
Di tempat yang berbeda, Bu Sukma sedang memasak di dapur bersama seorang teman nya. Tiba - tiba Jasmin datang dengan wajah marah ke arah mereka.
"Mulai sekarang bik Mulan saja yang hantarkan makanan ke kamar anak itu". Tegas Jasmin membuat kedua pembantu itu kaget.
"Ta - tapi saya banyak kerja non". Tolak bik Mulan sambil tertunduk takut.
"Jangan membantah ucapan ku kecuali kamu mau mati". Ujar Jasmin sambil menunjuk ke arah Mulan.
"Ma - maaf kan saya non". Sahut Mulan ketakutan.
"Kebiasaan di manja oleh mas Ronal, jangan pikir aku juga akan mentolerir sikap kamu". Imbuh Jasmin mengancam. "Kamu juga, Jusma! Semalam hampir saja kamu keceplosan pada anak itu. Kalau sampai kejadian yang sama terulang kembali maka aku tak akan segan lagi dan langsung membunuhmu tanpa jejak. Kalau bukan mas Ronal yang selalu mewanti - wanti untuk tidak membunuh kalian maka sudah dari dulu kalian tinggal nama". Tunjuk Jasmin pada dua orang wanita paruh baya itu.
Bu Sukma sudah menggunakan nama dan identitas yang baru yaitu sebagai Jusma. Ia sudah menebak akan di beri peringatan pagi ini oleh majikannya. Maka nya semalam ia memberanikan diri untuk menyelitkan secarik kertas untuk Haikal supaya anak itu bisa berhati - hati mulai sekarang.
"Padahal aku banyak sekali pekerjaan yang harus ku selesaikan setiap harinya. Tapi perempuan itu malah sok berkuasa, sok mengatur di sini. Baru juga tinggal beberapa minggu aku udah capek layanin kelakuannya". Omel Mulan setelah Jasmin pergi dari hadapan mereka.
"Yang sabar aja, Lan. Dia memang kayak gitu, kamu ngomong aja sama tuan Ronal, dia pasti akan mengerti dengan permintaan mu yang tidak ingin menambah beban pekerjaan". Saran Jusma dengan niat tertentu..
"Kamu benar, tuan Ronal meskipun kejam tapi jika kita setia padanya maka kita akan mendapat perlakuan baik oleh darinya. Tapi jika kita ketahuan berkhianat maka hati - hati saja, nyawa yang akan melayang tiba - tiba. Seperti yang terjadi lada penjaga kebun di rumah ini tahun lalu, dengan mata kepala ku sendiri kepala pria itu di tembak sampai tembus ke belakang karena ketahuan membocorkan informasi ke pihak musuh. Seram kan!". Ujar Mulan bergedik ketakutan..
"Kalau aku sudah melihat kejadian penembakan seperti itu akan trauma dan memilih pergi tapi aku lihat kamu malah semakin betah tinggal di sini sampai lah non Jasmin datang baru kamu sering ngomel". Jelas Jusma sambil mengerjakan tugasnya membersihkan sayuran.
"Aku takut juga sebenarnya tapi aku memilih tetap setia karena dengan begitu maka aku akan selamat. Lagi pula semenjak kerja di sini, aku bisa sukses setiap bulan bisa mengirim uang puluhan juta pada keluarga di kampung. Sudah ada rumah sendiri, sawah yang luas bahkan dengan uang itu aku bisa menyekolahkan dua orang adik ku sampai tamat kuliah, tinggal seorang lagi yang masih SMA. Maka nya aku betah kerja di sini meskipun tak pernah di izinkan pulang ke kampung. Tapi semua itu nggak penting bagiku". Sahut Mulan dengan wajah bahagia.
"Kamu nggak rindu dengan mereka?". Tanya Jusma berusaha memprofokasi Mulan. .
__ADS_1
"Rindu sih, tapi syarat bekerja bersama Tuan Ronal ya seperti ini". Jawab Mulan.
Tampak nya Mulan tidak mudah untuk di ajak kerja sama untuk menolong Haikal kabur dari rumah ini. Ia harus mencari cara sendiri untuk menjalan kan misinya.
"Ini makanan nya sudah siap semua, kamu bawakan saja nampan ini ke kamar anak itu, dia pasti sudah menunggu". Ujar Jusma pada Mulan yang baru saja duduk santai.
"Sabar napa, aku capek tahu". Ketus Jusma. Ia malas banget awal pagi gini malah naik ke lantai dua yang akan membuat kaki nya pegal. Meskipun ada lift tapi yang bisa menggunakan nya hanya orang tertentu saja.
