PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Drako tiba di Mountain Slope


__ADS_3

"Syam. Kita berpisah di sini." Kata Drako begitu mereka sampai di traffic light Country home.


"Baiklah. Kau hati-hati di jalan. Jangan lupa untuk mengirim kabar kepada ku." Kata tuan Syam.


"Aku mungkin akan lama. Tolong untuk segera menghubungi ku jika ada sesuatu yang terjadi di keluarga William!" Kata Drako lagi.


"Kau tenang saja. Anak buah ku ada di mana-mana. Yang terpenting adalah, kau harus menjaga keselamatan. perjalanan ke Mountain slope itu jauh. Mengapa tidak dari Metro city saja? Bukankah dari sana lebih dekat?!" Kata tuan Syam.


"Jika di hitung-hitung sama saja. Dari sini ke Metro city kemudian ke Mountain slope. Malah lebih jauh." Kata Drako.


"Baiklah. Mari berpisah di sini!" Kata tuan Syam lalu masuk kembali ke mobilnya dan mengambil jalan lurus sedangkan Drako berbelok ke kanan.


...*...


Mobil Drako terus saja melaju dengan kecepatan tinggi.


Jika tidak ada halangan, maka dia akan sampai di Mountain Slope sekitar pukul 5 sore. Berbeda dengan naik bus. Ini bisa memakan waktu sekitar 9 jam bahkan lebih.


Singkat cerita akhirnya mobil yang di kendarai oleh Drako sampai juga di lokasi proyek Future of Company.


Dia sedikit kaget ketika membaca papan tanda tertulis di sana proyek pembangunan pabrik penggilingan padi yang di bangun oleh perusahaan milik Jerry tersebut.


Drako terlalu malas untuk memikirkan sepak terjang Jerry sehingga merambah sampai ke perkampungan ini. Yang harus dia lakukan saat ini adalah segera menelepon nomor yang di gunakan oleh Jerry kemarin sesuai dengan yang telah dia pesankan.


Drako kini mulai membuka kunci layar ponsel nya dan mencari nomor ponsel di panggilan masuk kemarin lalu segera melakukan panggilan ke nomor tersebut.


"Hallo Tuan Drako. Raven di sini. Apakah ada yang bisa saya bantu?" Tanya tuan Raven begitu panggiilan itu terhubung.


"Revan. Sesuai dengan pesan Jerry kemarin. Apakah kau bisa membantuku untuk menemui tuan mu itu?" Tanya Drako.


"Oh. Bisa Tuan. Apakah anda telah tiba di Mountain slope?" Tanya tuan Raven.


"Kau keluar lah Raven! Saat ini aku berada di luar lokasi proyek." Kata Drako.


Tak lama setelah itu tampak lelaki setengah baya keluar dengan berjalan kaki dari dalam lokasi proyek dan langsung menghampiri mobil BMW hitam.


"Tuan Drako. Mari kita menuju ke rumah kepala desa terlebih dahulu untuk menitipkan mobil anda di sana. Ini karena untuk mencapai tempat di mana tuan muda berada hanya bisa di tenpuh dengan berjalan kaki." Kata tuan Raven menjelaskan.


"Baiklah Raven. Kau masuk lah. Kita akan segera ke rumah kepala desa itu!" Kata Drako.


Setelah tuan Raven dan Drako tiba di rumah kepala desa itu. Barulah Drako faham mengapa Jerry sampai membangun pabrik penggilingan padi, Dam bendungan untuk irigasi serta pelebaran jalan. Ternyata kepala desa Mountain slope itu adalah ayah Ryan sahabat Jerry yang saat ini sedang bolak balik Starhill-Country home untuk belajar dabmn bekerja.


Setelah berbasa-basi sejenak dengan kepala desa itu, Drako pun akhirnya mengajak tuan Raven untuk segera menjadi penunjuk jalan menuju rumah di mana Jerry berada saat ini.

__ADS_1


...**...


"Tangkis ini Jerry!" Terdengar satu suara memberi peringatan membuat seorang pemuda yang sedang berlatih segera mengalihkan perhatiannya ke arah datang nya suara tersebut.


Wuzzz...?!


Baru saja suara itu hilang, mendadak dari samping melayang sepotong buah ubi mentah mengarah tepat ke arah kepala pemuda itu.


Bugh..?!


"Adaw..."


Tampak seorang pemuda jatuh terduduk sambil memegangi kepalanya yang benjut terkena lemparan buah ubi tersebut.


"Bodoh. Kau bodoh sekali." Kata lelaki tua itu memaki panjang pendek kepada pemuda yang di panggil dengan nama Jerry tersebut sambil menghampiri dan mulai menjewer telinga Jerry.


"Kakek yang salah. Main lempar mendadak. Aku mana siap." Kata Jerry sambil meringis.


