PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Bab 9 Kekhawatiran bertambah


__ADS_3

Ternyata usaha nya untuk menyadarkan kedua orang tua nya untuk lebih mengerti keadaan Haikal tidak akan pernah berhasil. Dia malah semakin merindukan pria itu padahal baru semalam ia melihat nya.


"Semoga kamu baik - baik saja". Lirih Karina dalam hati.


Karina terus berjalan menuju tempat kerja Haikal untuk menemu dua orang pria semalam. Seingat nya dua orang pria itu adalah teman kerja Haikal. Tapi saat sampai di sana tiada seorang di antara mereka ada di tempat itu.


"Mungkin kah mereka menemani Haikal di rumah sakit sehingga sama - sama tidak masuk kerja hari ini. Kalau begitu bagaimana aku bisa tahu di mana Haikal di rawat...". Karina kemudian melihat sosok Imran, sahabat baik Haikal.


"Mungkin dia ada petunjuk". Gumam nya menghampiri Imran yang sedang sibuk bekerja.


"Lo teman baik Haikal, kan?". Sapa Karina membuat semua mata tertuju pada nya.


Imran seketika terpana dengan kecantikan wanita di hadapan saat ini. Begitu pula dengan orang lain yang ada di sekitar nya.


"Kok malah bengong. Lo teman bak Haikal, kan?". Karina kembali mengulangi pertanyaan nya dnegan6 suara tinggi sehingga Imran tersadar dari lamunan nya..


"Eh, iya, gue sahabat Haikal. Dia kenapa nggak masuk hari ini? Biasa nya hari minggu dia kerja pagi". Jawab Imran balik bertanya.


"Aku datang nih malah ingin bertanya tentang dia. Dia selama di bawa ke rumah sakit oleh dua orang kakak lelaki yang konon nya teman kerja nya. Lo tahu nggak rumah sakit mana mereka membawa Haikal berobat?". Sahut Karina.


Imran kaget mengetahui sahabatnya sakit. "Haikal sakit lagi? Pantesan semalam wajah ny tampak lain. Tapi saat aku bertanya kondisi nya dia bilang baik - baik saja maka nya aku nggak ambil pusing lagi. Mungkin orang yang kamu maksud adalah bang Josep dan bang Kali. Mereka juga nggak masuk kerja hari ini mungkin sedang menemani Haikal di rumah sakit...". Imbuh Imran panjang lebar.


"Jadi lo tahu nggak mereka sekarang di mana?". Tanya Karina..


"Aduh, soal itu aku juga nggak tahu. Tapi tunggu kedap yah, aku akan meminta batuan mandor untuk menghubungi mereka". Kata Imran memberi harapan pada Karina.


"Baik lah". Sahut Karina setuju.

__ADS_1


Imran meninggalkan pekerjaan nya untuk menemui mandor. Sementara Karina tetap pada posisi yang sama menunggu Imran kembali. Beberapa orang mencoba merayu dan mencari perhatian pada Karina tapi wanita itu hanya cuek sahaja dan membuang muka malas.


"Jadi cewek nggak boleh sombong, neng. Takut nanti ada yang nungguin di jalan". Imbuh salah seorang dari mereka.


Karina mengerti maksud mereka tapi ia nggak peduli.


Beberapa waktu kemudian, Imran kembali menghampiriku Karina. "Aduh maaf banget, Rina. Mandor pun nggak tahu, ingin menghubungi mereka tapi kontak nggak ada. Kamu sabar aja ya, Haikal pasti pulang kok". Imbuh Imran menjelaskan pada Karina.


Karina sedikit kecewa tapi ia tidak bisa memaksakan kehendak nya. "Ya udah". Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Karina. Tanpa berterima kasih dan pamit ia berlalu pergi dari lokasi pembangunan tempat Haikal bekerja.


Ia pulang dengan membawa kekecewaan dan harapan semoga Haikal baik - baik saja. Tiba - tiba ia terbaca sebuah peringatan yang melekat di sepanjang tiang listrik. Peringatan agar semua tetap waspada pada sindiket penculikan. Semua ini terjadi karena organ tubuh yang di ambil dari korban akan menghasilkan banyak uang.


"Bukan hanya anak - anak, anak remaja, dan dewasa pun sudah ramai yang me jadi korban dan tidak sempat di selamat kan. Pelaku penculikan masih belum di tangkap, harap tetap waspada...". Karina membaca peringatan itu dengan teliti.


Wanita itu bukan nya khawatir pada keselamatan nya sendiri, wajah Haikal tiba - tiba terlintas di benak nya. "Bagaimana kalau mereka adalah pelaku penculikan itu, dan sekarang Haikal sudah menjadi korban mereka". Batin Karina khawatir.


