
Bab 112.
"Silahkan Duduk Arslan!" Kata Ronald sambil mempersilahkan Arslan untuk duduk sebaik saja mereka sampai di ruangan dalam rumah tersebut.
"Terimakasih Tuan Ronald." Kata Arslan dengan hormat lalu segera duduk.
"Apakah anda benar-benar mau bekerja sebagai seorang petugas penjaga? Maaf karena saya harus benar-benar memastikan kesediaan anda karena ini adalah pekerjaan yang tidak mudah." Kata Ronald.
"Saya sangat membutuhkan pekerjaan itu Tuan. Terus terang saja. Sebagai orang yang masih muda dan sehat, menjadi pengangguran bukan lah hal yang menyenangkan." Kata Arslan.
"Baik lah. Begini Arslan. Dalam tugas mu ini, kamu bukan saja harus menjaga keamanan disana. Tapi kau juga akan menjadi mata dan telinga ku." Kata Ronald.
"Maksud Tuan?" Tanya Arslan bingung.
"Begini Arslan.., Di lokasi proyek saat ini sepertinya ada orang-orang yang memiliki jabatan tertentu yang menggelapkan bahan logistik dan menyalurkannya ke perusahaan lain. Tugas mu adalah memata-matai mereka dari luar. Catat setiap kendaraan berat yang keluar masuk membawa barang-barang tersebut." Kata Ronald menceritakan kecurigaannya kepada Arslan.
"Saya mengerti Tuan. Lalu, apa yang akan saya lakukan andai saya mengetahui siapa orang ini? Apakah anda ingin saya menangkap nya atau bagaimana?" Tanya Arslan.
"Jangan!!! Jangan lakukan apa pun. Kau cukup menjadi mata dan telinga saja. Aku juga meminta bantuan kepada Jerry untuk menyusup kedalam jajaran staf bagian logistik untuk meninjau ulang pembukuan dan keluar masuk nya barang disana. Kau bisa bekerja sama dengan Jerry." Kata Ronald.
"Arslan.., jaga sikap mu agar tidak mencurigakan. Aku yakin selama kau berada di sana selama dalam bertugas, kau pasti akan mendapat tekanan dari orang-orang ini. Ikuti saja arus nya dan jangan melawan. Bekerja sama dengan mereka jika mendapat tawaran sampai aku dan atasan ku membongkar semua kedok mereka. Ketika itu terjadi, kita akan memastikan mereka akan di keluarkan dari pintu perusahaan dengan cara merangkak." Kata Ronald lagi.
"Saya mengerti Tuan. Kapan saya akan memulai pekerjaan ini?" Tanya Arslan seperti tidak sabaran.
"Tunggu Jerry libur panjang dulu. Setelah itu, kalian berdua akan aku tempatkan di posisi kalian masing-masing!"
"Siap Tuan. Saya akan melakukan yang terbaik menurut kemampuan saya." Kata Arslan berjanji.
__ADS_1
"Arslan. Untuk sementara ini kau bekerja dulu di Hotel teratai sebagai penjaga keamanan. Aku tau kau sangat membutuhkan pekerjaan. Kau bisa memulai pekerjaan besok pagi dan perusahaan akan memberi mu sepeda motor untuk kendaraan dinas." Kata Ronald.
"Terimakasih Tuan. Terimakasih Juga kepada Jerry yang telah mempertemukan saya dengan Tuan." Kata Arslan dengan perasaan haru.
"Baiklah Arslan. Aku rasa tidak ada lagi yang perlu di jelaskan. Kau tentu sudah tau apa tugas mu. Aku harus permisi dulu karena ada banyak pekerjaan yang menanti. Aku akan meminta Jerry untuk mengatur tempat tinggalmu." Kata Ronald.
"Terimakasih Tuan. Anda sibuk lah dulu. Saya akan segera keluar." Kata Arslan lalu menjabat Ronald kemudian berbalik menuju pintu lalu segera keluar dari ruangan kerja Ronald.
Sesampainya Arslan di luar, dia melihat Jerry sedang berbincang dengan seorang lelaki bertubuh tegap.
Melihat Arslan telah keluar dari ruangan Ronald, Jerry langsung menyambutnya dengan senyum lalu bertanya, "Bagaimana kak? Apakah kau diterima bekerja sebagai security?" Tanya Jerry.
"Oh..., Syukur Jerry. Aku telah mendapatkan pekerjaan itu. Aku sangat berterimakasih kepadamu karena telah beberapa kali menolong ku. Mulai saat ini aku akan menganggap mu sebagai adik ku sendiri." Kata Arslan dengan mata berkaca-kaca.
