
Malam ini Ketika Daniel bersama Riko dan Ryan sedang menonton televisi, tiba-tiba terlonjak kaget dengan suguhan berita yang di tayangkan oleh salah satu stasiun televisi.
"Weeey... Gila. Apa lagi ini?" Kata Riko sambil bangkit dari duduk nya lalu mencangkung di depan televisi.
"Itu kantor besar Country home kan?" Tanya Daniel.
"Sssst... Diamlah! Aku ingin mendengar apa isi berita itu." Kata Ryan lalu mengambil remote dan menguatkan volume.
Setelah laporan khusus itu selesai, kini ketiga anak muda itu mulai saling bertukar pandang.
"Aku adalah putra daerah asli Country home. Aku sama sekali tidak mengenal wajah-wajah itu." Kata Riko.
"Bagaimana menurut mu Ryan?" Tanya Daniel.
Lama Ryan termenung menganalisa setiap inci dari laporan khusus itu hingga dia menemukan celah.
"Berita ini terlalu mengada-ada. Sengaja di tambah-tambah. Kau lihat para pendemo tadi?! Mereka sama sekali tidak masuk. Mereka hanya berteriak di luar. Bagaimana mungkin mereka mengatakan bahwa para petinggi FoC telah melarikan diri ketika aksi unjuk rasa itu sedang berlangsung." Kata Ryan.
"Kau dengar baik-baik! Mereka juga mengatakan bahwa pihak perusahaan telah menyewa beberapa preman untuk membubarkan para demonstran. Di sisi lain mereka juga mengatakan bahwa aksi itu berlangsung dengan aman dan bubar dengan tertib. Ada fakta yang bertentangan antara satu pernyataan dengan pernyataan yang lainnya." Kata Ryan lagi.
"Jadi kesimpulan nya?" Tanya Daniel.
"Kesimpulannya adalah mereka sengaja di bayar untuk melakukan demonstrasi untuk menjatuhkan citra perusahaan di mata para investor, pemerintah setempat serta mitra bisnis di luar negri. Jahat sekali mereka." Kata Ryan menjelaskan analisisnya terhadap berita yang baru saja disiarkan tadi.
"Aku tidak mau tau. Besok jika mereka datang lagi, aku pasti akan mengurung mereka semua. Tidak sulit bagi Riko mengorek daging dari mulut harimau. Apa lagi hanya manusia-manusia yang di bayar. Aku pastikan bahwa aku akan memukul balik serangan lawan ini." Kata Riko sambil mengeluarkan pistol dan menghitung peluru yang terdapat pada magazen.
__ADS_1
"Full 12." Kata Riko sambil menyelipkan di pinggangnya lalu segera ingin pulang malam itu juga ke Country home.
"Hey Riko. Kau jangan gegabah. Kita rundingkan dulu masalah ini. Jangan main seruduk aja seperti kerbau." Kata Ryan sambil menarik tangan Riko hingga terhempas di kursi.
"Jangan gegabah Riko! Mereka selain ingin merusak citra perusahaan juga ingin memancing di air yang keruh. Jika kau bertindak sembarangan, para wartawan akan memberitakan bahwa perusahaan benar-benar telah menyewa gengster untuk memukuli para demonstran. Itu malah akan memperkeruh keadaan." Kata Ryan.
"Jika kau ingin melakukan pemgepungan, kau tidak bisa sendirian dengan 12 peluru mu itu. Apakah kau ingin membunuh orang?" Kata Daniel pula.
"Lalu apa rencana kalian? Cepat lah. Kita besok tidak usah masuk ke kampus. Kita harus cepat mengatur strategi agar mereka tidak semakin berani." Kata Riko.
"Aku tidak takut kepada para demonstran itu Riko. Yang membuat aku takut adalah orang-orang yang bersenjatakan kamera dan pena. Dengan kamera dan mata pena mereka, jangan kan hanya sebuah perusahaan. Sebuah negara pun bisa mereka buat saling serang."