"Jika musuh menyerang mu, mereka tidak akan perduli kau siap atau tidak menerima serangan. Goblooook..."


Plak...?!


"Wadaw... Sakit Kek." Rutuk Jerry sambil berteriak.


"Hahaha..,"


Terdengar suara tawa merdu dari seorang gadis dibawah sebatang pohon mangga sambil memperhatikan Jerry yang meringis menahan rasa sakit akibat di timpuk ubi, di tempeleng dan di jewer telinga nya.


"Heh... Apa tertawa-tawa seperti orang sedeng?! Kemari kau Clara! Kau juga harus di coba apakah kau cukup tangkas atau tidak. Sekarang tangkis ini!" Kata kakek tersebut sambil menunduk mencari-cari sesuatu untuk dilemparkan ke arah Clara.


Belum lagi lelaki tua itu menemukan sesuatu, Clara sudah kabur duluan membuat lelaki tua itu menjadi berang.


"Kembali kau Clara..!" Teriak lelaki tua itu. Namun dia segera menghentikan teriakannya karena melihat Clara seperti memperhatikan sesuatu di kejauhan sana.


"Ada apa Clara?" Tanya lelaki tua itu.


"Lihat dari arah hulu sungai sana Kek! Sepertinya ada 2 orang lelaki sedang mengarah ke pondok kita ini." Kata Clara sambil memperhatikan.


"Ada perlu apa mereka?" Tanya kakek itu sambil menyipitkan matanya agar dapat melihat dengan jelas kedua orang yang sedang berjalan mengarah ke pondok mereka.


Melihat kakek dan cucu itu seperti melihat sesuatu dengan serius, Jerry yang tadi terduduk mulai bangkit dan menghampiri mereka.


"Ada apa Kek?" Tanya Jerry begitu dia sampai di samping lelaki tua itu.

__ADS_1


"Coba kau lihat ke arah hulu sungai itu Jerry! Bukankah ada 2 orang sedang berjalan kemari?" Tanya sang kakek


"Benar Kek. Eh tunggu! Sepertinya aku. mengenali orang itu." Kata Jerry lalu melanjutkan. "Kek. Itu adalah ayah angkat ku dan seorang lagi adalah bawahan ku." Kata Jerry setelah memastikan siapa yang berjalan ke arah pondok mereka ini.


Tak berapa lama kemudian kedua lelaki yang tampak dari kejauhan itu mulai medekat dan mereka kita sudah saling bersehadapan.


"Selamat sore Tuan muda." Kata tuan Raven sambil menunduk hormat.


"Jerry. Anak angkat ku tersayang. Ternyata kau masih hidup." Kata Drako sambil merengkuh tubuh Jerry kedalam pelukannya.


"Tuhan masih sayang kepada ku Ayah. Oh ya.., perkenalkan dewa penolong ku." Kata Jerry dengan hormat mempersilahkan ayah angkat nya untuk berkenalan dengan kakek Malik


Setelah mereka saling berjabat tangan, Drako langsung menegur Jerry dengan menanyakan apakah gadis yang saat ini bersama mereka itu adalah yang dia katakan di telepon kemarin sebagai calon istri.


Dengan serius Jerry mengangguk dan meng-iyakan pertanyaan Drako membuat Clara merasa sangat malu.


"Ayo kita ngobrol di dalam! Aku akan meminta anak perempuan ku untuk membuatkan minum. Tentu kalian sedang kehausan." Kata kakek Malik sambil mempersilahkan tamu nya untuk mengikutinya masuk ke dalam pondok mereka.


"Roxana, tolong buatkan minuman untuk tamu kita ini!" Kata kakek Malik meminta agar Roxana membuatkan minuman untuk tamu mereka yang datang dari jauh.


"Baik Ayah." Kata satu suara dari arah dapur.


"Roxana.., Nama itu dan suara itu. Mengapa begitu persis?" Kata Drako dalam hati.


Dia lalu berfikir keras. Jika Jerry bisa sampai ke tempat ini karena di buang ke bawah jembatan oleh Ramemdra, apakah istri nya juga di buang di jembatan yang sama lalu di tolong oleh kakek Malik?


Drako terus berfikir keras sampai satu ketika..,


Praaaang...?!


Tiiiing....?!


Terdengar suara gelas dan nampan terjatuh ke lantai pondok tersebut hingga pecah berantakan.


"Drako..?!"


"Kau.., kau.., Roxana?! Kau apakah ini nyata?" Kata Drako sambil menggosok-gosok matanya dan menampar pipinya sendiri.


"Sakit..?! Berarti ini nyata." Kata Drako lalu bangkit berdiri dan menghambur memeluk wanita yang terdiam seperti patung itu.


Adegan ini membuat Clara, kakek Malik dan tuan Raven tercengang.


Hanya Jerry saja yang terlihat biasa saja.

__ADS_1


__ADS_2