Ia kemudian kembali ke rumah dengan berlingan air mata.


*


*


Ia meneliti setiap ruangan. Di samping nya ada seorang wanita yang masih tertidur pulas di brangkas nya. Ingin bangun tapi tangan nya terpasang infus dan beberapa alat lain yang tersambung ke sebuah mesin. "Apa ini di rumah sakit? Mewah banget, berapa lah biaya yang harus ku bayar?". Gumam Haikal bingung mau bayar tagihan rumah sakit nanti.


"Kamu jangan cemas tentang tagihan rumah sakit. Kamu hanya perlu fokus untuk kesembuhan kamu...". Kata wanita yang berbaring si samping nya.


Haikal kaget karena baru saja ia melihat wanita itu masih tidur dan sekarang udah tiba - tiba bersuara. Haikal hanya membalas nya dengan senyum tipis. Ia tidak mengenali wanita itu tapi menatap wajah wanita itu membuat nya tenang. Tapi dengan cepat ia memalingkan pandangan nya supaya wanita itu tidak salah paham.

__ADS_1


Aisyah pun tidak ingin memaksa Haikal menemani nya ngobrol, menatap wajah anak itu saja sudah cukup membuat hati nya senang dan sangat bahagia. "Kamu pasti merasa kesepian selama ini". Gumam Aisyah masih bisa di dengar oleh Haikal.


Suasana tiba - tiba canggung, Haikal sama sekali tidak berminat untuk membuka mulut nya. Tapi tidak dapat di hindari adalah mata nya, ia sering melirik wanita di samping nya tanpa di paksa kan. Sementara Aisyah tidak lepas menghadap Haikal.


Tiba - tiba pintu terbuka dan memperlihatkan Zack bersama beberapa anak buah nya masuk menghampiri mereka.


"Mereka siapa?". Batin Haikal penasaran.


Zack langsung memberi kecupan di kening Aisyah manakala Aisyah menyalami tangan nya taksim. Momen itu membuat Haikal tersentuh, sebuah kasih sayang yang tidak pernah ia lihat selama hidup bersama orang tua angkat nya. Tanpa sengaja air mata nya mengalir, ia bingung kenapa tiba - tiba hati nya menjadi baper begini.


"Kamu sudah sadar, Haikal?". Sapa Josep yang baru masuk ke ruangan.


Haikal bergegas menghapus air mata nya agar tiada siapa pun yang melihat nya. "Ah, iya. Baru aja. Tapi bang saya boleh minta tolong nggak". Sahut Haikal dengan suara di kecil kan.


"Minta tolong apa tuan muda?". Sahut Josep.


"Tuan muda?". Bingung Haikal dengan panggilan Josep untuk nya.


"Maksud saya, Haikal. Kamu mau mint tolong apa? Katakan saja, saya pasti akan tolong". Imbuh Josep salah tingkah.


"Saya mau pulang sekarang, saya juga bingung kok bisa ada di rumah sakit ini. Apa kah bang Josep yang membawa saya ke sini?". Ujar Haikal dengan wajah polos nya.


"Kenapa pulang sekarang? Kamu baru saja sadar, dokter pun belum sempat memeriksa mu lagi. Kalau kamu khawatir tentang tagihan rumah sakit nya, kamu tenang saja. Semua nya sudah di bayar oleh atasan kita, pemilik yayasan rumah sakit yang sedang kita bangun". Kata Josep menenangkan Haikal.


"Pemilik yayasan, maksud kamu pria yang memelukku waktu itu?". Tanya Haikal penuh selidik.


"Bukan, pemilik yayasan itu adalah wanita yang di rawat di samping kamu. Perkenalkan ini lah nyonya Aisyah dan Tuan Zack. Pasangan suami istri terkaya di negara ini...". Josep memperkenal Aisyah dan Zack pada Haikal.

__ADS_1


Mata Haikal terbeliak kaget. Ia teringat sikap nya tadi yang kurang sopan, ia berusaha bangkit ingin meminta maaf. Tapi Josep segera menahan nya agar tidak banyak bergerak. "Udah kamu di situ aja. Biar kami yang ke sana". Kata Aisyah berusaha turun dari brangkas miliknya di bantu sang suami.


Tiba - tiba Aisyah memeluk tubuh Haikal dan meneteskan air mata. haikal hanya bisa pasrah meskipun ia syok dengan tindakan tiba - tiba itu dan ia pun sebenarnya merasa nyaman di peluk oleh wanita yang baru ia kenal itu. Suasana berubah haru di rasakan oleh semua orang kecuali Haikal.


__ADS_2