"Ya udah, tapi kalau non Jasmin datang dan kamu belum sempat mengerjakan tugas darinya jangan salah kan aku kalau dia marah". Ujar Jusma mengingatkan Mulan agar segera membawakan makanan untuk Haikal..
"Ihh, bawel banget sih". Kesal Mulan.
Jusma sebenarnya nggak peduli kalau Jasmin marah, tapi ia hanya khawatir kalau Haikal kelaparan karena semalam nggak makan. Setelah membaca kertas yang ia selipkan semalam, ia harap Haikal sudah mau makan.
"Kamu sudah membawakan makanan untuk anak itu kan?". Tanya Jasmin bertepatan saat Mulan juga turun dari lantai dua dengan nafas ngos - ngosan..
"Obat yang ku berikan semalam sudah kalian beri kan keminuman nya?". Tanya Jasmin memastikan..
"Sa - saya nggak tahu pula non". Jawab Mulan.
"Dasar b0d0h! Kenapa kamu nggak berikan, hah?". Kesal Jasmin sambil menghentakkan meja dengan kuat.
"Non nggak bilang pun, non hanya meminta saya membawakan makanan untuk anak itu saja". Sahut Mulan membela diri.
"Dasar nggak becus! Aku meminta kamu mengambil alih tugas Jusma seharusnya obat itu juga kamu berikan pada nya". Jasmin mengepalkan tangan nya dan menatap Mulan dengan emosi yang memuncak..
__ADS_1
"Non tenang saja, saya sudah menaburkan nya sebelum meminta Mulan membawa nya". Ujar Jusma menyelamatkan rekan kerja nya dari amukan majikan mereka.
"Bagus. Kamu memang becus mengerjakan pekerjaan kamu tapi mulut kamu itu terlalu ember". Kata Jasmin meninggalkan mereka berdua dan beralih ke meja makan untui sarapan.
"Bawel banget sih jadi orang! Kalau kami nggak becus, kerja kan aja sendiri! Toh kami juga nggak bekerja untuk mu". Gumam Mulan dengan suara rendah.
"Kalau berani ngomong langsung pada orang nya". Bisik Jusma sambil menahan tawa nya.
"Lo juga bikin kesal gue aja. Tapi terima kasih sudah menolong ku". Ucap Mulan.
Sementara di dalam kamar, Haikal tidak ragu lagi menghabiskan makanan yang di bawakan untuknya. Awal nya ia berharap kalau yang datang membawa kan nya makanan adalah bibik yang semalam tapi sayang nya orang lain. Jadi ia tidak bisa bertanya banyak tentang rumah ini.
Tapi jus yang ada di nampan itu hanya di lirik sekilas lalu di abaikan begitu saja karena sudah tahu di dalam nya ada obat tidur, agar ia tidur sepanjang hari. Setelah makan, ia membawa jus itu dengan pura - pura meminumnya tapi setelah melewati kawasan CCTV ia menyiram kan jus itu ke pot bunga.
Ia sudah menemukan sebuah rencana untuk keluar dari kamar ini tanpa ketahuan menyelinap keluar, ia akan mendesak Jasmin atau Ronal untuk membawanya bertemu dengan anggota keluarga di rumah ini. Kalau tidak maka ia nggak akan mau menolong untuk membalas kan dendam mereka.
"Kamu sudah makan?". Tiba - tiba Jasmin membuka pintu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Ta - tante?". Sahut Haikal kaget.
"Kamu kenapa tampak kaget begitu sih? Tante hanya masuk ingin memastikan keadaan kamu. Bagaimana apa sudah lebih enakan". Ujar Jasmin dengan menyentuh bahu Haikal lalu mengusap nya perlahan..
Haikal sempat heran tapi ia sudah bisa memastikan jika Jasmin tertarik pada nya. "Aku jijik di perlakukan seperti ini tapi semua nya menjadi lebih menarik". Batin Haikal dengan senyum sinis nya.
"Ternyata jus nya udah habis, kamu ada pegal di mana - mana nggak, biar tante tolong pijitin". Tawar Jasmin dengan senyum genit nya..
__ADS_1
Haikal mendapatkan ide baru untuk bisa bergerak leluasa di kamar ini. "Sebenarnya sangat ingin sih tante tapi aku khawatir kalau ada sesuatu di kamar ini seperti CCTV". Bisik Haikal di telinga Jasmin sampai perempuan itu merinding kenikmatan.
Tiba - tiba ia pamit keluar kamar untuk melalukan sesuatu. "Kalau begitu lain kali saja tante datang menemui kamu lagi". Pamit Jasmin bergegas keluar kamar.