dan teman-temannya.
Beruntung kali ini baginya bahwa dia menemukan Via sedang duduk sendiri di depan teras rumah itu.
Melihat Via seperti sedang melamunkan sesuatu, Jerry segera menghampiri dari belakang dan langsung menutup mata Via dengan telapak tangannya.
Via yang kaget langsung meronta-ronta. Akan tetapi sekuat apa pun dia meronta, tetap saja dia tidak bisa melepaskan diri.
"Jika salah tebak, jangan harap aku akan melepaskan." Kata Jerry sambil tertawa geli.
"Tangan mu ini.., juga suara itu. Aku sangat kenal. Kau pasti Jerry kan? Apa-apaan kau Jerry. Cepat lepaskan atau aku akan berteriak!" Kata Via dengan berang.
Jerry yang sedikit terkejut dengan sambutan Via segera melepaskan dekapan tangan nya ke mata Via dan segera mundur beberapa langkah kebelakang sambil menenteng sebuah bungkusan yang terlihat seperti kado.
"Ada apa Jerry. Jangan seperti anak kecil dengan ku. Aku tidak suka di perlakukan seperti itu." Kata Via marah.
"Maafkan aku Via. Aku salah." Kata Jerry sambil tertunduk.
Hancur sudah rencana memberi kejutan untuk Via. Tadinya dia berfikir untuk memberikan sendal yang sudah lama dia siapkan untuk Via.
"Jika aku tau akan begini jadinya, tidak akan aku datang ke sini Via." Kata Jerry dalam hati.
"Jerry. Jika kau ingin melakukan seperti yang kau lakukan tadi, pergi kepada Lisa dan lakukan seperti itu. Kau harus bisa menghargai aku sebagai seorang wanita!" Kata Via yang mulai memerah wajahnya.
"Mengapa harus dengan Lisa? Apakah kau ingin menjodohkan aku dengan nya?" Tanya Jerry sambil mengerutkan kening.
"Aku datang kesini untuk memberikan sesuatu kepada mu Via" Kata Jerry lagi sambil mengangkat bungkusan yang ada di tangannya ke-arah Via.
"Tanpa aku menjadi makcomblang, bukankah kau telah jalan dengan Lisa? Mau apa lagi kau dengan ku? Hadiah apa? Aku tidak butuh." Kata Lisa sambil menepis kotak yang berada di tangan Jerry hingga jatuh ke tanah.
__ADS_1
"Apa? Apakah kau berfikir bahwa Lisa adalah pacarku? Kita hanya berteman biasa saja. Tidak lebih." Kata Jerry membantah tuduhan Via.
Mendengar bantahan dari Jerry, Via hanya mendengus dan berkata, "Kau mungkin bisa menipu Aline atau yang lainnya Jerry. Tapi jangan harap kau bisa menipu aku." Kata Via sengit.
Setelah terdiam sejenak, Via kembali melanjutkan, "Kau jalan kesana kemari bersama Lisa. Kau anggap aku ini hanya patung. Belum lagi waktu di rumah sakit publik. Kau dikerumuni oleh para gadis cantik. Kau bahkan tidak melihat ke-arah ku. Lalu sekarang untuk apa lagi kau datang?" Kata Via setengah berteriak.
Jerry saat ini hanya bisa tertunduk dalam dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia ingin membantah dan membantah semua tuduhan dari Via. Tapi itu pasti tidak akan berhasil.
Sebenarnya jika mau dikatakan kecewa, Jerry bahkan banyak mengalami kekecewaan karena Via. Itu belum lagi penghinaan yang dia dapat dari para sahabat Via yang materialistis itu.
"Mengapa kau hanya diam saja Jerry? Jawab aku!" Bentak Via.
"Sudah selesai Via?" Tanya Jerry.
"Belum. Aku belum puas sebelum aku memukul mu." Kata Via lalu memukul dada Jerry sambil menangis.
Jerry hanya menerima saja perlakuan dari Via. Dia sama sekali tidak berusaha menghindar atau melawan.
Setelah puas melampiaskan kekesalannya kepada Jerry, Via mulai sedikit mereda dan mulai berhenti memukuli dan mengomeli Jerry.
"Sudah selesai Via?" Tanya Jerry lagi.
Tidak ada jawaban dari Via.
"Baiklah. Izinkan aku untuk bicara." Kata Jerry.
Dia menarik nafas sejenak lalu memulai perkataan yang sangat mengganjal di hatinya selama ini.
"Aku tau mungkin dari sudut pandang mu secara pribadi, mungkin aku yang paling bersalah. Aku tidak peka, tidak membujuk ketika kau kesal kepada ku. Tidak segera meminta maaf atas perbuatan ku yang kau anggap salah. Tapi kau perlu tau bahwa jika aku salah, katakan kesalahanku agar aku bisa berbenah diri. Jika kau merasa perbuatanku ada yang kurang berkenan dihati mu, katakan agar aku bisa mengubah nya supaya kau bisa senang!" Kata Jerry dengan mata memerah.
Setelah diam sejenak, Jerry kembali berkata. "Mungkin dari sudut pandang mu sendiri aku ini adalah lelaki sialan yang suka mendekati setiap wanita. Tapi yang jelas, kau bisa tanyakan kepada Lisa atau juga Aline. Bahwa aku tidak pernah memberi harapan, mengatakan aku mencintai mereka seperti yang pernah aku ucapkan kepadamu." Kata Jerry.
"Simpan alasan busuk mu itu Jerry. Karena aku sudah muak mendengarkan nya." Kata Lisa sengit.
"Kapan aku pernah beralasan dengan mu Via? Baru kali ini aku mendapat kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Apa kau ingat ketika aku datang kesini mencari mu untuk meminta maaf? Apa kau juga ingat beberapa hari yang lalu aku ingin mengajakmu untuk menyelesaikan masalah kita. Tapi kau menolak untuk bertemu dengan ku ketika itu. Bukan hanya aku kecewa dengan sikap mu. Aku bahkan mendapat penghinaan berkali-kali dari sahabat-sahabat mu Via. Jika kau merasa punya perasaan, maka begitu juga aku. Apa kau kira hati ku terbuat dari batu yang tidak akan sakit ketika dihina begitu rupa?" Tanya Jerry dengan menggelengkan kepalanya tanda tidak mengerti dengan sikap Via.
"Sekarang aku bertanya padamu Via? Apakah aku ini tida peka atau aku ini bukan kriteria lelaki yang kau idamkan? Jika aku bukan lelaki seperti yang kau mau, maka cukup kita sampai disini saja." Kata Jerry.
"Kau yang tidak mengerti perasaan ku Jerry. Kau terlalu kaku untuk dapat mengerti apa yang aku mau." Kata Via tatap menyalahkan Jerry.
"Aku memang salah Via. Itu aku akui. Tapi ketika aku ingin memperbaiki hubungan kita, apakah kau memberi ku ruang untuk itu? Kadang aku bertanya-tanya dalam hati. Kapan kita benar-benar bisa dewasa menghadapi setiap masalah yang timbul."
"Kau Fikirkan lah Via sebelum mengambil keputusan. Jika begini terus, Kau dan aku tidak akan pernah menjadi Kita." Kata Jerry lalu segera pergi menuju mobilnya dan segera ingin berlalu dengan perasaan yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
Namun sebum Jerry benar-bener berlalu, Via segera berteriak. "Kado butut mu ini. Bawa sekalian. Aku tidak butuh." Kata Via sambil melemparkan bungkusan sepasang sendal mahal itu ke-arah Jerry.
Jerry hanya menarik nafas dalam-dalam berusaha untuk tabah.
__ADS_1
Bersambung....