"Begini Riko. Tebakan ku adalah, mereka pasti tidak akan datang pagi-pagi. Malam ini juga kita meminta bantuan kepada tuan Syam dan Drako untuk segera berangkat ke Country home. Anak buah Herey, dan pak Jeff harus berbagi tugas." Kata Ryan.
"Lanjutkan!" Pinta Riko.
"Daniel. Telepon tuan Syam dan Drako! Ceritakan kepada mereka apa yang sedang dihadapi oleh Perusahaan!" Kata Ryan.
"Yang ke dua adalah, anak buah Jeff yang berjumlajlh seratus orang harus mengepung mereka. Tapi ini bisa di lakukan setelah anak buah Herey berhasil mengamankan kamera para wartawan.
"Memang sebaiknya Kita harus segera ke Country home untuk membincangkan masalah ini dengan tuan Barry. Bagaimanapun ketika kejadian, mereka berada di tempat. Keputusan tentang langkah yang akan kita ambil bergantung pada seperti apa nanti keterangan yang kita dapat dari tuan Barry." Kata Ryan lalu segera mengambil kunci mobil nya.
"Kau sudah selesai meminta bantuan kepada tuan Syam dan Drako, Daniel?" Tanya Ryan.
"Beres. Ayo kita berangkat!" Ajak Daniel.
__ADS_1
Tak lama setelah itu tiga mobil sport Jaguar, Audi dan Mercedez saling kejar-kejaran di jalan lintas Starhill-Country home.
...*...
Saat ini di Villa kediaman Ramendra tampa lelaki tua itu begitu gembira melihat berita yang tayang malam ini di televisi.
"Hahaha... Tidak sia-sia aku menikahkan putri ku kepada mu, Robin. Kau ternyata memiliki idea yang sangat hebat. Saat ini mungkin kepala Barry sudah botak memikirkan nasib perusahaan yang dia pimpin." Kata Ramendra.
"Hahaha... Saat ini orang-orang kita masih berada di Country home. Bagaimana menurut Ayah? Apakah besok kita akan terus mengadakan untuk rasa?" Tanya Robin.
"Lanjutkan. Semakin sering unjuk rasa di adakan, berarti semakin serius masalah itu. Dunia bisnis global akan menganggap bahwa perusahaan Future of Company adalah perusahaan yang merampas hak milik masyarakat. Para pemain di dunia bisnis akan beranggapan bahwa Tidak ada gunanya untuk bekerja sama dengan perusahaan itu di masa yang akan datang." Kata Ramendra.
"Aku akan menugaskan kepada Simon dan Efander untuk menggerakkan para demonstran untuk merobohkan pagar dan menggeruduk kantor besar mereka. Dengan begini dunia luar akan semakin memberikan cap yang sangat buruk di wajah perusahaan itu." Kata Robin sambil mengeluarkan ponselnya dan memerintahkan agar Simon dan Efander untuk terus melakukan kekacauan di Country home.
"Kau atur lah sebaiknya. Aku akan menunjukkan kepada mereka bahwa Ramendra tidak boleh untuk di provokasi."
"Bagaimana dengan sampah Regnar ini? Aku merasakan bahwa dia ini sana sekali tidak berguna." Kata Ramendra.
"Biarkan saja orang ini Ayah. Kita akan menjadikannya sebagai mata anak panah yang akan melesat meninggalkan busur nya. Kita juga akan menggunakannya sebagai tunggangan." Kata Robin.
"Apa yang bisa di harapkan dari lelaki bodoh itu?" Tanya Ramendra.
"Lumayan lah. Setidaknya dia bisa disuruh untuk melakukan apa saja. Ayah hanya cukup menjadi dalang yang baik." Kata Robin.
"Baiklah. Aku hanya ingin tahu satu kata. Yaitu berhasil." Kata Ramendra.
__ADS_1
"Jangan khawatir Ayah. tunggu lah besok setelah rencana kita berjalan dengan baik." Kata Robin.
Bagaimana pun dia sangat optimis bahwa perusahaan Future of Company akan berantakan dengan isu-isu seperti ini tanpa dia sadari bahwa pihak lawan juga sedang mengatur rencana untuk membuat serangan balasan.