Mendengar Arslan berkata seperti itu, lelaki bertubuh besar tadi langsung menunjukkan tampang bengis dan ingin menyela kata-kata Arslan. Namun Jerry segera berdehem dan mengedipkan sebelah matanya lalu berkata, "Oh ya kak. Perkenalkan! Tuan ini bernama Austin. Dia adalah kepala Manajer merangkap kepala keamanan di Mountain lotus ini." Kata Jerry.
"Ah tidak apa-apa Arslan. Saya dapat memaklumi anda." Kata Austin memaksa senyum di wajahnya.
"Kak.., Tuan Austin ini akan mengatur tempat tinggal mu. Pergi lah bersama nya untuk melihat-lihat dulu. Setelah itu aku akan mengantar mu untuk kembali ke Rumah sakit publik untuk menjaga keponakan kecil ku." Kata Jerry mempersilahkan mereka untuk segera melihat tempat kamar yang akan di tempati oleh Arslan.
Setelah mereka berdua pergi, Jerry segera masuk kedalam mobil dan segera meluncur ke-arah Jewel Star untuk mengambil sesuatu yang telah dia persiapkan sebagai hadiah untuk pujaan hatinya yaitu Via.
Jerry terus menginjak pedal gas mobil sport milik David tersebut sehingga mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi seperti di kejar hantu dan terus mengarah ke Jewel star.
Begitu sampai di tikungan, Jerry langsung membanting stir ke kanan dan terus melaju menuju bagian halaman dihadapan beberapa toko yang menjual segala pernak pernik yang selalu ramai di kunjungi orang-orang kaya.
Beberapa pengemudi di belakang Jerry memaki panjang pendek dengan tingkah urakan dari Jerry yang menganggap seolah-olah jalan itu adalah milik kakek nya saja.
__ADS_1
Sesampainya di area parkir, Jerry tidak langsung keluar dari mobil nya. Dia hanya mengeluarkan ponsel untuk menelepon Manajer Olive. Hal ini dia lakukan agar tidak bertemu dengan Aline yang mungkin saja ada di dalam saat ini.
Andai Aline tau bahwa dia mengambil sepasang sendal yang tidak di jual di toko tersebut karena memang hanya untuk dipajang saja, ini akan rumit untuk menjelaskannya. Belum lagi sikap Aline yang begitu genit ketika bertemu dengan Jerry yang terkadang membuat Jerry merasa sesak nafas.
Setelah panggilan tersambung, terdengar suara seorang wanita setengah baya di seberang telepon.
"Hallo Boss besar. Anda menelepon saya. Apakah ada yang anda ingin saya lakukan?" Tanya suara begitu panggilan tersambung.
"Manajer Olive. Bagaimana dengan sepasang sendal yang aku suruh kau simpan untuk ku ambil?" Tanya Jerry.
"Oh..., Sendal Harry Winston Ruby? Saya telah menyiapkannya untuk Tuan dan telah mengemas dengan rapi. Apakah anda menginginkan sendal itu sekarang?" Tanya Manajer Olive dengan hormat.
"Benar Manajer Olive. Apakah anda sedang sibuk saat ini?" Tanya Jerry.
"Oh..., tidak Boss besar. Saya tidak sibuk. Maaf kalau boleh tau, apakah anda akan datang ke toko sekarang?" Tanya Manajer Olive.
"Saya sudah berada di depan toko saat ini dan menunggu di tempat parkir. Anda bisa keluar sekarang dan menemui saya di sini." Kata Jerry.
"Maaf Boss. Mengapa anda tidak masuk saja ke dalam? Apakah anda sangat terburu-buru?" Tanya Manajer Olive.
"Oh.., iya. Saya sedang terburu-buru. Cepat lah keluar dan bawa sekalian barang yang saya inginkan!." Perintah Jerry.
"Segera Boss. Anda dapat menunggu saya dalam 5 menit." Kata Manajer Olive lalu buru-buru mengakhiri panggilan telepon dan segera memerintahkan staf untuk mengambil sepasang sendal Harry Winston yang telah dia kemas dengan sangat rapi.
Setelah staf itu memberikan bungkusan yang berisi sendal mahal tersebut, Manajer Olive segera berlari ke bawah membuat beberapa star hanya mengernyitkan kening melihat ulah atasan mereka yang seperti di kejar-kejar hantu itu.
Bersambung...
__ADS_1